Satu sekolah tahu Lintang Gentariana adalah gadis paling gigih yang setiap hari memanggil nama Arka—atlet pencak silat kebanggaan sekolah yang sedingin es.
Dua tahun cintanya bertepuk sebelah tangan, sebuah wasiat tiba-tiba memaksa mereka menikah secara rahasia di bangku SMA.
Lintang mengira impiannya jadi nyata. Namun, ia keliru. Arka menikahinya tepat ketika dunia cowok itu di ambang runtuh.
Di sekolah Lintang adalah gadis yang selalu terlihat mengejar Arka, tapi di rumah, Lintang harus menghadapi kemarahan dan luka terdalam Arka.
Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan rahasia mereka?
Sanggupkah Lintang bertahan, atau perpisahan justru menjadi jalan terbaik bagi keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyunr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syarat di Ujung Garis
Di lorong rumah sakit yang sunyi, Arka duduk di kursi tunggu depan UGD.
Sikunya bertumpu di atas lutut dengan kepala yang menunduk sangat dalam.
Jari-jemarinya saling bertautan erat, menyembunyikan getaran hebat yang sejak tadi merayapi seluruh tubuhnya.
Pintu ruang UGD mendadak terbuka, membuat Arka langsung mengangkat pandangannya.
Ia bergegas berdiri. "Gimana kondisi bunda saya, Dok?"
Dokter melepas masker medisnya, lalu mengusap pelipis dengan ekspresi wajah yang sangat berat.
"Pasien baru saja kami stabilkan dari serangan gagal jantung akut di UGD tadi, Arka."
Dokter menghela napas pendek. "Tapi... ini sudah yang kedua kalinya dalam dua bulan ini."
Arka mengepalkan tangan kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Dua bulan lalu bunda udah saya saranin buat operasi transplantasi. Tapi bunda nggak mau. Katanya takut."
Dokter menatap Arka lurus, penuh rasa prihatin.
"Sekarang kami sudah di titik paling mentok, Arka. Obat-obatan sudah tidak mempan lagi."
"Pilihan terakhir cuma satu: transplantasi jantung. Tapi saya harus jujur... dengan kondisi Bunda sekarang, peluang berhasilnya di bawah 50 persen."
Arka terdiam seketika.
Tarikan napasnya mendadak terasa begitu berat, sesak, dan sangat menyakitkan.
Dokter kembali bicara, suaranya melembut. "Bunda kamu sudah sadar sekarang. Tapi beliau menolak tindakan medis lebih lanjut."
"Bilangnya mau ketemu kamu dulu. Silakan masuk dan bicara baik-baik dengan Bunda ya, Arka. Waktu kita... tidak banyak," lanjut sang dokter.
Dokter menepuk bahu Arka sekilas, lalu bergeser memberi jalan ke arah pintu UGD.
Langkah kaki Arka sempat terhenti tepat di depan pintu UGD.
Ruangan di balik pintu itu terasa begitu dingin. Penuh dengan aroma antiseptik yang menusuk hidung dan suara mesin medis yang berdetak monoton.
Pandangan Arka segera terpaku pada satu titik: Frina.
Bundanya terbaring sangat rapuh di atas ranjang pesakitan.
Tubuh yang biasanya menjadi tempat aman bagi Arka untuk bersandar, kini tampak mengecil, dikelilingi selang oksigen dan lilitan kabel monitor.
Cahaya lampu neon yang putih memantul kentara pada wajah pucat Frina. Mata wanita paruh baya itu tampak sangat sayu.
Kelelahannya tergambar jelas di setiap keriput wajahnya.
Namun, ketika melihat Arka melangkah masuk, bibir Frina perlahan terangkat membentuk sebuah senyum tipis.
Senyum tulus yang sudah menyelamatkan hidup Arka berkali-kali dari kerasnya dunia.
Arka segera mendekat. Ia menarik kursi plastik, lalu duduk tepat di sisi ranjang.
Tanpa ragu, kedua tangannya langsung menggenggam erat jemari Frina yang terasa dingin dan sedikit gemetar.
"Bunda..." panggil Arka.
Suaranya mendadak tercekat di tenggorokan. Terdengar serak karena sekuat tenaga menahan tangis yang mendesak ingin keluar.
Frina mengangkat kelopak matanya perlahan.
Jemari tuanya bergerak lemah, mengusap punggung tangan Arka dengan kasih sayang yang sama seperti dulu.
"Maaf, ya... Bunda ngerepotin kamu terus..."
Arka langsung menggelengkan kepalanya cepat.
Genggamannya semakin mengerat, seolah takut jika ia melepas sedikit saja, Frina akan langsung menghilang tak berbekas.
"Arka nggak pernah repot ngurusin Bunda... Nggak pernah, Bun."
