Saat terbangun aku sudah berada di tempat yang asing. Aku memutar tubuhku untuk melihat lebih jelas dimana aku berada, aku merasa sedang diawasi, dia.. dia melihat kearah ku dengan mata merahnya. Dan dia tersenyum, terlihat dua buah taring keluar dari bibirnya..
Haloo semua... ini cerita pertamaku di MangaToon, Aku harap kalian seneng bacanya, semua cerita yang akan kutulis harus Happy Ending!
Why
Why
Why
Karena kopi pait adanya didunia nyata yaa, so aku bikin cerita yang bikin kalian senyum-senyum aja, just Have Fun in my Fantasi World ♥️♥️♥️
Oh yayayaa, jangan lupa love, like, kalo bisa comment juga, biar aku semangat gadang tiap malam 😆😆😆 demi kalian pencinta Fantasi World.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BFK.11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan Alice
Gara mencoba membangunkan Alice beberapa kali, namun tidak ada respon sedikitpun. Darah mengalir dari seluruh tubuhnya.
"Kent! Cobalah tutup lukanya!!" Gara menatap Kent penuh harap.
Kent berjalan ke arah Alice, air matanya terus keluar, dia tidak bisa menahannya. Kent mulai menjilat lengan Alice yang berlubang, terdapat 10 lubang taring disana, Kent menjilatnya, air matanya tak berhenti menetes. Lalu Kent menjilat lengan sebelahnya, terdapat 6 bekas taring dan seluruh kakinya penuh dengan bekas gigitan. Gara masih mencoba memanggil namanya.
"Alice sayang, aku datang honey, bangunlah..."
"Aku mohon Alice.."
Gara masih samar-samar mencium aroma tubuh Alice, namun dia tau kemungkinan terburuk adalah Alice akan meninggalkannya selamanya.
Dengan keputusan yang sangat berat Gara menjauhkan Kent, dia membaringkan tubuh Alice yang dingin dikasur, lalu merapihkan rambutnya.
Gara mencium kening Alice lalu dia menjilat leher Alice yang sudah dingin.
Dengan cepat Gara menancapkan taringnya kemudian menghisap darahnya dan mengalirkan racun Vampire nya disana.
Setelah selesai, Gara mencabut taringnya.
Dia menunggu reaksi Alice, namun tidak ada.
Kent menatap murka Gara, dia mendorong Gara ketembok dan membantingnya dengan kuat.
Brugh
Argh
"Lepaskan Kent!
"Aku tidak mau Alice pergi! Lepaskan!"
Kent membanting Gara ketembok.
Brugh..!
Kent mendekat ke arah Alice, dia membelai rambut Alice. Gara bangkit lalu mendorong Kent ke tembok dengan kuat.
Dugh..
Gara berjalan ke arah Alice.
Dia berbisik ketelinganya..
Alice ..
Sayang..
Honey..
Bangunlah sayang..
Gara menggenggam tangan Alice..
Masih tidak ada respon dari Alice, Gara semakin putus asa, dia memeluk Alice dengan kuat, Gara menangis, dia tidak tahu kapan terakhir air matanya menetes, namun dia sudah tidak peduli lagi, dia hanya ingin Alice kembali.
Lambat-laun tubuh Alice mulai bergetar, semakin lama getarannya semakin hebat, Gara menidurkan Alice kembali. Kent berjalan mendekat.
Hhng
Hnmmp
Arghhhh
Terdengar suara jeritan Alice yang memilukan, Kent tidak tahan melihatnya, dia pergi keluar dan menghilang.
Masih ada harapan!!!
Gumam Gara.
Gara menutup wajahnya, dia tidak sanggup melihat penderitaan Alice. Dia berharap racunnya bekerja dengan cepat sehingga penderitaan Alice dapat berakhir.
Aaargh
Aaaaaaargh
Hmmmmmmmp
Aaaaaaaa
Gara mendekat, kemudian dia menggigit lengannya dan memberikan darah pada mulut Alice.
Mhmmmm
Mmmm
Alice mulai sedikit tenang.
Kent..!
Kent..!
Gara berteriak memanggil Kent, suara langkah kaki terdengar mendekat.
"Bawa Alice ke istana. Aku akan menyusul!" Ucap Gara.
Dengan cepat Kent menggendong Alice dan menghilang.
Alice..
Kumohon..
Bertahanlah sayang..
Aku mohon..
Jangan lakukan hal ini padaku..
Aku mohoon..
Gara menangis sendirian dalam gelap.
Gara duduk, dia mengatur emosinya, kemudian mengelilingi ruangan, dia dapat mencium bau tubuh Luca yang tersisa. Dia bertekad akan membuat Luca membayar semua perbuatannya pada Alice.
Gara pergi menghilang bersama ratusan kelelawar dibelakangnya.
Istana kerajaan terlihat berantakan.
Puing-puing bangunan bertebaran, korban berjatuhan, dan api berkobar di luar.
