(Novel sedang dalam tahap perbaikan. Akan ada perbaikan kata dan perubahan bab. Maaf untuk Season 2 yang saya hapus)
Demi membalaskan dendam kematian kedua orang tuanya, Hanan Kourosh, Seorang Ceo pemilik perusahaan terkenal ibukota.
Rela menikahi seorang gadis yang tak ia cintai dan tak sesuai standarnya, Zara Altair. Seorang gadis yatim piatu, putri dari pembunuh kedua orang tuanya. Dengan rupanya yang jauh dari kata cantik dan memiliki tompel besar di pipinya.
Pernikahan tanpa cinta pun dijalani, tak terlihat sedikitpun bahwa pernikahan hanya didasari pada balas dendam
Akankah Zara mendapat kebahagiaannya, atau....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kleo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 ( SAKIT)
Ketika Hanan telah tiba di depan pintu, ia dapat melihat Helen dan Huta yang tengah menunggu dengan wajah gelisah.
“Teyze, bagaimana keadaannya?” tanya Hanan pada Helen
“Masih belum di pastikan, karna dokter sedang memeriksanya” Balas Helen
Hening sejenak...
“Hanan. Bibi benar-benar khawatir dengan keadaan Zara, semoga saja tidak terjadi apa-apa dengannya” Keluh Helen
“Teyze, jangan terlalu khawatir. Dia mungkin akan baik-baik saja”
Traak...!
Ketika pintu terbuka, dan sang dokter keluar setelah selesai memeriksa, Helen langsung bertanya padanya
“Bagaimana, Apa yang terjadi dengannya?”
“Tidak papa, Nyonya. Pasien hanya pingsan karna kelelahan”
“Oh, syukurlah!”
“Baiklah Nyonya, Tuan, karna pekerjaan saya telah selesai, saya permisi!”
Setelah dokter itu pergi, Helen dan Hanan pun masuk ke ruangan. Di sana Zara telah kembali sadar, tapi dirinya benar-benar tampak berbeda. Wajahnya pucat, dan tatapannya kosong. Bahkan ia tak menyadari Helen dan Hanan yang datang menjenguknya.
“Zara..!” Panggil Helen
“....”
Zara tak menjawab, ia diam dan dalam kebisuannya, buliran air keluar dari balik kelopak matanya yang menatap kosong tanpa arah.
“Zara..!”
“....”
Melihat Zara yang tetap diam, membuat Helen melangkah dan duduk di sampingnya.
“Nak, apa yang terjadi? Mengapa kau menangis?” Tanya Helen dengan suara lembut penuh kasih.
Masih seperti sebelumnya, Zara sama sekali tak menjawab pertanyaan sang Bibi. Ia tetap diam dengan tatapan kosong tanpa arahnya.
“Bibi, aku....ingin pulang!” Pinta Zara, masih dengan tatapan kosongnya
“Baiklah, Nak. Pulanglah, Bibi yakin kau sangat lelah, jadi pulang dan beristirahatlah, ya”
“....”(Tak menjawab)
“Hanan, antarlah istrimu pulang. Dia butuh istirahat sekarang!” Perintah Helen pada Hanan yang masih diam di tempatnya.
Hanan mengangguk, ia dengan perlahan menggendong Zara dan membawanya ke mobil. Sedangkan Helen dan yang lainnya mengikuti dari belakang. Selesai meletakan Zara di kursi belakang, Hanan langsung berbicara pada Helen
“Bibi, maaf jika aku dan Zara telah mengacaukan pestamu, dan membuatmu khawatir”
“Tidak, Nak. Tidak sama sekali, lagi pula pesta ini Bibi adakan untuk kalian berdua, jadi kau jangan merasa bersalah”
“Baiklah, Bibi, aku harus pergi sekarang” jawab Hanan, sembari mencium lengan sang Bibi
“Ya, pergilah!” Balas Helen
Setelah kepergian Hanan dan Zara, Helen kembali masuk bersama Jahan dan Huta. Di sana suasana pesta terlihat menegang, di mana semua orang hanya duduk dan berbisik menatap ketiganya
“Jahan, Huta aku merasa kurang baik sekarang, jadi tolong urus pesta ini sampai selesai. Buat para tamu senyaman mungkin di pesta ini, sampai mereka melupakan masalah yang baru saja terjadi”
“Baik, Nyonya besar. Kami akan melakukannya” Balas Huta.
