Ellen disuruh menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam oleh pamannya sendiri namun ellen baru menyadari bahwa pria yang diluarnya dingin didalamnya sangat hangat apalagi perilakunya kepada dirinya membuatnya semakin penasaran siapa sebernarnya pria ini?
Arkana, tuan muda yang tidak pernah berdekatan dengan wanita manapun tiba tiba menikah dengan seorang gadis yang menjadi korban dari utang pria paruh baya yang tidak tau diri itu. Namun siapa sangka bahwa yang akan menjadi istrinya di masa depan adalah gadis yang selama ini ia cari, yaitu cinta pertamanya.
Bagaimana kisah pernikahan mereka disaat ellen tau bahwa suaminya adalah teman sekaligus cinta pertamanya selain mantannya? Dan Arkan tau bahwa istrinya adalah gadis yang ia tunggu selama ini? Bagaimana kisahnya, silahkan ikuti lanjut.
Season2 Kisah Cerita anak anaknya yaa.. Lanjut kok, ditunggu aja..
Beri jejak untuk ceritaku ya.. Terima Kasih..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
|Chapter 22 Keinginan Arkan|
❤️Happy Reading❤️
Seminggu setelah bertemu dengan teman lama, Arkan kembali ambruk karena kelelahan bekerja terus menerus. Dan sekarang ia sedang disuapi dan di asuh oleh istrinya yang perut ratanya sedikit membesar karena anaknya terus menerus berkembang.
"Sayang, udah dong.. Aku udah kenyang." rengeknya membuat Ellen mendengus kesal, "makanya kalau dikasih tau itu didengerin, jangan anggap peringatanku itu angin lalu."
"Aku kan udah bilang jangan terlalu dipaksain tubuh kamu itu bukan robot yang setiap hari sibuk bekerja, robot aja ada istirahatnya juga masa kamu manusia gak ada." omel Ellen kepada suaminya yang pasrah di marahi seperti ini.
"Lain kali kalau mau ambruk jangan didepan aku, urus aja sendiri. Kamu aja gak sayang sama diri kamu sendiri gimana kamu mau jaga aku dan putra kita? Kalau kamu aja gak mau dengerin perkataanku?"
"Iya, maafin aku yang. Gak lagi deh, aku bakalan dengerin setiap kamu beri tahu atau ingetin aku."
Ellen yang masih kesal langsung bangun dari duduknya dan keluar dari kamar membawa nampan berisi mangkuk kosong bekas suaminya dan turun kearah dapurnya, sedangkan Arkan yang melihat itu hanya bisa menghela nafas. "Kau sudah membuat istrimu marah, arkan."
Tak lama Ellen masuk lagi tidak menghiraukan suaminya yang menatapnya dengan melas ia langsung masuk kekamar mandi dan keluar dengan pakaian santai. "Kamu mau kemana?"
"Aku punya keinginan..." gumam Arkan membuat Ellen berjalan mendekat kearah suaminya lalu ia membukakan baju suaminya yang berkeringat. Kemudian ia memasukkan handuk kedalam air yang ia bawa dari kamar mandi, dan di seka tubuh suaminya dengan lembut, lalu ia membuka celana suaminya dan mengelap dari paha sampai kaki.
Arkan yang diperlakukan seperti ini semakin mengembang senyumnya, "apa keinginan kamu?" tanya Ellen sembari memakaikan kaos tipis agar suaminya tidak kepanasan. "Aku ingin mengunjungi baby El, boleh?" tanyanya membuat Ellen terdiam menatap mata suaminya dalam lalu kembali melanjutkan memakaikan celana pendek kekaki suaminya.
"Aku punya keinginan."
"Apa?"
"Istirahatlah, jangan banyak mau." ujarnya lalu meninggalkan suaminya yang menekuk wajahnya mendapatkan balasan seperti itu, "awas aja, nanti saat aku sembuh aku babat kamu."
