Hidup itu penuh dengan pilihan, dan kita diharuskan untuk memilih tapi kita juga diharuskan untuk menerima hasil dari pilihan kita ~ Banyu Biru
Bagaimana perasaanmu jika hanya karena pesan dari mendiang kakekmu yang mengharuskan dirimu menikah diusia dua puluh enam tahun, ibumu menjodohkan dirimu dengan seorang gadis yang sudah memiliki kekasih, karena kekasihmu selalu menolak lamaran darimu.
Banyu Biru, diminta oleh sang ibu untuk segera menikahi kekasih hatinya yang sudah ia pacari selama empat tahun lebih. Tetapi sialnya kekasihnya selalu saja menolak lamaran dari dirinya.
Pada akhirnya ibunda Banyu menjodohkan dirinya dengan seorang gadis cantik yang masih berstatus mahasiswi dan bahkan masih memiliki kekasih, hanya karena Banyu kini sudah berusia dua puluh delapan tahun.
Apakah Banyu dan gadis itu akan menerima perjodohan tersebut?
Atau mereka akan menjalin pernikahan kontrak seperti novel-novel yang sedang booming saat ini?
Simak kisah mereka dalam cerita ini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22
"Ji udahan dong nangisnya." Riana dan Keyra mengusap punggung Jingga naik turun.
Riana dan Keyra menemui Jingga beberapa menit setelah Mama Kiran keluar dari ruangan. Mereka yang awalnya disuruh oleh Banyu untuk menemani Jingga di sana, sedikit terkejut melihat kondisi sahabatnya yang begitu menyedihkan.
Sudah hampir setengah jam berlalu, namun tangis Jingga tak kunjung mereda. Dua gadis itu sedikit kebingungan dengan apa yang terjadi pada pengantin baru ini.
"Ji, jangan nangis dong. Make up lo luntur semua tu. Nggak malu apa lo kalau si babang ganteng liat lo kayak gini. Muka lo nyeremin tahu nggak,"
Buk
Keyra memukul lengan Riana dengan bantal sofa. Bisa-bisanya sahabatnya ini masih memikirkan make up saat sahabatnya tengah bersedih.
Riana mengusap lengannya, meskipun tidak sakit. "Eh gue beneran, lo lihat muka dia udah kayak mbak kunti. Eyeliner sama maskara dia udah meluber kemana-mana. Entar kalau si babang ganteng pangling liat muka dia gimana coba." Bela Riana. Ia merasa kasihan dengan nasib gadis ini, apalagi melihat tampilannya yang sudah tak layak, membuatnya semakin merasa iba.
Keyra hanya berdecak, tak ingin lebih lama menanggapi satu sahabatnya yang suka ceplas-ceplos ini. Keyra lebih memilih untuk fokus kembali pada Jingga.
"Nyokap lo lagi ya?" tanya Keyra hati-hati.
Jingga mengangguk lemah.
Keyra semakin merasa sedih. Ia tahu bagaimana ibunya Jingga. Wanita paruh baya yang dipanggil mama oleh sahabatnya ini memang tak pernah memperlakukan Jingga dengan baik. Segala yang Jingga lakukan selalu salah dimatanya. Berbeda sekali dengan ibunya yang selalu memanjakan dirinya dan adik-adiknya.
Mereka bertiga larut dalam keheningan. Jingga sudah mulai tenang. Gadis itu mengambil tisu untuk mengelap wajahnya yang terasa basah.
"Sini gue bantuin! Sekalian dibersihin ya make up-nya." Keyra membersihkan riasan Jingga yang luntur kemana-mana. Dengan telaten gadis itu mengusap wajah Jingga dari sisi ke sisi hingga benar-benar bersih.
"Lo kuat, Ji! setelah ini lo nggak akan sering ketemu nyokap lo, dan mulai sekarang lo harus bahagia."
Riana mengangguk menyetujui apa yang Keyra katakan.
"Thanks ya guys, kalian selalu ada buat gue." Jingga memeluk kedua sahabatnya dengan begitu erat.
Mereka masih saling berpelukan saat tiba-tiba pintu terbuka.
"Oh, maaf! apa saya mengganggu?" ujarnya tanpa masuk ke dalam ruangan.
"Eh, enggak kok. Masuk aja, Kak!"
"Kita duluan ya, Ji." Keyra berdiri diikuti Riana.
"Besok ceritain gimana rasanya diunboxing," bisik Riana sambil terkekeh. Kemudian keluar dari ruangan tersebut bersama Keyra.
"Sialan tu anak," gumam Jingga masih memandangi Riana.
"Kamu menangis lagi?"
Jingga terjingkat, tak menyadari Banyu sudah mendaratkan tubuhnya di sampingnya. Seketika itu juga Jingga mengalihkan pandangan dan mengusap-usap wajahnya.
"Enggak kok," kilahnya.
Banyu mengernyit, namun mengangguk. Ia tidak mau mengganggu privasi istrinya.
"Apa semua sudah pulang?" tanya Jingga mengalihkan topik.
"Sudah, papa dan mama-mu juga sudah pulang. Kita istirahat dulu sebentar, setelah itu kita pulang ke rumah kamu. Kamu sudah berkemas untuk pindah kan?"
Jingga mengangguk.
"Bagus, nanti kita menginap di rumah kamu, besok kita ke rumahku, setelah itu baru kita akan tinggal di apartemen milikku. Seperti rencana kita."
Jingga mengangguk kembali tanda mengerti.
