NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Terjerat Cinta Razia Pak Polisi

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Romansa / Tamat
Popularitas:824.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: ¶`(₡ ฿úñgšù)ᵛⁱᵛⁱ•_•`FIIII

Seasons 1:

Gara-gara kesalahannya yang tidak membawa helm saat berkendara. Ceisya, harus terjebak jaring razia yang membuatnya berpikir keras. Di satu sisi Ceisya tidak keberatan kalau mendapat hukuman. Tapi, di sisi lain dia tidak mau berhadapan dengan Dosen killernya yang terkenal seantero kampus. Berkat usahanya yang keras akhirnya dia bisa lari dari hukumannya.

Bagaimana kah kelanjutan kisah mereka?


Seasons
2 (kisah tentang anak Ceisya & Zafran) :


Judul Novel: (Melody) Terjerat Pesona Dokter Tampan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ¶`(₡ ฿úñgšù)ᵛⁱᵛⁱ•_•`FIIII, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 24

Ceisya sedikit mundur ke belakang. "Yasudah. Kalau dahi bukan bagian dari kepala. Biar nanti aku akan memisahkan dahimu itu, Om. Lalu...mau kau simpan dimana dahimu itu? Ckckck! Kau begitu menyebalkan, Om." ujar Ceisya berdecak. "Pasti dulu saat sekolah kau suka membolos ya?" tanya Ceisya sambil menyipitkan kedua matanya.

"Aku? Membolos? Hahahaa...perbuatan macam apa itu." Zafran tertawa hambar.

"Benar kan?" tuduh Ceisya langsung mendapatkan tatapan tajam dari pria itu. "Hehehe...kita pilih ayam yang ini saja ya, Om. Waktu kita sedikit. Aku takut nanti Kak Emi mengamuk di sana."

Zafran memanggil bapak pemilik perternakan itu.

"Saya ambil yang itu ya, Pak. Apakah bisa langsung dipotong?"

"Bisa, bisa. Yasudah, tunggu sebentar ya. Bapak mau ambil golok dulu di dalam."

Tidak lama si bapak datang dengan membawa golok yang masih terbungkus sarungnya.

Si bapak mengambil ayam kampung yang telah dipilih Ceisya tadi di dalam kandangnya.

"Bapaknya serem, Om, bawa-bawa golok." bisik Ceisya yang berada di samping Zafran.

"Hustt, diam!" perintah Zafran langsung membuat Ceisya diam.

"Nak, bisa tolong Bapak memegang ayamnya?" pinta si bapak pada Zafran.

"Oh, ya. Bisa, Pak. Saya megang bagian mananya nih, Pak?" tanya Zafran yang memang belum tahu.

"Bapak pegang kepalanya, kamu pegang badannya ya. Supaya nanti dia tidak lari saat dipotong." jelas si bapak dibalas anggukan oleh Ceisya.

"Jangan lihat kalau takut!" ujar Zafran pada Ceisya.

"Tidak takut, Om. Aku penasaran."

Zafran hanya pasrah dan membiarkan Ceisya melihat acara memotong ayam tersebut.

Si bapak memegang kepala ayam. Terlebih dahulu dia membaca doa.

Proses penyembelihan dilakukan mulai dari leher bagian depan di antara ruas tulang leher kedua dan ketiga, serta jangan sampai memutus tulang leher. Lalu, darah ayam dibiarkan keluar.

Penyembelihan pada pangkal leher ayam dengan memutuskan saluran pernafasan, saluran makan, dan dua urat lehernya dengan sekali sayatan tanpa mengangkat pisau.

"Alhamdulillah." ucap si bapak lega.

"Sudah selesai ya, Pak?" tanya Zafran. "Ini ayamnya mau diapain?"

"Sudah. Ayamnya dibiarkan dulu di situ. Biar darahnya keluar sampai habis." jelas si bapak.

Selang beberapa menit, si bapak datang dan langsung mengambil ayam tersebut lalu merendamnya ke dalam air panas agar memudahkan pencabutan bulu ayamnya nanti.

"Nih! Kalian cabut dulu bulunya. Bapak mau ke dalam dulu sebentar mau mencuci golok."

Seusai si pergi, Ceisya dan Zafran hanya saling pandang.

"Om." panggil Ceisya sambil menatap ayam yang sudah mati di dalam ember.

"Ada apa?"

"Bagaimana caranya?" tanya Ceisya yang belum pernah sama sekali berhadapan dengan situasi ini.

