"Dia istriku."
"Tapi dia milikku, Kak."
---------
Menggantikan sang Adik dalam sebuah pernikahan tak pernah menjadi mimpi dalam hidup Dirgantara Avgian. Sebuah kejutan yang disusun sebaik mungkin untuk sang adik nyatanya menyeret Gian dalam sebuah ikatan pernikahan yang tak dia inginkan.
Bagaimana mungkin ia mencintai gadis yang sudah bertahun–tahun menjadi kekasih adiknya, dan bagaimana mungkin ia menjalani pernikahan dengan gadis kecil yang masih sibuk dengan pelajaran Matematika, sungguh tidak dapat dipercaya.
ig : desh_puspita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelinci Kecil Milik Gian (Radha)
"Menantu Mama cantik sekali," puji Jelita mencubit pipi mulus Radha. Di umur semuda itu, Radha sungguh terlihat seperti Maya. Garis wajah dan hidung mungilnya benar-benar Maya dalam versi muda.
"Apa begitu, Ma?"
Senyum Radha mengembang, pujian sederhana yang hanya ia dengar pertama kali dari belaian seorang Mama membuat Radha ternyuh. Berpisah dengan Maya sedari kecil dan terpaksa menerima hadirnya Ibu dan Adik tiri di keluarganya membuat Radha patah di usia muda.
"Iya, Sayang. Betapa beruntungnya Gian mendapat boneka sepertimu."
Senyum kelu mengiringi ucapan Jelita, hanya itu yang mampu ia lakukan. Terlalu munafik ucapan itu, pikirnya. Berulang kali menghela napas pelan, hari ini Jelita nekat menemui Maya bersama Boby dan juga Surti.
Sayup terdengar, deru mobil kini semakin mendekat. Jelita tersenyum antusias, berbeda dengan Radha yang kini kalang kabut namun hanya mampu terdiam. Semalam ia begitu bersyukur lantaran Gian tak pulang hingga ia tak harus tidur di tempat yang sama dengan pria itu.
"Ma, sudah siap?"
Raka mendekat, derab langkah dua pria dewasa itu terdengar begitu halus. Di umur yang tak muda lagi, Raka masih terlihat tampan. Begitupun dengan Gian, sang Putra.
"Tentu, Mas. Lihat, menantumu cantik sekali bukan?"
Radha memerah, di depannya kini terlihat jelas wajah tampan pria tak berhati yang kerap membuatnya senam jantung. Gian tak sedikutpun membalas senyuman usil Raka yang di arahkan padanya.
Pria itu memilih berlalu ke kamar. Sekilas ia tatap wajah cantik yang sejak tadi Jelita puji. Melalui ekor matanya, memang terlihat jelas Radha begitu cantik.
"Ck, kenapa Mama membuatnya seperti itu,"
Gian berdecak kesal sembari menyusuri anak tangga, sejenak menoleh ketiga orang yang kini tengah bicara begitu hangatnya. Sedikitpun ia tak perduli dengan apa yang mereka bicarakan, namun make up tipis yang Radha kenakan sedikit menganggu pikirannya.
Ceklek
Pintu kamar terbuka pelan, hanya beberapa malam kamar itu tinggalkan, secepat itu suasana berubah. Entah sejak kapan kamar itu di penuhi boneka panda yang bahkan hampir sama besar dengannya.
Tak hanya itu, beberapa perlengkapan Radha memenuhi nakas dan rak buku yang telah Gian tata sebagaimana mestinya sejak dahulu.
"Astaga, sejak kapan kamarku berubah jadi kamar bayi seperti ini, Mama!!"
Kepalanya terasa pusing, tempat tidur king size itu kini di penuhi bantal berbagai bentuk. Donat dan telur ceplok pun berdampingan di sana.
Wajah tampan itu semakin mengkerut kala masuk ke kamar mandi, tempat itu kini di kuasai oleh Radha. Benar-benar pindahan sesungguhnya. Bahkan sikat gigi warna warni berjejer di sana.
