Nama nya Vidya, ia salah satu anak cerdas namun terasingkan oleh keluarga nya sendiri.
Dengan sikap acuh sang ibu, kakak yang selalu membully nya entah itu di rumah atau pun di sekolah.
Terlebih lagi sang ayah yang sibuk bekerja dan hanya mementingkan Lidya dan sang kakak nya saja.
Iya Vidya itu merupakan anak bungsu di dalam keluarga Luke. Tapi di keluarga tersebut bagaikan yang anak bungsu itu adalah Lidya.
Walaupun sikap keluarga nya seperti itu tapi Vidya tak pernah sekali pun membenci mereka karena bagi Vidya tanpa mereka ia tak bisa ada di dunia ini.
Vidya hanya bisa berdoa dan berusaha agar suatu saat nanti ia dapat terlihat di mata sang ayah dan ibu nya.
Di dalam rumah tersebut hanya 2 pembantu nya yang menyayangi Vidya selama ini hingga sekarang ia bertumbuh menjadi gadis cantik yang duduk di sekolah menengah atas.
Vidya hanya mempunyai 1 orang sahabat di sekolah nya yaitu Airin, orang yang selalu membela nya dikala ia di bully.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takut
Melihat bentuk tampilan rambut nya sendiri yang seperti orang gila, ia pun segera saja memperbaiki nya menggunakan jari-jari tangan nya.
"Ini semua gegara loe Li" Bella sekarang malah menyalahkan Lidya.
"Loh kok, jadi gue yang di salahin. Kan loe yang buat perhitungan duluan ke anak kecil tadi" Lidya balik menyalahkan Bella.
Sedangkan Rhayi dan 2 krucil nya sudah berada di dalam ruangan cctv dan meminta petugas nya untuk memutar beberapa rekaman saat sebelum kejadian itu.
"Nah betul kan om, kita gak salah" ucap Rheana ketika melihat rekaman pada saat kejadian berlangsung itu.
Rhayi dengan fokus menonton nya hingga selesai. "Benar-benar kejam mereka, pelajar kok tak punya hati nurani" Rhayi mengepalkan tangan nya, ingin nya segera mengurus masalah ini namun ia ingat masih ada 2 krucil yang bersama nya.
Rhayi langsung menghubungi mas dan mba nya untuk segera menuju ke mall G, agar ia bisa leluasa memberikan pelajaran kepada mereka walaupun ia tau tak pantas sama sekali seorang laki-laki melawan perempuan.
Rhayi langsung mengetik pesan chat ke mba dan mas nya, karena ketika ia mencoba telepon justru tak di angkat hanya ada sang suara operator.
"Mas, kalau sudah tak sibuk bisakah menyusul kita ke sini" tulis Rhayi di pesan chat nya. Setelah itu ia pun meminta ijin untuk meminta salinan rekaman itu untuk sebagai bukti.
"Pak, boleh minta salinan rekaman itu untuk di kirim ke hp saya" ucap Rhayi dengan nada sopan.
"Owh, boleh mas. Tunggu sebentar ya" ucap bapak petugas yang berada di situ. Lalu langsung mengirimkan file rekaman tersebut.
"Makasih pak" Rhayi dan 2 krucil nya segera keluar untuk menuju ke tempat kejadian yaitu di depan sebuah toko mainan.
"Li, liat ke arah jarum jam angka 3 deh" ucap Bella pada Lidya.
"Astaga itu kan mereka, gimana nih Bell" Lidya berkeringat sangat banyak karena gugup serta ketakutan. Sedangkan Bella langsung lemas ketika melihat Rhayi dan krucil yang makin mendekat ke arah mereka.
...****************...
Berbanding terbalik dengan keadaan di rumah sakit, Vidya, Airin dan bi Yati pun sedang sibuk bersenda gurau hingga membuat Vidya tertawa lucu.
"Astaga kalian berdua ini, adi-adi saja" Vidya sembari tertawa kembali.
"Ok stop ya, sudah cukup kalian membuat perutku sakit" lanjut nya berusaha mengatur nafas nya.
Tiba-tiba tak lama kemudian hp Airin pun berdering yang menandakan ada telepon masuk.
"Bentar ya Dy, aku angkat telepon dulu" Airin pun segera menjauh dari Vidya untuk mengangkat telepon nya tanpa melihat siapa si penelepon.
"Assalamualaikum, halo" kata awal yang di ucapkan Airin ketika setelah menekan tombol hijau yang berada di layar hp nya.
"Iya mah, Ai bentar lagi pulang kok" lanjut nya menjawab si penelepon.
"Iya, ini masih di rumah sakit jenguk Vidya mah" lanjut nya lagi.
"Ok, kalau gitu Ai tutup dulu telepon nya mah. Assalamu'alaikum" ucap Airin ketika mengakhiri telepon nya.
