Kesempatan hidup kedua yang kudapatkan, akan aku manfaatkan dengan baik.
Aku berpikir siuman dari pingsan, tapi pada kenyataannya aku kembali ke waktu satu tahun sebelumnya.
Akan aku balas mereka yang telah menyakiti ku selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penagih Hutang
Sean masuk dengan Celline berada di samping nya. Sean Rahardjo yang tampan, didampingi oleh Celline yang anggun mempesona.
Sean langsung menghampiri meja tuan Dirga yang sedang menikmati makan.
Setelah mengucapkan selamat ulang tahun, Sean pun memberikan sebuah hadiah yang terbungkus sederhana buat tuan Dirga.
"Jangan melihat penampakan luar nya tuan," canda Sean. Padahal Sean sengaja membungkus sedemikian rupa, agar nampak biasa.
Antusias tuan Dirga menyambut hadiah Sean.
Tuan Dirga melirik sekilas ke arah Celline yang mendampingi Sean malam ini.
"Sean, selera kamu bagus juga," puji Tuan Dirga.
"Oh, kenalin," kata Sean.
Celline mengulurkan tangan nya, "Celline, stafnya tuan Sean Rahardjo,"
"Dirga," senyum lebar menyambut tangan Celline. Celline mengangguk hormat meski agak canggung.
Kasak kusuk menghampiri karena putri tuan Dirga tak hadir di acara semewah ini.
Kevin mendekat ke arah mereka.
"Kado apa yang kamu bawa? Pasti tak semahal yang aku berikan," kata Kevin membuat telinga merah.
"Yang penting niat bukan harganya," balas Celline.
"Niat tulus lebih dihargai daripada kasih hadiah mahal tapi ada mau nya," lanjut Celline.
"Ajari sopan santun tuh staf kamu!" kata Kevin buat Sean.
"Sesama staf nggak boleh saling ribut," Sean melerai daripada jadi debat tak berujung.
"Sean, apa nih yang kamu bawa?" tuan Dirga membuka perlahan kado yang disiapkan oleh Sean.
"Semoga anda senang tuan Dirga," balas Sean.
"Wah... Wah... Ini lukisan yang akhir-akhir ini aku cari. Orang ku saja kesulitan mendapatkan. Gimana bisa kamu.....?" tuan Dirga memandang takjub lukisan yang dipegang nya.
"Lukisan biasa gitu dibilang bagus?" gumam Kevin.
"Hanya orang yang paham betul tentang seni yang mengerti keindahan dalam lukisan ini. Makasih Sean," Tuan Dirga memeluk Sean dan menepuk pundak Sean perlahan.
"Tuan, saya juga bawa lukisan buat anda tadi," ujar Kevin menyela.
"Makasih," jawab singkat tuan Dirga tak seantusias saat menerima kado dari Sean Rahardjo.
Sean duduk semeja dengan Celline beserta rombongan tuan Abimanyu dan nyonya Yola.
Kevin pun ikut gabung di kursi kosong sebelah Sean.
Acara ulang tahun tuan Dirga berjalan lancar.
"Makasih untuk semua yang hadir dan spesial thanks buat istri dan putriku. Daddy akan selalu menyayangi kalian. Love you so much," tuan Dirga memang seorang family man, dan itu terkenal di kalangan pengusaha.
.
Dua Minggu pasca ulang tahun, di perusahaan Rahardjo Grub.
"Tuan Kevin, ada yang menunggu anda di lobi," seorang security menghampiri Kevin yang duduk tak jauh dari Yola.
"Bilang aja aku sedang rapat," tolak Kevin.
"Tapi tuan, orang itu mengancam akan berbuat onar di sini kalau anda tak turun," lapor security.
"Kalau dia berbuat onar, kamu bisa menangkapnya bukan? Apa gunanya menggaji kalian, kalau kerja aja tak becus," Kevin naik pitam.
"Mereka bawa rombongan tuan, kita hanya lima orang yang berjaga. Kalah jumlah," beritahu security.
Kevin mengumpat dalam hati. Kevin sudah tahu kalau hal ini pasti terjadi. Ratusan kali ponsel nya berdering beberapa hari ini. Mereka adalah para penagih hutang.
Tadi pagi, Kevin menerima pesan. Jika sampai tengah hari uang tak dikembalikan mereka akan berbuat onar di perusahaan.
"Temuin aja sana, ribet banget," kata Celline.
"Nggak usah ikut campur ya," tukas Kevin tak terima.
