Fatih, seorang ustadz.. yang hampir 10 merindukan kekasihnya Wulan seorang gadis bercadar sejak dia pesantren dulu.
tak kunjung bertemu, surat terakhirnya pun tak kunjung ada balasan.
Namun, alih-alih menemukan sosok wulan, dia malah terjebak dan terpaksa menikah dengan seorang gadis pelarian bernama Bella, yang kontradiksi dengan kehidupannya sebagai ustadz.. gadis itu datang dengan pakaian yang tidak pantas. namun hatinya tetap mencintai wulan..bagaimana kisahnya...
drama religi ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Dunia seolah berhenti berputar bagi mereka yang hatinya sedang dipatahkan oleh kenyataan. Di balik tembok putih komunitas **Muslimah Till Jannah**, sebuah transformasi sedang terjadi. Bukan sekadar transformasi lahiriah, melainkan sebuah upaya untuk mengubur identitas lama yang penuh dengan luka sayatan.
Wulan berdiri di depan cermin besar di ruangan tengah. Di sampingnya, Hasna menatapnya dengan binar mata penuh kasih. Hari ini, Wulan mengambil sebuah keputusan besar yang ia harap bisa menjadi pelindung terakhir bagi jiwanya yang rapuh.
"Ukhti Hasna, aku ingin memakai cadar," kata Wulan mantap. Suaranya tidak lagi bergetar sehebat beberapa hari lalu, namun ada nada dingin yang terselip di sana—sebuah nada dari seseorang yang sudah selesai dengan harapan-harapan semu.
Hasna tersenyum, lalu dengan gerakan lembut, ia menyampirkan selembar kain putih ke wajah Wulan. Ia menyematkan jarum dengan hati-hati, memastikan kain itu menutupi sebagian besar wajah Wulan, menyisakan sepasang mata yang kini tampak lebih dalam dan misterius.
Saat Wulan menatap bayangannya di cermin, jantungnya berdegup kencang. Ia seperti melihat sosok dirinya sepuluh tahun yang lalu di Tasikmalaya. Saat ia masih menjadi Wulan yang polos, yang mencintai Abbasku dengan sepenuh jiwa, dan yang selalu menjaga kehormatannya dengan kain cadar yang sama.
“Ternyata, sejauh apa pun aku berlari, aku kembali menjadi Wulan yang dulu,” batinnya perih. “Hanya saja, Wulan yang sekarang tidak lagi memiliki alasan untuk menunggu siapa pun. Aku memakai ini bukan lagi untuk menjaga diri demi seseorang, tapi untuk bersembunyi dari dunia yang sudah membuangku.”
"Masya Allah, kamu tampak sangat teduh, Wulan," puji Hasna tulus. "Oh iya, minggu depan kita akan mengadakan baksos (bakti sosial) besar-besaran di pinggiran kota. Acaranya cukup luas, kami bahkan meminta bantuan pengamanan dari kepolisian untuk mengatur kerumunan massa. Kamu mau ikut, Ukhti?"
Wulan terdiam sejenak. Pinggiran kota. Tempat di mana ia mungkin akan berpapasan dengan masa lalunya. Namun, di balik cadar ini, ia merasa aman. Ia merasa tidak akan ada yang mengenalinya lagi sebagai Bella, istri malang yang terusir.
"Iya, Ukhti Hasna... aku ikut," jawab Wulan pelan. "Oh iya, bolehkah aku memanggilmu Kak Hasna? Seperti teman-teman yang lain?"
Hasna memegang pundak Wulan, meremasnya lembut. "Tentu saja, boleh sekali. Jika itu membuatmu merasa memiliki keluarga di sini, panggillah aku Kakak."
Wulan mengangguk. Di dalam hatinya, ia merasa sedikit tenang. Ia telah menemukan sosok kakak, namun ia telah kehilangan seorang suami yang sebenarnya adalah pria yang ia nantikan selama satu dekade. Tragis, saat ia menemukan kembali "Abbas"-nya, ia justru harus kehilangan pria itu dengan cara yang paling menghinakan.
Istana yang Menjadi Penjara
Di kediaman Abi Ahmad, suasana pesantren yang biasanya penuh dengan suara lantunan ayat suci kini terasa mencekam dan hambar bagi Fatih. Ia berjalan di lorong-lorong pesantren dengan wajah yang semakin kuyu. Tubuhnya terlihat jauh lebih kurus, dan janggutnya yang tak terurus membuatnya tampak seperti pria paruh baya yang kehilangan arah hidup.
Luka di hatinya semakin menganga karena sikap Umi. Ibunya itu kini sangat irit berbicara padanya. Setiap kali mereka bertemu di meja makan atau di ruang tengah, Umi hanya akan menatapnya dingin lalu melontarkan satu pertanyaan yang sama setiap harinya:
"Bagaimana? Bella sudah ada kabar?"
Hanya itu. Tidak ada lagi tanya "Sudah makan?" atau "Bagaimana kesehatanmu?". Pertanyaan Umi tentang Bella seperti cambuk yang menghantam punggung Fatih berkali-kali. Betapa Umi sangat menyayangi Bella, dan betapa Umi sangat membenci tindakan Fatih yang gegabah.
