Adera mencintai Ezra selama dua tahun, tapi cintanya diremehkan dan ditolak mentah-mentah. Saat hatinya mati dan ia memilih fokus pada diri sendiri, Ezra justru menyesal dan panik.
Namun terlambat, karena kini hadir Damar pria yang jauh lebih sempurna yang ternyata adalah calon suaminya.
Akankah Damar mampu menghidupkan kembali rasa cinta Adera yang bertekad untuk tidak jatuh cinta lagi?
Simak kisah cinta mereka bertiga, di novel ini akan disuguhi komedi yang lucu agar tidak terlalu mengantuk ketika membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Adera tampak gelisah tak menentu, jantungnya berdegup kencang mendengar kabar yang baru saja disampaikan oleh Nyonya Sinta. Wajahnya pucat pasi membayangkan kondisi pria yang selama ini selalu berharap padanya.
"Bagaimana keadaan Damar, Tante?" tanya Adera dengan suara bergetar, matanya memandang wajah Nyonya Sinta penuh harap.
"Sudah mulai membaik, sayang. Tapi untuk saat ini dia masih belum bisa beraktivitas berlebihan," jelas Nyonya Sinta lembut, berusaha menenangkan gadis itu.
"Syukurlah..." gumam Adera lirih. Napasnya yang sempat tertahan kini terhembus panjang, penuh rasa lega namun masih menyisakan kekhawatiran.
"Kamu panik sekali, apakah tidak berniat menjenguk Damar begitu?" tanya Nyonya Sinta dengan senyum penuh makna.
Adera terdiam sejenak, matanya menatap lantai. Saat ini ia merasa serba salah, bingung harus bersikap bagaimana.
"Kalau tidak bisa hari ini, mungkin besok bisa," ujar Nyonya Sinta lagi memberi jalan.
"Adera pasti akan pergi hari ini juga, Tante!" celetuk Nindy yang berdiri di sampingnya, tak tahan melihat sahabatnya yang sok cuek.
"Benarkah? Itu bagus sekali. Pokoknya Tante siap mengantar kamu, Adera," kata Nyonya Sinta dengan wajah berseri-seri.
"Kalau begitu kita mau lihat-lihat baju dulu ya Tante," kata Adera berusaha bersikap biasa saja, meski tangannya gemetar menutupi kegugupan yang luar biasa.
Nindy pun ikut menghela napas panjang, lalu menepuk pelan bahu sahabatnya sebagai tanda dukungan.
"Nah kan? Sampai saat ini pun lo mau menyembunyikan perasaan itu. Halah-halah, jatuh cinta memang manis apalagi sama Damar, aarrrrr!" goda Nindy hingga membuat wajah Adera memerah padam, tersipu malu tak karuan.
"Nindy apaan sih, bikin gue malu aja!" protes Adera pelan.
Nyonya Sinta tersenyum tulus melihat perubahan raut wajah Adera yang begitu jujur memancarkan rasa cinta.
Saat ini Adera dan Nindy sibuk sekali memilih-milih baju dan mencoba beberapa model di ruang ganti. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa Nyonya Sinta sedang memperhatikan mereka dari jauh dengan senyum penuh arti.
Dengan sigap dan diam-diam, Nyonya Sinta mengangkat ponselnya.
Cekrek! Cekrek!
Ia memotret momen di mana Adera terlihat begitu cantik dan anggun sedang memegang sebuah gaun, atau saat Adera tertawa lepas bersama Nindy. Foto-foto itu terlihat sangat natural dan manis.
Tanpa menunggu lama, Nyonya Sinta langsung mengirimkan gambar-gambar tersebut lewat pesan WhatsApp ke kontak yang bernama "Anakku Sayang ❤️", yaitu Damar.
Bukan cuma foto, ia juga langsung mengetik dan mengirim pesan yang isinya:
[Pesan untuk Damar]
"Dam, lihat nih siapa yang ada di butik. Cantik banget kan gadisnya? Tau gak? Tadi pas Mama bilang kalau kamu kecelakaan, reaksinya langsung panik luar biasa, Nak. Wajahnya langsung pucat, matanya kaget, dan dia kelihatan banget khawatirnya setengah mati."
Di rumah mewahnya,
Damar yang sedang berbaring lemas dengan perban masih menempel di lengannya, meraih ponselnya saat ada notifikasi masuk.
Begitu melihat foto Adera yang cantik jelita dan membaca pesan dari ibunya, wajah lelah Damar seketika berubah berseri-seri. Senyum lebar tak sengaja terukir di bibirnya. Rasa sakit akibat luka kecelakaan seakan hilang terbawa angin seketika, digantikan oleh kehangatan yang menjalar di seluruh dada.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Nyonya Sinta sama sekali tidak memberitahu Damar kalau dia sedang membawa Adera bersamanya. Ia ingin membuat kejutan manis yang tak terlupakan untuk anaknya itu.
