Karena nila setitik rusak susu sebelanga, itulah perumpamaan yang terjadi dalam kehidupan Khalisa Suci Kirani. Jejak noda yang tersemat padanya membawa lara. Cemoohan sudah akrab menyapa yang selalu ditanggapi Khalisa dengan senyuman. Bahkan secara tak terduga, orang-orang yang dianggapnya keluarga termasuk sang suami, bermain madu dan racun di balik punggungnya sebab jejak noda tersebut.
Namun, saat poros hidup yang menjadi kekuatannya terenggut dari sisinya, mampukah Khalisa tetap tersenyum kala noda itu menyeretnya hingga ke dasar nestapa?
Yudhistira Lazuardi, si pengacara muda yang memutuskan mandiri dan menjauh dari keluarganya demi meredam kisruh di dalamnya, alih-alih mendapat ketenangan, hidupnya mendadak tak lagi sama saat membiarkan sosok Khalisa yang dipenuhi problema masuk ke dalamnya.
"Dua ratus juta!"
"Dua ratus juta di muka sekarang juga, untuk dia!" Yudhistira mengarahkan telunjuknya tepat pada Khalisa. Dengan rahang mengetat dan sorot mata tajam tak terbaca.
Akankah Khalisa tetap suci semurni arti namanya? Atau justru tergerus noda yang tak pernah diinginkannya.
Ikuti kisahnya.
Jangan plagiat! Ingat Azab
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjahari_ID24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buka Pagarnya!
Bab 24. Buka Pagarnya!
Menyusut sisa-sisa air mata yang membasahi wajahnya, dengan perasaan remuk redam Khalisa bergegas membereskan semua pakaiannya yang jumlahnya tidak banyak itu. Setelah Dion dengan lantangnya memutuskan ikatan sakral mereka, dan meneriakinya untuk angkat kaki malam ini juga dari atap yang selama empat tahun ini menjadi tempatnya bernaung.
Meski dirinya sendiri yang meminta, ternyata saat kata cerai terlontar langsung dari mulut pria yang pernah bersumpah suci untuknya, ibarat anak panah beracun yang melesat cepat menancap tepat di jantungnya. Nyeri tak terperi, nelangsa tak terkira. Merasa hanya dianggap seonggok sampah, tersingkir dari takhta ratu hati yang dulu dijanjikan, terganti oleh yang lebih berpunya.
Usai sudah kisahnya dengan pria yang selama ini disanjung yang ditaruhnya di tempat tertinggi dalam hidupnya. Pria yang dulu diyakininya memandangnya berbeda, ternyata sama-sama menganggapnya tak berharga. Tidak ada bedanya dengan manusia-manusia lain yang mencemooh sebab catatan noda hitam yang melekat padanya.
Khalisa tak punya banyak teman maupun luas pergaulan. Lebih tepatnya tidak ada yang mau berteman akrab dengannya, sedangkan teman-teman sebayanya dari panti dulu, sudah hilang kontak sejak lama. Seluk beluk Kota Bandung pun ia tak begitu hafal. Waktu kecilnya habis terisolasi di panti terasing yang dipandang hina. Sedangkan setelah dewasa dan keluar dari panti, Khalisa terjebak di rumah sang mertua yang hanya menjadikannya pelayan tanpa bayaran. Seumpama peribahasa, lepas dari kandang harimau masuk ke mulut buaya, begitulah nasib dirinya.
Walaupun tak tahu harus ke mana, Khalisa bertekad pergi saat ini juga dari rumah ini. Menyingkir dari sini, tak sudi lagi diinjak-injak harga diri.
Tentang tujuannya sendiri Khalisa pun tak tahu. Sementara berteduh di pos-pos ronda pun tak mengapa untuk malam ini, dan ia akan memikirkan langkah selanjutnya esok pagi. Percaya pasti ada jalan kendati tak yakin sebab bekal materi pun ia tak mumpuni. Meski di luar sana juga tidak lebih aman dan nyaman, tetapi itu lebih baik daripada dianggap raga tanpa rasa.
Mengganti baju robeknya dengan baju lain, ditatapnya nanar sepotong daster yang didapatnya penuh perjuangan itu, sehelai kain baru yang amat disukainya itu telah koyak di mana-mana. Dengan cepat, dilipatnya daster koyak tersebut, dimasukkannya ke dalam tas usang yang dulu dibawanya dari panti asuhan bergabung dengan baju lainnya. Celengan yang terbuat dari bekas kaleng susu berisi uang koin sisa-sisa kembalian belanja ikut Khalisa jejalkan, sebagai modal bekalnya, hanya itu materi yang dimilikinya.
Mengambil tas lain yakni tas bayi yang diberikan si bapak penjual bubur sebagai kado sewaktu ia melahirkan Afkar, Khalisa ke kamar sang putra yang letaknya bersebelahan dengan kamarnya. Sebuah ruangan kecil yang disekat menggunakan gypsum, membagi kamarnya yang tidak luas itu menjadi dua bagian dalam rangka ingin membuatkan kamar pribadi untuk Afkar.
Dimasukkannya baju-baju Afkar, mainan kesukaan sang anak yang jumlahnya bisa dihitung jari, juga tak lupa kardus bekas makanan berwarna merah kuning turut Khalisa bawa, serta sebungkus biskuit dan sebotol air mineral yang biasa Khalisa simpan sebagai cemilan Afkar.