"Emang kamu kira aku sater babat. Udah lah aku ke dapur saja."
"Yang, sayang.. Jangan marah.." pekik Arkan saat Ellen sudah berjalan keluar dari kamarnya, teriakannya terdengar oleh Fahri yang sedang bekerja diruang tv. "Kenapa dengan suamimu? Len?"
"Sakit, tapi banyak mau."
"Kamu mau kemana rapih sekali?"
"Aku mau ke mini market dulu, abang mau dibeliin apa?"
"Beliin soda prute sama ciki dek." Ellen mengangguk, lalu meminta supir untuk mengantarnya ke mini market depan kompleknya, sedangkan Arkan yang ditinggal bosan ingin main dan bergerak. Ia paksakan untuk bangun dari kasur dan berjalan menuruni tangga menuju dapur.
Ia juga melihat fahri yang masih fokus dengan laptopnya, sesampai dapur ia tidak melihat istrinya begitupun bi Ari. Ia pun langsung jalan menghampiri abang iparnya dan duduk disamping abangnya, "Ellen kemana bang?"
"Keluar."
"Ngapain? Kok gak ijin samaku."
Fahri menghendikkan kedua bahunya, "ntah, dia marah, kau apakan adikku?" Arkan menghela nafas, "aku tidak apa apa kan hanya tidak mendengarkan ucapannya kemarin."
"Dan berakhir tergeletak dikasur? Kasihan sekali kau."
Ellen baru masuk rumah melihat suaminya yang masih saja tidak mendengarkannya hanya bisa menghela nafas, lalu menjewer telinga suaminya dengan keras membuat Arkan memekik. "Aduh! Aduh! Sayang, kamu udah pulang?"
"Aku kan udah suruh kamu tidur aja, istirahatin itu tubuh kamu. Jangan maksain diri bisa gak sih? Kamu mau aku lelah ngurusin dua bayi? Kamu gak mikirin aku yang khawatir saat tau tubuh kamu panas?" tanya Ellen sembari teriak dan menangis, Fahri yang melihat adiknya menangis langsung menatap Arkan dengan tajam. Arkan panik, "ngga bukan gitu, aku kesepian, nunggu kamu dikamar tapi pas aku ke dapur kamu gak ada." jawabnya dengan melas.
"Jangan nangis, maafin papa." ujarnya dengan pelan membuat fahri yang mendengar itu langsung memutar bola mata malas, "udah sekarang kamu naik keatas, tidur. Waktunya tidur kamu kan udah makan siang udah solat juga bukan?" Arkan mengangguk, "iya aku tidur, jangan nangis lagi."
"Siapa yang bikin aku nangis? Kan kamu sendiri yang bikin aku kayak gini." ujarnya lalu berlalu ke dapur menaruh beberapa belanjaannya diikuti oleh Arkan. "Kamu belanja apa?"
"Cemilan kesukaan kamu, sama cemilan buat abang."
"Itu soda buat siapa?" tanyanya sambil menunjuk ke arah botol bening bertutup warna hijau. "Punya abang, kamu jangan coba coba minum soda saat badan kamu masih demam." ujar Ellen dengan mata tajam setajam laser. Arkan segera menggelengkan kepalanya, "ngga, ngga berani aku."
"Sini aku bawain ke atas."
"Jangan kamu masih pusing kan? Aku aja. Kamu antar yang punya abang aja sekalian minumannya." Arkan menuruti perkataan istrinya lalu ia melihat istrinya membawa dua toples dan satu gelas susu hamilnya. Mereka berdua pun berjalan beriringan saat menaiki undakan tangganya.
Sesampai dikamar, Arkan langsung naik ke tempat tidur. Melihat istrinya yang menaruh dua toples cemilan diatas meja nakas miliknya serta susunya, lalu ia berjalan ke dalam kamar mandi setelah mengambil baju tidur yang ia kenakan tadi.
