Warring!!! 21+++
Ajeng Maisya adalah seorang gadis yatim piatu yang diusir oleh ibu tirinya dari rumahnya sendiri.
Dia harus berjuang keras untuk menyambung hidup. Hingga kejadian naas itu pun terjadi. kesuciannya harus direnggut secara paksa oleh CEO di perusahaan tempatnya bekerja. Dia pun pergi menjauh untuk melupakan kejadian naas itu. tanpa disadarinya dirinya telah mengandung anak dari CEO tersebut.
Ajeng sangat menyayangi putranya, dan dia tidak ingin CEO itu tahu. Putranya sangat tampan sejak lahir. Dan dia memiliki kecerdasan diatas rata-rata untuk usianya yang 3 tahun.
Namanya Mr.Zero, Dia adalah hacker handal dan pencipta alat-alat canggih yang sering digunakan oleh agen rahasia. Alat ciptaannya sudah mendunia.Sehingga pundi-pundi uang terus mengalir. Siapakah Dia?
Ikuti terus ceritanya gengks...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PAMZ 24
Jonathan kali ini menyetir mobilnya sendiri, disampingnya ada Ajeng, dan Ars dikursi belakang.
Sepanjang perjalanan Ars selalu memperhatikan Mami dan Papinya. Ada rona merah di wajah Ajeng. Sedangkan Jonathan sesekali melirik Ajeng disampingnya.
Ars pun hanya menggelengkan kepalanya tidak mau ambil pusing dengan Mami dan Papinya yang terlihat malu-malu.
Tak ada percakapan selama perjalanan, hingga mobil yang mereka tumpangi sampai di pelataran mansion Jonathan.
Jonathan pun turun dan memutar untuk membukakan pintu mobil untuk Ajeng dan putranya.
Ajeng sedikit merasakan canggung dengan status barunya. "terimakasih," ucap Ajeng saat Jonathan membukakan pintu mobil untuknya.
Tidak berapa lama kemudian, mobil Vino juga sampai. Vino hendak membukakan pintu untuk Hany, namun Hany sudah turun dengan sendirinya. Hany berjalan menghampiri Jonathan yang kini sedang menggendong Ars disamping Ajeng.
"Sayang, tunggu aku..., kenapa kau tidak menunggu ku dan malah berjalan bersama dia," tunjuk Hany pada Ajeng.
Ajeng mengalihkan pandangannya membelakangi Jonathan dan Hany. Dia tidak ingin melihat kedua pasangan itu. Walaupun saat ini dirinya telah menjadi istri sah Jonathan, Ajeng belum mengetahui pastinya perasaan Jonathan. Apakah Jonathan mencintainya ataukah hanya memberikan status untuk putranya.
"Dia istriku sekarang, jadi apa masalahnya?!," ucap Jonathan.
Hany pun membelalakkan matanya mendengar ucapan Jonathan.
"A..apa, tapi kau adalah calon suamiku. Bagaimana bisa kalian menjadi suami istri," sarkas Hany.
"Aku memang calon suamimu, tapi Ajeng istriku saat ini. Kami menikah hari ini,dan suka tidak suka kau harus menerimanya," ucap Jonathan tegas membuat Hany terkejut.
"Tapi bagaimana dengan rencana pernikahan kita?!"
"Rencana pernikahan kita akan tetap berjalan," ucapnya datar.
"Tapi aku tidak mau menjadi istri kedua!,aku mau hanya aku yang menjadi istrimu!,atau aku akan memberitahu Ayah untuk membatalkan pernikahan kita!," ancam Hany. Tapi Jonathan malah tersenyum membuat Hany mengerutkan keningnya.
Sedangkan Ajeng merasa canggung berada di antara Jonathan dan Hany. Ajeng juga tidak mau putranya mendengar perkataan yang menurutnya tidak pantas didengar oleh seorang anak kecil.
"Maaf, aku akan mengajak Ars kedalam dulu, kalian lanjutkanlah percakapan kalian," potong Ajeng, kemudian dia mengambil Ars dari gendongan Jonathan dan menjauh dari Jonathan dan Hany.
Jonathan hanya menatap tubuh Ajeng yang berjalan semakin menjauh. Lantas Jonathan menatap tajam Hany.
"Apa kau berusaha mengancam ku?!, kali ini terserah, aku tidak peduli kau mau membatalkan pernikahan kita atau tidak!"
Hany pun merasa kesal, dia hanya ingin menggertak Jonathan, tapi ternyata Jonathan sudah tidak takut lagi dengan ancamannya.
Hany pun langsung masuk kedalam dan melewati Jonathan dengan sangat kesal. Dan itu sukses membuat Jonathan tersenyum miring.
Jonathan pun segera masuk kedalam, dia melangkahkan kakinya menuju kamar Ajeng.
cklek... pintu kamar pun terbuka, bertepatan Ajeng hendak membuka bajunya berniat untuk mandi. Ajeng membelalakkan matanya melihat Jonathan. Dia segera mengancingkan kembali bajunya."Bodohnya aku, kenapa aku tidak mengunci pintunya tadi, "rutuk Ajeng dalam hati. Dia pun menatap Jonathan tajam, namun dibalas Jonathan dengan tatapan menggoda.
" Kenapa kau menutup kembali bajumu sayang?," ucap Jonathan seraya mendekati Ajeng. Membuat Ajeng memundurkan tubuhnya.
