NovelToon NovelToon
TEROR!

TEROR!

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Hantu
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Sinopsis

Sabrina, seorang gadis desa yang cerdas, berhasil meraih impiannya berkuliah di kampus elite ibu kota lewat jalur beasiswa.

Namun, kehidupan barunya yang tampak sempurna hancur berantakan ketika sebuah tragedi tak terduga terjadi: Sabrina nekat melompat dari lantai atas gedung kampus dan tewas seketika.

Kematian tragis tersebut menyisakan tanda tanya besar bagi orang-orang di sekitarnya. Apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok kampus megah itu hingga mendorong Sabrina mengambil langkah se-ekstrem itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal pertemuan..

Enam bulan sebelumnya....

Sinar matahari pagi menembus celah-celah pepohonan rindang yang berjajar di sepanjang selasar utama Universitas Artha Persada (UAP).

Udara masih cukup sejuk, tetapi suasana kampus sudah mulai dipenuhi hilir-mudik mahasiswa yang terburu-buru mengejar kuliah jam pertama.

Di antara deretan mahasiswa itu, Sabrina melangkah setengah berlari. Tangannya mendekap erat tumpukan buku dan modul tebal, mulai dari Manajemen Operasional Hotel, Sanitasi & Hygiene, hingga dua jilid buku Food & Beverage Management, yang tingginya hampir menutupi pandangan mata.

Napasnya tersendat, sementara tali tas punggungnya terus-menerus meluncur turun dari bahu kiri. Dia tergesa-gesa. Namun, persis di belokan dekat perpustakaan pusat UAP, nasib berkata lain.

Seorang pria yang berjalan dari arah berlawanan, tampak tergesa-gesa sambil menatap fokus ke layar ponsel di tangannya, muncul secara mendadak dari balik pilar besar.

Brak!

Benturan keras tak terelakkan. Bahu kokoh pria itu menghantam tubuh Sabrina. Saking kencangnya dorongan tersebut, Sabrina terpental beberapa langkah ke belakang.

Tumpukan buku tebal yang ia pertahankan mati-matian terlepas begitu saja dari pelukannya, melayang bebas sebelum meluncur dan berserakan di atas lantai ubin.

Lembar-lembar catatan selipan modul praktikumnya ikut berhamburan tertiup angin koridor.

"Aduh!" ringis Sabrina, refleks memegang bahunya yang.

Pria itu terhenti mendadak, hampir kehilangan keseimbangan sebelum akhirnya berhasil berdiri tegak kembali.

Pandangannya beralih seketika dari ponsel menuju tumpukan buku yang berserakan di sekitar kaki mereka, lalu terangkat menatap Sabrina dengan raut terkejut.

"Aduh, maaf! Maaf banget, aku benar-benar nggak lihat jalan," ringis pria itu. Ia buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam saku dan langsung berlutut di atas ubin koridor.

Dengan gerakan cepat dan cekatan, jemarinya mengumpulkan lembar-lembar modul yang terancam terbang, lalu merapikan tumpukan buku tebal milik Sabrina.

Tatapan matanya penuh rasa bersalah saat menyerahkan kembali buku-buku itu.

"Kamu nggak apa-apa? Ada yang sakit atau luka?" tanyanya memastikan. Dari pin logo Fakultas Ekonomi dan Bisnis UAP yang tersemat di tali tasnya, terlihat jelas ia adalah seorang senior dari jurusan Manajemen.

Sabrina yang masih memijat bahunya yang agak ngilu menggeleng perlahan, menerima tumpukan buku itu.

"Tidak apa-apa. Cuma kaget saja. Lagipula tumpukan bukuku memang terlalu tinggi. Makasih ya."

Julian tersenyum tipis, merasa lega sekaligus masih merasa bersalah.

"Tetap saja salahku jalan sambil nunduk menatap layar HP. Sebagai gantinya, biar aku bantu bawakan buku-buku tebal ini sampai ke kelasmu. Kamu mau ke gedung mana?"

Sabrina meremas pelan ujung kemejanya, mencoba menutupi debar halus di dadanya. Wajahnya terasa sedikit hangat melihat sikap santun dan perhatian dari senior di hadapannya ini.

"Emm... boleh, kalau tidak merepotkan," sahut Sabrina pelan, malu-malu. Ia menyerahkan separuh tumpukan buku yang paling tebal kepada Julian.

"Aku ada kelas Bu Maya di Gedung B, lantai dua."

Julian tersenyum makin lebar, menyambut tumpukan buku itu dengan mudah.

"Sama sekali nggak merepotkan, kok. Kebetulan aku juga mau ke arah sana."

Mereka berdua mulai berjalan berdampingan melintasi koridor UAP. Langkah kaki Julian yang jangkung sengaja disesuaikan agar tetap selaras dengan langkah Sabrina.

"Kamu anak Manajemen Perhotelan tingkat awal, ya?" tanya Julian membuka percakapan, melihat judul modul yang dibawanya.

"Buku-buku operasional sama standar pelayanan begini biasanya jadi makanan wajib anak Perhotelan."

Sabrina terkekeh pelan, rasa malunya pelan-pelan terkikis oleh keramahan Julian.

"Iya, semester dua." Jawab Sabrina.

"Pantesan," Julian terkekeh pendek.

"Lain kali kalau butuh bantuan bawa barang berat di sekitar kampus, atau kalau butuh koneksi ke anak-anak jurusan Manajemen, cari aja aku. Aku angkatan atas di Manajemen." katanya.

"Oiya, aku Julian." Julian menyebut namanya. memperkenalkan diri pada Sabrina.

"Aku Sabrina." Balas Sabrina.

