Zia Nafiza Faraz Shaikh gadis cantik bak Barbie dengan perawakan tinggi langsing berkulit putih mulus tanpa cacat cela yang kini berusia 17th dan tengah duduk di bangku kelas 2 SMA sangat tergila-gila dengan DUDA yang usianya 21th lebih tua darinya.
Zia tidak segan-segan untuk menunjukan rasa cintanya hingga mengungkapkan perasaannya pada Om Bryan yang tak lain adalah Teman Papanya sendiri.
Akankah Om Duda membalas cinta gadis kecil sepertinya?
Lalu bagaimana dengan Papa Faraz? Akankah Ia menyetujui hubungan putrinya dan Temannya sendiri?
Novel ini adalah sekuel dari novel romantis "Perjalanan Cinta Sang Duda" yang akan berkisah tentang kehidupan Zia MENGEJAR DUDA TEMAN PAPA.
follow FB Author @i'tsmenoor
Instagran / Tiktok @_itsmenoor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor Hidayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melepas Rindu
Zia yang hampir lupa dengan ancaman David kini kembali merasa cemas melihat David yang kembali datang ke sekolahnya.
Zia segera lari untuk menghindarinya namun David yang sudah melihat Zia berlari mengejar dan menarik tangannya.
"Mau lari kemana?" tanya David menggengam erat pergelangan tangan Zia.
"Mau ke neraka, Apa kamu mau ikut?." saut Zia dengan sinis.
David terdiam, Tapi diamnya bukan karena ucapan Zia, Melainkan karena matanya tertuju pada cincin berlian yang melingkar di jari manisnya. Dengan kesal, David menarik tangan Zia untuk lebih dekat lagi melihat cincin tersebut.
"Apa ini Zia?"
"Itu bukan urusanmu!" Zia menghempas tangan David dan menyembunyikan tangannya.
"Kau bertunangan dengan Sugar Daddy mu itu?"
"Sudah ku bilang ini bukan urusan mu!"
"Berrraninya Kau melakukan ini Zia, Apa kau lupa dengan ancaman ku?" David kembali menarik Zia ke sisinya. Dengan kedua mata melotot dan mengeraskan rahangnya, David mencoba memberi tekanan pada Zia. Namun Zia sudah tidak lagi takut seperti sebelumnya dan malah menantangnya.
"Lakukan saja David, Kita akan lihat siapa yang akan rugi dalam hal ini." Zia menghempas tangan David dengan kasar dan pergi meninggalkannya.
David hanya bisa mengeratkan giginya sembari mengepalkan kedua tangannya melihat gadis pujaan yang semakin jauh meninggalkannya.
•••
Tidak bertemu selama tiga hari, Membuat Bryan benar-benar merindukan kekasih kecilnya hingga membuatnya tidak sabar untuk menemuinya di sekolah sebelum Ia pulang ke rumahnya.
Bryan menunggu di luar gerbang dengan kacamata hitamnya.
Dari dalam mobil Bryan mengawasi satu persatu siswa keluar meninggalkan sekolah.
Setelah menunggu cukup lama, Akhirnya yang di tunggu-tunggu datang juga. Bryan tersenyum lebar melihat pujaan hatinya melangkah menuju gerbang. Kemudian Om Bryan menelfon Zia sambil terus melihat ke arahnya.
Zia melihat layar ponselnya dan langsung mengangkatnya.
"Lihat ke luar."
Zia melihat ke luar dan melihat Om Bryan di dalam mobil melambaikan tangannya. Dengan perasaan yang sangat bahagia, Zia langsung berlari ke Om Bryan.
"Om..."
"Masuklah Sayang."
Zia mengangguk dan masuk ke mobil.
Mereka saling menatap seakan tak sabar lagi untuk meluapkan kerinduan Mereka. Namun Om Bryan menahannya dan menjauh dari area sekolah.
Setelah beberapa meter mobil berjalan, Om Bryan kembali menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang cukup sepi.
Kemudian Mereka kembali saling menatap sebelum akhirnya saling berpelukan untuk melepas kerinduannya.
"Zia sangat merindukan Om."
"Om juga sangat merindukan mu sayang."
Setelah cukup lama berpelukan, Om Bryan mengurai pelukannya dan mengusap wajah yang tiga hari ini begitu Ia rindukan.
Kemudian seperti biasa, Om Bryan mendaratkan bibirnya pada bibir Zia yang sudah menjadi candunya.
Zia memejamkan mata menikmati pagutan Om Bryan yang sudah tiga hari ini tidak Ia rasakan. Namun di sela kenikmatannya David melintas dalam pikirannya.
Zia langsung melepaskan pagutannya dan terdiam sedih.
"Ada apa Sayang?"
"David datang lagi Om, Dia kembali mengancam Zia."
"Kamu jangan khawatir, Om sudah memutuskan kalau Om akan menemui Papa Faraz malam ini, Jadi Kita tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi apa lagi merasa takut dengan ancaman David."
