NovelToon NovelToon
Kenzo & Nada

Kenzo & Nada

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 5
Nama Author: Dareen

Kenzo dibesarkan oleh Ibunya. Dia mempunyai teman yang bernama Nada. Nada dan Kenzo pada akhirnya menikah, bagai mana kisahnya? Dan sesungguhnya, ke mana Ayahnya Kenzo? Silakan ikutin alur ceritanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dareen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 23 ( Jadian )

Kami melanjutkan perjalanan pulang. Masih dengan di sertai gerimis yang mengikuti perjalanan.

Entah karena apa, Nada memelukku erat dari belakang membuat debar semakin nyata. Ditambah Nada menyenderkan pipinya di punggungku. Makin meleleh.

“Udah, masuk sana. Hujan,” ucapku ketika berada di depan rumah Nada.

Tanpa ada ucapan, Nada segera masuk ke rumahnya dan aku pun kembali masuk dalam kontrakanku. Aku memarkir motor di depan teras rumah dan aku mengambil handuk untuk bergegas mandi.

Seger!

Aku melangkahkan kaki menaiki anak tangga dan mendorong handle pintu lalu mengunci dari dalam. Aku membenamkan badan di ranjang dan berselimut. Hangat!

Aku memejamkan mata.

Tok ... Tok ... Tok ....

Baru aku terpejam sudah ada yang mengetuk pintu. Semakin kencang.

“Sebentar,” ucapku dalam kamar.

KREKKKK ....

Aku membuka pintu.

“Nada?” aku melongo.

Nada masuk dalam kamarku tanpa permisi. Dia mengambil gitar yang ada di dinding kamar. Lalu menyerahkannya padaku.

“Mainkan,” ucapnya sambil memberikan gitar itu untukku.

Aku duduk di tepi ranjang. Begitu pun dengan Nada yang ikut duduk di sampingku.

“Gue mau nyanyi. Khusus buat Lu. Jadi, bukan lagu yang pernah Gue nyanyikan ketika perform. Mau denger?” ucapku sambil menatap lekat kedua mata hitam itu.

Nada mengangguk dengan netra yang masih terpaku memandangiku.

Ku petik senar gitar dan mulai bersenandung.

JRENGG ....

Memenangkan hatiku bukanlah

Satu hal yang mudah

Kau berhasil membuat

'Ku tak bisa hidup tanpamu

Menjaga cinta itu bukanlah

Satu hal yang mudah

Namun sedetik pun tak pernah kau

Berpaling dariku

Beruntungnya aku

Dimiliki kamu

Kamu adalah bukti

Dari cantiknya paras dan hati

Kau jadi harmoni saat kubernyanyi

Tentang terang dan gelapnya hidup ini

Kaulah bentuk terindah

Dari baiknya Tuhan padaku

Waktu tak mengusaikan cantikmu

Kau wanita terhebat bagiku

Tolong kamu camkan itu.

Hingga lagu usai. Nada tetap memandangku lekat. Entah apa yang ia pikirkan?

“Nad, lagunya udah beres,” ucapku menyadarkan Nada yang terus menatapku.

“Oh ....” Nada memalingkan wajahnya ketika ia sadar telah ketahuan menatapku. Nada tertunduk.

“Ken,” ucap Nada yang masih tertunduk.

“Hem,” ucapku yang masih menyetem senar gitar yang ada di tangan.

“Apakah lagu itu buat Gue?” tanya Nada.

“He’em,” jawabku.

“Dari hati?” timpal Nada lagi.

Aku kaget mendengar pertanyaan Nada. Sontak, wajahku yang telah khusuk menyetem senar gitar jadi beralih kepada Nada.

“Emang kenapa?” ucapku.

“Jawab dulu,” tanya Nada yang menurutku penuh dengan teka-teki.

Hening.

Aku bingung mau menjawab apa. Mau jujur, takut hubungan persahabatan kita berakhir dan menyebabkan hubungan kami menjadi renggang. Mau bohong, sampai kapan? Sampai kapan aku berbohong dari Nada dan dari diriku sendiri, pekik dalam hati.