Setelah itu Airin kembali masuk ke dalam ruangan Vidya dan menghampiri nya.
"Vi, sorry ya kayak nya aku harus balik ke rumah sekarang deh" ucap nya dengan nada yang tak rela.
"Tadi tante ya yang telepon? " tanya Vidya dan di angguki oleh Airin.
"Iya Dy, nyokap menyuruhku pulang sekarang" beritahu nya pada Vidya.
"Yaudah non Ai pulang saja kan masih ada bibi yang akan menjaga non Dy di sini" bi Yati seperti nya sangat paham tentang ke khawatiran yang terlihat di muka Airin.
"Iya Ai lagian ini juga sebentar lagi mau magrib loh, pasti tante khawatir banget deh" ucap Vidya coba menjelaskan.
"Aku di sini juga gak sendirian kok" lanjut nya.
"Yaudah deh, kalau gitu aku pulang dulu ya. Ntar besok ke sini lagi" Airin dengan muka cemberut nya, entah kenapa sifat Airin yang bar-bar ketika bersama Vidya justru berubah jadi manja seperti anak kecil.
Airin pun mengambil tas nya dan punya Vidya yang ia geletakkan di lantai saat baru datang tadi.
"Nih tas kamu, aku simpen sini ya" ucap Airin menyimpan tas Vidya di kursi yang ia duduki tadi.
"Owh ya Dy, hp kamu ada di dalam tas ya. Tadi aku temuin di bawah mejamu seperti nya terjatuh pada saat kamu pingsan tadi" beritahu Airin ketika mengingat hp Vidya yang ia temukan di kelas tadi.
"Makasih ya Ai, udah mau mampir jengukin aku" Vidya merasa sangat beruntung setidak nya walaupun ibu dan ayah nya tak peduli pada nya tapi masih ada Airin dan ke dua pembantu nya yang selalu ada di kala ia susah dan senang.
"Sama-sama, kalau gitu aku pulang dulu ya seperti nya pak Ben sudah nungguin di parkiran dari tadi telepon mulu" Airin pun pamit pada Vidya dan bi Yati.
"Cepet sembuh Dy, biar kita bisa mandangin taman sekolah lagi" goda Airin ke Vidya.
"Ih apaan sih udah sana pulang" usir Vidya yang entah kenapa jadi malu karena sering ke pergok.
"Ciee yang malu" Airin makin semangat menggoda Vidya.
"Airin, udah sana pulang" teriak Vidya sembari menutupi rasa malu nya.
"Yaudah kalau gitu aku pulang" Airin melangkah ke arah bi Yati.
"Bi titip Dy ya, kalau nakal atau susah minum obat jewer aja" ucap Airin masih bercanda.
"Siap non Ai" sahut bi Yati.
"Kalau gitu Ai pamit dulu bi" Airin pun mencium punggung tangan bi Yati, walaupun bi Yati status nya hanya pembantu tapi itu tak berlaku untuk Airin yang sangat menghormati orang yang lebih tua selagi mereka baik ia pun akan baik juga.
Airin pun segera keluar dari dalam ruangan kamar Vidya di rawat menuju ke arah parkiran untuk menghampiri pak Ben yang sudah menunggu nya.
"Pak Ben" ucap Airin mengetuk pintu kaca mobil.
Pak Ben segera menurunkan kaca nya dan membuka pintu mobil nya.
"Bisa kita pulang sekarang kah?" ucap Airin melihat pak Ben yang berdiri di hadapan nya.
"Oke non Ai, mari" pak Ben dengan sigap membukakan pintu untuk sang nona nya.
Setelah itu pak Ben masuk ke kursi kemudi dan melajukan mobil nya untuk mengantar sang nona muda kembali ke rumah.
"Gimana keadaan non Dy?" tanya pak Ben yang peduli dan sayang juga kepada Vidya karena ia menganggap nya seperti anak nya yang berada di kampung sangat jauh.
"Dy, sudah lebih kok pak" Airin memberitahu.
"Alhamdulillah syukur lah, rencana nya besok bapak baru mau minta izin buat jenguk non" dan setelah itu mereka pun melanjutkan berbincang seputar keadaan Vidya.
semangat thor 💞
sehingga dia kayak orang hilang ingatan
sampai tidak tau orang di mimpinya
smg cepat mengingat kembali.
sepertinya Vidya bukan saudara kandung lydia, makanya si vydia, mendapatkn perlakuan yang berbeda.
gk bs dbayangkn klo aku berada di posisi vidya, smoga vidya bs menemukan kebahagiaan
Kakak nya gitu astaga pelan dikit ketuk pintunya
Entah masalalu apa yang membuatnya dikucilkan oleh keluarganya ..