"Apa Papa akan setuju?"
"Kita lihat saja nanti."
"Bagaimana kalau Papa tidak setuju, Bagaimana kalau Papa marah dan bagaimana kalau Papa memasukan Zia ke pesantren atau memaksa kita berpisah? Zia nggak mau kalau harus jauh dari Om."
"Zia Sayang tenanglah, Kita harus mencobanya dan menghadapi segala resikonya,"
"Tapi Om..."
"Zia, Kamu adalah kesayangan Papa Faraz, Berapa lama Papa Faraz bisa marah padamu?"
Zia terdiam mendengar ucapan Om Bryan yang memang benar adanya. Selama ini Papa Faraz begitu menyayanginya dan tidak pernah sekalipun memarahinya.
"Semua akan baik-baik saja, Percayalah." Bryan merangkul pundak Zia dan membuat kepanya bersandar di pundaknya.
Setelah cukup lama mereka melepas rindu, Om Bryan mengantar Zia pulang.
•••
"Om antar Zia sampai sini ya," ucap Om Bryan yang yang menghentikan mobilnya di tempat biasa.
"Apa Om benar-benar serius nanti malam akan bicara sama Papa?"
"Om serius sayang, Bersiaplah." Bryan mengusap kepala Zia dengan penuh kasih sayang.
Zia memegang tangan Om Bryan yang ada di kepala dan mengecupnya dengan lembut.
Kemudian Zia turun dan melambaikan tangannya.
•••
Bryan sampai di rumah dan langsung ke kamar putrinya.
Dengan sangat perlahan, Bryan membuka pintu kamarnya.
Terlihat Bella masih berbaring di bawah selimutnya.
Bryan menghelai nafas dan duduk di tepi ranjang. Kemudian mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang seorang Ayah pada Anaknya.
"Bella dari pagi belum bangun?" tanya Bryan dengan penuh kelembutan.
"Udah." jawabnya singkat.
"Udah makan?"
"Udah."
"Sekarang bisa kita bicara?"
"Pasti masalah anak kecil itu lagi kan?" jawabnya jutek.
"Bella ini tentang Tante Anita."
Bella hanya diam melirik Papah nya.
"Selain memanfaatkan mu untuk mendapatkan uang, Perilaku Tante Anita di belakang mu juga tidak pantas untuk menjadikan Dia Ibu mu Bella,"
"Papah sudah sering mengatakan itu, Langsung saja ke intinya."
"Kamu bisa menilai ini sendiri." Bryan menunjukan video vulgar Anita dan pria yang berada di atas ranjang yang Ia pergoki dengan mata kepala sendiri.
Bella terperanjat melihat video itu. Namun Bella segera menyembunyikan kekecewaannya dan kembali menentang hubungan Papahnya dengan Zia.
"Sekarang kamu lihat kebenaran tentang Tante Anita dan kenapa Papah tidak melanjutkan hubungan dengannya?"
"Ya! Tapi itu tidak berarti Bella akan menyetujui hubungan Papah dan gadis kecil itu."
"Bella!"
"Pah Dia tidak pantas untuk Papah, Dia..."
"Lalu siapa yang pantas untuk Papah Bella!" pekik Bryan yang membuat Bella tercengang.
"Selama ini Papah membesarkan mu seorang diri, Papah rela tidak menikah karena Papah takut jika Dia tidak bisa menyayangimu seperti anak sendiri, Dan ketika kamu menginjak remaja, Saat kamu menginginkan sosok Ibu dalam hidupmu, Papah menuruti dengan siapa Papah harus menjalin hubungan dengan wanita yang kamu sukai, Meskipun Papa tidak menyukainya Papa berusaha menjalaninya demi dirimu, Tapi apa yang terjadi Bella?"
Bella terdiam menundukkan kepalanya.
"Sekarang Papah tidak akan menuruti mu lagi Bella, Kamu sudah dewasa tapi sedikit pun kamu tidak pernah memikirkan kebahagiaan Papah." Bryan menjadi begitu emosional. Pengorbanan yang Ia lakukan lebih dari 19th seolah tak ada artinya untuk putrinya.
"Bella ingin Papah bahagia tapi Bella mohon jangan dengan gadis kec.."
"Gadis kecil itu sumber kebahagiaan Papah, Papah tidak menginginkan gadis lain selain dirinya!" Bryan memotong ucapan Bella dengan kesal.
"Sampai kapan kamu akan menjadi anak yang egois Bella?
Sekarang coba tunjukkan pada Papah, Adakah laki-laki yang kuat tidak menikah lagi selama lebih dari 19th seperti Papah?" Dengan kesal Bryan meninggalkan kamar Bella sembari membanting pintu dengan keras.
Bersambung...
Tinggal Satu BAB lagi masuk BAB terbaru, Tungguin ya 🤗