Halo semua. Saya penulis pemula.
Mohon dilike dan diberi masukan, supaya saya semangat menulis.
Saya tidak pernah pacaran, saya tidak tahu apa itu jatuh cinta. Yang jelas saya tahu, sekarang kamu istri saya. Itu berarti saya bertanggung jawab menjaga dan melindungi kamu.
- Gerald Alexandro Bramasta
Kamu ganteng tapi kamu begitu dingin. Aku tidak akan menaruh cinta di atas pernikahan ini.
- Gita Ayu Berlian
Cerita ini mengisahkan sepasang mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di universitas yang sama.
Mereka dinikahkan oleh nenek kandung Gerald yang sudah dianggap nenek sendiri oleh Gita. Nenek baik, begitu Gita menyebutnya. Nenek yang memberi namanya.
Akankah Gita bertahan dengan kesalahpahahamannya di awal pernikahan ini? Atau apakah nanti justru dia yang terlebih dahulu mencintai Gerald?
Selamat menikmati!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gelora Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kami Menginginkan Cucu
" Kamu kurangajar. Kamu belum pantas jadi suami. Laki-laki gak bertanggung jawab. Harusnya kamu menyadari posisi kamu sekarang ", Gerald terjatuh ke lantai. Serangan dari ayahnya sangat tiba-tiba, mengejutkannya yang sedang berbicara dengan seseorang lewat telpon. Pukulan itu begitu keras membuat Gerald tak sempat untuk melakukan perlawanan.
" Selama ini kita tidak pernah menjalin komunikasi yang baik. Saya membiarkanmu menikmati hidupmu. Sekalipun saya tak pernah menganggumu. Saya bahkan selalu mendoakan kamu berhasil dengan apapun yang kamu rintis sekarang. Saya berusaha percaya sama kamu. Tapi kali ini kamu benar-benar mengecewakan saya. Saya menyesal memberi restu untukmu. Kamu tidak layak, kamu kurangajar ", Pak Herman memandangi wajah Gerald yang sudah memar.
Kakinya menghimpit tubuh Gerald yang sudah ambruk sejak tadi karna ulahnya. " Jangan sampai saya melihat wajahmu, saya muak. ", dia kembali menonjok putranya sekali lagi sebelum kakinya menjauh dari tempat itu, meninggalkan Gerald yang sedang menahan rasa sakit di seluruh wajahnya.
Darah mengalir dari lubang hidungnya, benjolan di dahinya memperlihatkan betapa kuat ayahnya melukainya tadi.
" Gerald, sini mari papah bantu. Kamu pantas, jangan hiraukan perkataan ayahmu. Dia hanya sedang emosi, kamu pantas percayalah. Bangkitlah, buktikan kalau perkataan ayahmu salah, buktikan kalau kepercayaan papah benar. Kamu harus bisa ", kedatangan mertuanya menambah kebingungan Gerald.
" Apa yang terjadi pah? ", Gerald memegangi bibirnya yang masih saja mengeluarkan darah.
" Kamu yakin tidak salah pertanyaan? ", Pak Herman mengerutkan dahinya. Sungguh dia tidak tahu apa maksud dari menantunya.
" Saya tidak tahu apa-apa pah. Dia tiba-tiba menyerang saya, saya dapat telepon dari teman saya di Bandung. Sungguh, begitu kenyataannya ", Gerald berusaha bangkit.
" Papah percaya padamu. Satu hal yang ingin papah tanyakan, kamu kenapa tidak ikut ke makam? Papah akan sangat merasa dihargai jika kamu jujur pada papah ", sorot matanya yang tulus jelas terlihat oleh menantunya.
" Maafkan saya pah, saya tidak mau bersama dia disana. Saya memantau dari kejauhan, saya berniat mengikuti namun saat hampir tiba di makam, teman saya menelepon saya. Telepon penting pah tapi sinyal disana kurang baik pah saya harus kembali ke rumah sebentar ", tutur Gerald dengan sopan.
" Dia? Siapa maksud kamu? Ayahmu? ", Pak Surya meyakinkan isi pemikirannya saat ini.
Gerald hanya mengangguk. " Papah tidak tahu apa masalahmu dengan ayahmu. Satu yang pasti, Pak Herman sangat mencintaimu. Itu tak bisa ditutupi bagaimana caranya melakukannya. Dia sangat membanggakanmu. ", Pak Surya berbicara sesuai dengan apa yang dia lihat dan rasakan. Besannya itu kerap menceritakan Gerald padanya. Itu membuatnya yakin dengan pendapatnya.
" Baik pah, saya menghargai pendapat papah. Apa yang terjadi pah? ", Gerald kembali menanyakan kebingungannya sejak tadi.
" Pergilah ke lantai atas, putri saya mungkin membutuhkan kamu Gerald ", ucapnya seraya menepuk bahu menantunya.
" Gita kenapa pah? ", Gerald tiba-tiba panik dengan perintah mertuanya itu. Semakin takut mengingat kondisi terakhir Gita tadi saat hendak ke makam.
" Pergilah, disana ada bunda dan mamah ", titah Pak Surya. " Baik pah, saya permisi ", Gerald naik dengan cepat. Langkahnya terhenti di depan pintu tempat Gita terbaring tak sadarkan diri. " Kamu kenapa Ger? Apa yang terjadi? Darahmu? Kamu darimana? ", Bu Siti terkejut melihat keadaan putranya.
Gerald tak menjawab bundanya, dia segera berlari ke arah Gita. Memegang tangannya, lalu menangis.
" Maafkan saya maafkan saya. Harusnya saya disana melindungimu. Maafkan saya ", dia tertunduk merasa bersalah pada istrinya.