"Nama yang bagus." puji Julian.

Julian tertawa pelan, suara renyah yang terdengar tulus, mencoba mencairkan kecanggungan yang masih menyelimuti Sabrina.

Sabrina hanya tertunduk malu-malu mendapat pujian itu.

Mereka berjalan bersisian menyusuri selasar panjang menuju Gedung B. Cahaya matahari pagi yang tadi terasa cerah, entah kenapa, terasa sedikit meredup saat mereka memasuki area bayangan pohon-pohon yang berjejer di sepanjang jalan.

"Jadi, semester dua ya?" Julian kembali membuka percakapan, suaranya terdengar lembut namun jelas di telinga Sabrina.

Wajah Sabrina memerah, perpaduan antara malu dan senang karena senior setampan Julian, bisa bersikap begitu ramah padanya.

Ia kembali menunduk sedikit, menyembunyikan senyum tipisnya di balik tumpukan buku yang masih ia dekap.

"Gedung disini lumayan membingungkan, banyak lorong yang mirip." kata Julian.

"Iya," Sabrina mengangguk paham.

Mereka terus berjalan, melewati pintu-pintu kelas yang tertutup rapat. Dari dalam, terdengar suara dosen yang sedang mengajar, diselingi tawa pelan mahasiswa.

​Mereka menaiki anak tangga satu per satu menuju lantai dua Gedung B. Sesampainya di atas, Julian menghentikan langkah dan menoleh.

"Nah, kita sudah di lantai dua. Kelas Bu Maya ruang berapa tadi?"

​"Ruang 204, di ujung lorong sebelah kiri," tunjuk Sabrina halus.

​Mereka berjalan beberapa meter lagi hingga akhirnya berhenti tepat di depan pintu kayu bernomor 204. Dari balik panel kaca pintu, terlihat Bu Maya belum hadir, tetapi beberapa teman seangkatan Sabrina sudah mulai memenuhi bangku kelas.

​Julian mengulurkan tumpukan modul Manajemen Operasional Hotel milik Sabrina dengan sangat hati-hati. Ujung jemari mereka sempat bersentuhan singkat saat Sabrina menyambut buku-buku tersebut, menyalurkan sentuhan hangat yang membuat debar di dada Sabrina kembali berpacu.

​"Ini bukunya. Pas ya, nggak ada yang tertinggal atau lecek," ujar Julian seraya tersenyum manis, mengusap pelan bagian belakang lehernya.

​"Makasih banyak ya. Benar-benar sangat membantu. Maaf juga sudah bikin repot dan terhambat mau antar berkas," balas Sabrina tulus, memeluk erat seluruh modulnya.

​"Sama sekali nggak merepotkan. Justru aku yang harusnya minta maaf karena tadi jalan sambil lihat HP," jawab Julian ramah.

"Ya sudah, masuk sana. Semoga kuliahnya lancar ya, Sabrina. Sampai ketemu lagi di sekitaran UAP."

​Julian mengedipkan sebelah matanya jahil sebelum akhirnya berbalik, berjalan santai menyusuri selasar Gedung B dengan langkah tegapnya.

Sabrina berdiri mematung sejenak di depan pintu, menatap punggung seniornya yang perlahan menjauh dan menghilang di belokan lorong, meninggalkan simpul senyum manis yang enggan pudar dari wajahnya.

1
Nurr Tika
apa teman"julian ada hubunganya dengan kematian sabrina
Nurr Tika
julian km ga akan hidup tenang
Nurr Tika
kayanya sabrina hamil terus julian ga mau tanggung jawab
Nurr Tika
nanti km menyesal sabrina
Nurr Tika
sabrina knpa langsung suka sih harusnya selidiki dulu
Nurr Tika
ternyata julian palayboy
Siti Yatmi
nah kan..bener 1 lagi test pack menghancurkan wanita bodoh....sabrina kamu sadar ga sih...kamu itu cinta bukan budak nafsu, setiap ketemu ko pasti anu2..ya hamil lah...
Siti Yatmi
test pack.....jawaban yg selalu membuat hancur wanita bodoh....
Siti Yatmi
ya Tuhan sabrina..kasian banget kamu, terlalu naif kamu jd cwe....
Siti Yatmi
nah..kan hamidun...deh...hadehhh..sabrina oon amat sih..ga selamanya itu pil bisa cegah kehamilan...astogeeeee....
Siti Yatmi
masih abu2 sementara..menerka nerka...😄
Siti Yatmi
ya Tuhan sabrina..lo mah bukan polos, tapi begoooo....pacaran aja belom lama, udh mau aja di anu anu..haduhh
Siti Yatmi
hadehhh .julian....kamu mah bukan cinta, tapi nafsu....harus nya sabrina jgn mau...
Siti Yatmi
ngga ada caption nya thor..🤣
Siti Yatmi
thor...itu flash back kah???sumpah..ga mudeng aku...😄
Maple latte: iya itu flashback🤭 aduhh🤣
total 1 replies
Siti Yatmi
kaya lagu kotak...🤭
Siti Yatmi
masih teka teki banget..hemmmm...ayo thor...jadi penasaran tingkat dewa...wk2
Maple latte: 🥰🥰 Sabar ya, pelan2 aja🤭
total 1 replies
Siti Yatmi
ya ampun julian....org mah ikut kata hati, bukan kata temen, ya kali temen lu mati, lu juga ikut..dablek banget ih...
Siti Yatmi
kaya nya julian cinta sama sabrina,tapi ego nya terlalu tinggi, kasian sabrina ..
Riska Salahudin
masih penasaran apa yg membuat sabrina bundir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!