"Kau takkan bisa lepas dariku, Diana. Sampai kapanpun kau akan tetap bersamaku, selamanya."
Sesosok pria asing datang dan mengatakan hal itu padaku. Tidak hanya itu, dia juga memiliki kekuatan layaknya karakter fantasi. Aku yang hanya manusia biasa hanya bisa apa? Apa yang harus kuperbuat untuk menyingkirkan stalker ini?
.
.
.
Publish: 20 Januari 2021
>Diperkenankan komentar positive
>Yang mau saling dukung dimohon like dari bab akhir, ya. Sekian terima kasih :))
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ItsMeMar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
WIH #23
Happy Reading!
Kaki Diana memijak area toilet, beberapa siswi di sana berdiri di hadapan cermin dengan alat rias di tangannya, sesekali menyisir dan menata rambutnya yang menurut Diana masih rapi. Gadis itu tak mempedulikan sekitar, pikiran dan matanya hanya fokus pada satu tujuan.
Flashback ON
Para murid berhamburan keluar kelas, beberapa di antara mereka menetap di bangkunya menjalani kesibukkan masing-masing.
Diana meringkas buku-buku yang sebelumnya ia buka di atas meja ke dalam tas. Sejak pelajaran berlangsung, bahkan sampai detik ini, gadis itu sadar tengah diperhatikan siswa baru di sisinya.
Koridor kelas yang awalnya sepi kini mulai berdatangan murid terutama para siswi. Ya, apalagi kalau bukan karena kelasnya yang kini sudah ditempati empat siswa tertampan di sekolah, Sky, Eve, Rico dan Key.
Dari kerumunan siswa di luar sana, Diana bisa melihat tatapan tajam nan benci yang seseorang tujukan padanya. Bahkan tatapan tersebut mampu mengunci tubuh Diana di tempat ia duduk dengan mata yang tertuju pada sosok siswi yang berdiri di sana.
Jangankan mengenali, gadis itu tak tahu siapa siswi tersebut. Berselang detik kemudian, siswi itu berpaling, memutus kontak mata mereka yang berlangsung cukup lama dan menghilang begitu saja di balik kerumunan.
"Apa yang kau lihat?"
Diana terperanjak kaget, seketika matanya teralih pada Eve yang tersenyum manis padanya, "tidak ada, haha ..."
"Benarkah? Lalu, kenapa wajahmu nampak begitu serius?" Eve membawa pandangannya ke luar kelas dengan seringaian samar.
"Hai," sapa Sky seraya menempati kursi bangku di depan Diana.
Gadis itu sedikit tersentak mendapati kehadiran Sky yang tiba-tiba, "hai ..." balas Diana tanpa membenamkan senyumannya.
"Boleh aku berkenalan denganmu? Aku Sky," ramahnya kemudian mengulurkan tangannya yang dijabat oleh Diana. "Aku Diana."
"Oh ya, aku Eve. Salam kenal, Diana," sahut Eve seraya mengulurkan tangannya. Tak urung pula Diana menyambutnya dengan senyuman. Gadis itu terpaku, pandangannya yang awalnya tertuju pada wajah Eve kini jatuh pada tangan yang ia jabat. Rasanya dingin, sangat berbeda dengan Sky yang terasa hangat.
"Ada apa?" Eve membuyarkan lamunan Diana.
"Ah, tidak apa." Diana menarik tangannya dari genggaman Eve.
"Hey, aku punya ide, bagaimana jika kita merayakan pertemanan kita dengan makan-makan?" Sky kembali angkat suara, mencoba memulihkan hubungannya dengan sang ratu.
"Ide bagus," setuju Eve kemudian kembali mengarahkan pandangannya pada Diana yang belum merespon.
"Ingat Diana, kau harus menjaga relasi terutama dengan makhluk seperti mereka," batin Diana seraya menatap ke dua orang itu bergantian, "ah maaf, aku tidak bisa ..." tolak gadis itu seraya bangkit dari duduknya, "aku permisi." Diana membawa langkahnya keluar kelas yang diikuti beberapa pasang mata.
Flashback OFF
Usai dengan kegiatannya di dalam toilet, gadis itu hendak memutar knop pintu toiletnya, namun sebuah perbincangan berhasil memberhentikan tangannya.
"Huft, hari ini benar-benar membuatku kesal."
"Hahaha, bilang saja kalau kau iri pada gadis itu. Kau juga ingin didekati banyak lelaki sepertinya, bukan? Terutama lelaki tertampan di sekolah kita"
"Diam!! Aku benci mengingatnya. Selama ini aku sudah menahan rasa cemburu, tapi semakin dibiarkan, rasanya semakin muak. Dia sudah menarik hati Rico dan sekarang ia juga akan menarik dua murid pindahan itu. Dan nampaknya murid pindahan itu tertarik padanya. Memangnya dia secantik apa? Jika dibandingkan denganku, dia tidak ada apa-apanya."
"Kau yakin murid pindahan itu tertarik pada siswi itu?"
"Sepertinya."
"Baru 'sepertinya' kawan, mungkin mereka hanya ingin berkenalan dengannya. Kau tak perlu berpikir sejauh itu."