Namun, Yang Mulia Raja, Dean, William dan Eric selamat. Mereka hanya menderita luka ringan.
Gara sudah lupa luka yang dia dapatkan didada sebelah kiri, Dia terlalu mengkhawatirkan kondisi Alice.
"Gara, rawatlah lukamu. " Perintah yang mulia Raja.
"Ka, aku akan memberikan darahku, minumlah." Eric menyayat lengannya dan memberikannya pada Gara.
"Terimakasih, aku berhutang padamu . " Jawab Gara.
Eric hanya tersenyum, sudah lama dia tidak melihat Gara dengan ekspresi yang terus-menerus berubah.
"Dimana Alice Ayah?" Tanya Gara.
Seketika hening, tidak ada yang menjawab.
"Alice berada di ruanganmu.. pergilah, temui dia.." Raja menjawab.
Gara dengan sangat cepat berlari menemui Alice. Dia tidak dapat berpikir lagi, semua isi pikirannya hanya terisi oleh Alice.
Semua tirai jendela tertutup, hanya ada cahaya lilin disana. Alice masih terbaring kaku. Matanya tertutup namun luka-luka dibadannya telah menghilang. Pakaiannya yang basah telah diganti, dia menggunakan dress yang indah dengan tali dipundaknya.
Gara duduk disampingnya, menggenggam tangan Alice dan menciumnya penuh kasih. Tangan Alice terlihat lebih kecil dari sebelumnya.
Sekarang tangan Alice dingin, tidak hangat seperti dulu. Gara tidak peduli dengan semua itu, dia hanya ingin Alice membuka matanya dan menatapnya lagi dengan lembut.
Matahari telah terbit, malam yang penuh dengan pertikaian telah usai, namun Alice masih tertidur.
Gara tidak memberitahu kondisi Alice yang sekarat pada Bibi Anna atau Hans. Dia akan menunggu sampai Alice benar-benar telah membuka matanya.
Tok
Tok
Tok
Pintu kamar Gara terbuka, Dean berdiri disana.
"Tuan muda.. istirahat lah dulu.. "
Gara tidak menjawab apapun.
Dean menutup pintu dan pergi menjauh.
Gara tertidur disebelah Alice, Alice masih belum membuka matanya. Gara menghisap pergelangan tangannya lagi dan memberikan darahnya lewat mulutnya.
Badan Alice kembali bergetar setelah meminum darah Gara.
Lambat-laun getarannya berhenti.
Gara terus-menerus melakukan hal itu sampai dia kelelahan dan tertidur. Tidak terhitung berapa kali Gara memberikan darahnya pada Alice.
Matahari semakin tinggi, sinarnya menerobos lewat celah-celah tirai yang terbuka. Angin sepoi-sepoi masuk melewati lubang Udara. Terdengar suara keriuhan di aula, mereka masih merapihkan sisa-sisa pertikaian semalam.
Perlahan-lahan Alice membuka matanya, dia menyesuaikan diri dengan cahaya yang redup.
Alice bangkit dari tempat tidur, dia melihat Gara tertidur disampingnya.
Gerakan tubuh Alice membuat Gara terbangun,
Gara terkejut lalu memanggil namanya.
"Alice...
"Alice..
"Sayang..
Alice menatap Gara, terlihat dengan jelas perubahan mata Alice menjadi merah seperti Gara.
Gara memeluk Alice dengan erat, dia menangis kembali.
"Alice...
"Alice..
"Alice ku sayang, kau kembali.."
Alice tidak mengerti dengan maksud perkataan Gara. Dia melepaskan pelukan Gara.
"Garaa..."
"Kau menyelamatkan ku??" Tanya Alice bingung.
Gara memeluknya lagi dengan erat.
"Yaa.. yaa honey, kau baik-baik saja sekarang.." Jawab Gara.
"Terimakasih.. tapi Gara, aku merasa aneh.." tambah Alice.
Gara menatapnya dengan lembut.
"Alice.. kau masih beraroma sama seperti dulu.. tapi maafkan aku.."
"Kenapa kau meminta maaf.." tanya Alice.
"Karena aku merubahmu menjadi sama sepertiku.." jawab Gara sedih.
Alice melihat tangannya, semua lukanya pulih, kemudian dia memegang lehernya.
"Aku merasa haus.." tidak sengaja Alice menjilat giginya sendiri dan menjerit.
Awww
"Gara... sepertinya aku punya taring..." Alice ragu-ragu mengatakannya.
"Apakah, apakah Luca yang melakukan ini padaku? merubahku?" tanya Alice marah.
Gara menggelengkan kepalanya.
"Maaf Alice, tapi aku yang melakukannya.." Gara menunduk sedih.
"Benarkah? kau menghisap leherku??" Tanya Alice.
"Aku satu-satunya vampire yang menghisap lehermu.." jawab Gara.