"Belum ada kabar pasti, Umi... Fatih masih terus mencari bersama Lukman," jawab Fatih dengan kepala tertunduk.
Umi tidak membalas. Ia hanya beristighfar pelan lalu bangkit menuju kamarnya, meninggalkan Fatih yang mematung dalam kehancuran. Setiap tarikan napas Fatih kini terasa seperti menghirup debu yang menyesakkan.
Zahra, yang biasanya selalu ceria dan konyol, kini hanya bisa menatap kakaknya dari balik pintu dapur. Ia seringkali merasa kesal pada abangnya, namun melihat Fatih yang seperti mayat hidup, hatinya luluh juga.
“Bang... aku kasihan melihatmu,” batin Zahra dengan mata berkaca-kaca. “Walaupun aku sangat kecewa karena sikap Abang pada Mbak Bella, tapi melihatmu hancur begini, aku juga ikut sakit. Kenapa Abang harus seceroboh itu? Kenapa cinta harus serumit ini?”
Zahra ingin memeluk abangnya, tapi ia tahu, saat ini tidak ada pelukan yang bisa menyembuhkan Fatih selain pelukan maaf dari Bella—wanita yang entah berada di mana.
Rahasia di Balik Saku Lukman
Di kamarnya, Lukman duduk sendirian di tepi tempat tidur. Di tangannya, ia memegang sebuah amplop tua yang tepiannya sudah mulai menguning. Surat dari sepuluh tahun lalu.
Pikirannya berkecamuk hebat. "Apa harus aku berikan surat ini sekarang? Apa Fatih benar-benar mencintai Bella... dan sudah melupakan Wulan?" gumamnya pada kesunyian.
Lukman merasa berada di persimpangan jalan yang mustahil. Jika ia memberikan surat itu sekarang, ia takut luka Fatih akan semakin dalam dia baru saja kehilangan Bella. Namun, jika ia tetap diam, ia merasa menjadi pengkhianat bagi sahabatnya sendiri.
“Aku tidak tega menambah lukanya, Tih,” desah Lukman. “Tapi rahasia ini sudah terlalu lama membeku. Kamu berhak tahu kenapa Wulan pergi dulu, meskipun sekarang semuanya sudah terlambat.”
Besok, Lukman berencana untuk menemui Nadia. Ia sudah membulatkan tekad untuk menyatakan perasaannya. Ia ingin membangun hidupnya sendiri, namun ia juga butuh bantuan Nadia. Dulu, Fatih dianggap sebagai saingan oleh Lukman untuk mendapatkan hati Nadia, padahal Fatih hanya menganggap Nadia sebagai adik sendiri. Nadia pun kini sudah menyadari hal itu; ia tahu bahwa perhatian Fatih padanya selama ini adalah murni kasih sayang seorang kakak, bukan cinta asmara.
Lukman ingin meminta Nadia untuk ikut memberikan dukungan moral pada Fatih. Ia ingin menghapus segala sisa-sisa kesalahpahaman masa lalu agar mereka semua bisa fokus mencari Bella.
Malam yang Menyayat Hati
Fatih kembali keluar rumah malam itu. Ia tidak bisa diam. Ia mengendarai mobilnya perlahan, menyisir jalanan yang mulai sepi. Ia memegang kemudi dengan tangan yang bergetar.
"Bella... di mana kamu, Nak?" bisiknya parau. Nama itu kini terasa sangat suci di bibirnya.
Ia teringat betapa Bella selalu menyiapkan teh hangat untuknya tanpa diminta. Betapa Bella selalu menunduk hormat setiap kali ia pulang. Dan ia teringat saat terakhir kali ia melihat mata Bella—mata yang penuh dengan kejutan kebahagiaan karena akhirnya tahu suaminya adalah Abbas, namun seketika berubah menjadi tatapan hancur saat Fatih melontarkan kalimat usirannya.
Fatih tidak tahu bahwa di saat yang sama, di tempat yang tidak jauh dari jangkauannya, Wulan sedang bersujud di atas sajadah, memohon kepada Allah agar hatinya dikuatkan untuk melupakan pria bernama Fatih.
"Ya Allah... jika dia adalah takdir yang harus aku hapus, maka hapuskanlah aromanya dari ingatanku. Jika dia adalah cinta yang salah, maka matikanlah rasa ini agar aku bisa mengabdi pada-Mu tanpa bayang-bayang luka itu lagi," doa Wulan dalam isaknya yang tertahan.
Dua jiwa yang dulu saling mencari selama sepuluh tahun, kini berada di bawah langit yang sama, namun dengan doa yang saling bertolak belakang. Fatih berdoa untuk menemukan, sementara Wulan berdoa untuk selamanya menghilang.
Tragedi ini semakin menyayat hati karena minggu depan, mereka akan berada di satu tempat yang sama—dalam acara baksos komunitas Hasna. Namun dengan cadar putih yang kini menutupi wajah Wulan, akankah mata Fatih mampu mengenali bidadarinya yang telah ia buang? Ataukah kesombongan masa lalu akan membuat mereka tetap menjadi orang asing selamanya?
Hanya waktu yang akan menjawab, sementara surat di saku Lukman terus berbisik, menuntut untuk segera dibaca sebelum takdir benar-benar menutup pintunya rapat-rapat.