NovelToon NovelToon
Sang Konglomerat Berlutut di Hadapannya

Sang Konglomerat Berlutut di Hadapannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Enam bulan menjadi "burung kenari" konglomerat paling berkuasa di Jakarta, Keira Salim menyelesaikan misinya -- membalas dendam untuk kakaknya yang koma akibat perundungan -- lalu pergi tanpa jejak.
Rayhan Hartono terbangun di apartemen kosong. Cincin berlian merah yang dipesan khusus dari Jerman masih di sakunya. Surat perpisahan Keira hanya berisi satu kalimat: *"Terima kasih. Kita impas."*
Baru saat kehilangan, sang pewaris Hartono Group menyadari -- dia bukan yang menyelamatkan Keira malam itu. Keira-lah yang merancang segalanya sejak awal.
Dan sekarang, pria yang tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun... bersedia merangkak ke ujung dunia demi membawanya pulang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31: Jejak yang Tertinggal

Belum juga.

Beberapa hari setelah Keira pergi, Rayhan kembali ke Velvet Lounge.

Tempat itu masih sama: lampu rendah, sofa kulit gelap, aroma alkohol mahal, dan tawa orang-orang yang tidak pernah benar-benar memikirkan harga dari kebebasan mereka. Dulu, Rayhan pertama kali membawa Keira keluar dari kekacauan di tempat ini. Dulu, ia mengira malam itu takdir.

Sekarang, ia duduk di lantai atas dengan segelas whiskey yang tidak banyak berkurang.

Steven duduk di seberangnya, wajah lelah. "Lo yakin mau di sini?"

"Tidak ada tempat lain yang lebih jujur."

"Velvet? Jujur?"

"Di sini semua orang tahu mereka kotor."

William menghela napas dari kursi samping. "Itu kalimat orang kurang tidur."

Rayhan tidak menjawab. Kotak cincin masih berada di saku jasnya. Ia membawanya ke mana-mana, seperti orang membawa bukti bahwa suatu kemungkinan pernah ada.

Di meja dekatnya, dua sosialita muda berbisik terlalu keras tentang Keira. Satu menyebut perempuan itu hebat karena bisa membuat Bos Besar Hartono kehilangan fokus. Yang lain berkata perempuan seperti Keira pasti sudah menyiapkan jalan keluar sejak awal.

Steven menoleh dengan tatapan tajam. Mereka langsung diam.

Rayhan tidak bergerak. Dulu, satu kalimat merendahkan Keira cukup membuatnya melempar gelas. Malam itu ia hanya menatap cairan amber di gelasnya, seolah jika ia marah pada semua orang, ia tetap tidak akan mendapatkan jawaban dari satu orang yang hilang.

Seorang teman dari lingkaran konglomerat masuk membawa tablet. "Ray, soal akun anonim yang bocorin foto Vanessa."

Steven langsung menatapnya tajam. "Kalau mau mulai gosip, keluar."

"Bukan gosip. Tim digital gue dapat jejak awal. Akun itu terhubung ke jaringan kantor HEALER, lalu ke perangkat yang pernah dipakai Keira Salim."

Nama Keira membuat semua suara di meja berhenti.

Rayhan mengangkat mata. "Keira?"

"Kemungkinan besar dia yang kirim paket foto Vanessa. Bukan Bu Farida, ya. Yang foto-foto pribadi sebelum kasus bullying meledak."

William menatap Rayhan, mencoba membaca reaksinya.

Rayhan diam beberapa detik.

Lalu sudut bibirnya bergerak sangat kecil.

Steven menegang. "Ray."

"Dia cemburu."

"Apa?"

"Dia menyerang Vanessa sebelum kasus Safira terbuka. Dia tidak tahan melihat rumor pertunanganku dengan Vanessa."

William menutup mata. "Atau dia sedang menghancurkan orang yang menyakiti kakaknya."

"Itu juga." Rayhan mengambil gelasnya. "Tapi dia bisa saja menunggu Bu Farida. Dia memilih menyerang lebih dulu."

"Lo sedang memilih interpretasi yang paling nyaman."

"Dia cemburu," ulang Rayhan, lebih pelan. Ada sesuatu yang hampir seperti bahagia di suaranya. "Lucu juga."

Steven ingin membantah, tetapi wajah Rayhan saat itu menghentikannya. Bukan karena Rayhan benar. Karena pria itu tampak seperti orang tenggelam yang menemukan serpihan kayu kecil dan memutuskan itu kapal.

Malam makin larut. Whiskey bertambah. Rayhan tidak mabuk keras, tetapi cukup untuk membuat ingatannya longgar. Ia kembali ke Hartono Estate menjelang dini hari dengan langkah stabil yang terlalu dipaksakan.

Di ruang ganti, pelayan sudah merapikan pakaian. Namun saat Rayhan membuka lemari bagian samping, ia melihat sesuatu yang seharusnya tidak ada.

Gaun tidur Keira.

