Follow IG : othor_barbar
Siapa yang tak terluka jika kita menikah dengan orang yang tak pernah menganggap kita ada.
Hari-hari disuguhkan dengan pemandangan yang membuat hati kita terhempas dan jatuh berkeping-keping, akankah kita bisa bertahan dengan rumah tangga yang dijalani penuh dengan kepalsuan semata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tufa_hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suami romantis
Suasana hening yang terjadi di meja makan Brian, pria itu sengaja pulang lebih awal karena dia takut momynya mencurigai hubungan pernikahan dia dengan Gracia yang kurang baik.
Seusai makan malam, mereka ngumpul di ruang keluarga. Brian pamit tidur terlebih dahulu, tetapi Silvia menahannya dengan alasan merindukan kebersamaannya dengan Brian. Silvia ingin ngumpul bareng anak dan menantunya itu hanya sekedar mengobati rasa rindu karena sudah hampir sebulan tidak berjumpa.
"Brian, besok kau pergi ke acara undangan pernikahan anak teman mommy dengan istrimu! Aku sudah bilang padanya kalau kau yang akan datang dengan Gracia." Silvia menatap reaksi putranya.
"Jam berapa Mom?" tanya Brian datar.
"Jam delapan pagi, kau kosongkan jadwalmu besok!" ucap Silvia.
"Aku ada meting penting besok Mom, mommy pergi sama istriku saja! Kau nggak keberatan 'kan sayang?" ucap Brian. Pria itu menampilkan senyum palsunya pada Gracia. Sedangkan Gracia menanggapinya dengan senyum kaku. Karena pertama kalinya Brian memanggilnya dengan sebutan sayang meskipun hanya bersandiwara.
"Mommy nggak mau tau, pokoknya kau harus mengosongkan jadwalmu besok!" ucap Silvia menatap Brian tajam.
"Tapi Mom,"
"Nggak ada tapi tapian, mommy nggak suka dibantah." Silvia memasang wajah galaknya.
"Baiklah Mom, aku akan membatalkan meting besok," ucap Brian pasrah.
"Nah gitu dong! Kamu itu memang perlu berdebat dulu dengan mommy, setelah itu baru bisa nurut," ucap Silvia.
"Terserah mommy saja, Brian sudah ngantuk. Aku pamit tidur lebih dulu," ucap Brian.
"Ya udah sana! Lagi pula sudah nggak ada lagi yang perlu mommy bicarakan denganmu," ucap Silvia. Wanita itu tersenyum karena telah berhasil membujuk putranya untuk menghadiri undangan. Silvia sudah bertekad bahwa ia akan terus berusaha untuk mendekatkan Brian dengan Gracia agar keduanya tidak saling menyakiti lantaran tidak ada cinta dalam rumah tangga putranya.
Brian beranjak dari sofa yang ia duduki. Namun, sebelum langkah Brian jauh, Silvia memanggilnya kembali.
"Brian..." Silvia mencegah langkah putranya.
"Ada apa lagi sih Mom?" Brian memutar badannya dengan malas.
"Kau melupakan istrimu," Silvia tersenyum.
"Brian bukan lupa Mom, tetapi jika Brian ngajak Gracia tidur, mommy sendiri di ruang keluarga ini, aku tidak ingin mommy bosan karena tidak ada yang menemaninya," ucap Brian dengan wajah kesal.
"Siapa bilang Mommy masih mau di sini, Mommy juga akan tidur . Jadi lebih baik kau ajak istrimu sekarang! Buatkan cucu yang imut untuk mommy!" ucap Silvia sambil menarik turunkan alisnya.
"Ya udah, selamat malam Mommy, ayo sayang kita tidur!" ucap Brian dengan senyum yang dipaksakan.
Gracia tersenyum kaku, lalu mendekati Brian. Setelan itu Brian merangkul pundak Gracia dari samping membawa gadis itu ke kamarnya.
Andai sikap Mas Brian ini adalah nyata bukan sandiwara belaka, mungkin saat ini aku adalah orang yang paling bahagia karena mempunyai suami yang romantis. Namun, aku harus segera bangun dari mimpiku karena ini hanyalah kebohongan. Batin Gracia menatap Brian dari samping.
Sesampainya di kamar, Brian langsung mengunci pintu kamar itu dan melepaskan rangkulannya pada pundak Gracia.
"Kamu jangan kepedean! Aku melakukan semua ini agar mommy tidak mencurigai hubungan pernikahan kita yang tidak baik," ucap Brian.
"Aku ngerti kok Mas." Gracia tersenyum.
"Bagus," ucap Brian. Pria itu melangkah ke kamar mandi. Namun, suara Gracia menghentikan langkahnya.
"Sampai kapan kau akan bersandiwara Mas? Mengapa kau tidak mencoba untuk mencintaiku? Aku juga tidak punya perasaan cinta padamu Mas, tetapi aku bertahan demi orang tuaku. Aku selalu mencoba mencintai mu, karena aku pikir kaulah jodoh yang dikirimkan tuhan untukku."
"Aku percaya pilihan orang tuaku yang terbaik. Namun, entah mengapa apa yang kulihat selama ini sepertinya aku salah, kebaikan yang selama ini ku lakukan untukmu rasanya percuma saja. Kau tak pernah memandangku sedikitpun." Gracia menatap punggung Brian.
Deg.
Jantung Brian berdegup kencang, entah perasaan apa yang datang melandanya saat mendengar ucapan Gracia.
"Bukankah sudah pernah ku kataka padamu, bahwa aku tidak akan mencintaimu sampai kapanpun, karena aku sudah mempunyai kekasih yang sangat aku cintai, jadi jangan coba untuk mencintaiku karena kau hanya akan terluka," ucap Brian. Pria itu melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi, sedangkan Gracia menatap langkah Brian sendu.
Haruskah ku menyerah dengan keadaan ini, entah mengapa sekarang aku ragu untuk berjuang, Mas Brian memang orang baik, tetapi hatinya sudah menjadi milik orang lain dan tidak bisa ku sentuh. Meskipun aku istrinya. Namun, aku tidak bisa memiliki dia seutuhnya. Cinta Mas Brian untuk kekasihnya terlalu dalam, rasanya aku tak akan pernah bisa menyentuh hati Mas Brian sampai kapanpun.
...💋💋💋💋💋...
...TBC...
Assalamu 'alaikum My Readers 😍
Terlalu panjang nggak sih? Babnya udah ku panjangin dikit 🙈🤣🤭
Thank you buat kalian yang setia like dan komen. Semangatku karena kalian 🥰
Jangan lupa Like dan komennya ya Sayang! 😍😘