"Kau tahu, tadi aku menatap si jalang itu, bahkan aku bersumpah ingin menyingkirkannya. Tapi si rambut silver itu menatapku tajam. Dan entah kenapa, tiba-tiba aku merasa takut padanya, seperti ... Dia tahu apa yang kupikirkan."
"Mungkin hanya perasaanmu, jika kulihat, sorot mata mereka memang tajam. Mungkin kau menganggapnya berlebihan."
"Tidak! Aku sungguh merasakannya, bahkan tatapan itu seperti merasuk ke dalam diriku."
"Apa? Mereka membicarakanku dan Eve?? Apa-apa'an mereka? Jadi itu alasannya dia pergi ..." Diana sibuk bergelut dengan pikirannya atas segala lontaran siswi-siswi tersebut.
"Sudahlah, jangan dipikiran. Siapa tahu kau salah."
"Benar, jangan mempermalukan dirimu karena pemikiranmu, Jessi. Lebih baik kau pastikan penglihatanmu dulu sebelum menyimpulkannya."
"Aish, kalian ini kenapa?? Biasanya kalian selalu mendukungku."
"Karena kau sendiri tidak yakin dengan yang kau lihat. Lagipula, kami belum melihat dengan mata kepala sendiri."
"Jika aku melihat siswi itu dekat dengan mereka lagi, aku takkan segan menyingkirkannya."
"Bagaimana caranya?"
"Dengan cara apapun."
Deg.
"Siapa mereka sebenarnya? Jessi, juga menyebutku jalang. Memangnya aku melakukan apa??" Diana memendam rasa kesalnya, "kau tidak boleh lengah, Diana, kau tidak boleh akrab dengan Sky, Eve, Rico, ataupun orang selain mereka. Aku tidak boleh percaya pada siapapun, dan aku harus bisa menjaga diriku sendiri." Gadis itu mengepalkan tangannya seiring dengan dahinya yang mengernyit.
"Ngomong-ngomong ... sepertinya ada yang menyimak pembicaraan kita," bisik salah seorang siswi membuat Diana menegang seketika.
"Hey, jaga pintu toiletnya. Aku akan mengecek toilet itu," ujar Jessi dengan nada datar.
Seketika Diana memanik, telinga dan pikirannya terpusat pada tapak sepatu yang berjalan mendekat ke arahnya. Spontan gadis itu berdiri di bibir closet dengan tangan terentang di antara dinding.
Berselang detik kemudian langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu yang disusul gedoran kencang.
"Hey, aku tahu ada seseorang di dalam, kau mendengar pembicaraan kami, bukan?"
Dor dor dor dor ...
"Keluar kau!!" desaknya dengan seruan.
Sementara Diana menggigit bibir bawahnya dengan tubuh gemetar. Gendang telinganya serasa ingin pecah didobrak suara gedoran dan seruan Jessi padanya.
Tiba-tiba seekor kecoa datang merambati permukaan lantai toilet Diana. Sungguh, gadis itu ingin berteriak dan kabur dari sana, namun keadaan mengharuskannya untuk tetap tenang. Diana memberanikan diri untuk mengayunkan kakinya mengusir kecoa tersebut dari hadapannya.
"Kau akan keluar sendiri atau aku yang akan mengeluarkanmu," ancam Jessi.
Karena dilanda ketakutan, Diana tidak sengaja menjatuhkan kakinya dengan mata membelalak. Beruntung hewan menjijikkan itu bergerak lincah dan merambat keluar toilet, mengundang pekikkan Jessi yang disusul teman-temannya.
Dengan panik, mereka bergegas keluar dari toilet, melupakan Diana yang masih berdiam di sana.
Mengetahui kepergian mereka, gadis itu menghela nafas lega, "terima kasih, Tuhan," gumam Diana yang kemudian dikejutkan kedatangan kecoa yang sama, seakan mendesaknya untuk segera pergi dari sana.
.
.
.
Diana menapaki setiap anak tangga dengan sedikit lesu. Tepat di belokan, gadis itu nyaris menabrak Rico yang berjalan di arah berlawanan. Ke dua orang itu sempat bertatapan sebelum akhirnya Diana memutus kontak mata mereka dan bergegas pergi.
"Diana." Rico menjangkau juntaian lengan Diana yang dibalut seragam, "sepulang sekolah tunggu aku di taman."
"Maaf, ada keperluan apa?" sahut Diana dengan nada datar.
Rico bungkam sejenak, "ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu, aku juga ingin membicarakan--"
"Diana!"
Sebuah suara menarik pandangan mereka secara serempak.
"Sky? Eve?" gumam Diana.
Sky yang berdiri beberapa meter darinya menatap tajam genggaman Rico pada lengan Diana. Ke tiga lelaki itu saling beradu tatap, sementara Diana hanya berdiam di tempat, memandangi Sky dan Eve bergantian yang berakhir pada Rico yang memancar aura kebencian.
...WHO IS HE?...
...To be continue ......
Astaga, ada apa dengan diriku yang mulai slow update. Maapkan saya :'D
like dan fav uda mendarat.
salam dari "Pernikahan impian."
makasih😁😁
saling support yaa 🙏