Anna kira hidupnya akan hancur saat di bawa pergi oleh lelaki itu, awal pertemuan yang bisa di bilang tidak biasa, dan penuh drama.
Dia keras kepala, tidak suka dibantah, benci diabaikan dan setumpul hal buruk lainnya.
akankah hidup Anna baik-baik saja? atau malah sebaliknya. ikuti terus kisahnya dengan judul ~~ Mine
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park Zia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Jangan lupa selalu dukung cerita ini guys. Saling membantu dan berbagi kebaikkan itu indah loh. Terima kasih untuk yang sudah berkenan like and comen. Tidak ada kebaikkan yang lebih baik dari ketulusan hati.
Sunyi dan sepi, tidak ada teriakkan Alfariel yang menyuruhnya untuk bangun dan mandi, tidak ada suara Alfariel yang menyuruhnya untuk makan. Yang ada sekarang hanya hamparan sunyi diruangan bercat putih dengan bau obat-obatan.
Suara dari alat detak jantung Alfariel lah yang mendominasi ruangan itu. Mata caramel itu terus terpejam, seolah-olah dia terlalu takut untuk melihat indahnya dunia. Apakah luka Alfariel terlalu parah? Atau memang lelaki itu sangat suka memejamkan mata.
Sudah dua hari sejak kejadian itu, tapi tidak sekali pun Alfariel ada membuka matanya. Dia terus saja memejamkan mata, seolah-olah tidur adalah kegiatan favoritnya. Melupakan kalau disini ada seseorang yang selalu menunggunya untuk bangun, seseorang yang selalu berharap kalau mata caramel milik lelaki itu akan terbuka dan melihat kearahnya. Baik, dia tidak akan egois dengan ingin pergi lagi. Dia tidak akan melakukan hal itu lagi. Tapi dengan syarat, kalau Alfariel akan membuka matanya.
Mata indah bercahaya itu tidak pantas terpejam berlama-lama. Dunia luar indah untuk dipandang. Apakah Alfariel tidak ingin melihat wajah gadis itu. Gadisnya.
"Mr, penantian anda seharusnya sudah berakhir. Dia sudah menerima anda sepenuhnya. Tidak maukah anda melihat dan memeluknya? Dia rapuh tanpa anda. Dan saya kira..." mulut Arga tercekat saat ingin melanjutkan kata-katanya. Dia terlalu sakit saat melihat tuannya terbaring tidak sadarkan diri didepannya. "Saya kira saya tidak pantas untuk menjaganya Mr. Saya tidak pantas. Lalu, bisakah anda bangun dan menjaga sendiri milik anda? Demi Tuhan, gadis itu merindukan anda." lanjut Arga dan langsung berbalik pergi. Dia tidak sangup melihat tuannya tidak berdaya seperti itu, dialah orang yang paling mengerti tuannya. Dan saat melihat lelaki itu terbaring tidak bertenaga membuat dia sangat prihatin dan tidak berdaya.
*****
Anna pov
"Aku datang lagi Al," gumamku pelan dan duduk dikursi yang tersedia disamping Alfariel.
Aku masih menggunakan seragam sekolahku, ya aku baru pulang. Aku sudah memutuskannya, aku akan tetap sekolah. Karena kalau tidak, aku jamin seribu persen, aku akan segera gila kalau melihat keadaan Alfariel terus. Aku akan merasa sangat bersalah karena mengangap kalau akulah penyebab Alfariel begini. Harusnya aku mempunyi sedikit kekuatan untuk melawan. Tapi, aku bukan gadis yang seperti itu. Sekuat dan sekeras apapun aku mencoba, aku tetap tidak bisa. Aku benci kekerasan.
Aku benci saat orang-orang sudah mulai saling memukul dan menembak. Aku takut, dan rasanya aku ingin mati saja saat itu. Aku sudah pernah mencoba, dan hasilnya sama saja. Aku tidak bisa, benar aku gadis yang lemah. Aku berangapan kalau semua masalah, seberat dan sekeras apapun itu, akan bisa diselesaikan dengan cara damai. Tapi aku salah, aku sadar itu. Aku tidak bisa memaksakan seseorang untuk tidak berkelahi sama seperti aku. Aku tidak bisa dipaksa untuk berkelahi, sebenarnya semuanya sama. Hanya saja, cara dan perilakunya saja yang berbeda.
Dan saat melihat Alfariel yang begini aku baru sadar, wahh betapa jahatnya aku dulu. Berusaha mati-matian untuk pergi dari jangkauan Alfariel, padahal lelaki ini lah yang dengan seluruh nyawanya berusaha untuk mempertahankan aku agar tetap hidup. Membahayakan nyawanya sendiri hanya demi aku. Dan demi Tuhan, aku benar-benar merasa bersalah. Dan itu sangat, rasanya seperti aku akan segera mati kalau Alfariel tidak juga kunjung bangun.