“Jawab, Ken!” ucap Nada yang mengagetkanku.

Kini netra Nada benar-benar menatapku tajam. Seakan meminta kepastian, dari ungkapan lagu yang ku nyanyikan tadi.

“Mau yang jujur atau yang bohong?” ucapku sedikit bercanda.

“Jujur!” ucap Nada yang terdengar serius.

Hening.

Lima menit berlalu.

Sepuluh menit berlalu masih dengan kebisuan dariku.

Dua puluh menit. Nada beranjak dari pinggiran ranjangku dan melangkahkan kakinya.

Hingga di depan pintu, akhirnya aku beranjak dari tempat tidur. Aku simpan gitar di atas tempat tidur dan menghampiri Nada.

Aku memeluknya dari belakang “Jangan tinggalin Gue, Nad. Gue sayang sama Lu.”

Tiba-tiba lidahku lancar mengatakan hal itu. Aku tak mengerti kenapa bisa selancar ini, apakah perasaan itu ungkapan dalam hati terdalamku? Entah.

Nada berbalik badan dan aku melepaskan pelukanku.

“Maaf, Nad,” ucapku yang meyiapkan hati, seumpama ia marah.

Nada tersenyum.

“Kamu marah, Nad?” tanyaku ragu.

Nada menggelengkan kepala.

“Gue senang, Ken. Entah dari kapan. Gue mulai suka sama Lu. Gue bahagia dengan ungkapan isi hati Lu barusan. Gue nyaman kalau di dekat Lu. Gue gak bakal ninggalin Lu kok,” Nada kembali tersenyum.

Nada menatap lekat wajahku. Mengusap lembut pipiku, hingga desir darah semakin bergemuruh. Detak jantung yang kian mengencang membuatku semakin tak karuan dalam keadaan ini.

“I LOVE YOU, Nad.” Akhirnya kata itu benar-benar keluar dari bibirku.

Aku memeluk Nada.

“I Love You Too, bangke sayang,” ucap Nada yang ada dalam dekapan.

***

Ibu jatuh sakit. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak berangkat ke kampus. Nada berangkat ke kampus sendirian.

Aku mengurus ibu di rumah. Badannya panas. Mungkin ia kelelahan karena kemarin dapat orderan dari ibu-ibu pengajian untuk membuat baju seragaman untuk dipakai ke pengajian.

Ada berkah di balik order itu, ibu mendapatkan rejeki yang melimpah. Ada juga musibah karena akhirnya ibu jatuh sakit.

“Ke dokter yu, Bu?” pintaku, membujuk ibu.

“Enggak, Ken. Ibu hanya kecapean doang,” ucap ibu yang sedang berbaring.

“Ya udah, Ken beli bubur dulu ke pasar. Sama membeli obat ke apotek ya, Bu? Ibu tunggu di sini. Jangan ke mana-mana!” pintaku.

Ibu menganggukkan kepala.

Aku beranjak ke pasar untuk membeli bubur ayam dan bergegas ke apotek untuk membeli obat. Aku langsung pulang setelah bubur dan obat sudah aku dapatkan.

Aku langsung masuk dapur. Mengambil mangkok untuk tempat bubur dan membawa segelas air putih dalam gelas.

Aku menyuapi ibu, hingga ibu meminum obat yang telah aku beli di apotek.

Akhirnya ibu tidur di sofa ruang depan. Aku selimuti dengan jarik, karena kalau badan panas katanya enggak boleh di pakai baju atau selimut yang tebal. Itu aku baca dari mbah Google.

Aku menemani Ibu. Mengecek keadaannya berulang-ulang. Hingga waktu menujukan pukul dua siang.

Tok ... Tok ... Tok ....

Aku mendekat ke pintu dan membukakannya.

“Nad,” ucapku sambil membukakan pintu lebar.

