Joana, seorang gadis yang rela menjadi istri sewaan dari seorang pria kaya yang bernama Dave. Di usianya yang sudah menginjak tiga puluh tahun membuat Dave terus di desak oleh kedua orang tuanya untuk segera menikah.
Joana sendiri adalah seorang gadis yang di usir oleh orang tuanya karena gadis ini di tuduh menjadi penyebab anak yang sedang di kandung oleh ibu tirinya meninggal.
Hanya karena ketidaksengajaan yang di lakukan oleh Joana membuat Dave memaksa Joana menerima penawaran dari Dave untuk menjadi istri sewaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
"Lihat ikan ini, mirip dengan mu. Berjenggot!" Ujar Joana yang menyamakan wajah suaminya dengan ikan.
"Dan lihat, sama seperti mu. Kurus, panjang....!" Balas Dave. "Cepat pilih....!"
"Aku ingin ikan yang sama seperti kemarin," ujar Joana.
Dave paham, pria ini langsung meminta pada sang penjual untuk membungkus ikan jenis koi.
Urusan ikan selesai, Dave dan Joana langsung pulang. Di bantu penjaga rumah, ikan yang baru saja di beli sudah berpindah ke kolam.
"Bagaimana, sudah senang sekarang?" Tanya Dave.
"Tentu saja,...!" Jawab Joana. "Oh tapi, aku tadi melihat burung. Sepertinya seru kalau aku juga memelihara burung."
"Kau sudah punya satu burung, telurnya dua lagi. Apa masih kurang?"
Ucapan Dave seketika membuat penjaga rumah langsung pamit pergi.
"Bicara mu itu loh, bikin malu aja!" Ucap Joana kesal.
"Burung ku sudah lebih dari cukup untuk kau pelihara. Jangan coba-coba mencari burung yang lain!"
"Tidak berniat. Bagi ku semua laki-laki sama saja!" Sahut Joana kemudian ia pergi.
Dave mengekor di belakang istrinya.
"Kenapa tidak bekerja hari ini?" Tanya Joana heran. "Bukankah bagi mu, waktu itu adalah uang?"
"Aku sedang malas," jawab Dave.
"Hai, tumben sekali perjaka tua ini sedang malas!"
"Aku sudah menikah, bukan perjaka tua lagi."
"Tapi, adikmu selalu mengejek mu seperti itu."
"Jangan mengikuti Davina, dia memang nakal!"
"Aku pergi ke dapur dulu," ujar Joana.
"Mau apa kau di dapur?"
"Tentu saja memasak, aku ingin makan masakan ku sendiri."
"Masak yang enak, kalau enak nanti ku beri bonus!" Ujar Dave.
"Eh, serius. Bonusnya apa?" Tanya Joana penasaran.
"Sayang, bonusnya rahasia!"
"Menyebalkan!" Seru Joana. "Jangan lupa cukur brewok mu. Itu membuat ku geli setiap kali kau mencium ku."
"Kalau begitu, tebang juga hutan mu biar aku bisa masuk dengan cepat ke dalam!" Sahut Dave.
"Ada aja jawabannya!" Seru Joana kemudian ia bergegas pergi ke dapur.
Dave mencuci kaki dan tangannya karena sedikit kotor. Setelah itu pergi ke ranjang dengan maksud hati ingin bermalas-malasan di atas sana.
Tapi, tiba-tiba saja ekor mata Dave menangkap sesuatu yang begitu asing. Dave berjongkok, salah satu tangannya mengambil sesuatu yang tergeletak di bawah ranjang.
"Obat apa ini?" Dave bertanya-tanya sendiri.
Dave yang penasaran mengeluarkan ponselnya lalu mencari kegunaan dari obat tersebut.
Wajah Dave memerah, di remasnya obat tersebut dengan perasaan emosi yang memuncak. Deru nafas Dave tak beraturan, pria ini duduk sambil mengepal obat tersebut.
Tak seberapa lama, Joana masuk ke dalam kamar.
"Gak jadi masak, bibi sudah masak untuk makan siang." Ujar Joana memberitahu suaminya.
"Berani-beraninya kau membohongi ku," ucap Dave dengan suara dingin membuat bulu kuduk Joana merinding.
"Aku membohongi mu apa?" Tanya Joana tidak mengerti.
Dave melempar obat yang sudah remuk akibat di remasnya sejak tadi tepat di depan wajah Joana.
"Ternyata selama ini kau mengkonsumsi obat itu agar kau tidak hamil. Apa maksud mu hah?" Sentak Dave dengan nada tinggi.
