Lima tahun mencintai Hansen diam-diam membuat Jihan langsung menerima saat mereka dijodohkan. Hansen pun terpaksa menikahi Jihan karena merasa bertanggung jawab atas kecelakaan yang membuat kaki Jihan cacat.
Atas permintaan Hansen, pernikahan mereka disembunyikan. Selama sepuluh tahun, Jihan menjalani perannya sebagai istri tanpa pernah menuntut cinta dari Hansen yang selalu bersikap dingin.
Namun semuanya berubah ketika putra mereka yang berusia sembilan tahun mengatakan bahwa ia malu memiliki ibu yang pincang.
Hati Jihan hancur.
Di saat yang sama, Hansen mengaku sudah lelah dengan pernikahan pura-pura mereka dan mengajak Jihan bercerai.
Jihan hanya terdiam.
Tanpa air mata, tanpa protes, dan tanpa memohon agar Hansen tetap bersamanya.
Karena kali ini, Jihan memilih berhenti mencintai pria yang tak pernah benar-benar menginginkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lebih Menyakitkan Dari Perceraian
Di restoran tempat mereka hendak makan, susah ada Raka yang baru saja pulang sekolah. Raka berada di tempat itu di antar oleh sopir perusahaan atas perintah Hansen tentunya.
"Sudah lama sampainya, Nak?" tanya Jihan dengan senyum lembutnya.
"Belum lama, Bun. Baru lima menit yang lalu." Raka mengulurkan tangannya, menyambut ulan tangan ibunya dan ayahnya bergantian. Salam santun ia persembahkan untuk kedua orang tuanya.
"Mau makan apa?" tanya Hansen sesaat setelah mereka bertiga sama sama duduk.
"Seperti biasa saja, Pi." Raka tak membuka menu makanan itu sama sekali, karena ia tau sang ayah susah tau apa yang ia inginkan. Sedangkan Jihan hanya bisa diam dan merasa kurang nyaman, karena selama sepuluh tahun bersama mereka mampir tidak pernah makan bersama di luar rumah.
"Kamu mau apa, Bun?" tanya Hansen pada Jihan.
"Samain saja," jawabnya lembut. Jujur sebenarnya Jihan tak tau harus jawab apa, karena makan di restoran bersama suami dan anak ini adalah pengalaman pertamanya.
Setelah memilih menu, Hansen pun segera memanggil pramusaji dan segera memesan makanan yang di pilih oleh anak dan juga mantan istrinya.
Sembari menunggu makanan siap, Jihan pamit ke toilet dan di meja makan Hansen pun akhirnya mengajak Raka berbincang soal perceraian antara dia dan ibunya.
"Raka, apa kamu marah andai Papi sama bunda berpisah?" tanya Hansen, tiba-tiba.
"Nggak, ngapain marah, Papi berhak bahagia, Pi. Kalo Papi nggak bahagia sama bunda, untuk apa dipertahankan. Raka bisa ngerti kok," jawab Raka, terlihat santai. Tak ada rasa sedih sedikitpun membuat Hansen heran.
"Kok kamu ngomong begitu? Dari mana pemikiran aneh itu?" Hansen tak menyangka kalo sang putra bisa berkata demikian, sedangkan selama ini dirinya tak pernah berkata apapun soal pernikahan ini.
"Raka tau alasan Papi jarang pulang ke rumah. Raka juga paham kenapa Papi nggak pernah ngajak bunda jalan. Pasti Papi malu kan punya istri pincang," jawab Raka, spontan.
Hansen terdiam. Tak menyangka jika sang putra selama ini memerhatikan sikapnya terhadap istrinya. Hansen benar-benar tidak menyangka kalo sang putra bisa berpikir sejauh itu.
"Raka... sikap Papi terhadap bundamu nggak ada hubungannya dengan fisik beliau, Papi harap kamu jangan punya pikiran seburuk itu."
"Benarkah? lalu kenapa Papi nggak pernah ajak bunda pergi-pergi. Bahkan untuk sekedar ngobrol pun enggak kan? lalu apa maksudnya itu kalo Papi nggak malu punya istri pincang seperti bunda."
Hansen merasa tertampar dengan ucapan sang putra. Demi Tuhan, selama ini dia tidak pernah punya pikiran sepicik itu terhadap istrinya, namun pada kenyataannya mata telanjang orang lain bisa menilai sepahit itu. Lalu, apakah mungkin Jihan bisa punya pikiran yang sama seperti yang putranya pikirkan. Bahkan sikap cuek, dingin dan angkuhnya selama ini adalah karena malu punya istri pincang.
"Raka, Papi bercerai dengan bundamu bukan karena keadaan fisiknya. Tapi karena alasan lain, