NovelToon NovelToon
Mutiara Hati

Mutiara Hati

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:10.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Mitha Rhaycha

Nidia seorang gadis yg cerdas dan mudah bergaul yang hidup disebuah kota kecil. dia juga ramah dan perhatian terhadap orang-orang yang ada disekitarnya. meski kecantikannya dianggap rata-rata, tp dia banyak disukai karena kepribadiannya.
suatu ketika, dia memilih meninggalkan kampung halaman karena pria yang bertunangan dengannya selama setahun, menghamili temannya sendiri.
orang tua Sopian tunangannya itu, memaksa Sopian untuk tetap menikahi Nidia dan hanya memberikan biaya saja kepada anak yg dikandung Sopian dr wanita lain. tapi Nidia menolak. dia tidak mau menikah lagi dengan pria yg nyata-nyata tidak setia bahkan sebelum menikah.
kisah hidupnya dimulai saat dikota besar, meski dia hanya berharap mampu menjalani hidup yang sederhana tp segalanya terasa menjadi rumit.
mulai dari pertemuannya dengan Bu Saraswati dan Putranya Haikal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mitha Rhaycha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Secangkir Kopi dimalam Hari

Nidia terdiam selama beberapa saat, cukup terkejut dengan permintaan Bu Saraswati "Kenapa..? "Bu Saraswati memecah kesunyian, dia mengamati wajah Nidia yang terkejut" belakangan ini Haikal selalu lembur sampai pagi diruang kerjanya, biasanya Bik Sumi yang mengantarkan kopi padanya. tapiii... sudahlah, kamu sudah sangat lelah seharian ini. dia bisa membuatnya sendiri kalau mau"ujar Bu Saraswati

"aah.. tidak apa-apa ma, Nidia bisa kok"jawab Nidia akhirnya membuat Bu Saraswati lega "tapii.. ruang kerjanya yang mana? Nidia tidak pernah naik kelantai dua"

"sampai diatas, kamu belok kiri kamar pertama sudah itu ruang kerjanya haikal. kalau pintu yang kedua itu ruangan khusus gimnya dia.. kalau kamu belok kanan, itu kamarnya Haikal"

"baiklah.. nanti Nidia antarkan kopi keatas"sela Nidia cepat, diakan cuma nanya ruang kerjanya.. kenapa yang lain juga disebut? wajah Nidia memerah "kalau begitu Nidia keluar dulu"

"baiklah sayang, terima kasih "

"mama.. terima kasihnya dikantongin dulu"canda Nidia sambil tertawa

"tidak nak, mama dan Haikal sudah merepotkan kamu. mama pantas mengucapkan terimakasih"

"ya sudah.. terimakasihnya Nidia simpan.. mama tidur aja" Bu Saraswati mengangguk, dia masih menatap pintu yang terkunci ada senyum yang masih menetap diwajahnya dia merasa heran dan takjub bisa sangat menyayangi Nidia, dia seperti sudah sangat dekat dengan gadis itu tapi dimana mereka pernah bertemu?

Dua puluh menit dalam kebimbangan antara mengantarkan kopi kepada bosnya akhirnya Nidia memutuskan untuk melakukannya. bagaimanapun juga dia sudah berjanji pada Bu Saraswati bahwa akan mengantarkan kopi kepada putranya. Yaa.. mungkin ini juga kesempatan bagiku untuk bisa bicara dengannya masalah pakaian renang dan yang lainnya dikamar. pikir Nidia.. beberapa hari semenjak dia memutuskan untuk bicara dengan Haikal, dia tak memiliki kesempatan untuk melakukannya, pria itu seakan menjadi sulit untuk didekati. dia bahkan jarang terlihat dirumah, mereka hanya bertemu dipagi hari saat sarapan dan tidak bertemu lagi setelahnya.

hanya sekali dia berpapasan dengan Ferdi yang kebetulan datang kerumah untuk mengambil dokumen dirumah. ferdi mengatakan bahwa Haikal sangat sibuk dengan beberapa proyek yang baru mulai jalan serta penambahan anak cabang perusahaan dibeberapa daerah.

saat kaki Nidia sampai diujung tangga, dia menatap pintu yang tertutup disebelah kirinya, tak jauh dari tangga apakah ini ruang kerjanya Nidia membatin, entah mengapa jantungnya berdebar tak karuan. apakah dia takut? entahlah diapun merasa gugup. dengan perlahan Nidia mengangkat tangannya dan mengetuk pintu.

tok tok tok

"Assalamu'alaikum...!"salam Nidia tapi tak ada sahutan. dia mengetuk lagi dan mengucapkan salam.. tapi tetap tak ada sahutan... Nidia mengerutkan keningnya setalah ketukan dan salamnya yang ketiga juga tak dijawab

apakah dia sudah tidur?

Nidia berdiri selama beberapa saat, menimbang apakah dia sebaiknya turun saja atau mengetuk lagi. tapii... bukankah pesan Nabi kalau kita hanya boleh memberi salam sebanyak tiga kali? jika tidak ada yang menjawab berarti tidak ada siapa-siapa disana.

sebaiknya aku turun saja, mungkin dia sudah tidur pikir Nidia dan memutuskan untuk kembali. jika Bu Saraswati bertanya besok, dia tinggal menjawab kalau pak Haikal sudah tidur.

klek

langkah Nidia terhenti saat mendengar bunyi pintu dibuka, itu bukan pintu didepannya, tapi pintu diujung lorong. seorang pria keluar dengan hanya mengenakan celana boxer, tanpa atasan menampilkan bentuk tubuhnya yang kekar dan berotot. sebuah handuk kecil digunakan untuk menghapus keringat yang memenuhi wajah dan tubuhnya. langkahnya terhenti, ekspresi terkejut terlihat jelas diwajahnya sama terkejutnya dengan Nidia.

tiba-tiba Nidia merasa gemetar, dia benar-benar syok dengan pemandangan didepannya, nampan yang dipegangnya bergoyang dan cangkirnya hampir jatuh.

"kenapa kamu disini?"tanya Haikal dingin, ada nada tidak senang dalam ucapannya membuat hati Nidia terasa sakit

mengapa aku merasa seperti orang yang dipergoki sedang mengintip?

"saya... em, itu... ini, ma maksudnya saya diminta Bu Saraswati mengantarkan kopi untuk bapak"Nidia berusaha menguatkan hatinya. kedua tangannya mencengkeram baki dengan erat agar tidak jatuh.

Haikal membuang pandangan kearah lain, terdiam selama beberapa saat seakan sedang mempertimbangkan sesuatu " Bik Sumi sedang pulang kerumahnya karena anaknya sakit. jadi Bu Saraswati meminta saya agar mengantarkan ini" Nidia berusaha menjelaskan lagi

Haikal kini menatap Nidia lagi.. memperhatikan wajah gadis itu dengan seksama "kamu tidak perlu melakukan ini lagi "ujarnya lagi yang membuat hati Nidia sakit

"baiklah.. maafkan saya pak.. saya pergi dulu" Nidia mengangguk sebagai permohonan maaf dan dengan cepat dia berbalik meninggalkan Haikal, menuruni tangga tanpa pernah menoleh lagi. dia tidak tau mengapa hatinya tiba-tiba sangat sakit, dan airmata tak bisa dibendung keluar dengan sangat cepat.

Yaa.. kelemahan Nidia adalah dia tak bisa mencegah airmatanya keluar apabila hatinya tergores dan sikap Haikal barusan yang terlihat sangat tidak senang dengan kehadirannya benar-benar membuat harga dirinya terluka.

apakah aku terlihat seperti wanita penggoda?mengapa ini harus terjadi? Nidia.. lihatlah dirimu, kamu dipandang hina oleh seorang pria sekarang

suasana buruk hatinya perlahan mereda saat sudah berdiri agak lama didapur, mungkin karena diapun sudah sempat meluapkan emosinya lewat airmata, maka dia merasa sudah lebih baik. ditatapnya kopi yang masih berada diatas nampan.

diminum saja.. biar tidak mubazir ujar Nidia sambil mengambil cangkir itu. dia menyesap kopinya yang masih hangat. rasanya sangat enak.. sayang kalau dibuang. mungkin memang ini rezekiku..

"mana kopinya?"suara serak Haikal terdengar dibelakang Nidia membuat gadis itu terkejut. dia berbalik masih dengan cangkir kopi ditangannya dan mendapati pria itu sudah berdiri dihadapannya, menatapnya dengan ekspresi yang sulit ditebaknya. tatapan Haikal jatuh pada kopi ditangan Nidia, dia bergerak mendekat dan mengambil kopi ditangan Nidia, bersandar dimeja dia mulai meminumnya.

"eh.. pak.. i.. itu, biar saya buatkan yang baru saja"cegah Nidia tapi Haikal sudah terlanjur meminumnya.

"kenapa dengan yang ini? bukankah ini kopi yang mau kamu antar tadi?"

"iyaa.. tapi.."

