Kisah seorang anak yang di buang oleh keluarganya karena memiliki sisik hitam memenuhi sekujur tubuhnya.
Ya, Kania anak itu. Anak yang membuat orang akan takut melihatnya. Akankah dia bahagia atau terpuruk di kehidupan ini. ikuti kisahnya sampai tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon akos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. BERTEMU GUNAWAN DAN TALIA.
"Apa sebenarnya yang Tuan Gunawan dan Nyonya Talia inginkan dari Saya,". Bi Desi kembali terduduk.
"Kami ingin anak itu kembali lagi pada kami, cepat katakan dimana anak itu sekarang?," bentak Gunawan dengan memukul daun meja menggunakan telapak tanganya.
Semua pengunjung restoran seketika menghentikan aktifitasnya menikmati makanan siang mereka dan mengalihkan pandanganya kearah Gunawan, Talia dan Bi Desi.
"Untuk apa lagi kalian mencarinya, bukankah kalian sudah menganggapnya mati?,". Bi Desi mencoba untuk tenang.
"Itu dulu tapi sekarang kami membutuhkanya, cepat katakan dimana Dia?,". Kini Talia yang angkat bicara dan ikut membentaki Bi Desi.
"Sewaktu Saya membawa bayi itu pergi dari kediaman Tuan dan Nyonya, tiba-tiba di tengah perjalanan tubuh bayi itu mengejang. Saya panik dan tidak tahu harus berbuat apa.Di dalam kepanikan Saya itu, Saya segera membawa bayi itu kerumah sakit, tapi sayangnya TUHAN berkehendak lain, Saya terlambat, bayi itu sudah meninggal. Kata dokter yang menanganinya saat itu, sisik yang muncul dari tubuh bayi itu adalah penyakit yang sangat mematikan dan sulit untuk di sembuhkan," Bi Desi tertunduk.
"Apa?, meninggal, kamu jangan coba-coba membohongi kami,".
"Untuk apa juga Saya membohongi kalian, tidak ada guna bagi Saya,".
"Kalau begitu dimana mustikanya kamu simpan," bisik Gunawan di telinga Bi Desi.
"Mustika apa maksud Tuan, Saya benar-benar tidak mengerti?," kini Bi Desi mengangkat kepalanya.
"Kamu jangan pura-pura bodoh, saat bayi itu meninggal pasti mustika dalam tubuhnya keluar bukan?, cepat berikan pada kami sebelum Aku benar-benar marah padamu,"
"Sekeras apa pun kalian memaksa Saya, Saya tidak akan menyerahkanya karena memang, mustika seperti yang Tuan maksudkan tadi benar-benar tidak ada padaku,".
"Kamu benar-benar ingin menguji kesabaranku," Gunawan mencengkram kera baju Bi Desi hingga membuat perempuan parubaya itu seketika berdiri.
"Tuan, hentikan, Saya ini manusia bukan hewan peliharaan yang seenaknya bisa Tuan memperlakukan sekasar ini," Bi Desi menepis tangan Tuan Baron hingga tangan kekar itu terlepas dari keranya.
"Sekarang kamu berani melawanku?, dasar pelayanan tidak tahu diri," Gunawan mengangkat tanganya ke udara untuk menampar Bi Desi, tapi sayang belum sempat telapak tangan itu menyentuh seinci dari tubuh Bi Desi tiba-tiba sebuah tangan kekar menangkapnya dari arah belakang.
"Jangan coba-coba menyentuhnya," seorang pria dari arah belakang dan menghempaskan tangan Gunawan secara kasar.
"Kamu lagi, kamu lagi, kamu tidak usah mencampuri urusan kami,".
"Aku akan turut campur jika berhubungan dengan dia," balas pria itu yang tak lain adalah Tuan Baron.
"Oh jadi sekarang kamu sudah mulai melawan pamanmu?,".
"Paman? ha ..ha, baru sadar rupanya pria Tua ini. Sejak Aku terpuruk, dimana saja Kamu selama itu, Kamu seakan lupa kalau almarhum kakakmu punya anak laki-laki yaitu Aku," tawa Tuan Baron lalu duduk di kursi sambil menyilang kedua kakinya membentuk hurup X.
"Sudahlah, tidak usah meladeni Dia. Lagian, orang-orang dalam restoran ini sudah pada melihat kita," Talia memegang lengan Gunawan.
"Ini semua belum selesai. Kalian berdua akan menyesal karena sudah berurusan dengaku," Gunawan menunjuki Tuan Baron dan Bi Desi saling bergantian kemudian melangkah keluar diikuti oleh Talia dari arah belakang.
"Kamu yang akan menyesal telah berurusan denganku, pergi sana dan jangan menampakkan lagi muka kalian di hadapanku," tunjuk balik Tuan Baron pada Gunawan.