" Dia mungkin masih belum ikhlas akan kepergian nenek baiknya. Mereka sangat dekat, sejak kecil Gita bermain di rumah ini bersama almarhumah. Biarkan dia istirahat Ger ", ucap Bu Ningsih.
" Maafkan saya mah, maafkan saya. Saya tidak bisa jadi suami yang baik untuk anak mamah. Saya minta maaf ", Gerald bersujud di kaki mertuanya. " Kamu bangkit, mamah tak suka kamu begini. Kamu bisa melindunginya, belajarlah lebih baik lagi. ", Bu Ningsih mengangkat kepala Gerald, membantunya untuk bangkit dari sujudnya.
" Kamu kenapa? Cerita pada mamah ", Bu Ningsih berusaha memandangi wajah menantunya yang berada jauh di atas kepalanya. Tubuh Gerald begitu tinggi, Bu Ningsih kesusahan melihatnya.
Gerad yang tersadar akan hal itu langsung menurunkan badannya setara dengan tinggi badan mertuanya. " Ini hukuman atas kekurangajaran saya mah. Saya tidak menjaga istri saya. Harusnya saya berada di sampingnya, menguatkannya ", Gerald memegangi wajahnya penuh penyesalan.
" Ayah yang melakukannya? ", Bu Siti bisa menebak siapa yang menjadi pelakunya. Gerald hanya mengangguk memberi jawaban atas pertanyaan itu.
Segera Bu Ningsih dan Bu Siti mengobati lula Gerald. Gerald diam menerima perhatian dan kasih sayang dari kedua ibu yang menyayaginya. Namun, hati dan pikirannya saat ini tertuju pada Gita. Dia begitu terluka melihat keadaan istrinya.
" Boleh mamah nanya? ", ucap Bu Ningsih seraya mengompres luka Gerald. " Boleh mah ", Gita tersenyum menjawab mertuanya.
" Apa Gita membuatmu susah? ", matanya melihat bola mata Gerald. " Tidak sama sekali mah. Kami hanya perlu waktu untuk saling mengenal ", jawab Gerald seadanya.
" Apa dia pernah merebut wilayah tempat tidurmu di kamar? ", ucap Bu Siti seraya mengedipkan matanya pada Bu Ningsih.
" Maaf, apa maksud bunda? ", Gerald melontarkan pertanyaan.
" Iya, malam setelah kalian menikah bunda tidur bersama Gita. Dia bergeser kesana kemari haha, wajahnya gemas saat itu ", Bu Siti membayangkannya.
" Begitu kah bunda tapi maaf. Kita tidur di kamar yang berbeda ", Gerald jujur.
" HAH? ", Bu Ningsih dan Bu Siti serentak menunjukkan respon terkejutnya.
" Aw, sakit mah ", kompres menyentuh luka dengan sangat kasar. Bu Siti mengangkatnya dari wajah Gerald.
" Apa maksud kalian? Astaga Gerald " Bu Siti terlihat sangat kesal pada putranya.
" Kami tidak mungkin melakukannya. Gita belum lulus, bagaimana jika dia hamil itu pasti akan sangat menyusahkannya ", entah darimana jawaban itu muncul begitu saja dalam benak Gerald.
" Lalu bagaimana kalian bisa saling mengenal kalau tidurnya aja terpisah? ", Bu Siti menyandarkan tubuhnya di sofa dengan kasar.
" Tunggu Gita lulus bunda. Saya rasa mengenal dapat dilakukan dengan banyak cara, mengajaknya mengobrol misalnya " , lagi-lagi Gerald mengeluarkan pendapat yang tidak dirancang sebelumnya. " Berjanjilah untuk mendukung Gita, dia harus cepat lulus. Kami menginginkan cucu ", ucap Bu Ningsih seraya memegang tangan Bu Siti. Mereka berdua kompak mendoktrin otak Gerald.
Gita terbangun dari tidurnya. " Nenek... nenek... ", dia memanggil nenek. Gerald bangkit menghampirinya. " Kamu sudah sadar Git, bagaimana perasaanmu sekarang ? ", Gerald lembut mengelus rambut Gita. " Kamu kenapa Ger? ", Gita menggerakkan tangannya menyentuh wajah Gerald.
" Ah tidak papa, sudah membaik. Kamu makan ya Git ", Gerald menjawab dengan lembut.
" Aku tidak mau, kamu tidak mau menjawab ", Gita memberi penolakan pada Gerald.
Gerald menarik nafas panjang melihat kelakuan istrinya. " Saya akan jawab nanti, kamu makan dulu ya ", bujuk Gerald. " Janji kamu harus cerita ", Gita mendekatkan jari kelingkingnya.
" Iya janji, makan dulu ya ", ucap Gerald lalu membantu Gita duduk.
Dua pasang bola mata yang melihat pemandangan itu senyum-senyum sedari tadi.
" Aku rindu masa masa pengantin baru mbak ", bisik Bu Siti. Bu Ningsih tertawa kecil " Turun yok mbak, kita ulang lagi ", balasnya.
Alhasil mereka berdua tertawa.
" Kenapa bunda? Kenapa mah? ", Gita bingung dengan kelakukan dua ibu itu.
" Ah gpp sayang, kami hanya senang kamu sudah baikan. Kita harus belajar ikhlas ya sayang, nenek pasti sudah bahagia disana. Kan lebij bahagia lagi jika kalian berdua punya anak , yakan mbak ? ", Bu Siti memandangi Bu Ningsih yang langsung saja memgangguk setuju dengan ucapan besannya itu.
" Bundaaa ", Gerald menatap bundanya.
" Iya iya kita turun yee ", mereka berdua meninggalkan Gerald dan Gita.