Kehidupan seorang pengacara tampan yang sukses dan termuda begitu banyaknya rintangan untuk menghadirkan buah hatinya. Setelah sang istri mengalami keguguran dan hampir meninggal, membuat pria itu trauma untuk memiliki anak lagi.
Dan setelah banyaknya rintangan yang kedua pasangan itu lewati akhirnya Tuhan memberikan buah hati yang tidak terduga. Keluarga Syein begitu lengkap dengan hadirnya penerus keluarga Syein Biglous yang kembar tiga.
Bagaimanakah nasib Jeerewat ketika ia melewati masa-masa kehamilan yang di kelilingi dengan keluarga yang sangat posesif padanya ?
Apakah kehidupan mereka akan tetap bahagia kedepannya atau sebaliknya, silahkan simak cerita ini yah.
Cerita ini adalah lanjutan dari cerita "Istri Seksi Milik Pengacara Tampan".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nostalgia
"Hey berhentilah! bukankah kita akan pergi berpacaran hari ini?" Jee yang segera menahan bibir suaminya dengan telapak tangannya membuat Alfy tersadar dan menghentikan keinginannya.
Mereka pun keluar dari kamarnya dan bertemu dengan para orangtua di lantai bawah. Alfy dan Jee kini sudah ingin pergi pergi dari rumah. Mereka meninggalkan ketiga anaknya di rumah. "Kalian mau kemana?" tanya Tuan Reindra penasaran.
Alfy yang bergandengan tangan dengan istrinya segera menghentikan langkah mereka. Jee tersenyum pada orangtua di depannya sedangkan Alfy mendengus pelan.
"Yang jelas bisa membuat Papi dan Papah senang bisa bermain dengan ketiga anakku." jawab Alfy ketus
Jee yang mendengar ucapan suaminya seketika menyenggol kasar lengan suaminya. "Hus kau ini mengapa bicara seperti itu?" ucap Jee yang setengah berbisik di telinga sang suami.
"Yasudah kemana pun kalian pergi hati-hati yah, pulangnya lama-lama saja." ucap Tuan Indrawan yang tertawa lebar.
Alfy dan Jee kini berpamitan pergi dan masuk ke mobil, perjalanan mereka kini di temani oleh Pak Deni yang selalu mengantar kemana pun Jee pergi.
Di jalan Jee dan Alfy tampak menikmati suasana perjalanan yang semakin sepi mendekati tempat tujuan mereka. Keduanya begitu rindu dengan suasana mereka awal pernikahan rasanya sudah sangat lama tidak menghabiskan waktu berdua seperti ini.
"Terimakasih yah sudah memberikan ku waktu seperti ini lagi." ucap Jee memeluk lengan suaminya dan tersenyum.
"Jangan bilang terimakasih, aku juga sangat menantikan waktu seperti ini, Sayang." jawab Alfy yang megusap lembut rambut istrinya.
Sambil beberapa kali tangan Alfy memeriksa baju istrinya. "Ada apa?" tanya Jee bingung.
"Tidak, aku hanya memastikan jika pakaianmu yang wajar-wajar saja." jawab Alfy.
"Oh...kirain ada apa."
Beberapa lama perjalanan tanpa sadar membuat Jee terlelap begitu nyenyak. Wajah cantik itu menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Alfy yang melihat Jee tertidur segera menurunkan kepala itu hingga mendarat di pangkuannya.
Matanya tersenyum melihat wajah Jee yang begitu meneduhkan hatinya. Alfy terus menggerakkan tangannya lembut membelai rambut panjang Jee.
***
"Pah, mau kemana? jangan berlari seperti itu bahaya." ucap Nyonya Syein yang khawatir melihat tingkah Tuan Reindra menaiki anak tangga sanga lajunya seraya mengikuti dari bawah.
Tuan Indrawan yang mendengar suara girang Tuan Reindra segera ikut menyusul naik tangga hingga mendahului Nyonya Syein. Kedua pria itu segera membuka pintu kamar dengan tidak sabarannya hinggan Bi Ria dan ketiga bayi itu terkejut.
"Tuh kan, ini gara-gara kalian berdua mereka menangis." ucap Nyonya Syein yang baru saja tiba di depan kamar.
Tuan Reindra dan Tuan Indrawan kebingungan mengambil yang mana karena ketiganya sama-sama menangis begitu kencang.
"Mah, bantuin dong." ucap Tuan Reindra yang meminta Nyonya Syein.
Kini wanita itu masuk ke kamar cucunya dan mengambil cucu perempuannya karena kedua cucu prianya sudah berada di gendongan kakeknya. Nyonya Syein yang sukses mendiamkan sangat cepat cucunya semakin membuat kedua pria itu iri.
"Mah, gimana caranya kok bisa cepat diamnya?" tanya Tuan Reindra pada sang istri.
"Makanya pakai hati, Pah." jawab ketus Nyonya Syein yang kesal dengan ulah suaminya dan sahabatnya itu.
"Yasudah kalau begitu Mamah diamkan dulu Alfathir, biar Aliza Papah yang gendong." Tuan Reindra segera mengambil tubuh cucunya yang sudah terdiam sementara Nyonya Syein yang tidak sampai hati akhirnya menggendong cucunya yang menangis di atas tempat tidurnya.