"Jangan buat repot security deh. Kan yang dicari kamu, tuan Kevin," lanjut Celline membuat Kevin semakin kesal.
Proyek belum didapat, malah tagihan hutang yang datang.
"Oke, aku turun!" Kevin beranjak diiringi security.
Kevin mencoba menghubungi Yola.
.
"Ada apa lagi nih anak?" gumam Yola yang saat itu sedang bermesraan di ruang Abimanyu.
"Siapa?" tanggap tuan Abimanyu.
"Siapa lagi kalau bukan Kevin," bilang Yola.
Tangan tuan Abimanyu mengembara kemana-mana saat ponsel Yola berdering.
"Ada apa Kevin?" bentak Yola kesal. Putranya itu kapan dewasa kalau semua musti Yola yang menyelesaikan.
"Mah, aku ditagih hutang nih. Uang yang buat beli lukisan kapan hari," suara Kevin membuat Yola sedikit terkejut.
"Ada apa? Kevin ada hutang buat apa?" tuan Abimanyu ikut mendengar suara Kevin meski tak diloudspeaker.
"Aku nggak tahu sayang," jawab Yola tak ingin ketahuan.
"Nggak tahu gimana sih mama ini? Dari awal aku sudah bilang ke mama loh," teriakan Kevin terdengar di ponsel Yola.
"Selesaikan aja," Abimanyu menyerahkan kartu yang ada di dompet.
"Beneran ini?" tanggap Yola memastikan.
"Audit eksternal sudah selesai, itu sebagai hadiah karena kamu pandai membuat laporan keuangan seperti yang aku mau sayang," bibir tuan Abimanyu melumat belakang telinga Yola. Desahan lembut pun terdengar.
"Maaahhhhh," teriakan Kevin membuyarkan semua.
"Sialan memang anak itu," umpat tuan Abimanyu.
"Masih ada waktu, ntar bisa kita lanjut di vila yang baru kita beli," janji Yola tertawa.
"Tentu saja sayang," senyum nakal terlihat di wajah Abimanyu.
.
Di lobi, anak buah penagih hutang itu sudah bersiap.
"Kasih aku waktu, uang kalian yang tak seberapa itu pasti akan aku bayar," nego Kevin.
"Empat milyar kamu bilang tak seberapa?"
"Percaya lah tuan Morgan. Baru kali ini kan aku mundur bayar. Biasanya selalu tepat waktu," mohon Kevin.
"Oke, kalau tiga hari lagi uang tak kau kembalikan. Maka kantor kamu ini akan hancur," ancam Morgan.
"Lima milyar, tak boleh kurang serupiah pun," tegas Morgan.
"What? Lima milyar? Apa kamu tak salah hitung? Ini belum genap sebulan bos," tanggap Kevin kaget.
"Janji kamu cuman dua Minggu, uang aku kembali. Tapi nyatanya?" Morgan mengangkat kedua tangannya memberi isyarat segera pergi.
"Tapi nggak lima milyar lah bos," Kevin tetap berusaha menawar nya.
"Lima milyar atau bayar sekarang juga," tuan Morgan kembali menatap Kevin.
Kevin terpojok karena saat ini tak ada uang sejumlah itu.
"Saya yang bayar," Yola menghadang para preman itu.
Prok... prok... Tuan Morgan tepuk tangan.
"Ada pahlawan kesiangan nih. Siapa dia Kevin? Sugar Mom's kamu kah?" olok Tuan Morgan.
"Diam kamu!" hardik Yola.
"Wah, tua-tua gini galak juga," kata tuan Morgan sinis.
"Di kartu ini ada empat milyar lebih," Yola menyerahkan kartu yang tadi diberikan oleh Abimanyu.
"Aku minta tunai," tolak tuan Morgan.
"Apa bedanya sih? Kan tinggal gesek lebih mudah," oceh Yola.
Cukup lama keributan terjadi di lobi, hingga tak menyadari kehadiran tuan Rahardjo dan pengawal nya.
"Siapa kalian?" hardik tuan Rahardjo.
"Bos besar ini," tuan Morgan mendekati pria setengah baya itu.
"Kalian mau ribut di sini?" tuan Rahardjo hendak mengangkat tongkat saktinya untuk memukul Morgan dan kawan-kawan.
"Aman tuan. Selama anak buah anda mau bayar hutang ke kami. Kami tak akan ribut di perusahaan anda," jelas tuan Morgan.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
atau pling gk nendang bpk nya biar miskin kl miskin yola pasti gk mau kn. 🤣.
pdhl Dr segi umur Sean sdh dewasa.