Jemari Frina terus mengelus punggung tangan Arka. Diam. Tenang. Seakan ingin menghapus seluruh rasa cemas di wajah putranya.
Keheningan pilu di kubikel itu hanya dipecah oleh suara tit... tit... tit... dari monitor jantung.
"Bunda..." Arka menelan ludah yang terasa getir.
Ia mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang mata Frina yang mulai berkaca-kaca. "Operasi, ya..."
Frina menarik napas panjang. Berat dan sesak.
Ia mengembuskannya perlahan, hingga dadanya sempat bergetar menahan nyeri yang hebat.
"Arka..." bisiknya lemah. "Bunda nggak mau ninggalin kamu sendirian di dunia ini..."
Wanita itu berhenti sejenak. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya yang lelah.
"Kalau Bunda operasi... Belum tentu berhasil..."
"Pasti berhasil, Bun!" Arka memotong cepat dengan nada panik yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun.
Ia merapatkan kursi duduknya, hingga wajahnya sejajar dengan Frina.
"Bunda harus percaya sama Arka. Bunda nggak akan ninggalin Arka sendirian... Nggak boleh."
Wajah kaku Arka melembut, tapi garis rahang tegasnya mengeras kokoh.
Pria itu menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak jatuh menetes di depan sang ibu.
Frina hanya tersenyum tipis. Senyum pasrah yang terasa sangat menyakitkan bagi Arka.
"Sayang... Kalau Bunda nggak ada–"
"Jangan bilang gitu," potong Arka ketus. Matanya menajam lurus menahan emosi. "Arka nggak suka."
Frina tidak tersinggung sama sekali. Ia hanya memejamkan mata sejenak, menarik sisa kekuatan yang tersisa di tubuh rapuhnya.
Ketika ia membuka matanya lagi, tatapannya tampak lebih mantap.
"...Arka, nanti tinggal sama keluarga Ayah, ya?"
Seketika itu juga, raut wajah Arka berubah total. Tatapan matanya mendadak menajam dingin, sedingin es kutub.
"Nggak. Nggak akan pernah aku sudi tinggal sama Ayah dan selingkuhannya."
"Arka bukan anak Ayah lagi," tegas Arka penuh penekanan.
Frina kembali memejamkan matanya, kalah oleh luka masa lalu anaknya yang terlampau dalam.
"Tapi kamu nggak punya siapa-siapa lagi, Nak..."
"Arka masih punya Bunda!" jawab Arka cepat, suaranya bergetar putus asa. "Dan selalu akan punya Bunda."
Ia mencondongkan tubuhnya ke depan. Keningnya hampir menyentuh punggung tangan Frina.
"Makanya Bunda harus coba operasi, ya... Buat hidup lebih lama sama Arka."
"Tolong, Bun. Arka mohon," lirih Arka, meruntuhkan seluruh ego dan ketegarannya malam itu.
Hening menyelimuti mereka sejenak.
Setetes air mata akhirnya lolos dari pelupuk mata Frina, meluncur lambat ke pelipisnya.
"Bunda pengen pulang, pengen istirahat..." Suaranya serak, penuh sesak di dada.
"Tapi Bunda nggak tenang kalau belum liat ada yang nemenin kamu..."
"Bunda..." tegur Arka panik. Kepalanya menggeleng pelan, menolak arah pembicaraan ini. "Jangan ngomong aneh-aneh."
Arka kembali menunduk. Ia menempelkan keningnya pada punggung tangan Frina yang dingin dan kaku.
Tarikan napasnya terdengar berantakan di tengah kesunyian malam rumah sakit.
"Arka harus lakuin apa biar Bunda mau operasi? Hm? Bilang, Bun... Apa aja bakal Arka lakuin."
Frina menoleh pelan.
Ia menatap putranya yang selama ini selalu tegar bagai batu karang, kini menunduk lemah dalam genggamannya.
Di dalam lubuk hatinya, Frina tahu Arka sudah terlampau kelelahan menghadapi sifat keras kepalanya.
Tapi bagaimana lagi? Mati meninggalkan Arka sendirian tanpa pelindung jauh lebih menakutkan daripada penyakit gagal jantung itu sendiri.
"Bunda, jawab..." bujuk Arka lagi, suaranya bergetar hebat.
Frina menarik napas dalam-dalam, membuat dadanya naik turun dengan payah. "Oke. Bunda akan operasi."
Kepala Arka terangkat seketika. Matanya menatap lekat mata sayu sang ibu.
Ada secercah harapan yang mendadak membuncah di dalam dada cowok stoik itu.
"Tapi..." Frina menahan kalimatnya, memberi jeda yang terasa sangat berat. "Ada syaratnya..."
"Apapun syaratnya, Arka lakuin," ujar Arka mantap tanpa butuh waktu berpikir panjang.
