NovelToon NovelToon
Diantara Dua Bayangan

Diantara Dua Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:831
Nilai: 5
Nama Author: Fazry Fazriyah

Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. "terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Permintaan Devino

Nara membuka amplop tersebut dan mengeluarkan beberapa lembar kertas tebal bermaterai. Matanya bergerak cepat menyusuri bait demi bait tulisan yang tertata rapi di sana:

Kebebasan Karier dan Impian.

Kaynara memiliki hak penuh untuk melanjutkan karier, pendidikan, serta mengejar seluruh impian pribadinya tanpa batasan atau campur tangan yang mengekang dari pihak suami.

Ruang Pribadi dan Waktu Adaptasi.

Pernikahan ini akan dijalankan atas dasar saling menghormati batas wilayah pribadi (personal space). Tidak ada pemaksaan kewajiban emosional maupun fisik sampai kedua belah pihak merasa siap dan nyaman secara sukarela.

Kemandirian Finansial.

Seluruh kebutuhan rumah tangga menjadi tanggung jawab penuh suami, sementara pendapatan pribadi Kaynara tetap menjadi hak milik penuh Kaynara tanpa tuntutan kontribusi.

Keterbukaan dan Evaluasi.

Kedua belah pihak berhak mengajukan diskusi atau penyesuaian atas kehidupan bersama jika di kemudian hari timbul rasa tidak nyaman atau tekanan psikologis.

Nara terpaku. Kertas di tangannya terasa begitu berat. Isinya bukan tentang pembagian harta atau syarat-syarat yang menyudutkannya, melainkan sebuah jaminan kebebasan yang luar biasa utuh untuk dirinya.

Zaid menyeruput kopi hitamnya pelan sebelum melanjutkan pembicaraan.

"Saya tahu pernikahan tanpa landasan cinta bukanlah hal yang mudah untuk wanita seusiamu, Nara. Saya tidak ingin kamu merasa seperti burung dalam sangkar emas. Pernikahan ini mungkin diatur oleh orang tuamu, tapi hidupmu tetap milikmu sendiri."

Zaid memajukan tubuhnya, menopang kedua tangannya di atas meja, menatap Nara lurus-lurus dengan tatapan dinginnya yang menusuk namun jujur.

"Poin-poin itu saya buat agar kamu bisa menjalani hari-hari tanpa beban. Tapi ingat, Nara... ini adalah keputusan terakhirmu."

Tegas Zaid tanpa keraguan.

"Kertas itu adalah tawaran saya jika kamu memilih lanjut. Tapi jika setelah membaca ini kamu masih merasa ragu atau berkeberatan, katakan sekarang. Keputusan penuh ada di tanganmu, Kaynara... Jika kamu bilang 'tidak', saya yang akan menghentikan seluruh persiapan pernikahan ini, hari ini juga dan menanggung semua kemarahan ayahmu. Kamu tidak perlu takut."

Nara menelan ludah. Ketegasan Zaid, aura dinginnya, serta rasa tanggung jawabnya yang begitu masif membuat dada Nara bergemuruh hebat.

Di satu sisi, pria ini menawarkan perlindungan dan rasa aman yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya. Namun di sisi lain, bayangan masa lalunya yang belum sepenuhnya usai kembali menghantuinya.

"Aku... aku butuh waktu untuk mencernanya, Zaid," bisik Nara lirih, meremas pelan ujung kertas dokumen tersebut.

Zaid mengangguk pelan, ekspresi wajahnya tak bergeming sedikit pun.

"Ambil waktumu. Bacalah lagi di rumah sampai kamu benar-benar yakin. Saya tidak butuh jawaban yang terburu-buru, Saya hanya butuh jawaban yang pasti."

.

.

.

Setelah pertemuan di restoran klasik itu berakhir, Nara memutuskan untuk tidak langsung pulang.

Kepala dan hatinya terasa begitu penuh oleh beban keputusan yang amat berat. Ia mengendarai mobilnya menyusuri jalanan kota yang cukup lenggang di akhir pekan, mencari ketenangan yang rasanya kian menjauh.

Namun, ketenangan itu seketika pecah ketika layar ponselnya yang diletakkan di dasbor bergetar hebat. Nama yang tertera di layar membuat jantung Nara berdegup kencang secara mendadak.

Devino.

Nara menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang agak sepi di bawah naungan pohon rindang. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.

"Halo, Nara..." suara di ujung telepon terdengar begitu parau, sarat akan keputusasaan dan rasa bersalah.

"Devino? Ada apa lagi? Bukankah kita sudah selesai?" tanya Nara berusaha menahan suaranya agar tetap datar dan stabil.

"Nara, tolong... jangan seperti ini. Aku memohon padamu," lirih Devino dari balik telepon.

Suaranya terdengar sangat kacau. "Aku tahu aku salah. Aku tahu aku pengecut karena kabur saat kamu butuh aku waktu itu. Tapi aku sungguh menyesal, Ra. Aku nggak bisa kehilangan kamu. Hubungan kita sudah bertahun-tahun, apa kamu tega menghapusnya begitu saja cuma karena perjodohan konyol ini?"

Nara memejamkan mata rapat-rapat, menghela napas panjang.

"Ini bukan cuma soal perjodohan, Dev. Ini soal bagaimana kamu meninggalkanku saat aku paling butuh kepastian darimu. Perjodohan ini hanya memperjelas bahwa kamu memang tidak berani memperjuangkanku di depan Papa."