Beberapa menit pun berlalu, suara kedua cucu mereka sudah tak bergeming tinggal satu cucu lagi yang masih terus meronta dan menangis. Yah Alfaiz yang saat ini berada di gendongan Tuan Indrawan masih berusaha di tenangkan tapi belum juga menghentikan tangisannya.
"Hehehe boleh aku minta tolong?" tanya Tuan Indrawan yang tertawa sungkan pada istri sahabatnya.
Nyonya Syein hanya menghela nafasnya kasarnya ia segera menukar kembali bayi yang berada di gendongannya dengan bayi yang berada di gendongan sahabatnya.
"Lain kali, siapa yang membuatnya menangis ia harus bertanggung jawab untuk mendiamkannya." ucap Nyonya Syein yang memberikan peringatan pada dua pria itu.
Tuan Reindra dan Tuan Indrawan hanya terdiam tanpa perlawanan. Mereka sadar semua memang kesalahannya namun entah mengapa selalu saja sikap mereka tidak bisa di kendalikan jika hal itu menyangkut ketiga cucunya.
"Yasudah sepertinya kita harus ikut les khusus anak bayi." Suara Tuan Reindra terdengar mengagetkan wajah Nyonya Syein dan juga Bi Ria.
"Pah, berhentilah bertingkah aneh seperti itu. Tidak ada seorang kakek yang melakukan hal seperti itu." sahut Nyonya Syein.
"Habis Mamah begitu sih." bantah Tuan Reindra.
"Padahal yang usaha begitu keras untuk dapat cucu kan Papah sejak awal." lanjut Tuan Reindra lagi.
Nyonya Syein yang enggan berdebat dengan suaminya akhirnya memilih untuk mengalah saja. "Iya-iya, Pah."
Ketiga cucu itu pun sudah berdiam dengan suara yang masih tidak jelas.
***
"Sayang, sudah sampai. Ayo bangunlah." Suara Alfy beberapa kali menepuk-nepuk lembut wajah Jee yang sudah mengalirkan salivahnya.
"Emmm..." Terdengar beberapa kali Jee membungkam mulutnya.
Seketika matanya melotot tak percaya merasakan ada benda cair yang tersentuh dengan punggung tangannya. "Astaga." Jee langsung beranjak dari tidurnya seraya mengelap kasarn ujung bibirnya.
Alfy tertawa menggelengkan kepalanya. "Ada apa? kau malu padaku?" tanyanya menggoda Jee.
"Sayang, kau ini mengapa tidak mencegahku? lihatlah celanamu jadi terkena kan ini sungguh menjijikkan." ucap Jee yang segera meraih tisu di mobil depannya.
Pak Deni yang tanpa sengaja mendengar percakapan Alfy dan Jee seketika meneguk kasar tenggorokannya yang kering. "Hah, apa yang Tuan dan Nyonya lakukan di belakang? mengapa mereka sampai membahas basah-basah segala? astaga apa yang kau fikirkan ini sih?" gumam Pak Deni yang mulai berprasangka jorok.
"Ayolah ini hal biasa mengapa kau jadi membesar-besarkannya, Sayang? aku saja tidak marah padamu." sahut Alfy seraya menahan tawanya.
Jee yang baru saja ingin kembali bersuara terdiam saat merasakan bibirnya yang sudah tertutup dengan bibir suaminya.
"Ayo turun." ajak Alfy yang sudah melepaskan lum*tan bibirnya.
Jee hanya menunduk saja tanpa suara rasanya ia benar-benar tidak terima bisa terlihat menjijikkan di depan suaminya ini. Alfy sudah menggenggam tangan istrinya dan berlari mengajak Jee ke dasar pantai. Pak Deni yang sudah selesai tugasnya kini menselonjorkan tubuhnya di kursi mobil dan menikmati tidur panjangnya.
"Taraaaa...kau suka?" Suara Alfy yang membuat Jee tak bisa berkata-kata lagi.
Suasana pantai yang terlihat seperti penataan mereka yang berlibur di pulau hari itu benar-benar membuat Jee kembali merasakan masa awal bulan madu mereka. Mata indah itu terpancar dengan hiasan linangan air mata. Jee membungkam mulutnya tak menyangka seketika wanita itu berlari mendekat pada Alfy.
Ia meloncat meminta gendongan pada Alfy dan Alfy pun segera meraih tubuh istrinya lalu berputar dengan tawa bahagia dari kedua mulut mereka. Semua yang berada di bibir pantai itu ikut merasakan kebahagiaan pasangan di ujung sana.
Mereka manatap tersenyum dan penuh kekaguman pada Alfy dan Jee yang seakan tidak menganggap pengunjung itu ada. Serasa dunia begitu sepi dan hanya mereka berdualah penghuni tempat indah itu.
dengerin novel ini aja bisa nangis anjai
sedih banget menusuk hati kepergian jee
ya ampunn
jee
plis bikin prart ke 3 jee
bikin sakit keritis dan sembuh kembali aja
gak rela jee meningal ya tuhan