Frina tersenyum tipis, jenis senyuman misterius yang sama sekali tidak menenangkan hati Arka.
"Bunda mau... Kamu nikah sebelum Bunda masuk ruang operasi..."
"Hah?"
Seluruh tubuh Arka mendadak membeku total, seperti tersengat listrik tegangan tinggi.
Genggamannya pada tangan Frina melemas seketika karena syok berat.
Frina melanjutkan dengan tenang, seolah ucapannya barusan sangat ringan tanpa beban.
"Bunda punya sahabat... dia punya anak perempuan yang bisa nemenin kamu lanjutin hidupmu..."
"Tapi Bun, aku–" Arka terbata, otaknya mendadak macet total.
"Bunda cuman nggak mau ninggalin kamu sendirian, Arka..." potong Frina cepat. Tatapan matanya memohon dengan sangat.
"Kamu nggak mau tinggal sama Ayah, terus mau tinggal sama siapa?..."
Suara Frina melambat dan semakin melemah di akhir kalimat. "Sementara... Bunda sendiri nggak yakin bisa selamat dari operasi ini."
Arka membeku di tempat duduknya.
Rasanya seperti dunia di sekitarnya mendadak runtuh tak bersisa.
Semua prinsip hidup yang selama ini dia pegang teguh, tiba-tiba terasa jauh lebih rumit dari sekadar perkara hidup dan mati.
Frina mengelus pelan jemari Arka, sebuah usapan penuh harap dari seorang ibu yang sudah putus asa.
"Kamu mau, ya... Demi Bunda..." bisiknya lirih.
Arka menundukkan kepalanya dalam-dalam. Garis rahang tegasnya mengeras kuat menahan gejolak batin.
Ia mengembuskan napas panjang dan berat, seolah sedang melepaskan seluruh kebebasan hidupnya malam itu ke udara.
Lalu, ia kembali mengangkat kepalanya. Pandangan mata elang Arka mendadak kelihatan kosong.
"Demi Bunda..." Arka mengangguk satu kali. Pasrah pada takdir.
Frina langsung tersenyum, sebuah senyuman lega untuk pertama kalinya yang muncul malam itu.
"Terima kasih ya, Sayang. Bunda percaya sama kamu..."
...----------------...
Di belahan klaster lain, cahaya mentari pagi belum sepenuhnya menyembur ke permukaan bumi.
Suasana di dalam rumah masih diselimuti hening, kecuali dari arah dapur yang terdengar letupan air mendidih.
Lintang tersentak bangun dari tidur nyenyaknya.
Nyawanya belum terkumpul penuh dan matanya masih setengah terpejam ketika melihat kedua orang tuanya sudah bersiap rapi di ruang tengah.
Raut wajahnya langsung mengernyit bingung. "Mami mau kemana sih subuh-subuh gini?"
Pagi-pagi buta Lintang sudah dibuat melongo.
Ibu dan ayahnya terlihat sangat grasak-grusuk hendak pergi keluar rumah.
Sementara dirinya, yang seharusnya menikmati jatah tidur suci hari Minggu, mendadak dipaksa bangun.
Alasannya sederhana: disuruh mengawasi kompor karena ART di rumah belum datang. Di atas kompor itu, ibunya sedang merebus jagung.
Ilna, maminya, melirik cepat dari atas anak tangga teras.
Wajah wanita itu sudah dipenuhi riasan tipis dan tas tangan mahal sudah berada di genggamannya.
"Mami sama Papi mau ke rumah sakit sekarang, Lin! Kamu jagain kompor Mami ya!"
"Jam 06.20 pas kompornya harus kamu matiin. Jangan sampai lupa lho, awas kalau gosong," lanjut Ilna terburu-buru.
Bahkan sepatu hak tingginya sudah terpasang rapi sebelum kalimat perintahnya selesai diucapkan.
Lintang mengucek matanya yang masih sepet.
Ia bersandar lesu pada kusen pintu dapur dengan ekspresi muka yang sangat malas.
"Ngapain sih ke rumah sakit, Mi? Pagi-pagi begini rumah sakit belum buka kali, dokternya aja masih selimutan."
Nadanya masih setengah kesal karena merasa jatah tidur indahnya diganggu secara paksa.
Ilna menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu depan. Dia menoleh dengan tatapan tidak percaya yang sengaja dibuat dramatis.
"Heh, kamu pikir rumah sakit itu Solaria yang ada jam operasionalnya?! Ada-ada aja deh omongan kamu!"
Mami Ilna mendesah pelan, lalu melunakkan suaranya begitu melihat muka cemberut anak gadisnya.
"Udah jangan ditekuk terus itu mukanya. Itu di dapur Mami udah rebusin jagung manis."
"Jagain aja sampai matang, terus habis itu bikin jasuke kesukaan kamu kalau mau. Susunya udah Mami beliin kemarin sore, tuh," tawar Ilna memancing lambung anaknya.
