Edelweiss Javanica adalah seorang gadis cantik keturunan Jawa Eropa. El memiliki mata hazel sama seperti ibunya sehingga membuat banyak orang terhipnotis oleh tatapannya.
El juga seorang primadona kampus. Siapapun pasti mengenal si gadis cantik, pintar, kaya, ramah dan baik. Apalagi dia juga mempunyai kekasih yang tampan. Sungguh hidupnya terlihat begitu sempurna hingga banyak gadis yang iri padanya. Bahkan mereka memimpikan hidup seperti dirinya.
Namun ternyata hidupnya tak sesempurna yang terlihat. Kekasih tampannya sering membentak bahkan memukulnya jika ada pria lain yang menatap kagum padanya.
Akankah Edelweiss bertahan dengan kekasih posesif nya? Atau dia akan menemukan tempat bersandar yang baru dan lebih nyaman?
Baca kisah selengkapnya di SORRY, But I Love You.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isthiizty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan Jantung
El membalikan tubuhnya menghadap Aditya yang kini sedang berjalan dari ruang kerja menuju ke arahnya.
"Kok sudah sampai rumah sepagi ini sayang?" tanya Aditya yang sudah berdiri di hadapan El. Pria paruh baya itu kini merasa heran saat melihat putrinya yang hanya diam mematung di bawah tangga tanpa menjawab pertanyaannya.
"El..... " panggilan Aditya seketika membuat El tersadar.
"Iya pa," ucap El gugup. Dia menundukan kepalnya dalam-dalam agar Aditya tidak melihat wajahnya.
"Apa kau sakit sayang?"
"Tidak pa, El hanya lelah."
"Lalu kenapa kau memakai masker? Apa di puncak sangat dingin hingga membuatmu flu?" tanya Aditya menatap putrinya dengan intens. Lalu refleks tangannya menyentuh dahi putrinya. El yang kaget langsung menyingkirkan tangan Aditya karna takut papanya melihat wajahnya yang lebam.
"Aku baik-baik saja pa. Papa tak perlu khawatir. Kalau gitu El mau ke kamar dulu, El lelah mau istirahat." El berbalik hendak menaiki anak tangga namun Aditya justru menarik tangan putrinya hingga membuat El merintih kesakitan. Dan sontak membuat Aditya langsung melihat luka bekas cengkraman di pergelangan tangan El.
"Ada apa dengan pergelangan tanganmu?" El yang baru ingat jika terdapat luka juga di tangannya akibat cengkraman Leo pun berniat menyembunyikan tangannya ke belakang tubuh. Namun sayang Aditya dengan cepat menangkap pergelangan tangannya.
"Katakan pada papa? Ada apa dengan pergelangan tanganmu?" tanya Aditya dengan suara sedikit meninggi. Namun El hanya diam tak menjawabnya. Otaknya terus berfikir alasan apa yang akan dia berikan ke Aditya agar papanya itu tidak curiga.
Karna tak mendapat jawaban dari putrinya membuat Aditya curiga. Dia menarik masker yang di kenakan putrinya. Hingga membuat El kembali merintih.
Dan benar saja Aditya langsung membelalakan matanya, dia begitu syok melihat wajah putrinya yang lebam dan ada sedikit sobekan di ujung bibir. Tangannya gemetar hingga menjatuhkan masker yang baru saja dia tarik.
"Katakan pada papa? Kenapa dengan wajahmu."
"El hanya jatuh pa?"
"Bagaimana bisa? Ayo kita kerumah sakit sekarang."
"Pa.... Ini sudah tidak apa-apa, El sudah mengobatinya tadi. Papa tidak perlu khawatir."
"Bagaimana papa tidak khawatir melihat wajah putri papa seperti ini? Katakan pada papa yang sejujurnya El. Ini bukan lebam karna jatuh."
"El baik-baik saja pa. El hanya butuh istirahat. El mau ke kamar dulu pa." El membalikan tubuhnya dan bergegas menaiki tangga menuju kamarnya. Dia bahkan tidak menghiraukan saat Aditya terus memanggilnya.
Aditya masuk ke ruang kerjanya setelah tadi menemui Bu Asih agar mengantar sarapan ke kamar El. Dia juga meminta tolong asisten rumah tangganya itu untuk mengobati luka putrinya.
Aditya duduk termenung di kursi kerjannya mengingat luka di wajah dan pergelangan tangan putrinya. Dia sangat yakin jika itu bukan luka akibat terjatuh. Putrinya sungguh membuat alasan yang tidak masuk akal.
Aditya meraih ponselnya yang berada di atas meja. Kini dia mulai mencari kontak seorang kenalannya. Dia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada putrinya saat beada di puncak.