Ajeng diam saja tanpa membalas ucapan Jonathan. Jonathan terus saja mendekat ke arahnya dengan senyuman yang sulit diartikan. "Kenapa perasaanku tidak enak?," ucap Ajeng dalam hati.
Ajeng bersiap mengambil langkah seribu untuk kabur dari Jonathan. Namun Jonathan segera menariknya saat Ajeng hendak berlari menuju kamar mandi.
"Mau kemana sayang?, aku sangat merindukanmu. Apa kau tidak rindu padaku hum?," tanyanya seraya menciumi rambut Ajeng saat dalam pelukannya.
"Lepaskan aku, pergi sana!. Urusi saja sana calon istrimu!," pekik Ajeng.
"Dia hanya calon istriku, sedangkan kau istriku sayang." Jonathan berbisik di telinga Ajeng, membuat Ajeng sedikit geli.
Ajeng ingin menjauhkan tubuhnya dari Jonathan, namun Jonathan memeluknya erat. Tanpa aba-aba Jonathan segera meraup bibir merah Ajeng dan itu membuat Ajeng terkejut.Ajeng pun berusaha berontak namun Jonathan semakin memperdalam ciumannya membuat tubuhnya tidak sependapat dengan hatinya.
Ajeng mulai menikmati ciuman Jonathan. Hingga Jonathan menggiringnya menuju ranjang, dan terjadilah hal panas diantara mereka.
Tiga jam kemudian mereka tenggelam dalam lautan cinta yang membuat keduanya seakan melayang dibuatnya. Ajeng tidak memungkiri bahwa dirinya saat ini telah jatuh cinta pada pria ini. Berbeda dengan Jonathan, dia masih ragu apakah yang dirasakannya kepada Ajeng adalah perasaan cinta ataukah hanya perasaan untuk menyalurkan hasratnya saja. Karena tubuh Ajeng telah menjadi candu untuknya.
Jonathan mendekap tubuh Ajeng erat setelah mereka melakukannya. Ajeng membiarkan Jonathan memeluknya, dia sudah sangat lelah bila harus memberontak, toh Jonathan juga sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Akhirnya mereka pun memejamkan matanya dengan saling memeluk satu sama lain.
Pukul tujuh malam Ajeng terbangun.Dia mulai membuka matanya perlahan. Dia melihat disampingnya sudah tidak ada Jonathan.
Dia pun mulai menpakkan kakinya di lantai dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa pertempurannya dengan Jonathan tadi.
Selesai mandi, Ajeng turun ke bawah untuk makan malam. Karena perutnya sudah keroncongan.
Ternyata dimeja makan sudah ada Jonathan dan putranya yang sedang makan malam bersama. Ajeng pun berjalan mendekat dan segera duduk di samping Ars tanpa mengatakan apapun.
Jonathan dan Ars pun menatap Ajeng.
"Kau sudah bangun sayang?, apa tidurmu nyenyak," ucap Jonathan diselingi senyum di bibirnya.
Namun Ajeng tak menjawab pertanyaan dari Jonathan. Ajeng langsung mengambil nasi dan beberapa lauk kemudian dia segera memakannya membuat Jonathan dan Ars menggelengkan kepalanya.
Tiba-tiba Hany pun mulai bergabung dengan mereka. "Sayang, aku sudah memutuskan untuk menerima dia sebagai istrimu." Tunjuk Hany pada Ajeng. "Tapi aku mau pernikahan kita segera dipercepat. Aku yang lebih dulu menjadi kekasihmu, tapi dia yang lebih dulu menjadi istrimu. Aku juga ingin cepat menjadi istrimu," ucapnya kemudian membuat Ajeng tersedak.
Ars dan Jonathan pun cepat memberikan air putih untuk Ajeng, namun Ajeng menolak air putih Jonathan. Ajeng pun mengambil air putih dari putranya dan meminumnya.
Jonathan menatap Hany, kemudian dia berkata " baiklah, pernikahan kita akan dilakukan tiga hari lagi, bersiaplah!," ucap Jonathan datar.
Ajeng yang mendengar ucapan Jonathan menjadi tidak lagi berselera makan. Hatinya bergemuruh membayangkan akan berbagi suami dengan Hany nantinya.
Hany yang melihat Ajeng terlihat sedih pun menyunggingkan senyumnya."Aku tidak akan memberikan Jonathan padamu perempuan kampung!," batin Hany.
Ajeng berdiri, dia tidak akan pernah sanggup menatap Jonathan dan Hany.
"Mami mau kemana?, kenapa Mami tidak menghabiskan makanan Mami?," tanya Ars.
Ajeng menoleh ke arah putranya kemudian memaksakan senyumnya. "Mami sudah kenyang sayang, Mami akan kembali ke kamar,Mami sangat lelah sekali, Ars lanjutkan saja makannya," kilah Ajeng.
" Baik Mam. "
Ars memang sudah tidak khawatir lagi Jonathan dekat dengan Hany. Karena kemarin Jonathan mengirim pesan pada Mr Zero bahwa dirinya ingin membeli alat-alatnya untuk melancarkan rencananya beberapa hari kedepan. Jonathan juga mengatakan semua rencananya kepada Mr Zero. Dan itu membuat Ars merasa tenang walaupun Hany terus mendekati Papinya.
bersambung....