“Kamu udah makan, Ken?” ucap Nada.

Yang mulai berubah memanggilku dengan sebutan ‘Kamu’, bukan kata ‘Lu’ lagi.

Aku menggelengkan kepala.

“Ya udah, aku buatkan nasi goreng ya? Nasinya ada kan?” tanya Nada.

“Ada di dapur,” ungkapku.

Nada masuk ke dapur dan aku mengekor dari belakang.

“Ibu gimana, Ken?” tanya Nada.

“Sejak kapan panggil Encing jadi Ibu?” tanyaku ngasal.

“Gak boleh?” ucap Nada yang sedang mengiris bawang.

“Boleh, kok. Malah seneng Kamu bilang kek gitu,” ucapku sambil terus memperhatikan Nada.

Nada tersenyum sambil meracik bumbu dapur yang akan ia pakai untuk memasak nasi goreng.

Aku memperhatikan ia memasak. Pandai memang, kelihatan ketika ia mengaduk tidak ada terlihat kaku. Mungkin sudah biasa masak, karena ia di tinggal ibunya meninggal sejak usianya masih kecil.

“Nad,” ucapku memecah keheningan ketika Nada sibuk memasak.

“Hem,” ucap Nada yang sedang menggoreng.

“Kenapa Babe gak nikah lagi sih waktu dulu?” tanyaku.

“Entah, mungkin Babe sangat sayang sama Enyak,” jawab Nada.

“Emang, Kamu tidak pernah bertanya? Mungkin aja si Babe kesepian,” timpalku lagi.

Nada termenung.

“Iya juga ya, Ken. Nanti Aku coba tanya sama Babe,” ucap Nada yang tersadar dari lamunan.

“He’eleh! Sekarang udah telatlah cintaaaa,” ucapku.

“Yeee ... Kalik aja Babe masih mau kawin lagi,” ucap Nada sembari terkekeh kecil.

Nada meneruskan memasak. Sambil sesekali ia menyuruh aku untuk tester rasa.

“Em ... Wanginya enak bener,” suara ibu yang ternyata sudah ada di belakangku.

“Eh ... Ada ibu,” ucapku dan Nada bersama-sama.

“Wahh ... Kompak bener jawabannya. Akhirnya, Ibu jadi punya dua anak. Eh, atau mungkin ini calon menantu Ibu ya?” ibu menyembunyikan tawanya di balik telapak tangan yang mendekam mulutnya.

Kami tersipu malu.

“Gimana keadaannya, Bu?” tanya Nada yang mulai mematikan kompornya.

“Agak membaik, tapi badan Ibu masih pegel. Mungkin Ibu masuk angin,” ucap ibu sambil memegang leher belakangnya.

“Biasa gi kerik enggak, Bu? Kalau biasa di kerik, biar Nada yang kerikin Ibu,” ucap Nada menawarkan.

“Boleh, enggak ngerepotin nih?” tanya Ibu.

“Yaa ... enggaklah, Bu. Mari, Nada kerikin.”

Ibu masuk ke dalam kamar.

“Kamu makan gih, nanti malah sakit,” ucap Nada memerintahku.

“Oke sayang,” ucapku sambil mengedipkan mata.

“Ih ... Sekarang jadi tukang gombal, genit lagi!” ucap Nada yang beranjak pergi.

Aku menarik tangannya dan berbisik di telinganya “Aku benar-benar sayang Kamu, Nad. Gak ada gombal sama sekali. Makasih udah dibuatin nasi goreng, ya sayang ....”

Nada tersenyum dan berlalu pergi menuju kamar Ibu. Aku bergegas makan karena dari tadi pagi perutku keroncongan menahan rasa lapar.

Untung my love love Nada udah bikinin nasgor, pekik dalam hati.

Aku menikmati sepiring nasi goreng di teras depan, duduk di atas kursi sambil menikmati pemandangan hujan di sore ini. Adem bener dah, kek hati Gue saat ini, ungkapan hati.