Biasanya kan ada mesin pencabut bulu ayam. Tapi, di tempat sini secara tradisional. Maklum, tempatnya jauh dari kerumunan.

"Cabut saja." ujar Zafran lalu berjongkok.

"Memangnya bisa?"

"Bisa. Coba saja dulu. Sini deh!"

Ceisya menurut, dia ikut berjongkok di depan Zafran. Di tengah-tengah mereka terdapat ayam kampung yang sudah direndam dengan air panas di dalam ember.

"Coba cabut bulunya." titah Zafran.

Dengan ragu Ceisya mencabut bulu ayam tersebut. Kemudian dia memekik senang. "Woahhh! Bisa. Coba deh cabut, Om." ujar Ceisya heboh lalu mencabut bulu ayam tersebut lagi.

Zafran tersenyum dengan tangannya yang masih mencabut bulu ayam sementara pandangan ke arah Ceisya.

Selang beberapa menit akhirnya ayam tersebut telah bersih dari bulunya. Ceisya menatap bangga ke arah hasil kerja kerasnya.

"Kalian mau membuat apa?" tanya si bapak sambil membawa golok yang sudah dibersihkannya tadi.

"Mau buat sate, Pak." jawab Ceisya.

"Ini mau Bapak yang motongnya atau kalian saja nanti di rumah?" si bapak memberi tawaran.

"Kalau tidak repot biar bapak saja ya. Hehe..." balas Ceisya menyengir.

"Baiklah. Bapak akan memotongnya dulu. Kalian bersihkan diri dulu di situ." tunjuk si bapak ke arah keran air.

"Terima kasih, Pak."

Sambil menunggu si bapak memotong daging ayam, Ceisya dan Zafran membersihkan tangan mereka.

"Bau ayam ya, Om." ujar Ceisya terkekeh mengendus aroma tangannya.

"Sudah jelas bau ayam. Lah, yang dipegang juga ayam." balas Zafran sedikit jengkel.

"Om, ada sedikit cipratan darah di wajahmu." tegur Ceisya.

"Oh ya? Dimana? Di sini bukan?" tanya Zafran seraya meraba wajahnya.

"Ihh! Jangan dipegang semua, Om. Nanti wajahmu bau ayam."

Zafran tersenyum ke arah Ceisya. Tidak tahu dia kalau sikapnya itu membuat Zafran meleleh. "Aku mana tau. Mataku hanya ada dua. Lagi pula aku tidak bisa melihatnya." kilah Zafran dengan jujur.

Ceisya berdecak pelan. "Sini, Om, deketan dikit!" tutur Ceisya.

Zafran menurut, dia menundukkan badannya sedikit mensejajarkannya dengan tinggi badan Ceisya yang hanya mencapai 155 cm.

"Ini sudah mengering jadi agak susah." ujar Ceisya terlihat fokus membersihkan wajah Zafran menggunakan tangannya.

"Tidak apa. Nanti saat sampai di rumah aku langsung membersihkan diri." balas Zafran dengan nada pelan.

"Hmmm..."

"Apakah sudah selesai?" tanya Zafran yang sedikit tidak nyaman di posisinya yang menunduk sekarang.

"Nah! Sudah."

Zafran menegakkan kembali badannya dan sempat berterima masih pada Ceisya.

"Ini sudah Bapak potong-potong." ujar si bapak mengunjukkan ayam di dalam kantong kresek.

Zafran mengambil dompetnya dan mengeluarkan uang merah sebanyak tiga lembar lalu dia mengunjukkannya kepada si bapak sembari menerima kantong kresek tersebut.

"Aduh! Kebanyakan ini, Nak." protes si bapak.

"Tidak apa-apa, Pak. Anggap saja ini rezeki Bapak." ujar Zafran memberikan paksa uang merah tiga lembar itu.

Mau tidak mau si bapak menerimanya. "Terima kasih banyak, Nak. Semoga Allah melipatgandakan kebaikan kamu berserta istri."

Zafran terkekeh pelan. Rupanya si bapak salah paham. "Saya belum menikah, Pak. Dan di samping saya ini teman saya." jelas Zafran membuat si bapak tidak enak hati.

"Oh, iya. Maaf, maaf, Bapak tidak tau."

"Tidak apa-apa, Pak. Saya maklum. Yasudah, kalau begitu saya dan teman saya pamit dulu ya, Pak."

"Baiklah. Hati-hati di jalan ya." Zafran mengangguk kemudian menyalami tangan si bapak diikuti oleh Ceisya juga.