Ketika Huta terlebih dahulu pergi dari pada Jahan, Helen membisikinya.
“Kau, setelah kau melakukan tugas yang kuberikan. Periksa taman bagian belakang, carilah apa yang sebenarnya Zara temukan di sana. Karna tidak mungkin ia hanya kelelahan”
“Baik, Nyonya”
Jahan lalu pergi menyusul Huta menuju kerumunan, dan keduanya berhasil menarik perhatian para tamu. Helen yang melihat keduanya telah menjalankan tugas, memutuskan untuk pergi menuju kamarnya.
🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋
Di sisi lain, Hanan yang menyetir mobil mengantarkan Zara ke mansion. Terlihat ia menunjukkan sifat dingin seperti biasanya pada Zara.
“Kau hanya pura-pura, bukan? Kau kembali berakting seperti biasanya, sungguh wanita yang paling menjijikkan yang pernah ku kenal” Cela Hanan
“....”
Walaupun Hanan mencelanya, Zara tetap diam. Ia sama sekali tidak menggubris perkataan orang-orang di sekitarnya. Entah apa yang sebenarnya di pikiran Zara. Hanan yang melihat itu, membuatnya semakin kesal padanya . Ia melajukan kendaraannya di tengah hiruk pikuk keramaian ibukota.
Sesampainya Di Mansion....
Hanan memberhentikan kendaraannya, tepat di pintu masuk
“Hei, Turunlah! Jangan diam saja seperti batu di sana!”
“Aku...minta maaf” Balas Zara.
Secara perlahan, Zara turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Hanan sendirian di dalam mobilnya.
“Gadis aneh!”
“Apa yang sebenarnya terjadi dengannya? Dia benar-benar berbeda kali ini” Gerutu Hanan
“Nona, selamat datang. Bagaimana pestanya? Apakah menyenangkan?” Tanya Arfan
Zara yang masuk ke dalam rumah, langsung pergi menuju kamarnya, tanpa memperdulikan lagi Arfan yang menyambutnya. Dengan sempoyongan, ia berusaha menaiki satu-persatu anak tangga yang ada.
Sesampainya ia, Zara langsung menutup dan mengunci pintu kamarnya. Ia duduk bersandar di balik pintu, sambil memeluk lututnya sendiri. Ia menangis, mengingat kenangan masa lalu yang ingin di lupakannya selalu terngiang di pikirannya
*Flashback On*
20 Tahun yang lalu....
Di sebuah taman, ada dua orang anak yang bermain ria di sana. Keduanya adalah seorang anak laki-laki dan perempuan. Mereka terlihat sibuk menggali dan menguburkan sesuatu di taman itu.
“Zara di kotak ini ada kenangan kita, aku harap kita bisa membukannya saat kita besar nanti”
“Ya, aku juga berharap dan menantikannya”
Zara dan anak laki-laki itu pun, menguburkan kotak berisi harapan dan benda kesayangan mereka di sana.
“Zara, berjanjilah padaku. Jika kita akan selalu bersama sampai besar nanti!”
“Ya, aku berjanji, kita akan selalu bersama sampai kita besar nanti!” Balas Zara
Anak laki-laki itu tersenyum, dan menjulurkan jari kelingking pada Zara “Janji”
Zara dengan senyum berserinya, menautkan jari kelingkingnya pada jadi kelingking anak laki-laki itu.
“Ya, janji!”
Akibat sebuah peristiwa yang menyakitkan. Janji yang terucap oleh keduanya pun, secara perlahan terlupakan seperti kelopak bunga yang layu.
Duarrrr...! (suara ledakan)
“Zara...!”
*Flashback Off*
Mengingat itu membuat Zara menangis, kenangan tragis yang harusnya ia lupakan selalu terngiang di pikirannya.
