Menjadi istri hanya karena sebuah taruhan. Konyol sekali, bukan? Itulah yang Ayu rasakan. Menikah dengan Rendra, seorang laki-laki tak hanya tampan tapi juga mapan.
Kasih sayang yang Rendra berikan, nyatanya hanya kamuflase belaka. Hingga berhasil menjerat hati Ayu.
Ibarat Nasi sudah menjadi bubur. Pernikahan yang awalnya Ayu harap sebuah kebahagiaan. Kini malah menjadi mimpi buruk yang ia benci.
Masalah semakin runyam, tatkala para orang tua juga turut menambah kerumitan rumah tangganya. Dapatkah Ayu tetap bertahan dengan status istri taruhan? Ataukah pergi dengan mengorbankan cintanya yang tulus pada Rendra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ivan witami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Bingung Dengan Status
Ayu dan Rendra kini tinggal di rumah sang Mama menemani Dira. Karena tidak mungkin membiarkan Dira sendiri bersama asisten rumah tangga. Ayu mau tidak mau juga harus mengurus Dira dan menyiapkan apa yang di butuhkan Dira. Hubungannya bersama Rendra sedikit membaik walau Ayu masih terlihat sedikit acuh pada Rendra. ia hanya menjalankan tugasnya sebagai istri.
Karir Rahma sebagai bintang iklanpun semakin melesat. Hampir tawaran bintang iklan dan film ia terima. Ia hanya akan membuktikan ia bisa hidup di kota besar dan menyekolahkan anaknya di sekolah berkualitas. Walaupun ia masih menjadi istri sirih Wibowo.
Hubungannya dengan Ayu masih belum membaik, Ayu begitu membenci Ibunya yang mempunyai hubungan dengan Papa mertuanya. Bahkan saat ini seperti tidak bisa di pisahkan.
“Sayang! ini Susunya, di minum ya!” ujar Ayu pada Dira saat sarapan.
“Iya kak. Terima kasih. Kakak baik!”
"Kamu bisa saja! Kamu kan adik kakak yang paling cantik.” Ayu duduk di sebelah Rendra yang juga sedang sarapan.
"Kakak juga jangan lupa minum susu ya. Buat adek bayi.“
“Iya Dira, Sayang...,” balas Ayu sambil mengusap kepalanya.
Wibowo dan Rendra tersenyum melihat Dira begitu akur dengan Ayu. Wibowo tidak begitu khawatir jika harus meninggalkan Dira kerja keluar kota atau ke luar negri. Sudah ada yang menjaganya.
"Papa, berangkat dulu ya!“ pamit Wibowo setelah selesai sarapan.
"Iya, pa. Hati-hati.” Ayu menyalami Wibowo begitu juga Dira, tetapi tidak Rendra.
“Dira, Nanti berangkat sama sopir ya. Kakak ada kerjaan yang tidak searah dengan sekolah kamu,” ujar Rendra.
"Tiap hari juga sama sopir, Kak!” Dira melirik Rendra sedangkan Ayu tertawa kecil Mendengar suaminya terkena skakmat oleh ucapan sang adik.
"Ya sudah , terserah. Pokoknya sekolah yang bener, Jangan suka berantem.”
"Iya, paling tawuran,” balas Dira nyeleneh.
"Kamu ... kalau di bilangin.”
“Ya kakak juga aneh! Mamangnya aku suka bertengkar di sekolah.”
Rendra menghela nafas panjang. lalu menghabiskan kopinya. Tak lama Dira berangkat ke sekolah, di antar sopir.
Rendra kembali ke kamar setelah selesai sarapan untuk mengambil tas kerjanya. Ayu juga ke kamar untuk membereskan kamarnya.
"Ayu, Sayang .... Aku berangkat ya. Jangan capek-capek, kasihan adek dalam perutnya.” Rendra mencium pipi Ayu yang sedang mengumpulkan baju kotor ke keranjang, agar mudah si bibi mengambilnya.
"HM!”
Rendra melihat Ayu yang masih tampak acuh, ia begitu kesal melihat istrinya sekarang begitu dingin, tidak ada lagi canda tawa.
"Yu! sampai kapan kamu cuek sama suami kamu sendiri?“
"Siapa yang cuek. setiap hari aku mengurus, Mas seperti biasa. Mas minta aku layani, Mas minta aku mengurus Dira, sudah aku urus. Apalagi yang kurang!”
“Sikap kamu yu! Sikap kamu terlalu dingin sekarang.” suara lantang Rendra mengema di kamar sampai Ayu memejamkan mata.
"Seharus Mas pikir sendiri, kenapa aku bisa seperti ini!” Ayu keluar dengan meneteskan air mata ia kemudian menuju ke kamar Dira. Rendra hanya terduduk di tempat tidur dan menyesali semuanya.