“Udah habis nasi gorengnya?” tanya Nada yang tiba-tiba ada di belakangku.

“Eh ... Iya, udah habis. Makasih ya?”

Nada tersenyum. Ia duduk di kursi, tepat di sampingku.

“Ibu udah tidur, tadi Aku suapi nasi goreng dan minum obat,” ucap Nada sambil menyenderkan punggungnya ke kursi.

Terlihat rona lelah pada wajah cantiknya. Aku menatap netra Nada yang kini ia tutup. Memperhatikan rona wajah ketika ia capek. Ada rasa kasihan, karena Nada kecapean karena mengurus aku dan Ibu.

semoga kelak, kalau jodoh. Nada menjadi istri yang solehah untukku, ucapan do'a dari dalam hati.

Nada kembali membuka matanya. Kini ia yang menatapku lekat. Mata hitam dan indah itu telah berada di satu arah. saling bertatapan.

“Makasih, Nad. Malah ngerepotin jadinya,” ucapku ketika mata masih menatap lekat.

Nada tersenyum “Ya enggak lah.”

“Ya udah, Aku balik ya? Mau mandi udah bau kecut,” ucap Nada.

Nada beranjak dari tempat duduknya. Aku menahan tangannya hingga Nada kembali terduduk. Netra kami saling memandang. Diiringi dengan derasnya air hujan.

“Hati-hati,” ucapku berbisik.

Nada kembali beranjak dan melangkahkan kakinya.

“Sebentar, sayang,” ucapku menahan.

Aku ambil payung dan mengantarkan Nada pulang. Walau hanya beberapa langkah dari kontrakan menuju rumah Nada. Namun, entah mengapa terasa berkesan untukku.

Rasanya, aku ingin selalu bersamanya. Ingin selalu ia menemani di sisa umurku. Selalu bersama sampai maut yang dapat memisahkan kita.

1
Ilham Ilham
bagus cerita ny
Rosa Rosiana
hadir
ꈊNnayy
komen
Dareen: balas😅
Terima kasih sudah, kak.
Maaf, saya aktif di platform sebelah jadi notif baru terbaca 🙏
total 1 replies
Yuyun Rohimah
ceritanya menarik,,,lanjut thorrr
Dareen: terima kasih sudah singgah, Kak Yuyun.. 🙏
Sekarang saya menggarap novel di platform sebelah🙏😅
total 1 replies
Bersama bintang
keren
Falina Adhianthi
vas bunga
Falina Adhianthi
Haruka dipanggil "Bee" itu maksudnya apa ya ?
Falina Adhianthi
by the way
Falina Adhianthi
ladies
uutarum
hanna adiknya doni tuh
Falina Adhianthi
ko jadi Lo gw lagi🤔
Falina Adhianthi
ko bs langsung pesan, ga nanya alamat rumahnya dmn
Falina Adhianthi: platform yg mb kk
total 2 replies
Falina Adhianthi
kanker
gah ara
saya juga akan marah kalau jadi nada..
gah ara
kita aja yang baca dari awal kayak merasa kehilangan juga.. kayak ngga baca novel
gah ara
ya elaaahhh,,,jadi kite ni yang di suruh berfantasi mereka ngapain... 🤭🤭🤭
Dareen: tengkyu ulasannya kak 🙏😅
total 1 replies
gah ara
serangan fajar Ken 😁🤭🤭
Asti Asyifa
jd kangen gue
Inne Saptadji
Bahasa Sunda ibunya terlalu halus untuk bicara dengan anaknya... Karena ada b.Sunda ada tingkatannya, untuk yg lebih tua, untuk yg sebaya, untuk diri sendiri, dan untuk yg lebih rendah..
Dareen: siap kak. Makasih krisannya. Kebetulan Mama ada turunan Sunda dan saya hanya ngikutin klo Mama ngomong. 🙏😅
total 1 replies
Fatimah D'Ratu
Astagfirullah, pecat saja Stevani wanita penggoda🙄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!