Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.
Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.
#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Dentuman di Persimpangan
Hujan lebat yang mengguyur ibu kota sejak siang belum juga mereda, menyisakan genangan pekat dan jarak pandang yang sangat terbatas di setiap sudut jalan raya. Di dalam taksi daring beraroma kopi basah itu, Kirana duduk termenung dengan tatapan kosong menatap ke luar jendela. Pikirannya melayang jauh pada rasa hampa yang baru saja ia rasakan di lobi *Pratama Tower*—pada kata-kata tajam Sinta dan pengabaian yang begitu telak.
Di dalam rongga perutnya, sensasi mual ringan yang sempat ia abaikan tadi siang mendadak berubah menjadi kram tajam yang merayap perlahan. Kirana reflek merapatkan jemarinya di atas mantel krem yang membalut tubuhnya, mengelus perutnya yang baru memasuki usia tiga bulan dengan tangan yang gemetar.
*Sabar ya, Nak... sebentar lagi kita sampai rumah,* batin Kirana lirih, mencoba menenangkan debar jantungnya sendiri yang terasa tidak beraturan.
Pengemudi taksi di depan tampak memutar setir dengan sangathati-hati, membelah kepadatan lalu lintas sore menjelang petang di sebuah persimpangan besar yang dikelilingi gedung-gedung tinggi. Lampu *traffic light* di depan tampak berpendar kuning redup menembus tirai air hujan yang turun tanpa ampun.
Namun, dari arah lajur berlawanan, sebuah truk kargo bermuatan berat melaju dengan kecepatan tinggi, seolah kehilangan kendali akibat jalanan yang licin dan rem yang tidak berfungsi sempurna di tengah badai. Pengemudi truk itu membunyikan klakson panjang yang memekakkan telinga, melengking tajam memecah deru air hujan.
"Ya Tuhan!" pekik pengemudi taksi kaget, langsung membanting setir ke arah kanan secara refleks.
*SKRREEEET—DARRR!*
Waktu seolah berjalan lambat bagi Kirana. Dalam sepersekian detik yang terasa begitu abadi, bagian samping mobil taksi tempat ia duduk dihantam secara telak oleh bodi depan truk yang besar. Dentuman keras itu mengguncang kabin dengan kekuatan luar biasa, menghancurkan kaca jendela kaca samping berkeping-keping dan meremukkan logam kendaraan hingga tak berwujud.
Tas kanvas tahan air yang ia dekap terlepas dari pelukannya. Rantang susun empat berukuran sedang di dalamnya terpental keluar, menghantam lantai mobil yang berserakan, sementara tutupnya terlepas dan isi *goulash* daging sapi berempah tumpah ruah bercampur pecahan kaca serta genangan air hujan yang keruh.
Di dalam kabin yang kini ringsek parah dan berbau bensin, tubuh Kirana terempas keras ke sisi pintu yang hancur.
Sebuah rasa sakit yang teramat sangat, tajam, dan belum pernah ia rasakan sebelumnya langsung menghantam perut bagian bawahnya. Seketika itu juga, dunia di sekeliling Kirana berputar hebat. Napasnya tersengal pendek, udara seolah lenyap dari paru-parunya.
Dengan pandangan yang mulai mengabur dan buram oleh air mata serta tetesan darah segar yang mengalir hangat dari pelipisnya, Kirana merasakan sesuatu yang jauh lebih berharga sedang terenggut darinya secara paksa. Ia meraba perutnya yang basah oleh cairan merah pekat—bukan lagi sekadar rasa kram, melainkan sebuah kehancuran mutlak dari kehidupan rapuh yang selama ini ia coba lindungi dengan segenap sisa cintanya.
"Anak...ku..." lirih suara Kirana tercekat di tenggorokan, sangat lemah tertelan oleh deru hujan badai di luar.
Sebelum kesadarannya benar-benar tenggelam dalam kegelapan pekat, bayangan wajah Arka yang dingin melintas di benaknya untuk terakhir kalinya. Sirene ambulans mulai terdengar menderu dari kejauhan, menyayat keheningan sore yang berdarah, menandai awal dari keruntuhan total seluruh dunia dan kepribadian lama seorang Kirana Pratama.