Mendengar kata sakral 'jasuke' dan 'susu', detik itu juga sepasang mata sepet Lintang langsung merekah lebar.
Sifat jengkelnya berubah ramah dalam waktu satu detik saja.
Begitulah maminya, selalu tahu cara menyogok lambung anaknya agar tidak demo, bahkan saat harus pergi mendadak sekalipun.
Merasa menang dapet jasuke gratis, Lintang berlari kecil mengantar maminya ke pintu utama.
Ia membuka pintu kayu itu lebar-lebar dengan penuh semangat.
"Aww, makasih banyak Mamiku tercinta! Silakan berangkat, Papi sudah menunggui di depan," ujar Lintang dengan nada suara yang berubah luar biasa manis secara mendadak.
Ilna menghentikan langkahnya sekali lagi di depan pagar dalam, menyodorkan punggung tangannya.
"Giliran denger makanan manis aja, kamu langsung mesam-mesem begitu."
Lintang segera menunduk, mencium punggung tangan ibunya dengan takzim.
"Udah ya, Mami berangkat dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Mami!" Lintang melambai-lambai riang ke arah luar.
Ia tetap setia berdiri di teras sambil memandangi mobil kedua orang tuanya yang mulai bergerak mulus meninggalkan halaman rumah.
...----------------...
Lintang duduk selonjoran di sofa ruang tengah dengan semangkuk jasuke hangat di tangannya.
Pagi-pagi buta dia sudah duduk anteng di sana sambil menonton Upin Ipin di televisi.
Mulutnya sibuk mengunyah jagung manis bertabur keju, persis seperti balita tua yang tidak punya beban hidup.
Ia baru meraba-raba meja, membuka ponselnya saat tayangan Upin Ipin berganti menjadi jeda iklan.
Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor Arka langsung terpampang di layar.
"Tumben banget dia nge-chat subuh-subuh gini?" gerutu Lintang pelan.
"Mana semalem pesan gue gak dijawab lagi, pas nanya alasan dia batalin nyeblak," lanjutnya kesal sambil menusuk sendok ke mangkok jasukenya.
Dengan perasaan campur aduk, Lintang membuka ruang obrolan mereka.
Ia membaca satu baris kalimat pertama dari Arka.
Arka: Jangan kejar gue lagi.
Lintang mengernyitkan dahinya dalam-dalam. Sendok jasukenya tertahan di udara.
"Maksudnya apa, sih? Habis bilang 'tidak main-main' di lapangan, sekarang malah nyuruh jangan dikejar? Labil banget kayak anak ABG," cibir Lintang, mencoba menutupi debaran aneh di dadanya.
Namun, matanya mendadak terpaku pada satu baris pesan setelahnya yang baru saja masuk.
Arka: Gue dijodohin.
Deg.
Detik itu juga, jantung Lintang rasanya seperti berhenti berdetak selama beberapa saat.
Suara cempreng dari iklan televisi yang sedang tayang mendadak terdengar samar, berganti dengan suara dengung sunyi yang memekakkan telinganya.
Mangkok jasuke di tangan Lintang bergoyang pelan. Tangannya mendadak kaku, lemas, hingga sendok plastik di jemarinya terjatuh ke lantai tanpa suara.
"Di... dijodohin?" lirih Lintang dengan suara yang mendadak tercekat di tenggorokan.
Ia mengedipkan matanya berulang kali, berharap kalau tulisan di layar ponselnya itu cuma sekadar ilusi optik atau salah ketik dari Arka yang baru bangun tidur.
Namun, tulisan lima huruf itu tetap diam di sana. Sangat nyata. Sangat tegas.
Rasa manis dari jagung susu keju yang baru saja dikunyah Lintang mendadak berubah menjadi rasa hambar dan getir yang membakar lidahnya.
Semua perjuangannya dari kelas sepuluh...
Ketebalan mukanya menghadapi tatapan dingin Arka setiap hari...
Hingga sorakan riuh satu kelas kemarin siang yang menjulukinya sebagai calon pengantin jalur kawat bulu...
Semuanya hancur lebur berkeping-keping menjadi lelucon paling tragis di minggu subuh ini.
Lintang meremas ponselnya kuat-kuat sampai buku jarinya memutih.
Dadanya mendadak terasa luar biasa sesak, seperti dihantam oleh balok besi stan yang ambruk kemarin—namun kali ini, tidak ada Arka yang datang melompat untuk melindunginya.
"Lu beneran... sejahat ini ya, Ka?" bisik Lintang pada layar ponselnya yang mulai terlihat buram.
Setetes air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya lolos, jatuh tepat di atas layar ponsel, membiaskan tulisan pesan terakhir dari cowok es batu yang baru saja mematahkan hatinya sampai tak bersisa.