Dira, Luna dan Nisa adalah tiga gadis yang bersahabat, mereka berteman sejak SMA.
Dira adalah seorang gadis yang bar-bar sering berantem dengan teman kampusnya. Tetapi dia gadis yang cukup mandiri walaupun terbilang dari keluarga yang berada.
Luna sejak kecil adalah anak yang paling memprihatinkan, dia tinggal bersama ibunya di rumah yang sangat sederhana, bahkan untuk mencukupi kebutuhannya ibunya harus berjualan makanan. Luna gadis yang pintar bisa masuk kampus terbaik di kota itu dengan bantuan beasiswa.
Nisa adalah gadis yang ceroboh, tukang makan, kalau bicara asal benar.
Buat Nisa yang penting ada makanan semua beres.
Arkan dan Elang siapa ya mereka????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Happy Reading 📖
"Sisil," panggil salah satu teman Sisil.
"Ada apa?" tanya Sisil, mereka sedang berada di kampus.
"Lama kita tidak ngerjain itu Dira," ucap teman Sisil.
"Kita kerjain di luar kampus, aku gak mau di keluarkan dari kampus ini," kata Sisil, menolak ajakan temannya.
"Biar aku saja kalau kamu tidak mau," ucap Keke, Keke adalah teman Sisil yang mendorong Dira di parkiran cafe tempat Dira dulu berkerja. Selama ini dia selalu menghasut Sisil untuk menganggu Dira.
"Aku sudah ingatkan, aku tidak mau terlibat," ucap Sisil, lalu pergi meninggalkan Keke.
Dira baru datang ke kampus, dia berjalan melewati Keke. Keke memanggil Dira, dia pura-pura baik pada Dira.
"Dira," panggil Keke.
"Iya saya, ada apa?" tanya Dira.
"Ke kantin yuk!" ajak Keke.
"Maaf, aku harus masuk kelas," ucap Dira, saat akan melangkahkan kaki tiba-tiba kaki Keke menghalangi dan membuat Dira terjatuh.
"Sakit tidak?" tanya Keke, dengan nada mengejek.
Dira lalu bangkit dari jatuhnya dan pergi dari tempat itu, dia sengaja diam karena tidak mau membuat keributan di kampus.
"Dira! jangan kabur kamu!" teriak Keke, tetapi Dira tidak menghiraukan panggilan dari Keke.
Di dalam kelas Luna dan Nisa sudah menunggu Dira, mereka berdua mengerjakan tugas yang belum selesai.
"Dira, tugas kamu sudah selesai belum?" tanya Nisa.
"Sudah, tadi malam aku kerjakan bareng Elang," ucap Dira, mendudukkan diri di sebelah Luna.
"Elang tugasnya sama dengan punya kita?" tanya Luna.
"Beda Luna, aku hanya mengerjakan bareng saja," jelas Dira.
"Aku kira kamu nyontek, Dira," ucap Nisa.
"Tidak, aku bisa sendiri," kata Dira, mengeluarkan tugasnya dan memperlihatkan pada Luna dan Nisa.
Luna dan Nisa kagum dengan hasil yang di kerjakan Dira, karena tidak biasanya Dira mengerjakan tugas sendiri.
"Pak Arkan pasti kaget melihat tugas kamu, Dira," ucap Luna.
"Dia tidak mau membantuku," kata Dira.
"Bantu apa? mengerjakan?" tanya Nisa.
"Iya, tadi malam dia hanya melihat," terang Dira.
Pak Arkan sudah datang dan masuk ke ruang kelas, semua mahasiswa tampak tenang tidak ada yang berisik. Mereka di minta untuk mengumpulkan tugas yang kemarin dia berikan, lalu melanjutkan pelajaran untuk hari ini.
Teman-teman Dira sangat bahagia hari ini, karena kuliah hanya sebentar dan mereka berencana akan ke butik mamah Dira.
Dira sengaja mengajak teman-temanya agar tidak lama di sana, dia sama sekali belum minat mengikuti bisnis mamahnya.
"Kita ke kantin dulu yuk!" ajak Nisa.
"Langsung berangkat saja," ucap Luna.
"Iya, kita berangkat saja, nanti aku traktir di sana," sahut Dira.
"Makanannya enak tidak, Dira?" tanya Nisa.
"Pasti enak, kan dekat dengan pusat kuliner juga, Nisa," ucap Luna.
Dulu Luna waktu masih SMA sering mengantarkan Dira ke butik mamahnya, karena Dira takut pergi sendiri.
Mereka bertiga menunggu angkot di pinggir jalan luar kampus, Sisil tiba-tiba datang.
"Kalian mau kemana?" tanya Sisil.
"Pulang!" jawab Luna, ketus.
"Kita mau jalan-jalan," sahut Nisa.