Dengan cepat Alice memeluk Gara erat. Dia tersenyum senang.
"Gara aku tidak menyesal, kau mendapatkannya.. kekuatannya, kekuatan darahku.." Jawab Alice.
Gara tidak sadar bahwa kekuatan darah Alice telah mengalir dalam darahnya. Dia terlalu fokus menyelamatkan Alice.
Kemudian dia sekarang sadar, bahwa lukanya memang sudah sembuh sebelum kembali ke istana, dan kelelawar nya bertambah.
"Alice, aku tidak bermaksud, kau tau.. aku hanya ingin menyelamatkan mu.." jawab Gara.
"Aku tidak keberatan, kau tau.. aku selalu ingin bersamamu.." balas Alice.
Alice mengendus sesuatu dengan hidungnya, dia tidak menyadarinya bahwa dia mulai mencium dan menjilati leher Gara. Tubuh Gara berubah tegang, namun Alice tersadar kembali dan meminta maaf.
"Maafkan aku, aku tidak sadar dengan apa yang aku lakukan..." Alice tampak menyesal.
"Aku tidak tau bahwa menjadi vampire ternyata seperti ini.."
"Aku dapat dengan jelas melihat urat lehermu.. Aku tidak tau kenapa.." Alice menutup mukanya dan menangis.
Gara memeluknya lagi. dan berbisik..
"Tidak apa-apa sayang.. aku tau dan mengerti.. sekarang.. Hisaplah darahku sayang.. aku akan baik-baik saja.. lakukan dengan cepat." Gara meminta Alice.
Alice tidak tau bagaimana harus memulainya, namun insting barunya menuntunnya dengan jelas harus ke arah mana dan bagaimana melakukannya.
Dengan cepat Alice menjilat leher Gara dan membenamkan taring barunya yang gatal.
Ahhh
Uhhhk
"Sayang.. bisakah kau perlahan? kau tau.. aku tidak akan pergi kemanapun.." Ucap Gara.
Alice mulai menikmati tetes demi tetes darah Gara, Gara tidak pernah sekalipun memberikan darahnya, dia adalah vampire murni, darahnya mengandung kekuatan yang dahsyat.
Alice berhenti dan melihat Gara dengan penuh kasih.
"Gara.. apakah sekarang aku terlihat berbeda? apakah aku menjijikkan?" Tanya Alice.
"Tidak mungkin sayang, kau tau.. kau segalanya bagiku.. aku tidak akan bertahan tanpamu.." jawab Gara.
"Aku senang kau tidak menganggapku berbeda.." Balas Alice.
"Mungkin kau sedikit dingin sekarang.." Gara menggoda Alice.
Alice memukulnya dengan kuat.
Bruugh
Tubuh Gara terpelanting dari atas tempat tidur.
Alice menutup mulutnya.
Semua pelayan yang berada disekitar kamar Gara masuk karena merasa khawatir.
Mereka tertawa melihat Gara sedang mencoba berdiri.
"Sayang, tidak bisakah kau berbelas kasih kepadaku?" Gara tersenyum kecil.
Alice berlari ke arahnya dan memeluknya.
"Maafkan aku .. aku tidak tau aku sekuat itu..!! Waaw" gumam Alice.
Gara menggendongnya ke tempat tidur.
"Alice aku bahagia melihatmu tersenyum.."
Alice mencium kening Gara, kemudian turun ke hidung dan turun ke bibir. Mulut Gara terbuka, Alice dengan leluasa memasukan lidahnya.
Seluruh pelayan meninggalkan ruangan Gara dan mulai bergosip diluar.
Gara membelai rambut Alice, membelai tengkuknya yang indah dan melepaskan pakaian Alice dengan perlahan.
Gara mencium leher Alice menggigitnya kecil. Alice mendesah..
Uuuhk
Garaa
Gara menjelajahi dada Alice dengan lembut, darahnya berdesir mencium aroma tubuh Alice yang begitu kuat.
"Alice.. bisakah kita?" Gara menahan dirinya..
Alice tidak bisa menjawab, tubuhnya telah dikuasai oleh gairah yang begitu meledak.
Gara mencoba mengontrol tubuhnya, dia ingat pesan Alice bahwa Alice ingin menikah terlebih dahulu. Dia mencium keningnya dengan lembut dan memeluk tubuh Alice yang lemas.
"Aku mencintaimu.." Bisik Gara.
Wajah Alice memerah, dia tidak kuasa menahan rasa malu diwajahnya.
"Aku mencintaimu.." Bisik Gara.
"Aku mencintaimu.. kau tauu.." Balas Alice.
padahal ceritanya mantaaaaaaaf ...aku suka aku ssuka
lanjuuuuuuut thor sampai keistimewaan si kembar di perlihatkan .
keluarkan imajinasimu yg rrrruuuuuuuuuaaaaaaaaaaarrrrr biasaaaaaaaah ...
akuu tunguuuu...