"Sudahlah, biarkan mereka pergi, tak baik dilihatin orang. Ngomong-ngomong kenapa Tuan Baran Bisa tahu kalau Aku ada disini?". ucap Bi Desi sedikit heran.
"Itu mudah, dengan adanya GPRS Aku bisa melacak keberadaanmu. Apa kamu sudah bangga denganku?," Tuan Baron mengedip-ngedipkan kedua matanya.
"Aku mau pulang banyak pekerjaan yang harus Aku kerjakan dirumah," kembali Bi Desi mencoba untuk berdiri tapi segera di halangi oleh Tuan Baron.
"Sudah lama Aku makan sendiri tanpa ada yang menemani, Aku mohon temani Aku sebentar saja," Tuan Baron mendudukkan tubuh Bi Desi kembali.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama,".
Setelah Tuan Baron memesan makanan pada pelayan, Dia pun menikmati hidangan dengan sangat lahap.
Ada rasa kasihan di dalam hati Bi Desi melihat pria yang ada di hadapanya itu.
"Ada apa dengan Tuan Baron?, kenapa kehidupanya bisa serumit ini? Apa sebenarnya yang dia sembunyikan selama ini?," tatap lekat Bi Desi pada mantan majikanya itu.
"Jangan mengagumiku secara berlebihan takutnya kamu tidak bisa berpaling dariku," Tuan Baron tanpa melihat Bi Desi sakin asiknya menikmati hidangan yang ada di hadapanya.
"Terlalu percaya diri, cepatlah habisi makananmu lalu kita pulang,".
"Kita pulang bersama begitu?, baiklah kalau itu maumu," Tuan Baron mulai terburu-buru menyantap hidangan yang ada di hadapanya.
"Maksud Saya bukan itu, kita pulang kerumah kita masing-masing," Bi Desi hanya bisa menggeleng.
Setelah membayar tagihan, mereka pun bersama-sama turun ke lantai bawah menggunakan lift.
Masih seperti tadi, Tuan Baron masih terus menjaili Bi Desi hingga mereka berdua tiba di tempat parkir.
"Ayo masuk," Tuan Baron memasukkan belanjaan Bi Desi kedalam mobilnya.
"Aku naik taxi saja,". tolak Bi Desi.
"Ayo masuk atau kamu mau Aku gendong?,".
Seketika kedua bola mata Bi Desi membulat. Mau tidak mau terpaksa Bi Desi masuk dan duduk di kursi penumpang.
Belum juga posisi duduk Bi Desi membaik, Tuan Baron kembali mengangkatnya keluar.
"Turunin Tuan," protes Bi Desi sambil meronta.
"Diamlah, Dan duduk yang manis di sini," Tuan Baron meletakkan tubuh Bi Desi di depan, bersebelahan dengan kursi pengemudi.
Tidak berapa lama kemudian kendaraan mereka pun keluar dari halam mall dan melaju menuju kediaman Bi Desi.
Di sepanjang perjalanan Bi Desi hanya terdiam, sedangkan Tuan Baron tidak henti-hentinya bersiul. Ada ke gembiraan tersendiri yang terlihat dari raut wajah pria parubaya itu.
"Apa Aku boleh tinggal menemanimu?," ucap Tuan Baron saat mobil mereka sudah berhenti di depan rumah Bi Desi.
"Tidak usah, apa kata tetangga nantinya bila sampai melihat Tuan Baron sering berkunjung di rumah kami,".
"Katakan saja pada mereka kalau Aku ini kekasihmu dan merangkap jadi suamimu,".
"Sudalah, Tuan pulang saja, Saya pusing ngeladenin Tuan, terima kasih atas tumpanganya," Bi Desi segera berbalik dan membawa barang belanjaanya masuk kedalam rumah.
Tuan Baron hanya tertawa melihat tingkah lucu Bi Desi lalu menghidupkan kembali mesin mobil pulang ke kediamanya.
Bi Desi meletakkan barang belanjaanya begitu sata diatas meja lalu mendudukan tubuhnya di kursi.
"Nona Kania maafkan Bibi, Bibi benar-benar terpaksa melakukan semua ini. Bibi tidak mau keluargamu menyakitimu lagi seperti dulu,"
Tanpa terasa air mata Bi desi menetes diatas meja membentuk bulatan-bulatan kecil.
👉 Terus beri like, coment, dan vote, terima kasih.
semoga saja tuan Baron bisa dengan cepat menyelesaikan urusan nya
apakah Arnold jodoh nya Kania 🤔
dia si Dewi ular 🐍 anak mu bang🤭
tau gak ya kalau Kania itu anaknya Lidia
semangat kak
sukurin lo nyonya GINA yang sombong
wah bisa seru ini cerita nya
semoga Kania dan bi Desi selalu di lindungi oleh ular raksasa itu
aku lanjut aja ah .... semoga tambah seru
kasian bayi itu dia juga tidak mau keluar dengan kulit yang seperti itu