NovelToon NovelToon
Istriku Meminjamkanku, Aku Malah Jatuh Cinta pada Sahabatnya

Istriku Meminjamkanku, Aku Malah Jatuh Cinta pada Sahabatnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: Rangga Aditama

Demi uang Rp 2 miliar, Karina menceraikanku dan "meminjamkanku" untuk menikahi sahabatnya. Aku pikir hidupku hancur—ternyata pernikahan itu justru menyeretku pada wanita yang diam-diam mencintaiku selama 17 tahun.

Arya Wibowo, karyawan biasa yang baru kena PHK, tiga tahun jadi suami yang diperas habis-habisan. Ketika mantan istrinya, Karina, dengan enteng menukar pernikahan mereka demi uang, Arya memilih pergi tanpa menoleh. Yang tak ia duga, "istri kontrak"-nya, Anindya Kusuma, adalah pewaris tunggal Grup Kusuma—kerajaan asuransi bernilai puluhan triliun—dan gadis yang sudah memendam cinta padanya sejak umur sepuluh tahun.
>
Saat Karina akhirnya menyesal dan merengek minta rujuk, Arya cuma tersenyum: "Cerai kamu yang minta. Sekarang mau balik? Nggak akan pernah." Dari pria yang dulu dihina "nggak berguna", Arya bangkit dengan tangannya sendiri—sementara satu per satu kebohongan Karina terbongkar di depan umum, dan karma datang menjemput.

Vila mewah, mobil belasan miliar, cinta yang tulus, dan pembalasan yang manis. Tapi Karina belum menyerah—dua bulan lagi, katanya, ia akan membongkar semuanya ke internet…

Siapa sebenarnya yang akan menyesal seumur hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Aditama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23 — Nggak Ada Hak Kamu Teriak-teriak

Di rumah sederhana keluarga Wibowo, Pak Warno sedang memperbaiki gagang kursi ketika ponselnya berbunyi.

Nama Pak Suryanto muncul di layar.

Bu Lastri yang sedang melipat pakaian langsung berhenti. "Ayahnya Karina?"

Pak Warno mengangguk. Sejak mendengar perceraian putranya, mereka tidak pernah lagi berhubungan dengan keluarga itu.

Ia menerima panggilan. "Assalamualaikum."

"Pak Warno, kamu masih bisa mengucapkan salam setelah anakmu memperlakukan putri saya seperti sampah?"

Pak Warno menurunkan ponsel dan mengaktifkan pengeras suara agar istrinya ikut mendengar.

"Waalaikumsalam juga, Pak Suryanto," jawabnya. "Sekarang katakan masalahnya tanpa berteriak."

"Masalahnya Arya! Suruh dia datang ke rumah Karina, minta maaf, dan bertanggung jawab."

"Bertanggung jawab atas apa?"

"Dia meninggalkan istrinya yang sedang hamil."

Bu Lastri menatap suaminya kaget. Mereka sudah tahu Karina mengaku hamil dari telepon Arya, tetapi mendengar keluarga itu menggunakannya sebagai tuduhan tetap membuat dadanya panas.

Pak Warno meletakkan obeng di meja. "Pertama, Karina bukan lagi istri Arya. Kedua, bukankah putrimu sendiri yang meminta cerai?"

"Karina melakukan kesalahan karena emosi. Sebagai suami, Arya seharusnya menahannya."

"Ketika anakmu merendahkan pekerjaan dan keluarga kami, kamu menyebutnya jujur. Ketika dia meminta cerai, kamu menyebutnya emosi. Semua kesalahan selalu punya nama baru kalau dilakukan Karina, ya?"

Pak Suryanto terdiam sebentar, lalu suaranya kembali meninggi. "Jangan putar balik. Ada cucu di dalam perutnya!"

"Kalau itu benar cucu kami, Arya akan bertanggung jawab setelah tes DNA."

"Kamu ikut menuduh putri saya?"

"Saya tidak menuduh. Saya meminta bukti atas tuntutan yang akan berlaku seumur hidup."

Bu Marni ikut berteriak dari seberang. "Pak Warno, kami dulu menerima anakmu meski tidak punya apa-apa! Sekarang setelah dapat perempuan kaya, kalian semua menjadi sombong!"

Bu Lastri hendak menjawab, tetapi Pak Warno mengangkat tangan. Ia mengambil ponsel dan mendekatkannya.

"Dengar baik-baik," katanya. "Tidak ada hak kamu teriak-teriak kepada saya atau istri saya."

Nada tegas itu membuat Bu Marni langsung diam.

Pak Warno bukan orang berada. Selama bertahun-tahun, ia sering merendahkan suara di depan keluarga Karina karena takut putranya dipersulit. Namun, Arya sudah keluar dari rumah itu. Tidak ada lagi yang harus ia lindungi dengan cara menelan penghinaan.

"Kami tidak pernah meminta putrimu menerima Arya," lanjutnya. "Mereka menikah karena saling memilih. Kalau sekarang pilihan itu berakhir atas permintaan Karina, jangan datang menagih rasa terima kasih."

Pak Suryanto berkata, "Lalu biaya operasi saya bagaimana? Arya menolak memberi dua ratus juta."

"Apa hubungannya operasi Bapak dengan Arya?"

"Saya mantan mertuanya!"

"Tepat. Mantan."

Satu kata itu membuat Bu Lastri menutup mulut agar tidak tertawa pahit.