Tidak ada kesan garang lagi di kamar itu, sama sekali tak ada. Semua berubah kala Radha benar-benar memutuskan untuk menjadi penghuni kamar ini.
"Ah, terserah kau saja anak kecil, awas saja kau nanti."
Gian memilih fokus pada tujuannya, menuju lemari pakaian dengan perasaan was-was. Sejenak ia menautkan alis ketika menatap telah siap satu set pakaian untuknya pergi hari ini.
"Tumben Mama baik," ujar Gian cuek dan memilih memakai perlengkapannya cepat.
Bruk!!
Meski ia pria tentu saja begitu peduli dengan penampilannya, wajahnya memang tampan dan ia bangga tentu saja. Wajah yang ia gunakan untuk mendapatkan segala hal dengan mudah, pikirnya.
"Perfect, aku tidak percaya aku sesempurna ini."
"Ehem, Kak!!"
Sial, Gian tertangkap basah. Dengan wajah merah yang berusaha ia sembunyikan Gian berusaha seakan tak merasa salah. Kehadiran Radha yang tanpa aba-aba membuatnya salah tingkah.
"Bisakah kau mengetuk pintu dulu, hem?"
Berusaha bersikap dingin seperti biasa, ia masih malu lantaran Radha menangkap kebiasaan buruknya di depan kaca. Lebih mirip princes yang tengah mengagumi kecantikannya sendiri.
"M-maaf, Kak. Tapi sedari tadi itu sudah ku lakukan. Kakak saja yang tuli," jawab Radha seenaknya, ia masih terdiam namun mulutnya telah lancang melawan.
"Hei, apa katamu?"
"Apa?"
"Kata-katamu barusan, ulangi!!"
"Ternyata benar, Kakak memang tuli."
Radha menyilangkan tangannya. Sedari tadi berusaha mengetuk pintu kamar. Namun, Gian tak sedikitpun memberi jawaban. Hingga tampaklah pemandangan gila yang benar-benar langka di mata Radha.
"Kau!!"
Gian geram bukan main, melangkah maju seakan hendak mencekik gadis itu. Benar-benar berani, pikirnya. Bahkan Laura pun tak berani mencacinya seperti Radha, sungguh keberanian di atas rata-rata.
Radha Mundur beberapa langkah, namun Gian terlampau cepat untuknya. Kini pria tampan itu tak melepaskan Radha sedikitpun dari pandangannya.
Pemilik surai hitam itu terperanjat kaget kala Gian menarik telapak tangannya, dengan netra keduanya yang berpadu dan wajah Radha yang kini memerah lantaran takut Gian akan macam-macam.
"Benahi kemejaku," perintah Gian menggerakkan jemari Radha ke kancing kemejanya.
Glek
Radha susah payah menelan salivanya, dada bidang Gian membuatnya salah tingkah. Malu dan ragu bersatu dalam satu rasa. Perlahan dan dengan keterpaksaan luar biasa Radha harus melakukannya.
"Huft, aku bisa sendiri. Menjauh dariku."
Sungguh Radha bingung dengan sikap Gian yang begitu semena-mena. Ingin rasanya ia mencakar wajah tanpa dosa yang kini berada di depannya. Memperbaiki kancing kemeja sembari menatap teliti pantulan wajahnya.
"Sok ganteng, cih!!"
Radha berlalu usai mengucapkan kalimat itu, kecil namun sukses membuat telinga Gian panas. Ia bahkan berhenti dengan pekerjaannya dan menatap tajam ke arah Radha yang kini telah pergi entah kemana.
"ZURA!!"
"Kembali kau!!"
Terlambat, kelinci kecil yang kini terluka telah lari sekuat tenaga. Menelusuri anak tangga dengan kecepatan tak seharusnya. Tertangkap manik Gian, pria itu membeliak dan segera berlari dengan dada berdegub begitu cepatnya.
"Dasar Bodoh!!" teriak Gian menggema, bahkan terdengar hingga sekeliling rumah megah itu.
Tbc