"Kalau begitu beri aku kesempatan untuk membuktikannya sekarang, Ra!" potong Devino cepat, nada suaranya mendesak dan emosional. "Tolong, pertemukan aku dengan pria itu. Pertemukan aku dengan Zaid!"

Nara tertegun di balik kemudinya. "Apa maksudmu, Dev?"

"Aku mau ketemu sama calon suamimu itu!" seru Devino dengan napas memburu. "Aku mau bicara dari pria ke pria. Aku mau lihat sejauh apa dia pantas mengambil kamu dari hidupku. Kalau dia memang pria yang bertanggung jawab seperti yang kamu katakan, dia pasti berani berhadapan denganku, kan? Tolong, Nara... atur pertemuan ini. Ini permintaan terakhirku sebelum kamu benar-benar melangkah pergi."

Kata-kata Devino berdengung di telinga Nara. Rasa kalut melingkupi pikirannya secara mendadak.

Awalnya, niat Nara adalah menolak permintaan nekat itu. Mempertemukan mantan kekasih yang emosional dengan calon suami yang dingin dan tegas seperti Zaid terasa seperti mengundang bencana.

Namun, saat tatapan Nara kembali jatuh pada amplop cokelat berisi surat kesepakatan dari Zaid yang tergeletak di kursi sebelah penumpang, sebuah pemikiran lain mendadak terlintas di benaknya.

Bagaimana jika ini justru menjadi jalan keluar?

Logika Nara yang sedang bimbang mulai mencari celah. Zaid adalah pria dewasa yang teratur, rasional, dan sama sekali tidak emosional.

Dalam surat kesepakatan itu, Zaid bahkan sangat menghargai kebebasan dan keterbukaan. Di sisi lain, Devino adalah pria yang pernah mengisi hatinya selama bertahun-tahun, yang kini meratap meminta kesempatan terakhir untuk membuktikan diri.

Nara berpikir, jika ia mempertemukan mereka berdua, Zaid yang bijaksana mungkin bisa melihat betapa rumitnya posisi Nara saat ini.

Zaid yang sejak awal menegaskan tidak ingin memenjarakan orang lain dalam pernikahan tanpa cinta, mungkin akan memahami bahwa hati Nara masih tertinggal di masa lalu.

Atau mungkin... dari pertemuan itu, Zaid bisa membantu menemukan jalan keluar yang halus bagi mereka semua—mungkin dengan cara membantu menjelaskan situasi sebenarnya kepada Pak Rahardja, sebuah hal yang tak pernah berani dilakukan oleh Devino sendirian.

Atau sebaliknya, pertemuan itu justru bisa menjadi titik terang yang mutlak bagi Nara untuk melihat siapa sebenarnya pria yang benar-benar layak berdiri di sampingnya untuk masa depannya.

Devino yang penuh penyesalan, atau Zaid yang menawarkan kepastian dingin namun kokoh.

"Nara? Kamu masih di sana, kan? Tolong, atur pertemuan itu, Ra..." suara Devino kembali mengalun, memutus lamunan Nara.

Nara menatap lurus ke depan, meremas kuat lingkar kemudi mobilnya. Rasa bimbang, harapan tipis, dan ketakutan bercampur menjadi satu.

"Baik," sahut Nara akhirnya dengan suara pelan namun sarat akan pertimbangan yang mendalam. "Aku akan bicarakan ini dulu dengan Zaid. Tapi aku tidak janji dia mau menemuimu, Dev."

"Terima kasih, Ra. Terima kasih banyak..." bisik Devino lega sebelum sambungan telepon terputus.

Nara menurunkan ponselnya dan menyandarkan kepala pada sandaran jok mobil.

Pandangannya menerawang menembus kaca depan. Ia baru saja mengambil keputusan berisiko tinggi. Membawa Devino masuk ke dalam pusaran hubungannya dengan Zaid bisa jadi akan memperkeruh keadaan, atau justru menjadi pemicu kebuntuan ini akhirnya terurai.

Nara memandangi amplop cokelat di sampingnya sekali lagi. Langkah selanjutnya ada di tangannya, dan ia tahu, permainan takdir yang ia pilih ini tidak akan lagi sama setelah ia menyampaikan permintaan Devino kepada Zaid.

1
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
knp kamu gak jujur SM Zaid nar
Apriyanti
semoga butir² cinta muncul di hati mereka berdua
Apriyanti: siaap thor🥰🙏
total 2 replies
Apriyanti
thor jgn lama² ya bikin mereka bersatu nya,, lanjut thor 🙏
Apriyanti
semoga lama² mereka bisa bersatu🙏💪🥰
Apriyanti
udalah Zaid buang ego mu Ayuk dekat kan dirimu ke nara🤣
Apriyanti
semoga kalian berdua secepat nya timbul perasaan cinta
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
Alhamdulillah dah jg akhirnya
selamat ya Nara dan Zaid semoga samawa ya🙏
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
nah gitu dong Nara ,,mending jamu pilih Zaid drpd devino
Apriyanti
di situbkanu harus SDH bisa melihat Nara kesengguhan Zaid sm kamu di banding kan devino yg pengecut itu
Apriyanti
bodoh kamu Nara KLO sampe menolak Zaid,, lanjut thor 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!