"Al, aku janji akan mengabulkan apapun permintaanmu asalkan kau bangun. Aku tidak suka mata caramel ini tertutup terus." Ucapku serak sambil menyentuh matanya yang terpejam. Dan entah sejak kapan, air mataku sudah jatuh dan menjadikan jejak basah dipipiku. Menciptakan aliran sungai kecil diwajahku.
"Aku janji Al, apapun itu akan aku kabulkan. Jadi aku mohon, buka matamu." Ucapku putus asa dan meletakkan mukaku dan dadanya. Menagis dengan kencang dibaju Alfariel. Mengabaikan baju Alfariel yang basah karena air mataku, karena demi apapun. Aku benar-benar merindukan Alfariel, dan hal itu nyaris membuatku gila.
"Maka menikahlah denganku,"
Deg
*****
Author pov
"Kau membohongiku." desis Anna marah dengan membuang mukanya kesamping, sama sekali tidak mau melihat kearah wajah Alfariel. Sudut bibir lelaki itu sedikit naik keatas. Menyungingkan senyum kecil dibibir tipisnya.
"Hy, aku tidak membohongimu. Kamu saja yang berangapan kalau aku masih tidur." Ucap Alfariel membela dirinya sendiri.
"Ck, tubuhmu mengatakan itu. Benar-benar jahat." ujar Anna dan duduk sedikit jauh dari Alfariel.
"Hy hy hy, apa-apaan itu. Tidak ada acara jauh-jauhan, Baby. Itu mengangu." desis Alfariel tidak suka saat Anna sedikit menjauh dn menjaga jarak dengannya.
"Kamu Menyebalkan." ucap Anna datar dan beranjak pergi menjauh dari Alfariel. Dia melakukan itu karena tau keadaan Alfariel masih lemah untuk mengejarnya, sedikit kasihan saat melihat wajah nelangsa Apfariel. Tapi bagaimana lagi, lelaki ini harus diberi sedikit pelajaran. Agar dia tidak terus membohonginya.
"Ok, fine. Aku minta maaf, jadi kemarilah." ucap Alfariel menyerah. Dia mana mungkin bisa jauh dari Anna, bisa mati berdiri dia kalau itu terjadi.
Anna masih berdiri lima langkah didepan Alfariel. Tidak ada tanda-tanda kalau dia akan mendekat dalam waktu dekat sepertinya. Dan dengan santainya Anna malah berbalik dan duduk disofa yang lumayan jauh dari kasur yang Alfariel tempati.
"Baby, please. Jangan mengujiku, cepat kemari, atau aku yang kesana." ancam Alfariel dengan sorot mata tegas.
"Emmm, kalau kau kesini ya sudah, aku tinggal turun saja." jawab Anna santai. Seolah-olah dia sama sekali tidak terpengaruh dengan tatapan tajam dan menghunus milik Alfariel. Padahal aslinya, dia sangat-sangat takut dengan tatapan tajam itu, tapi sekuat tenaga ditahannya dan membuat raut wajah biasa saja dan santai.
"Ck, kau ingin menghukumku, Baby. Sungguh!" seru Alfariel serius. Gadis itu ada didepannya tapi dia sama sekali tidak bisa meraih dan memeluknya. Itu seperti cobaan berat untuk diri Alfariel. "Sakit sialan, kalau badanku kuat aku sudah dari tadi mendekap tubuh gadisku." batin Alfariel kesal.
"Baby."
"Hmm,"
"Baby."
"Hmm,"
"Ck, kesinilah Anna. Aku butuh kamu sekarang." tekan Alfariel kesal.
"Kalau aku kesitu apakah kamu akan.membatalkan permintaanmu tadi?" tanya Anna sambil melihat serius kearah retina mata Alfariel.
"Permintaan yang mana?"
"Emmm, yang tadi. Yang saat kau pura-pura tidur. Emmm menikah denganmu. Kau akan membatalkannya?" tanya Anna hati-hati.
Bisa dilihatnya perubahan raut wajah Alfariel. Lelaki itu menegang dan mengeram marah, sepertinya lelaki itu tengah mengatur emosinya.
"Kau ingin aku mati?" tanya Alfariel pelan namun terkesan sangat dingin dan tegas. "Aku bisa mati kalau kamu ingin membatalkan pernikahan kita, Baby." Ucap Alfariel frustasi.
"Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapian, sudah aku putuskan minggu depan kita menikah." ucap Alfariel final dan tidak mau dibantah lagi.
"Al," panggil Anna pelan.
"Tidak, Baby."
"Bagaimana kalau diundur?" tanya Anna memberi penawaran.
"Kita tidak sedang saling tawar menawar, Baby."
"Tapi..."
"Ck, apa salahnya sih menurut? Apakah itu sebegitu beratnya untukmu? Tidak bisakah kau menerimanya saja?" tanya Alfariel frustasi. "Kau ingin membatalkan atau menunda pernikahan kita? Baik, maka bunuh saja aku dulu." lanjut Alfariel dan langsung membaringkan badan, memungungi Anna. Dada Alfariel naik turun menahan marah.
Next to part 24