Sesampainya di rumah mewah keluarga Damar, Adera diajak masuk dengan sopan. Rumah itu sangat besar, bersih, dan penuh dengan nuansa hangat yang membuat siapa saja betah dan merasa tenang.
"Ayo sayang, ikut Tante ke lantai atas. Tante mau tunjukkan sesuatu," ajak Nyonya Sinta sambil tersenyum misterius.
Adera mengikuti langkah ibu Damar itu dengan hati berdebar kencang. Kakinya terasa berat namun hatinya mendorongnya untuk terus maju. Ia sudah bisa menebak ke mana arah mereka berjalan.
Mereka berhenti di depan sebuah kamar yang pintunya sedikit terbuka. Nyonya Sinta mendorong pintu itu perlahan dan memberi isyarat pada Adera untuk masuk duluan.
"Masuklah, Nak. Lihat sendiri keadaannya," bisik Nyonya Sinta lembut.
Dengan langkah ragu dan gemetar, Adera melangkah masuk perlahan. Napasnya tertahan seakan tak berani mengeluarkan suara.
Di dalam kamar yang luas dan nyaman itu, terlihat Damar sedang berbaring di atas ranjang. Wajahnya tampak sedikit pucat dan lelah, ada perban yang menempel di lengannya dan sedikit di dahinya, namun tetap saja terlihat sangat tampan dan gagah. Ia sedang memejamkan matanya seolah sedang istirahat.
Tapi saat mendengar suara langkah kaki yang lembut, Damar perlahan membuka matanya.
Awalnya ia mengira itu asisten rumah tangga, tapi saat pandangan matanya bertemu dengan sosok gadis yang berdiri di ambang pintu...
Damar seketika terbelalak kaget. Matanya membesar tak percaya seolah tidak menyangka mimpi indah akan menjadi nyata secepat ini.
"A-Adera?!" seru Damar terbata-bata, suaranya terdengar parau karena kaget dan senang.
Dalam sekejap, pria dingin dan berwibawa itu langsung berubah menjadi salah tingkah parah. Wajahnya yang tadi pucat perlahan memerah karena malu.
Ia buru-buru mencoba duduk tegak, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, dan menarik selimut agar penampilannya tetap terlihat rapi dan ganteng di depan gadis yang ia suka.
"K-Kamu... kok bisa ada di sini?" tanya Damar gugup, tangannya bahkan gemetar sedikit karena terlalu senang dan kaget setengah mati.
Adera yang melihat reaksi Damar jadi ikutan salah tingkah dan malu. Ia menunduk sambil memainkan ujung jarinya sendiri, hatinya berbunga-bunga namun tetap berusaha terlihat santai.
"I... itu... Tante Sinta yang ajak aku kesini," jawab Adera pelan, suaranya halus terdengar manja. "Katanya kamu kecelakaan, ya udah aku jenguk kamu."
Adera diam terpaku sebentar, matanya tak sengaja mengelilingi seluruh ruangan itu. Ia benar-benar takjub.
Kamar itu didesain dengan gaya modern minimalis, dominan warna putih dan abu-abu yang memberikan kesan bersih, luas, dan sangat elegan. Tidak ada barang yang berserakan, semuanya tertata rapi, wangi, dan terasa sangat nyaman.
"Wah... rapi banget, bersih lagi... Gak nyangka cowok sekeren dia punya kamar senyaman ini," batin Adera takjub.
Merasakan suasana yang tiba-tiba jadi hening dan canggung, Adera segera menarik napas panjang berusaha menenangkan dirinya.
"Adera tenang... lo cuma jenguk pasien... jangan salah tingkah... jangan salah tingkah," tekadnya dalam hati, berusaha memasang wajah datar dan secool mungkin.
Tapi sayangnya... usahanya sia-sia.
Di atas ranjang, Damar sudah duduk bersandar dengan rapi. Matanya tak lepas menatap gadis di depannya itu dengan tatapan tajam namun lembut, seakan sedang menatap satu-satunya harta yang paling berharga di dunia.
Ia melihat jelas bagaimana Adera terlihat bingung, gelagapan, dan tidak tahu mau menaruh tangan atau pandangan ke mana. Wajah Adera yang memerah, matanya yang berkedip-kedip bingung, dan cara ia memainkan ujung jarinya sendiri... terlihat sangat menggemaskan di mata Damar.
"Kenapa diam saja?" tanya Damar pelan, suaranya terdengar rendah dan serak basah yang bikin deg-degan. "Kamu kelihatan bingung sekali berdiri di sana. Mau duduk atau mau lari lagi?" goda Damar dengan senyum miring yang sangat manis dan mematikan.