"kopinya enak.. kenapa harus diganti?"ujar Haikal dan dalam sekali teguk semua kopi itu sudah berpindah keperutnya menyisakan Nidia yang tercengang dihadapannya. "terima kasih.."Haikal meletakkan cangkir diatas meja dan menatap Nidia lembut "kopinya sangat enak.." kemudian pria itu berlalu dari hadapan Nidia yang masih tetap bengong.

keheningan kembali memenuhi ruangan itu,. setelah beberapa saat Nidia mengerjapkan matanya, dia menatap cangkir kosong didepannya, aduuh bagaimana ini? aku belum sempat mengatakan bahwa kopinya sudah ku minum tapi pak Haikal sudah menghabiskannya tak bersisa. bagaimana jika dia tau kalau dia meminum sisa kopiku.. waduuh gawat... gawat Nidia.. apakah aku bakal dipecat..?

Nidia mondar-mandir diruang dapur dengan gelisah, bagaimana bisa kejadiannya begitu sangat cepat.? jelas-jelas dilantai atas pak Haikal menatapnya dengan penuh rasa curiga. dia bahkan juga sangat dingin saat bicara, aku meminumnya karena kupikir pak Haikal tak menyukainya, tapi mengapa dia tiba-tiba berubah pikiran dan menyusulku kedapur? mengambil kopinya dan meminumnya tanpa bertanya? bukankah dia seharusnya curiga melihat cangkir yang sudah tak penuh lagi?

pikirannya benar-benar kacau, dia bahkan menghabiskan malamnya dibalkon kamar, mencoba mencari solusi bagaimana menyampaikan pada pak Haikal soal kopi itu. haruskah dia mengatakannya? bagaimana jika dia marah dan berujung pada pemecatan? bisa jadi pak Haikal akan murka karena sudah meminum kopi sisa orang lain, dia pasti akan sangat malu dan merasa terhina.

apa sebaiknya aku diam saja? toh tak ada yang tau selain aku dan Tuhanku Yang Maha Melihat?

Nidia mendongak menatap langit malam yang penuh dengan gemerlap bintang "maafkan aku Ya Allah, karena tidak mampu berterus terang padanya soal kopi itu. semoga Engkau mengampuniku dan dia memaafkan ku atas keteledoran ku ini" ucap Nidia dengan sedih

1
R7L0v3
👍
anita dyah
keren...sy baca dg serius bab pernikahan scr adat ini..sambil nebak² ini daerah mana sih??
Stlh baca komen²ny, baru tau klo ini adat Sulawesi Utara.
Thor, sedikit saran..utk nama kota/lokasi tdk perlu lah ditulis inisial kota A, daerah B dst...lebih baik ditulis lgsg dg jelas...agar kita sbg pembaca lebih paham..😄😄😄😄
rinny
karya ya luar biasa, walau sudah baca beberapa kali tetap tidak bosan aka ceritanya
TongTji Tea
ya apapun itu kalo benar ,Bapak nya Nidia itu Dajjal .sudah hamilin 2 orang wanita .Lalu seenaknya pergi begitu saja
TongTji Tea
ko jadi begini ya ceritanya? Dari awal ceritanya logis banget,plot nya,intrik nya ,walau lambat tapi masi mengalir ..lha kok tiba2 ...
rahel
Lumayan
Niar Zahniar
semangat brkarya
Memyr 67
ternyata banyak ular betina, di novel ini
Memyr 67
menurut bu saraswati, bela menabrak reyfan sampai reyfan mati. kenapa tidak ada tuntutan untuk bela?
Memyr 67
bela beneran tidak bisa hidup tanpa haikal? atau tanpa hartanya haikal?
Memyr 67
safira sebagai adik cerdas, analisanya tajam, kok kakaknya ceroboh, ngomong nggak liat kondisi
Memyr 67
hiks nyesek
Memyr 67
dah cocok haikal ma nidia. sama sama overthinking ke masinh masing.
Memyr 67
kok aq curiga kalau sopian dijebak teman wanitanya? teman wanitanya yg mungkin sudah hamil, tapi ingin menikmati rumahtangga dengan kekayaan sopian. kekayaan yg dianggapnya bisa mrmbahagiakan dia dan anaknya.
Divi Bilqis
bagus ceritanya
Fardiana Hamsah
Luar biasa
Fita Alfiany
airmata keluar sendiri pas baca proses nadia melahirkan....
masya Allaah....
orang baik maka akan d mudahkan oleh Allaah......
makasi umi.......
jd ingat cerita2 yg dikau buat dulu saat masih SMK.... menjadi penggemar setia yg selalu menunggu kelanjutan kisah dari novel yg d tulis d catatan buku akuntansi mu....
sayang dlu tidak seperti sekarang ya.../Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Mitha Rhaycha: Iya, sekarang sdh lebih banyak peluang untuk menulis, sayang kesibukan membuat jadi jarang buka aplikasi ini lagi😇😇
total 2 replies
Fita Alfiany
keren...
syh 03
Luar biasa
Dewa Hang Kang
sweet 🥰😚
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!