Rara Raina Sunjaya. seorang Nona besar di keluarga Sunjaya.
Rara tidak menyangka akan nasib hidup nya yang berakhir di sebuah pulau yang usia nya lebih dari ratusan tahun. pulau itu di kenal sebagai pulau vampier pada masa nya nanun setelahnya pulau itu di kenal sebagai pulau rindang dan sudah berabad-abad semua yang melewati pulau itu di larang mendekat atau memasuki pulau tersebut di karnakan setiap orang yang mendekati atau memasuki pulau, maka tidak akan bisa kembali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shkira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 23
Satu minggu berlalu.
Hah, tidak terasa sudah satu minggu! sejak aku memutuskan tinggal di istana ini, aku belum melihat Afkar lagi, kapan dia kembali, huh, membosankan sekali, berada di ruang kamar ini sendiri tidak ada tv atau pun ponsel.. astaga ponesl! Rara teringat akan tas kecilnya yang saat itu terbawa saat ia terdampar.
Rara berlari ke ruang istirahat Raja dengan cepat.
Hah hah hah, aku harus temukan ponselnya. Rara terengah-engah di depan ruang istirahat raja.
"Nona, kau mau apa? yang mulia raja, baru saja istirahat tidak ada yang di ijinkan menggangunya!" ucap salah satu pengawal penjaga pintu di ruangan itu, melarang Rara menemui Aidan.
"Tuan, aku mau menemuinya sebentar saja! ada yang inginku tanyakan pada raja kalian, penting," balas Rara memaksa masuk namun di hadang oleh dua pedang.
"Haiss.. merepotkan!" keluh Rara, ia berdiri tegak tepat di depan pintu dan mengambil nafas dalam-dalam.
"A.I.D.A.N, BUKA PINTUNYA AKU MAU MASUK..!" Rara berteriak sangat keras sampai semua yang ada di lingkungan dekat ruang istirahat Aidan mendengarnya. termasuk ketua ke dua yang sedang melewati koridor taman.
Aidan tersentak mendengar teriakan keras Rara, ia baru saja ingin meletakan tubuhnya ke ranjang untuk istirahat.
Hah, gadis ini membuat ulah lagi. yang lain pasti mendengarnya menyebut namaku secara langsung, dia akan dapat masalah. keluh Aidan beranjak dari ranjangnya untuk membuka pintu. ia yang hanya memakai piama dengan otot dada terlihat jelas.
suara pintu ruang istirahat raja terbuka pengawal yang sedang berusaha menghadang Rara, cepat-cepat berlutut memberi hormat pada sang raja.
"Biarkan dia masuk! lain kali apapun alasanya biarkan gadis ini masuk, tanpa harus meminta ijin dariku!" tegas Aidan. memutar tubuhnya untuk kembali berjalan masuk, di ikuti Rara yang meledek dua penjaga yang sejak tadi menahan nya di luar.
"Haha, ******! siapa suruh kalian menahanku, bweee," Rara menutup pintu sambil meledek kedua pengawal yang pucat di depan.
Aidan yang sudah duduk di kusria mewahnya, terus menatap datar Rara yang terus meledek para pengawal.
"Hah, dasar pengawal sialan, memang enak di semprot majikan sendiri, hihii." gumam Rara segera memutar tubuhnya untuk bicara pada Aidan, yang sejak tadi memperhatikan tingkahnya.
"Eh? heheh, maaf! kali ini benar-benar ada maslah serius, aku harus bertanya padamu," Rara terkejut saat melihat Aidan menatap datar dirinya.
"Hah, Rara. kali ini aku tidak akan membantumu menyelesaikan masalah yang kau buat tadi! sekarang katakan ada perlu apa mencariku!" Aidan bicara dengan raut wajah lelah mengahdapi tingkah Rara.
"Eh, maslah apa? emm, ternyata dadamu sexi juga ya, wahhh jika di duniaku kau akan menjadi idola wanita!" jawab Rara melupakan tujuanya, ia tidak sengaja melihat dada sexsi milil Aidan yang perkasa.
Aidan tersenyum kecil melihat Reaksi Rara, ia beranjak dari duduknya dengan cepat sudah berada di hadapan Rara. yang masih terpesona.
"Jika kau suka boleh menyentuhnya, gadis nakal, expresimu sangat manis! aku akn mencicipinya sedikit," Aidan menari pinggul Rara, di pepetkan ke teubuhnya lalu ia mencium bibir Rara, hingga Rara tercengang.
"Aidan sialan.. kau curi kesempatan lagi! aku akan mengahajarmu!" tinju Rara melayang ke wajah Aidab, namun dengan cepat di tahan oleh Aidan.
"Itu hukuman atas kenakalanmu! cepat katakan ada perlu apa mencariku? kalau tidak cepat aku akan mencium mu lagi!" ucap Aidan datar, mengancam Rara, sambil menjilat bekas bibi Rara.
Wajah Rara memerah melihat reakasi Aidan yang genit.
"Dasar gila, menyebalkan!" Rara berjalan pergi dengan kesal.
"Kau mau kemana! apa tidak jadi bertanya?" seru Aidan mengenhtikan langkah Rara.
"Tidak jadi, dasar Aidan raja bodoh, sialan," Rara berjalan sambil memaki Aidan yang tertwa melihat Rara mengoceh kesal.
Saat Rara akan membuka pintu, di saat bersamaan Afkar yang baru kembali, juga membuka pintu hingga mereka bertabrakan.
Rara terpental kebelakang saat menabarak tubuh besar Afkar. namun dengan cepat Afkar meraih tubuh mungil Rara.
"Aduh! apa kau tidak bisa melihat aku sedang.. Af-afkar! kau kembali, aaaa, kau kemana saja aku menunggumu satu minggu ini!" Rara sepontan memeluk erat Afkar yang tercengang melihat reaksi Rara saat melihatnya.
melihat Rara memeluk Afkar. expersi dingin yang sudah lama tidak di tunjukan pada Rara, akhirnya terlihat lagi.
Rara masih belum menyadari suasan di ruangan itu yang terlihat sangat mencekam.
"Afkar! kau tega sekali meninggalkan aku di sini sendiri, pergi tidak pamit bahkan pulang pun tidak memberi kabar! kau yang membawaku ke sini lalu meninggalkanku begitu saja! aku akan membalasmu dengan pukulan nanti!" Rara melepas pelukannya dan mendumal sendiri memarahi Afkar.
suasana semakin mencekam.
"Rara! kita bicarakan ini nanti saja ini bukan waktu yang tepat, kau lihat, yang mulia terlihat sangat marah dengan kita" bisik Afkar. memberi isyarat mata pada Rara.
namun Rara tidak peduli dan cuek, ia pergi begitu saja sambil membuat janji bertemu dengan Afkar.
setelah Rara pergi.
Afkar merasa canggung dan menetralkan suasana.
ia memberi hormat pada sang kaka, juga memberi laporan, tibanya putri Muren dari kerjaan barat.
BERSAAMBUNG...
be like gw yang udah baca ni novel 3× 🗿