Joana bergidik ketakutan.
Tiba-tiba saja Dave mencengkram wajah Joana.
"Dave, lepas!" Pinta Joana kesakitan.
"Dari awal aku sudah curiga pada mu, sudah sekian bulan kita menikah tapi, kau belum ada tanda-tanda kehamilan. Ternyata kau meminum obat selama ini," ucap Dave dengan sorot mata tajam. "Jelaskan, apa maksud mu hah?"
Joana mendorong tubuh Dave, perempuan ini sedikit menjauh dari sana.
"Aku meminum obat itu ada alasannya," ucap Joana sambil menahan rasa sakit di wajahnya.
"Apa hah? apa.....? Kau sudah menipu ku, kau sudah membohongi ku!"
"Seharusnya kau bertanya pada diri mu sendiri kenapa aku sampai minum obat itu. Kau sendiri yang bilang jika kau tidak mau punya anak. Bagi mu, punya anak itu merepotkan, menyusahkan. Dave, aku tidak ingin anak ku lahir tanpa di kasih sayang dari papa-nya. Kau pikir gampang jadi aku hah?"
"Kau sudah mempermainkan aku, Joana!" Ucap Dave dengan nada tinggi.
"Apa, apa yang aku permainkan?" Joana bertanya. "Selama ini, selain nafsu di atas ranjang, apa pernah kau bersikap layaknya suami? Kau hanya pergi pulang menikmati tubuhku, kau tidak pernah memikirkan kebutuhan batin apa yang aku mau. Kau hanya sibuk mengurus pekerjaan mu, nafsu mu. Dan, jangan lupa jika kau sendiri membicarakan pernikahan kita pada perempuan lain. Menurut mu, apa itu pantas?" Tanya Joana naik emosi. "Wajar jika aku, kau bilang cinta pada ku tapi, sikap mu saja kadang manis kadang membuat ku sakit...!"
"Apa pun alasannya, aku tidak terima!" Ucap Dave yang sudah hilang kesabaran. "Ternyata, seorang perempuan jalanan seperti mu memang lebih pantas hidup di jalanan." Ucap Dave begitu tega.
Setetes air mata Joana jatuh membasahi pipi. Ucapan Dave benar-benar sudah menampar hati Joana.
"Egois,...!" Ucap Joana pelan. "Aku memang perempuan jalanan. Dave, ucapan mu tadi sudah membayang dalam pikiran ku sejak awal kau bilang mencintai ku. Sekarang aku sadar, cinta mu itu palsu. Aku hanyalah perempuan pemuas nafsu mu. Mari kita akhiri ini semua," ujar Joana.
"Terserah kau!" Seru Dave acuh.
Joana memejamkan matanya sejenak, menata hati yang terasa sangat sakit.
"Jika aku jadi kau, aku akan malu menjilat ludah ku sendiri." Singgung Joana.
Joana sudah tidak tahan lagi, hatinya benar-benar hancur. Perempuan ini langsung mengambil pakaian lamanya yang masih tersimpan rapi di dalam tas sederhananya.
Joana meletakan semua kartu yang di berikan Dave kepadanya termasuk uang pembayaran dulu. Sekian pakaian lamanya, Joana tidak membawa apa-apa termasuk uang. Joana pergi dari rumah Dave, bahkan Dave sendiri tidak menahan kepergian istrinya.
Aaaaaaaargh.......
Dave mengamuk, mengacak-acak isi kamarnya sebagai pelampiasan. Cintanya pada Joana adalah kebenaran tapi, pria ini tidak bisa menunjukkan rasa cinta itu. Dave tidak berpengalaman dalam urusan cinta.
"Dia sudah menipu ku," ucap Dave. "Sudah ku bilang jika aku mau punya anak dari dia. Tapi, dia membohongi aku selama ini. Joana tidak mencintai ku!"
Dave frustasi, pria ini begitu egois tak mau di salahkan.
Di sisi lain, Joana saat ini sudah pergi meninggalkan rumah Dave. Untung saja jarak jalan utama tidak begitu jauh dari komplek rumah Dave.
Rasanya begitu lelah, sekali lagi Joana di kecewakan dengan yang namanya laki-laki.
"Apa yang aku takutkan telah terjadi. Dave, ini alasan ku tidak mau punya anak dari mu. Aku egois, keras kepala dan mau menang sendiri."
Joana mengusap air matanya kasar, menarik nafas panjang lalu tersenyum untuk sekedar menguatkan hati.
joana Hamil
💪💪semangaat
author yng tau