Setelah itu ruangan tersebut larut dalam keheningan. Tidak ada lagi yang berbicara. Banyu hanya menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa dengan mata tertutup. Sedangkan Jingga ia asik sendiri berbalas pesan dengan Riana yang masih saja menggoda Jingga.
Langit semakin menggelap. Bintang mulai menyinar bersiap menemani bulan yang masih bersembunyi.
Disaat itu juga Jingga dan Banyu sedang berada dalam perjalanan menuju rumah kedua orang tua Jingga. Sebelumnya mereka sudah membersihkan diri di ruangan yang katanya milik pemilik restoran tempat mereka mengadakan resepsi.
Jingga sebenarnya ragu, jika restoran tersebut milik teman Banyu. Karena ia bisa melihat Banyu benar-benar hafal dengan setiap sudut ruangan yang ada di sana. Tapi apa mungkin jika restoran itu milik Banyu.
Jingga tersadar dari lamunannya, saat Banyu mengajaknya untuk turun. Jingga 'pun bergegas mengambil koper kecil yang berisi gaun pengantinnya tadi. Tangannya sudah akan menarik koper tersebut, namun terhenti saat Banyu mengambil alih kopernya dan membawanya bersama langkah lebarnya.
"Eh, biar amu bawa sendiri, Mas! kamu tidak perlu repot-repot." Jingga berusaha mengambil kembali kopernya, namun Banyu menolak.
"Aku tidak mungkin membiarkan istriku membawa barang, sementara aku tidak membawa apa-apa," ujar Banyu sedikit tegas.
Jingga diam tak membantah. Ia tidak memiliki keberanian untuk membantah suaminya, meskipun ada perasaan tidak enak dalam hatinya.
"Ya sudah, ayo kita masuk!" ajak Jingga sembari melangkah menuju pintu masuk rumahnya.
Senyum terukir pada wajah yang mulai menua Papa Arta. Ia menghampiri putri bungsunya yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Putri papa sudah datang ternyata," sambutnya.
Bibir Jingga ikut tersungging. Ia memeluk papanya dengan begitu erat, seakan mereka baru bertemu setelah berpisah selama puluhan tahun. Kemudian mereka duduk di ruang keluarga sedikit berbincang-bincang sembari menunggu makan malam.
Saat makan malam tiba, Mama Kiran ikut bergabung. Mama Kiran memasang senyum selama makan malam. Namun Jingga tahu, itu hanyalah senyum palsu yang ditunjukkan untuk menantunya.
"Kak Iren ke mana, Pa? kok nggak ikut makan malam?" tanya Jingga.
"Kakak kamu ada pemotretan. Masa kamu nggak tahu, gimana sih." Jawaban dari Mama Kiran yang terdengar sarkas membungkam Jingga. Ia tidak mau melanjutkan pertanyaannya lagi, atau ia akan semakin sakit hati dengan jawaban-jawaban dari sang Mama.
Banyu melirik istrinya. Ada guratan sedih yang terpancar dari wajahnya. Namun, Banyu tak bisa melakukan apa-apa. Meskipun ada sedikit rasa kesal dengan jawaban ibu mertuanya yang terkesan membentak, tidak suka.
Selesai makan malam, semua kembali ke kamar. Jingga mengajak Banyu menuju kamarnya di lantai dua.
Kamar yang didominasi hiasan dinding khas perempuan menyambut kedatangan Banyu. Warna biru muda nampak mendominasi kamar tersebut. Hampir semua isi kamar berwarna biru. Mulai lemari, sprei, bantal, guling, gorden, cat dinding, meja belajar, dan beberapa boneka yang mengusung tema warna biru seperti doraemon dan stich.
"Kalau Mas Banyu butuh kamar mandi di sebelah sana." Jingga menunjuk sisi kanan ruangannya.
Banyu mengangguk. Ia berlalu dan duduk di sofa kecil yang ada di dalam kamar tersebut. Sedangkan Jingga ia memilih untuk mengganti bajunya dengan piyama.
Tidak ada percakapan setelah Jingga keluar dari kamar mandi. Ia sibuk dengan ponselnya sama seperti Banyu.
Beberapa menit berlalu. Jingga terlihat gelisah. Beberapa kali ia mengubah posisi duduknya yang bersandar pada kepala ranjang, dan sesekali melirik Banyu yang duduk tak jauh darinya.
"Nanti Mas Banyu minta 'itu' nggak ya? duh gue belum siap," gumamnya lirih.
Sedari tadi Jingga memikirkan apa yang Riana katakan tadi sore. Bahkan saat ini ia masih berbalas pesan dengan Riana yang terus menggodanya.
Jingga menegang saat Banyu berdiri dari duduknya dan membuka kemejanya.
Glek
Jingga menelan ludahnya dengan susah saat Banyu berjalan mendekati ranjang hanya dengan kaos polos putihnya.
"Mas," panggil Jingga, membuat Banyu menoleh sembari berusaha melepaskan jam tangannya.
"Ada apa?" Pria itu mendudukkan dirinya di atas ranjang.
Jingga mengalihkan pandangannya setelah Banyu menatapnya dengan intens.
"Ehm ... ehm ... a-apa kita akan melakukan 'itu' ma-malam ini?" Jingga salah tingkah sendiri. Ia merutuki kebodohannya dengan bertanya hal itu pada Banyu.
Banyu tersenyum jahil. "Kenapa? kamu mau melakukannya?"
Jangan lupa like dan komen