"Bareng aku yuk!" ajak Sisil, menawarkan tumpangan kepada mereka.
"Terimakasih, tapi kita lebih suka naik angkot," ucap Dira.
"Dasar kalian miskin semua," ucap Sisil, lalu masuk ke dalam mobilnya dan pergi begitu saja.
"Heran aku sama Sisil," ucap Luna.
"Biarkan saja, tidak usah di ambil hati," kata Dira.
"Angkot kenapa juga lama banget," kata Nisa.
"Sabar," ucap Luna.
Beberapa saat kemudian ada sebuah angkot lewat, mereka semua naik angkot itu, di dalam angkot Nisa ngobrol dengan sopirnya.
"Pak, kenapa lama sekali lewatnya?" tanya Nisa.
"Biasa Neng, jalanan macet," jawab sopir angkot itu.
"Kenapa tidak lewat jalan lain saja? kita lama sekali lho... nungguin bapak," ucap Nisa.
"Sudah jalur saya, tidak boleh menyerobot jalur lain," kata sopir angkot, sambil tersenyum.
"Tapi, penumpang angkot bapak jadi sedikit kalau macet," ucap Nisa lagi.
"Neng, itu sudah rezeki kita dan tidak akan tertukar, kita harus bersyukur berapapun rezeki yang kita terima," kata sopir angkot.
"Pak, ceramah di masjid aja," Nisa asal ngomong.
"Nisa...!!! bentak Dira dan Luna secara bersamaan, Nisa menutup telinganya.
"Ada orang tua kasih nasehat itu di dengarkan!" ucap Luna.
"Sudah Neng, tidak apa-apa jangan di bentak temannya," kata sopir angkot.
"Tuh, kalian dengar bapak sopir bilang apa," ucap Nisa, pada Dira dan Luna.
"Maafkan teman kita, pak," ucap Dira, tidak enak dengan sopir angkot itu.
Nisa benar-benar membuat malu Luna dan Dira, tetapi Nisa kelihatan tidak ada rasa bersalah sama sekali. Mungkin efek dia belum sempat jajan di kantin, perut yang belum terisi membuatnya asal ngomong hehehe.....
Akhirnya mereka bertiga sudah sampai di butik mamah Meri, Luna dan Nisa tampak kagum dengan butik mewah tersebut.
"Dira, kita sudah sampai, ayo makan dulu!" ajak Nisa, memegang perutnya.
"Sabar Nisa, jangan bikin malu lagi," ucap Luna.
Saat mereka masuk ke dalam butik itu, ada seorang pegawai yang menyambut kedatangan mereka.
"Silahkan masuk! ada yang bisa kita bantu?" tanya seorang pegawai butik.
"Ibu Meri ada mbak?" tanya Dira, pegawai itu tidak mengenali Dira.
"Sudah ada janji?" tanyanya lagi.
"Sudah, tolong bilang Dira ingin bertemu," ucap Dira, dengan sopan.
"Silahkan duduk di sebelah sana, saya panggilkan beliau," kata pegawai itu, sembari menunjukkan tempat tunggu bagi tamu.
Dira, Luna dan Nisa lalu duduk di tempat yang sudah di sediakan.
"Dira, ketemu mamah sendiri kaya mau ketemu orang lain saja," ucap Nisa.
"Mereka tidak ada yang mengenaliku, Nisa," jawab Dira.
"Kamu diem dulu, Nisa," kata Luna.
"Luna, tidak asyik," ucap Nisa, sembari mengambil minuman berupa air mineral yang tersedia di meja. Luna menggelengkan kepalanya melihat tingkah Nisa.
Mama Meri datang menemui mereka dan duduk di sebelah Dira.
"Kenapa tidak langsung ke dalam saja, Dira?" tanya mamah Meri.
"Tidak enak mah, masa nyelonong aja," ucap Dira.
"Luna, Nisa, kalian apa kabar?" tanya mamah Meri.
"Kita baik tante, tante apa kabar juga?" jawab Luna.
"Tante juga baik, ayo kita masuk saja ke dalam!" ajak mamah Meri.
Dira, Luna dan Nisa mengikuti mamah Meri ke dalam ruang kerjanya. Sangat luas dan ada tempat untuk istirahat juga. Dulu waktu masih kecil Dira sering di ajak, jadi ruang kerja mamah Meri di desain senyaman mungkin.
Mamah Meri memesankan makanan untuk mereka bertiga dan dirinya karena sudah waktunya makan siang. Setelah mereka selesai makan mamah Meri mengajarkan cara mengelola butik itu, yang tadinya kecil hingga menjadi besar dan terkenal. Nisa sampai tertidur mendengarkan penjelasan mamah Meri.
Bersambung......
baik benar jadi teman❣️❣️❣️❣️
masih z suka menyalahkan orang lain 🙄🙄🙄🙄