Seren hanyalah gadis biasa yang terlahir dari rahim seorang pelacur. Hidup dan tumbuh dari hasil keringat seorang pelacur tak membuat Seren termotivasi untuk menjadi salah satu di antaranya.
Dalam 18 tahun kehidupannya, Seren selalu bertekad tidak ingin menjadi seperti sang ibu. Karena ia sangat tahu di balik kehidupan mewah seorang Pelacur tersimpan sebuah hal berbahaya yang bahkan satu orang pelacur- pun belum dapat keluar darinya.
"Hmm- Kamu percaya kalau aku ini bajingan, bukan?"
peringatan: mengandung percakapan orang dewasa, disarankan untuk bijak memilih jenis bacaan anda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kang-jun!!!, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Seren cemburu
"Aku tidak mau membantu."
"K-kenapa?"
William memperhatikan Seren. "Masih kau tanya kenapa? Tentu saja karna hutangmu itu sudah banyak. Kau fikir hutangmu yang sebelumnya hilang bagaikan aliran air ha?!"
Jujur saja Seren cukup tersinggung dengan penuturan itu, tapi mau bilang apa, itupun sebuah kenyataan.
.
.
.
.
.
"Jadi begitulah ceritaku hari inj." Imbuh Seren lagi, mukanya lesuh tak ingin banyak bicara pada dua karyawan yang dengan khidmat mendengarkan kisahnya.
"Ooo... Jadi begitu rupanya." Seru salah seorang karyawan menanggapi.
"Kamu punya kehidupan yang keras ya, meski begitu kamu tetap tabah." Timpal karyawan lainnya.
"Hemph...."
"Sedang apa kalian berkerumun disana ha?! Kalian fikir jam berapa sekarang, malah bergosip di jam kerja, mau gajinya dipotong!?" Seru Manajer menegur keras para karyawannya.
Semua berhamburan kembali bekerja, tak terkecuali Seren yang kembali mencuci piring kotor di zink.
Ditengah asyiknya bekerja, Seren kembali teringat akan pesan yang dikirim oleh rentenir itu. Dia meminta Seren sesegera mungkin mencicil hutang. Hal itu hampir membuat Seren kalang kabut. Karna nominal yang besar hampir membuatnya stres sendiri.
Meminta pertolongan pada William seperti percuma. Dia sudah berhutang banyak kepada William, meski dia tak tau kenapa bisa membengkak sebanyak itu.
"Hey." Sapaan satu suara yang berhasil membuat Seren kembali sadar.
"Jangan melamun saat bekerja." Tegurnya pada Seren seraya menambah piring kotor.
Ia memperhatikan Seren seraya menghembuskan nafas dan tangan yang mengusap pipi pelan, ia sepertinya sedang berfikir namun urung disampaikan dan memilih pergi.
Pria itu bernama Jeno, ia juga seorang karyawan di Cafe ini, bekerja sebagai kasir dan minim bersosialisasi. Jujur saja, ia memiliki perawakan tegap, kulit sawo matang, mata lengkung, dan rambut lurus sepanjang bahu, cukup mempesona dan Seren tertarik.
Namun sikapnya yang menjadi penghalang, itulah yang membuat Seren jadi urung untuk menyukainya. Sangat disayangkan sekali. Membicarakan hal itu membuat ia teringat satu manusia lainnya yang omelannya masih membekas hingga detik ini.
Membuat Seren jadi kesal sendiri.
"William an*ing!" Rutuk Seren, tangannya juga masih menggosok piring kotor. Namun dengan dendam yang membara Seren hampir memecahkan piring dan gelas yang akan beradu karna tangannya yang ceroboh melepaskan gelas ber-sabun.
Dia berhenti bernafas saat itu juga. Namun mencoba menetralkan kembali saat ia sudah cukup siap.
"Hampir saja. Setelah jam 5 sore aku harus pulang lebih dulu. kemarin aku diomeli karna pulang terlambat dan tidak membersihkan rumahnya, padahal jika tidak dibersihkan-pun menurutku tidak apa-apa karna dia jarang berkeliling dirumah itu," Ditengah aktifitas mencuci piring, Seren seketika berhenti dan kembali teringat.
'Matanya memang rada aneh, debu sekecil rasa bersalahnya-pun masih dapat ia lihat.'
.
.
.
"Baiklah sudah selesai, saatnya pulang." Gumam Seren merapikan perlengkapannya di loker. meski barangnya hanya celemek, tapi Seren harus tetap merapihkannya, takutnya si manajer akan memarahinya.
Setelah berpamitan kepada semua rekan kerja, Seren-pun segera berjalan pulang. Meski jarak tempat kerjanya dengan Cafe lumayan jauh, tapi tidak masalah bagi Seren yang memang berencana menabung uangnya.
"Kamu Seren-kan?" Ucap suara dibelakang Seren.
Seren berhenti berjalan dan melirik kebelakang, ia mencoba untuk mengingat siapa gerangan yang memanggil namanya itu.
"Siapa ya?" Balas Seren.
"Kau benar-benar berotak pesut ya. Aku Vein, rekan kerja William, kau lupa? "
'Kenapa semua orang disekeliling si iblis itu bermulut sarkastik? Atau memang lingkungannya yang seperti itu? Di-isi makhluk neraka semua.'