Pak Suryanto batuk beberapa kali. "Saya sakit kanker. Kalau terlambat operasi, akibatnya bisa fatal. Apa kalian tidak punya hati?"

Pak Warno menatap tangannya yang kasar. Untuk melunasi sebagian utang pesta pernikahan Arya, keluarga mereka pernah menjual gelang Bu Lastri. Saat itu keluarga Karina tetap menuntut acara besar agar tidak malu kepada tetangga.

"Saya turut prihatin atas penyakit Bapak," katanya. "Tapi Karina baru menerima satu miliar. Mengapa anak kandung Bapak tidak memakai uangnya, sementara mantan menantu dituntut membayar?"

"Uang itu untuk masa depan Karina dan bayinya."

"Kalau begitu, kesehatan ayahnya bukan bagian masa depan yang penting?"

Tidak ada jawaban.

Bu Lastri akhirnya ikut bicara. "Selama menikah, Arya mengirim uang untuk obat, tiket, dan perbaikan rumah kalian. Pernahkah kalian bertanya apakah anak saya masih bisa makan?"

"Jangan menghitung pemberian!" bentak Bu Marni.

"Kalian yang pertama menghitung jasa," balas Bu Lastri. "Kami hanya mengingatkan bahwa timbangannya tidak pernah seimbang."

Di Griya Asri, Karina duduk dengan kompres di kaki. Ia mendengar kedua orang tua Arya yang dulu selalu lembut kini membongkar semua hal yang tidak pernah dipikirkannya.

Uang obat ayahnya memang sering datang dari Arya.

Tiket pulang-pergi juga dibeli Arya.

Bahkan ketika ibunya meminta renovasi dapur, Arya mengambil pekerjaan tambahan selama dua bulan. Karina saat itu hanya mengeluh karena suaminya jarang mengajaknya keluar.

"Pak Warno," kata Pak Suryanto dengan nada lebih rendah, "kita selesaikan sebagai keluarga. Suruh Arya menceraikan Anindya dan rujuk dengan Karina. Kasihan anak mereka."

"Tidak."

"Kamu ayahnya! Kamu bisa memerintah dia."

"Saya ayahnya, bukan pemilik hidupnya. Saya pernah terlalu sering menyuruh dia mengalah demi menjaga rumah tangga. Akibatnya, dia mengira diperlakukan buruk adalah kewajiban suami. Saya tidak akan mengulangi kesalahan itu."

Bu Lastri menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Kalimat tersebut juga merupakan pengakuan atas rasa bersalah mereka sendiri.

Pak Warno melanjutkan, "Arya sudah menikah sah dengan Anindya. Kami belum mengenal menantu baru kami, tetapi kami tidak akan menyuruh anak kami merusak pernikahannya untuk memperbaiki penyesalan mantan istri."

"Jadi kalian membuang cucu?"

"Saya ulangi sekali saja. Setelah lahir, tes DNA resmi. Kalau anak itu darah Arya, kami menerima dan menyayanginya. Anak tidak bersalah. Tetapi menerima anak bukan berarti menerima kembali ibunya sebagai istri."

Karina menegang. Bahkan jalan melalui kakek-nenek calon bayi telah tertutup.

"Kalau hasil tes membuktikan anak itu bukan darah Arya," kata Pak Warno, "jangan pernah lagi bawa nama keluarga kami untuk menutupi kesalahan siapa pun."

Ponsel di tangan Karina hampir terlepas.

Bu Marni ingin membalas, tetapi Pak Suryanto mendadak meringis sambil memegang perut. Ia terbatuk dan menunduk.

"Pak!" Karina segera mendekat.

Pak Warno mendengar kepanikan dari seberang. "Bawa beliau ke rumah sakit. Jangan habiskan waktu menelepon orang yang tidak punya kewajiban medis."

"Kalian akan menyesal!" teriak Bu Marni.

"Yang kami sesali hanya karena terlalu lama membiarkan Arya menanggung semuanya sendiri."

Pak Warno memutus sambungan.

Di rumah keluarga Wibowo, Bu Lastri mengembuskan napas panjang. "Kamu berubah."

"Bukan berubah," jawab suaminya. "Aku hanya akhirnya berdiri di sisi anak kita."

Bu Lastri duduk di sampingnya. "Kita telepon Arya?"

Pak Warno menggeleng. "Nanti. Jangan sampai dia mengira kita menelepon karena ingin memastikan dia kuat. Kita percaya dia."

"Aku ingin bertemu Anindya."

"Aku juga. Tapi biarkan Arya memilih waktunya. Menantu baru kita sudah berdiri di sisinya saat kita belum bisa. Setidaknya kita jangan menambah beban mereka."

Bu Lastri mengambil kembali pakaian yang belum selesai dilipat. Di antara tumpukan itu terdapat kemeja lama Arya yang tertinggal sejak sebelum menikah. Dulu ia selalu berdoa agar putranya sabar menjaga rumah tangga. Kini doanya berubah.

Ia berharap Arya berani menjaga kebahagiaannya sendiri.

Sementara itu, di Griya Asri, Karina membantu ayahnya berbaring. Tidak ada uang dari Arya. Tidak ada perintah dari orang tuanya yang mampu memanggil pria itu pulang.

Mereka harus mengurus operasi dengan sumber daya sendiri.

Dan untuk pertama kalinya, dua keluarga yang selama ini terikat oleh pengorbanan Arya benar-benar terpisah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!