Ayu menangis di kamar Dira. Hatinya begitu sakit jika harus mengingat taruhan yang di lakukan sang suami terhadapnya. Ia merasa menjadi seperti barang murahan yang tidak ada harga dirinya, di tambah mengingat tingkah sang Ibu yang menjalin asmara dengan mertua laki-lakinya bahkan sampai menikah. Ayu begitu bingung dengan statusnya. Apakah ia istri Rendra atau adik tirinya? Ayu terus memikirkan hal tersebut, sebab ia tidak tahu jika Mertuanya boleh menikahi sang Ibu.
Ditempat lain Rahma baru saja bangun tidur. Ia terbangun saat Wibowo datang ke apartemennya.
"Tumben Mas pagi-pagi sudah kesini? Biasanya ngabarin dulu? “ tanya Rahma pada Wibowo saat membuka pintu apartemennya.
"Apa aku harus mengabari lebih dulu untuk bertemu dengan istriku sendiri?” Wibowo masih berdiri di ambang pintu sambil lengannya ia sadarkan di bibir pintu dan sedikit menggoda Rahma.
"Mas tidak biasanya datang sepagi ini.” Rahma berbalik dan masuk kedalam di ikuti Wibowo.
"Mas, mau minum kopi atau teh?” tanya Rahma sambil menuju dapur.
"Air putih saja. Tadi sudah ngopi di rumah. kopi buatan Ayu.”
Rahma masih diam dan mengambil air minum untuk Wibowo. “Ayu sepertinya tidak mau bertemu denganku, Mas!” Rahma duduk di samping Wibowo.
"Sabar saja. suatu saat pasti ia mengerti.”
"Iya, Oh iya. Mas tidak ke rumah Mbak Lidya?”
Wibowo menggeleng.“Gak, sudah Seminggu ini aku tidak ke sana. Aku pusing dengan semua ocehannya. Dia sudah menuntut agar menikah resmi, Tetapi Dira tidak ingin Lidya menggantikan posisi Mamanya. Kenapa kamu bertanya tentang dia, Cemburu?”
“Cemburu itu wajar, tapi aku juga sadar kami sama-sama istrimu, kan.”
“Tapi aku lebih memilihmu, jika harus mengesahkan pernikahan kita secara hukum.” Wibowo pun langsung mencumbu Rahma. Karena ia sudah tidak tahan sedari tadi melihat tubuh Rahma yang hanya di lapisi piyama tipis.
Mereka bergumal di atas sofa dengan leluasa, sebab Bagas ke sekolah dan asisten Rahma belum datang.
Wibowo memang lebih mengutamakan Rahma ketimbang Lidya. Karena mungkin Rahma masih begitu muda dan selalu bisa membuat dirinya bergairah.
Setelah selesai Rahma menggunakan piyamanya, sedangkan Wibowo memilih untuk mandi. Rahma membuat sarapan untuk dirinya sendiri sambil melihat jadwal pemotretan. Karena selain menjadi bintang iklan ia juga menjadi model.
“Jam sebelas pemotretan. Masih keburu menunggu Bagas pulang sekolah,“ batin Rahma.
“Sayang!"panggil Wibowo dari dalam kamar
"Ya, Mas!” jawab Rahma.
"Kaosku mana?”
Rahma berjalan menuju kamar kemudian menuju lemari.” Ini, Mas gak ke kantor?”
“Tidak! Kerja dari sini saja!” Wibowo mengenakan kaosnya.
"Aku ada pemotretan nanti jam 11.”
"Nanti aku temani?”
Rahma melihat Wibowo sejenak, apa ia sengaja ingin menunjukkan ke pada semua orang jika mempunyai hubungan dengannya.
"Mas sengaja biar orang tahu kalau kita punya hubungan yang sudah lama kita tutupi. Apalagi orang-orang tahu kalau Mas itu besanku.”
"Ya ... tidak apa-apa! Orang tahunya aku, kan sendiri, kamu sendiri. Ada yang salah.”
"Mas pikirkan perasaan Lidya juga!”
“Itu urusan, Mas! Ok.” Wibowo kemudian keluar kamar setelah mengambil leptopnya yang ia tinggal di kamar Rahma. Rahma hanya menghela nafas panjang lalu mengikuti langkah sang suami keluar dari kamar.
Wibowo duduk di sofa dan mata dan jemarinya fokus ke layar dan keyboard leptop. Rahma yang melihat tidak berani mengganggu dan ia kembali duduk di ruang makan melanjutkan sarapannya.
“Laki-laki, gak tua, gak muda kalau sudah dapat apa yang ia mau pasti kerjanya fokus. Ibu harap kamu bisa memuaskan suami kamu Yu, apapun kondisimu saat ini. Maaf, Yu? Ibu sedikit egois dengan hubungan Ibu dan Mertuamu. Karena ibu juga cinta dengan mertuamu.“