Wajah Seren merah padam, bisa-bisanya otaknya di samakan dengan otak pesut. tangannya juga ikut mengepal menahan emosi yang semakin meluap.
Diibaratkan air panas, sekarang Seren sudah kelewat matang, malah menjurus gosong.
"Hey kau! Enak saja bilang otakku selevel pesut! Dasar kalian satu komplotan sama-sama iblisss!" Pekik Seren sangat kesal, telunjuknya tak henti menunjuk Vein garang.
Sementara Vein hanya tersenyum tipis, ia dengan santai membuka pintu mobil dan berkata. "Ayo masuk kemobilku, aku akan mengantarmu secara gratis kerumah William."
Seketika Seren berhenti marah, ia membeku memikirkan tawaran Vein, namun sedetik kemudian dia menurut dan ikut masuk kedalam mobil Vein.
Jarang sekali dia dapat tumpangan gratis, dan untuk itu ia tidak akan menolak.
'Mana ada peraturan menolak rezeki dikamus Seren, hehehehe.'
Isi hati Seren membuka pintu mobil.
"Loh, ada anak kecil."
Anak kecil itu melirik Seren sebentar, lalu bergeser sedikit dan kembali sibuk dengan urusannya.
"Permisi." Ucap Seren tersenyum canggung seraya duduk disamping anak itu, ia mencoba untuk tetap menjaga jarak semampunya.
"Feron, kamu mau pindah kedepan?"
"Urus saja urusanmu sendiri Abdi."
'Wah, bocil kematian ini.' Isi hati Seren tersenyum semakin canggung.
...****************...
"Terimakasih telah mengantar saya tuan Vein." Ucap Seren kembali menutup pintu mobil.
Saat hendak masuk kedalam gerbang, Vein berucap. "Saat kau merasa sudah tidak memiliki apapun, kau bisa meminta William untuk mengubah anggapanmu."
"Hah?"
Vein hanya menatap kembali Seren dan setelahnya melambai dan pergi. Meski Seren tak mengerti maksud ucapan Vein, dia masih tetap positif. Cukup mereka saja yang gila, Seren jangan.
Diparkiran, mobil William sudah terparkir dan Seren tau apa hal yang akan ia terima setelahnya.
"Pasti diomeli lagi." Gumamnya.
Namun Seren tidak bisa berbuat apapun, dia cuma penumpang dirumah dirumah ini. Tentunya untuk membayar, Seren harus bekerja.
Pintu dibuka, Seren mulai berjalan lemah untuk masuk. Menundukkan kepala mencoba untuk tabah menerima omelan malah yang ia lihat dua pasang kaki yang saling mengikis jarak.
Seren cepat menengadah dan melihat William sedang berciuman dengan wanita, meski terlihat seperti wanita itu yang mencium paksa William.
Seren yang dihadapkan dengan hal itu hanya dapat shock. Namun belum sempat merespon hal yang terjadi didepan mata, ia kembali diperlihatkan dengan bertapa kasarnya William mengempas wanita itu hingga terjatuh di lantai.
"Aku sudah katakan untuk tidak menyentuhku, bas*ard!"
William memaki wanita yang masih terduduk di lantai. Mencoba untuk menetralkan nafasnya, William mengusap kasar bongkahan bibirnya yang lembab karna saliva.
ia kembali memaki dengan bahasa yang tidak Seren pahami, dan wanita itu justru menanggapi dengan histeris. Sepertinya ia tidak mengerti bahasa yang William ucapkan sebelumnya, namun saat William mengubah bahasanya, wanita itu baru menyauti dengan lelehan air mata dan suara yang keras.
Seren hanya menyaksikan sampai William menatapnya dan berjalan tergesa kearahnya.
William menarik lengan Seren, dan sontak Seren terkejut dan hendak protes. Namun William malah berkata untuk tetap diam dan ikuti saja.
akhirnya Seren dan William pergi menyisakan wanita itu yang semakin marah dan berteriak memanggil William berulang kali.
.
.
.
Didalam mobil, Seren yang tidak mengerti dengan kejadian barusan langsung bertanya dengan raut wajah yang bingung.
"Siapa dia?" Tanya Seren menatap langsung William yang fokus menyetir.
Jika Seren berfikir itu pelacur, ia rasa bukan. Se-elit apapun pelacurnya Seren jamin tidak ada yang seperti wanita itu, tidak ada yang se-anggun dan se-glamor dia.
William menggigit jari telunjuknya, ia sedikit berkeringat dan alis bertaut rapat. Wajahnya semakin mengeras dan selalu berucap kalimat kasar, Namun itu hanya sebentar dan setelahnya ia mengambil nafas cukup dalam dan mengusap dada.
Setelah suasana hatinya sedikit tenang barulah William menjawab "Dia mantan calon istriku,"
Dan disaat itu perasaan Seren seketika kosong. pupilnya mengecil dan kakinya terasa dingin. Apa yang dikatakan William sukses membuat perasaan Seren dilema antara tak percaya dan percaya.
'Kenapa aku kecewa?'
...****************...
...****************...
...****************...
...TBC...