"Hallo Ditya. Ada apa? Tumben weekend begini kamu menghubungiku? Apa ada masalah mendesak?" ucap seseorang di seberang telepon saat panggilan sudah tersambung.
"Aku butuh bantuanmu,"
"Apa? Katakanlah? Aku pasti akan membantumu sebisaku."
Aditya menceritakan kejadian tadi pagi saat melihat putrinya yang baru saja pulang. Dia juga mengatakan waktu dan lokasi putrinya saat di puncak. Aditya mematikan telepon setelah kenalannya itu berjanji akan menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi dan akan segara memberi kabar kepadanya.
Butuh waktu hingga menjelang makan siang saat Aditya mendapat kabar bahwa kenalannya sudah mengirimkan video ke emailnya. Dengan cepat pria paruh baya itu membuka laptopnya dan menonton video yang masuk di emailnya.
Deg.. deg.. deg..
Aditya memegang dada sebelah kirinya yang terasa sangat nyeri. Nafasnya mulai tersengal-sengal, keringat dingin sudah membasahi tubuhnya. Dia berusaha menggapai laci meja kerjanya untuk mengambil obat yang biasa dia konsumsi saat penyakit jantungnya kumbuh. Namun saat dia mengeluarkan obatnya dari dalam botol kakinya yang lemas sudah tidak bisa menopang berat tubuhnya.
"Tuan......" teriak Bu Asih saat membuka pintu kerja milik Aditya. Awalnya dia ingin memanggil majikannya untuk makan siang, namun siapa sangka dia malah melihat Aditya yang hampir pingsan.
Brug..
Terdengar suara tubuh Aditya yang membentur lantai. Bu Asih bergegas mendekati tuannya yang pingsan tergeletak di lantai. Dia menepuk-nepuk pipi Aditya sambil terus memanggil-manggil nama pria paruh baya itu. Namun sayangnya sama sekali tidak mendapat respon. Bu Asih yang panik langsung berdiri dan berlari keluar ruang kerja Aditya untuk mencari bantuan.
"Pakk.... bapak..... tolong pak," teriak Bu Asih memanggil suaminya. Hingga membuat El yang mendengarnya keluar dari kamar.
"Ada apa Bu?" tanya El yang sudah berada di bawah tangga.
"Tuan non,, tuan Aditya pingsan di ruang kerjanya," sahut Bu Asih.
Tanpa menjawab El langsung berlari ke ruang kerja Aditya di ikuti Bu Asih dan suaminya yang juga baru saja masuk dari halaman depan.
"Papa... " El merengkuh tubuh Aditya dengan air mata yang sudah membanjiri kedua pipinya.
"Papa... bangun pa. Bu papa kenapa bu?"
"Saya tidak tau non, saat saat masuk tuan sudah hampir pingsan," ucap Bu Asih.
"Sebaiknya sekarang kita bawa tuan Aditya ke rumah sakit non," sahut suami Bu Asih.
Mereka bertigapun membawa Aditya ke dalam mobil.
"Ibu nanti nyusul aja kalau Ira sudah kembali dari pasar," ucap suami Bu Asih sebelum masuk ke dalam mobil.
Disepanjang perjalanan El terus menangis dan memanggil-manggil nama papanya. Dia hanya tinggal memiliki Aditya seorang. Bagaimana jika papanya pergi menyusul mamanya ke surga. El benar-benar takut jika dia harus hidup sendirian.
"Papa bangun jangan tinggalin El. El janji akan jadi anak yang baik, El janji akan menuruti semua kemauan papa. Tapi bangun pa, jangan kayak gini. El takut pa," ucap El dengan suara serak yang hampir hilang karna terus-terusan menangis.
Sudah hampir satu jam Aditya berada di ruang IGD namun dokter belum juga keluar untuk memberi tahu keadaan Aditya.
El memeluk tubuh Bu Asih yang baru saja datang menyusul. Dia terus menangis dan memanggil-manggil papanya dengan suara lirih.
Bu Asih mengelus rambut putri manjikannya itu dengan lembut. Sudah lebir dari 15 tahun mereka tinggal bersama bahkan perlakuan Aditya maupun El sangat baik kepadanya dan suaminya membuat Bu Asih sangat dekat dengan El. Bahkan mungkin Bu Asih lebih tau tentang El di bandingkan Aditya yang notabene nya papa El sendiri.
"Tuan akan baik-baik saja non. Dia pasti bisa melewati semua ini seperti biasanya?" ucap Bu Asih.
El mengangkat kepalanya dari pelukan aeisten rumah tangganya itu. Dia menatap perempuan paruh baya itu dengan bingung. "Maksud Bu Asih seperti biasannya apa?"
Bu Asih langsung mengrutuki kebodohannya. Bagaimana bisa dia keceplosan disaat-saat seperti ini.
gimn Megan thort