“ Hidup itu harus di jalani saja ”
Perkataan itu. Membekas di telingaku suara hangat nenek yang memberitahu ku bahwa hidup harus ku jalani dengan ikhlas
Namun waktu cepat berjalan, sehingga aku muak dengan perkataan seperti itu bagi mereka seorang gadis yang tidak berkecukupan harus di perilaku kan berbeda karena dia tidak mampu untuk apapun.
Terkadang kita lelah untuk menjadi orang yang baik, entahlah aku hanya letih menjadi seorang wanita yang baik dan di pandang sebelah mata sama semua orang.
— Jeritan Hati Arumi —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7 Tidak di Terima
Arumi memandangi sebuah kontrakan yang begitu kecil di hadapan nya rumah yang sangat mepet dengan para tetangga. halaman yang sempit membataskan ruang para pe ngontrak
Hardi bergegas masuk ke dalam rumah ia kembali dengan seorang wanita paruh baya dan seorang gadis berusia tujuh belas tahun yang menelisik ke arah nya. Dari atas ke bawah lalu menatap nya seolah ingin mengulitinya hidup-hidup
" Ibu, Syifa, mulai hari ini Arumi keponakan bapak akan tinggal disini bapak mohon berperilaku lah baik kepadanya. Terutama kamu Syifa! " Kata Hardi
" Apa? Dia tinggal disini?, bapak ngga lupa kan bapak perkerjaan apa? " Cakap Rina istri sang paman matanya melotot ke arah sang suami ia tidak akan pernah menyetujui Arumi tinggal di rumahnya.
" Bapak, Syifa ngga mau banget dia sama Syifa dia dari kampung! " Cemooh gadis berusia tujuh belas tahun itu menatap merendahkan Arumi membuat gadis itu menundukkan kepala nya.
" Ibu, Syifa kalian tidak boleh seperti itu bagaimana pun Arumi adalah keponakan bapak. Apalagi Ibu sudah tiada jadi Arumi tiada keluarga lagi " Kata Hardi ia menarik pergelangan tangan Arumi yang nampak enggan
" Kalau bapak ingin sih silakan saja, ibu dan Syifa akan pergi ke desa ibu! " Ancam Rina membuat Hardi membeku mendengarnya
" Ibu " Hardi menatap sang istri penuh harap berharap istrinya menerima sang keponakan namun. hati Rina bagaikan batu karang yang sulit
" Paman tidak apa-apa kalau aku tidak boleh tinggal disini. Aku bisa menge kost dan berkerja di dekat sini " Suara Arumi terdengar bergetar namun lantang
" Tidak! Kamu tanggung jawab Paman! " Tolak sang paman ia menggeleng kan kepalanya sungguh ia tidak mau ponakannya menderita.
" Sudahlah pak ngga usah peduli sama Arumi, lagian kan anak bapak aku! " Celetuk Syifa ia menatap sinis Arumi
Rina mendekati Arumi matanya memicing penuh ketidak sukaan. Lalu menarik senyuman miringnya " Kamu tidak di terima di sini!, selain kamu penguras beras kamu juga akan menguras uang suami saya! " Kata Rina dengan suara keras
Tatapannya menghina sekali. Hardi menggeram ia menatap penuh kekesalan kepada Rina " Ibu! Cukup Arumi bukan lah beban!. Dia keponakan satu-satunya ku! "
" Bela aja terus!, kamu seharusnya tidak usah pedulikan gadis itu gadis tanpa ayah!. Harusnya kamu bawa dia ke ayah kandungnya yang meninggal kan nya! " Bentak Rina matanya menatap Arumi penuh kebencian
" Ibu cukup! "
𝙅𝙡𝙚𝙙𝙚𝙧𝙧!
Bagaikan tersambar petir hati Arumi, ia memegangi dadanya sungguh ia tidak kuasa melihat pertengkaran itu. Dengan tekad yang membara untuk tidak merepotkan siapapun ia berkata " Paman, aku bisa hidup sendiri terimakasih sudah memberitahu rumah Paman aku pamit "
" Tidak nak kamu ingin kemana? " Tanya Hardi tatapannya penuh perhatian Arumi tersenyum getir sesungguhnya ia tidak tahu dimana ia harus melangkah di Jakarta yang luas.
" Aku akan cari kost dan berkerja " Sahut Arumi tatapannya kosong
" Nak harus kamu tahu bahwa dunia ini itu kejam dan kamu harus tahu kalau Jakarta itu luas. Paman harus tahu kamu akan tinggal dimana! " Kata Hardi kecemasan menyiratkan di setiap kata yang keluar dari bibirnya
Arumi mengambil tangan sang paman lalu mengecup punggung tangannya. " Arumi sudah dewasa paman, aku bisa menjaga diriku sendiri nanti kalau Rumi sudah punya kost nanti aku bakal kesini dan paman main ke kost aku " Jelas Arumi dengan nada yakin
" Baiklah Rumi Hati-hati dan berjanji untuk kembali kesini kalau bila kamu tidak betah di kost mu, rumah paman selalu terbuka untuk mu " Cakap Hardi lalu ia mendekap sang gadis yang menurutnya sama seperti Syifa tanpa di ketahui ibu dan anak itu, Hardi menyelipkan beberapa lembar uang berwarna merah di kantung celana cargo Arumi
" Untuk pegangan! , maafkan paman " Bisik Hardi dengan suara penuh penyesalan
" Terimakasih paman aku akan membalas kebaikan mu " Sahut Arumi ia mengurai pelukannya sementara istri dan anaknya sudah masuk ke dalam rumah.
" Hati-hati nak "
" Ya paman, Assalamu'alaikum "
" Walaikumsalam "
Tanpa ragu sedikitpun Arumi pergi dari halaman rumah yang tidak menerima nya untuk tinggal satu atap dengan mereka. Ia tidak mau pamannya tersiksa bila ia tinggal serumah dengan orang yang tidak menginginkan nya
Ia melangkah tanpa menoleh sedikitpun, walaupun rasa sakit itu menaungi hatinya namun ia tepis langkahnya terhenti tetiba pemikiran nya kalut dengan segala luka dan bebannya.
Pelupuk matanya terpejam sejenak menikmati udara sore hari yang menenangkan. " 𝙉𝙚𝙠 𝙗𝙖𝙣𝙩𝙪 𝙖𝙠𝙪 " Doanya