"Terima kasih sekali lagi ya, Nak."

Ceisya dan Zafran hanya tersenyum menanggapi.

"Hehe, Om. Bapaknya salah kira. Yakali aku jadi istri Om." ujar Ceisya di dalam perjalanan pulang mereka.

"Siapa juga yang mau mempunyai istri seperti dirimu." balas Zafran sembari membawa motornya hati-hati saat melewati jalan berlubang.

"Banyak kok, Om. Aku saja yang menolak mereka."

"Lalu, kenapa kau menolak mereka?" tanya Zafran penasaran.

"Hehe...mereka itu sebenarnya tampan. Hanya saja tidak termasuk kriteria-ku." jelas Ceisya sedikit tertawa.

"Kriteria bagaimana yang kau mau?"

"Aku?"

"Iya, kau! Masa setan."

"Setan cantik ya. Hahahaa...kriteria-ku ya begitu, tampan yang pertama, berpendidikan tinggi, mempunyai ilmu yang tinggi supaya nanti bisa membimbingku, soleh, dan yang terpenting kaya."

"Gadis materialistis."

"Heh! Aku bukan cewek munafik ya, Om. Jelas aku menginginkan banyak uang. Zaman sekarang semuanya serba mahal tau! Kalau nanti dia tidak kaya, terus...aku mau makan apa? Makan batu dan kayu iya?!" balas Ceisya menggebu-gebu.

"Setidaknya sederhana cukup. Kebutuhan materi dan batin oke. Kebanyakan pria kaya itu jahat. Suka menyakiti istri-istri mereka. Memangnya kau mau mendapatkan KDRT dari suamimu nanti?" pancing Zafran.

"Berani melakukan KDRT terhadapku? Mau mati ya!"

"Terus, pria kaya itu mempunyai banyak waktu di luar dari pada di dalam rumah. Memangnya kau mau kekurangan kasih sayang seorang suami?" lagi-lagi Zafran memancing. Sangat penasaran bagaimana respon Ceisya dalam menghadapi pertanyaannya.

"Aku kalau kekurangan kasih sayang itu ya mudah saja. Tinggal mencari pria lain kan oke! Ngapain menjadi pengemis. Jadi, jangan salahkan aku kalau mencari pria lain. Seharusnya seorang suami itu mengerti keadaan istrinya."

"Dan seharusnya seorang istri itu mengerti keadaan suami." sambung Zafran.

"Yasudah, buat apa pria diciptakan di bumi kalau hanya mementingkan kepentingan pribadinya. Toh wanita bisa hidup tanpa laki-laki. Tidak usah songong jadi pria. Dikutuk jadi batu baru tau!"

1
Nhierwana Bundanya Al
bab ini q ngerasa baca di ulang2
Dewi Kasinji
ijin baca kak
JANE ARDIANA
Luar biasa
JANE ARDIANA
Lumayan
Zahra Nadira
aku ktwa dibagian ini ,🤣🤣🤣🙏
Dilalisa Lisa
Biasa
Dilalisa Lisa
Kecewa
Dela Sapitri
Masya Allah👍
ᶜᵃˡˡ ᴹᵉ ᴶⁱⁿᵍᵍᵃ😜
pedagang berkaki lima,,maksudnya pedagang kaki lima ya kak??😂
ᶜᵃˡˡ ᴹᵉ ᴶⁱⁿᵍᵍᵃ😜: ampun dah 😂
ok lanjut baca
total 2 replies
Trisna Savitri
babag tamvan 🥰🥰🥰🥰
Santy Susanti
bari berapa ban udah suka sama alurnya semngat i
yustina arie
Luar biasa
Irfan Nona Vanessa
menarik😍😍😍
Bungsu_Fii: makasih udh mampir kak🤗 semoga suka 🥰
total 1 replies
Eka Kurniawati
😘😘😘
Eka Kurniawati
🤣🤣🤣🤣
Eka Kurniawati
🤣🤣🤣
Eka Kurniawati
🤣🤣🤣🤣
Tri Susanti
wkwkwkw.... kapan thor disatuin mereka udah gak sabar
Tri Susanti
lanjut thor
Lena Kasenda
thoor masa selama Ceisya di rawat sampai sdh pesantren pacarnya yg polisi tdk ada kabar
Bungsu_Fii: hehe, itu ceritanya om polisi lagi nugas kak dan waktunya cukup lama 🙏🏼
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!