BUKAN KAWASAN ANAK DI BAWAH UMUR!
Di sebuah pesta, untuk pertama kalinya David bertemu Amelia, seorang pelayan yang datang ke pesta dengan undangan yang ditemukannya di jalan.
David jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Amelia sehingga membawa perempuan itu ke dalam apartemennya dan menghabiskan malam bersama.
Enam tahun kemudian, David bertemu dengan seorang perempuan yang berwajah mirip dengan Amelia. David yakin kedua perempuan itu adalah orang yang sama, tetapi perempuan itu malah mengelak.
Siapakah perempuan itu? Apa yang sebenarnya telah terjadi pada enam tahun yang lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Citra Gtw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Kecurigaan 2
Meski Emma sudah lama pergi, Amelia masih tetap berdiri di tempatnya. Perkataan Emma berhasil mengganggunya.
“Lia, ayo pulang!” Tiba-tiba David mendatangi Amelia dan mengajaknya pulang.
Pelan-pelan Amelia mengikuti langkah David. Perkataan Emma masih memberatkan kakinya
Amelia terus terdiam. Seberapa banyak David berkata, Amelia tetap diam. Setelah masuk ke dalam mobil, Amelia menghentikan David yang hendak menyalakan mobilnya.
“Ada apa?” tanya David heran.
“Kita ….” Amelia ragu mengatakannya.
“Kita kenapa?” tanya David.
“Kita … hanya teman, kan?” tanya Amelia akhirnya.
David tertawa pelan. “Tentu saja kita hanya teman,” jawabnya menyetujui.
Amelia percaya. Dia langsung merasa lega.
Tiba-tiba David mengacak rambutnya karena gemas. “Pertanyaanmu …,” katanya. Kemudian David tertawa lagi dan mulai melajukan mobilnya.
Langsung saja kepercayaan Amelia luruh. Lega telah kabur dari dirinya. Amelia sadar telah banyak batas-batas antar teman yang dilanggar oleh David. Teman hanya menjadi kata sebutan. Karena kenyataannya, mereka memang tidak bersikap selayaknya teman.
Amelia mengingat pertanyaan Emma. Kini Amelia mampu menjawabnya. David tidak pernah menganggapnya sebagai teman. Sejak awal, laki-laki itu hanya menggunakan ‘teman’ untuk berada di dekat Amelia. Seketika Amelia menjadi kesal. David tidak pernah benar-benar berubah menjadi lebih baik.
***
Akhirnya Amelia mulai memperhatikan David lebih dalam. Gerakan-gerakan kecil pun tak akan pandangannya lewati. Dia tidak mengatakan apa pun ke David tentang dirinya yang sudah tahu itu. Dia tidak mau laki-laki itu membohonginya lagi.
“Sini, biar aku yang antar,” kata David. Seperti biasa, dia mulai membantu Amelia di saat-saat waktu terakhir bekerja.
Amelia berpikir. Karena sudah biasa seperti itu, dia tidak merasa enak untuk menolaknya. Meski begitu, dia memiliki kewajiban untuk menggambar garis antara dirinya dan David. Akhirnya Amelia berjalan berbelok untuk melewati David. Tanpa menjawab, dia mengantarkan pesanan pelanggan sendiri.
Karena hanya sekali, David tidak memikirkan itu. Dia kira Amelia sedang tidak mendengarkannya. Akan tetapi, esoknya Amelia bersikap seperti itu lagi. Lagi-lagi David tidak berpikir berat tentang itu. Dia mengira Amelia sedang dalam suasana hati buruk dan ingin menyibukkan diri. Akan tetapi, esok harinya lagi Amelia masih bersikap sama. Itu terjadi esok harinya lagi dan mulai seterusnya.
David tidak bisa tinggal diam. Akhirnya dia mengatakan kejajanggalan yang dirasakan langsung pada Amelia. Saat Amelia akan mengantar pesanan, dia pun menghadang Amelia. Saat Amelia akan berbelok, David menghadangnya lagi.
“Ada apa?” tanya Amelia.
“Biar kuantar,” kata David menawarkan diri.
David hendak memegang nampan yang dipegang Amelia, tetapi perempuan itu langsung menjauhkannya. “Tidak perlu. Aku bisa sendiri,” tolak Amelia.
Amelia hendak melangkah, tetapi David menghadangnya untuk yang kesekian kalinya.
“Bukannya biasanya seperti itu?” David mengingatkan.
Amelia tersenyum ramah. “Itulah kesalahanku. Seharusnya aku tidak membiarkan temanku menggantikan pekerjaanku setiap hari.”
Meski perkataan Amelia adalah sindiran, David tidak bisa membuktikan itu karena senyum lebar Amelia. Tidak ada orang menyindir dengan selembut itu. Meski David menyadarinya, dia masih tidak bisa kesal.
“Oh, kau masih di sini?” tanya Amelia.
David mengerutkan dahinya. Dia tidak mengerti akan maksud perkataan itu.
“Kau tidak seharusnya berdiri di sini. Seharusnya kau sedang menungguku di dalam mobil karena kau duduk di sana pun kau tidak akan membeli apa pun,” kata Amelia sembari menunjuk meja-meja makan.
David tidak berkata apa-apa. Dia pun berjalan keluar restoran seperti yang Amelia katakan. Di dalam mobil, dia menjadi diam. Dia sibuk terheran-heran. Tiba-tiba saja Amelia bersikap berubah. Pasti ada sesuatu yang terjadi sebelumnya.