“Janji kita telah tercapai sekarang. Lalu di mana kau? Mengapa kau tak berubah seperti kalanya dulu?” Pekik Zara di sela isak tangisnya
Secara perlahan, Zara melangkah menuju cermin, di lihatnya lekat wajah aslinya yang telah tampak. Ia menangis, kala wajah itu hanya mengigatkannya pada masa lalu
‘Kau pembunuh'
‘Putri pembunuh'
‘putri pembunuh'
‘Pembunuh, pembunuh'
Kata-kata itulah yang selalu berputar di kepalanya.
“Bukan, ayahku bukan pembunuh. Aku bukan putri seorang pembunuh!” teriak Zara.
“Aku bukan putri pembunuh...!”
“Pergi! Pergi kalian jangan dekati aku...!”
‘Pembunuh, pembunuh....!'
‘Pembunuh...!’
“Tidak, aku bukan seorang pembunuh!”
Semakin Zara mencoba mengendalikan dirinya, semakin kata-kata itu terngiang di kepalannya. Zara yang mengalami trauma mendalam, melihat semua orang yang semua itu seolah nyata di depan matanya.
“Tidak, pergi ... jangan dekati aku!”
Zara terduduk sambil memegang erat kepalanya, berharap apa yang ia lihat di depan matanya segera menghilang. Tapi tetap saja, semuanya seakan terlihat nyata ketika ia sendiri tidak mencoba untuk menenangkan traumanya.
Di sisi lain, Arfan yang khawatir dengan sikap Zara yang berubah setelah pulang dari pesta, datang menghampiri ke kamarnya. Arfan mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban dari dalam.
“Nona, nona apa anda di dalam?”
“Nona?”
Tetap, tidak ada jawaban dari dalam.
“Apa mungkin Nona sudah tidur? Baiklah, besok saja aku memastikannya”
Ketika Arfan hendak menuruni tangga, ia dapat mendengar suara teriakan dari dalam kamar. Tentu itu membuatnya terkejut, ia dengan buru-buru kembali ke kamar, dan mencoba membuka pintu yang terkunci.
“Nona! Nona apa yang terjadi dengan anda? Apa anda baik-baik saja?” Teriak Arfan sembari menggedor-gedor pintu
“Tidak, pergi, aku bukan seorang pembunuh!”
“Nona! Nona tolong buka pintunya, apa anda baik-baik saja di sana?”
“Tidak, aku bukan seorang putri pembunuh!” teriak Zara dengan isak tangisnya
Mendengar teriakan Zara yang begitu memilukan untuk ketiga kalinya, membuat Arfan benar-benar khawatir.
“Aduh bagaimana ini, aku tidak punya kunci cadangan untuk kamar utama ini (kamar utama di tempati oleh Hanan, dan Hanan tidak mengizinkan Arfan untuk memiliki kunci cadangan kamarnya)”
“Ah, aku akan melaporkannya pada Tuan”
Arfan berlari dengan cepat, menuruni anak tangga untuk menemui Hanan di lantai dasar. Sesaat setelah ia sampai di lantai dasar, Arfan dapat melihat Hanan yang tengah duduk bersandar di sofa ruang tamu.
“Tuan, Tuan...!” teriak Arfan sambil berlari menghampiri Tuannya.
“Ada apa Arfan? Mengapa kau berlari seperti itu di rumah ini?”
“Tuan, gawat ... Nona!”
“Aku tidak peduli, jangan melaporkan berita yang tidak penting tentangnya!” gertak Hanan.
“Tapi, Tuan. Keadaannya benar-benar menghawatirkan, ia berteriak tidak jelas di kamarnya sambil menangis!”
“Apa peduliku?” Balas Hanan acuh tak acuh
“Tapi, Tuan kumohon! Sekali saja, lihatlah Nona” Pinta Arfan dengan memohon sambil bersujud
Melihat Arfan yang memohon sambil bersujud padanya, membuat Hanan sedikit terkejut. Baru kali ini ia melihat Arfan memohon dengan sangat padanya.
Demi wanita itu, kau sampai memohon seperti itu padaku Arfan. Apa yang sebenarnya istimewa darinya, sampai ia dapat meluluhkan hati para pelayan dan bibi Helen dalam waktu singkat. Hanan
“Ack, Baiklah!”
Hanan berdiri dari tempatnya dan berjalan dengan santai menuju kamarnya, sedangkan Arfan mengikutinya dari belakang.
keren ceritanya
semangat