Ellen naik ke tempat tidur dan duduk disamping suaminya yang sedang mengemil cemilannya dan perhatiannya lurus ke tv yang menyala, "sayang, tolong ambilin susu ku." pinta Ellen, Arkan pun langsung memberikan segelas susu kepada istrinya kemudian ia fokus kembali ke acara tv.
"Kamu nonton film apa sih? Kayaknya serius banget."
"Ini film action kesukaanku, maze runner."
"Ih pemainnya ganteng ganteng." komentar Ellen saat melihat peran utamanya membuat Arkan mendelik kesal namun ia tahan dan fokus kembali dengan tangannya yang mengambil dan menyuapkan ke dalam mulutnya. "Udah tidur, aku juga mau tidur." ujar Ellen setelah menghabiskan segelas susunya.
Arkan langsung menutup kembali toples cemilannya dan menaruhnya diatas nakas kemudian ia memposisikan tubuhnya dengan memeluk tubuh mungil istrinya yang sudah memiringkan tubuhnya menghadap dirinya dan menenggelamkan wajahnya didalam dada dan keteknya.
"Tidur yang nyenyak istriku."
"hm.."
Keduanya tidur siang dan saling berpelukkan, sampai Ellen mendengar suara adzan dan mengerjapkan kedua matanya yang melihat jam di dinding menunjukkan pukul 4 kurang. Ia langsung membalikkan tubuhnya melihat suaminya yang sudah tidak ada disampingnya.
"Kemana dia?" tanya Ellen lalu ia mengusap pelan kedua matanya dan mendengar air di dalam kamar mandi, dan ia beranggap bahwa suaminya didalam kamar mandi, dan muncullah suaminya yang rambutnya sudah basah dan kedua lengannya sampai sikut sudah basah. "Di lap dulu atuh, biar airnya gak netes ke lantai." ujar Ellen mengejutkan suaminya.
"Kaget aku, kamu baru bangun?" Ellen mengangguk pelan, "mau ber jama'ah?" Ellen mengangguk lagi, lalu berdiri dari duduknya setelah tau nyawanya sudah terkumpul. "tunggu aku ya."
"Iya sayang." ujar Arkan setelah itu ia membuka sajadahnya, memakaikan sarung kepada dirinya membuat sarung itu tidak sampai menutupi mata kakinya. Tak lupa dengan peci untuk rambutnya. Setelah itu ia menggelarkan sajadah untuk istrinya dan mukena yang sudah siap didepan matanya.
Dan memberikannya kepada istrinya yang sudah naik ke sajadah. "Terima kasih suamiku." ujarnya lalu Arkan menunggu istrinya menggunakan mukena setelah itu ia langsung segera memulai solatnya.
Selesai solat berjama'ah, Arkan duduk dihadapan istrinya yang juga sedang berdoa dan Ellen meraih tangan kananya untuk dikecup memang sudah kebiasaannya setelah solat atau setelah mengaji ia akan salim kepada suaminya.
Arkan yang tangannya disalimi membalasnya dengan kecupan dikening istrinya dengan lembut. Lalu matanya berbinar setelah mendengar gumaman istrinya. "nanti malam kamu kunjungi jagoan kita. Seperti keinginanmu." Arkan mengangguk semangat, "oke, janji ya?"
Ellen mengangguk, "tapi janji harus dengerin ucapanku, kalau kamu lelah jangan dipaksain untuk bekerja. Kalau kamu gak sayang sama tubuh kamu berarti kamu gak sayang sama istri kamu sendiri."
Arkan mengangguk, "iya sayang, maafkan aku. Aku gak akan ngulangi lagi."
❤️Bersambung...❤️
padahal itu mulesnya udah kurang dari 5 menit sekali .... uuuhhhggg rasanya udah ga bisa mikirin lapar.... yang ada pinggang panas perut mules keringet banjir tak tertahankan