Tipis. Warna putih tulang. Tergantung di sudut belakang, mungkin tertinggal karena jarang dipakai, mungkin sengaja tidak terlihat saat Keira mengemas. Kainnya bergerak sedikit karena pintu lemari terbuka, membawa aroma sangat samar yang Rayhan tidak tahu masih mungkin ada.

Teh putih.

Kulit hangat.

Sedikit aroma parfum yang pernah menempel di leher Keira setelah mandi.

Rayhan mengangkat tangan, tetapi berhenti sebelum menyentuh kain itu.

Kenangan datang tanpa izin.

Keira berdiri di depan cermin, mengikat rambut dengan wajah datar saat ia mengomentari betapa buruknya kemampuan Rayhan memasak bubur. Keira duduk di tepi ranjang, membaca laporan HEALER, sementara Rayhan pura-pura melihat dokumen tetapi sebenarnya menatap tahi lalat merah di ujung matanya. Keira tertidur dengan tangan menggenggam kausnya setelah mimpi buruk tentang Safira.

Semua itu nyata.

Atau setidaknya, Rayhan ingin percaya ada bagian yang nyata.

Ia akhirnya menyentuh kain itu. Jari-jarinya menggenggam terlalu erat, sampai bahan halus itu kusut.

Di saku gaun tidur itu, ada sesuatu yang kecil. Rayhan menariknya keluar.

Selembar kertas lipat dari hotel London, kosong di satu sisi. Di sisi lain, ada coretan pendek dengan tulisan Keira: beli teh putih.

Hanya tiga kata urusan sehari-hari.

Namun justru tiga kata itu membuat tenggorokan Rayhan terasa tertutup. Keira pernah berencana membeli teh untuk kamar mereka. Pernah berpikir tentang hari berikutnya. Pernah hidup di dalam rutinitas yang Rayhan kira akan terus ada.

"Pak?" suara pelayan tua terdengar dari pintu. "Apa perlu saya simpan?"

"Keluar."

Pelayan mundur cepat.

Rayhan duduk di bangku ruang ganti, gaun tidur itu di tangannya. Untuk pertama kalinya sejak paket barang kembali, wajahnya benar-benar kehilangan bentuk. Bukan marah. Bukan dingin. Hanya rindu yang datang terlalu telanjang.

Ia mengambil ponsel.

Farel menjawab dalam dering pertama.

"Cari dia."

"Pak?"

"Semua jalur. Jangan peduli berapa biaya. Keira tidak di luar negeri. Dia terlalu dekat dengan Safira untuk pergi sejauh itu. Periksa rumah sakit swasta, kantor HEALER cabang, properti atas nama orang lain. Mulai dari Surabaya."

Di seberang, Farel terdiam satu detik. "Baik, Pak."

"Jangan membuat keributan."

"Dimengerti."

"Kalau dia tahu kita mencari, dia akan pindah lagi."

Kalimat itu keluar terlalu lancar. Rayhan baru menyadari setelah mengatakannya bahwa ia sekarang mempelajari cara berpikir Keira bukan untuk memenangkannya, melainkan agar tidak kehilangan jejak yang terakhir.

Rayhan menatap gaun tidur di tangannya.

"Dan jangan ganggu Tari."

"Baik."

Pagi yang sama, di Surabaya, Keira baru selesai mandi ketika bel apartemen berbunyi.

Ia mengira itu kurir sofa.

Ketika pintu dibuka, Kevin Widjaja berdiri di depan dengan kemeja rapi dan map kerja di tangan.

"Selamat pagi," katanya.

Keira menatapnya. "Kamu di Surabaya?"

"Mulai hari ini." Kevin tersenyum tipis. "Aku akan menjadi Direktur Eksekutif HEALER cabang Surabaya."

"Kevin."

"Aku tahu. Kedengarannya seperti kebetulan buruk."

"Ini keputusan siapa?"

"Dewan HEALER. Dan sedikit keputusanku." Kevin mengangkat map. "Surabaya butuh orang yang bisa menjaga cabang ini setelah kamu pindah. Safira juga di sini. Aku tidak akan pura-pura hanya urusan kantor."

Keira menatapnya lama. "Kalau Rayhan tahu..."

"Dia akan berpikir macam-macam." Kevin mengangguk. "Tapi hidupmu tidak bisa terus disusun berdasarkan apa yang Rayhan mungkin pikirkan."

Kalimat itu benar.

Tetap saja, kebenaran tidak selalu membuat dada lebih ringan.

Di belakangnya, matahari pagi masuk ke lorong apartemen.

Keira tahu kabar itu seharusnya membuatnya lega.

Namun entah kenapa, hal pertama yang ia pikirkan justru: jika Rayhan tahu, ia akan salah paham lagi nanti.

1
kitty ❤
lanjut Thor 😍🔥
kitty ❤
Semangat Thor 😍🔥
kitty ❤
lanjut Thor 🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!