Memakai jaket dan melintangkan kian jarik di tubuhnya. Khalisa bersiap meraup Afkar yang masih tertidur pulas. Duduk di sisi kasur, Khalisa mengusap dahi sang putra penuh sayang.
“Sayangnya Bunda,” ucapnya pelan, suaranya parau, tercekat gumpalan sebah menyumpal di tenggorokan. “Maafkan Bunda, maafkan keputusan Bunda yang berpisah dengan ayah, Nak,” lirihnya merasa bersalah, telah gagal menjaga keutuhan status orang tua untuk anaknya.
Khalisa membekap mulutnya kuat guna menahan suara tangis supaya tak membangunkan si buah hati, Khalisa menarik dan membuang napas teratur berusaha meredam isakannya.
“Kita harus pergi dari sini. Bunda sudah tak lagi punya tempat di rumah ini. Maafin Bunda, setelah ini mungkin Bunda bakal bawa Af kepanasan dan kehujanan dulu. Af harus kuat ya, bersabar sebentar saja, temani Bunda. Bunda janji, akan berjuang sekuat tenaga buat Afkar, supaya enggak kepanasan dan kehujanan terlalu lama.”
Pintu kamarnya didorong kasar, Dion berdiri di ambang pintu dengan sorot tajam menghunus juga ujung bibir berkedut, masih diliputi murka.
“Jadi, kamu benar-benar akan pergi malam ini?” ujarnya meremehkan nyali Khalisa.
“Ya,” sahut Khalisa singkat. Balas menatap nyalang penuh luka.
“Memangnya mau pergi ke mana kamu? Oh aku lupa, kamu sekarang pasti punya tempat tujuan, tempatmu menjual diri iya kan?” cibir Dion merendahkan.
“Bukan urusanmu!” tegas Khalisa, berusaha tetap tegar kendati tak mudah.
Wajah Dion merah padam tergerus emosi. Merasa kalah. Lantaran si lugu yang biasanya tunduk di kakinya kini membantah. Memancing egonya, tak bersedia menerima kekalahan telaknya.
Saat Khalisa hendak menggendong Afkar, tanpa aba-aba Dion menyambar lengannya, menahannya kuat.
“Lepasin!” seru Khalisa.
“Ceu Wati! Ceu Wati, ke sini cepat!” dengan suara lantang Dion memanggil-manggil si ART pribadi istri mudanya itu, memerintahkannya untuk bersegera.
“I-iya, Pak.”
“Angkut tas berwarna coklat itu dan bawa cepat keluar pagar. Tapi tidak dengan tas bayi berisi baju-baju Afkar!” titahnya sembari menyeret Khalisa, menariknya paksa keluar rumah.
Ceu Wati yang terlihat enggan, dengan berat hati mengangguk dan melaksanakan perintah. Sesuai titah Amanda, bahwa sekarang Dion juga adalah majikannya. Dia hanya pekerjal yang menggantungkan nafkah pada pekerjaannya, tak punya daya upaya meski nuraninya berteriak iba pada sosok Khalisa sejak dia sampai di rumah itu sore tadi.
“Lepasin! Apa maksud dari semua ini?” tuntut Khalisa marah yang kini sudah berada di luar pagar rumah.
“Kamu datang ke sini hanya membawa dirimu sendiri beserta baju lusuhmu. Berarti saat pergi dari sini pun cuma seorang diri ditemani pakaianmu. Hanya kamu yang aku perintahkan angkat kaki, tapi tidak dengan Afkar. Kamu tidak kuizinkan membawa Afkar, wanita jal*ng!” desis Dion tajam. Menutup pagar setengah membanting dan menguncinya, berderap kembali masuk setelah menjatuhkan bom susulan yang lebih dahsyat dari sebelumnya.
Khalisa terhenyak. “A-apa maksudnya ini?” untuk beberapa detik Khalisa dilanda syok. Tak menyangka mendadak begini situasinya. “Ke-kenapa begini?” gumamnya linglung.
“Enggak, enggak,” ujarnya menggeleng-gelengkan kepala, deru napasnya memburu tak beraturan.
“Buka pagarnya! Buka pagar ini!” Khalisa berteriak-teriak, menggebrak-gebrak pagar dengan tenaga lemahnya. Panik bukan kepalang, tak tahu harus berbuat apa.
“Aku mohon buka pagar ini! Biarkan aku membawa anakku, aku enggak minta apa pun sebagai istri yang diceraikan, tapi tolong, biarkan aku membawa anakku!”
Otaknya buntu seketika. Seluruh raganya gemetaran hebat. Kakinya seakan tak lagi menapak bumi saat nyawa jiwanya, si binar hidupnya, dan poros dunianya direnggut paksa dari tangannya.
“Buka pagarnya brengsek! Berikan anakku, berikan anakku!” jeritnya memilukan, meraung menyedihkan. Berteriak-teriak seperti orang gila tanpa ada satu pun yang memedulikan. Para tetangga pun hanya mengintip sekilas melalui celah gorden dan pintu, mencibir puas. Tak ada satu pun yang berempati, merasa diri paling suci.
Bersambung.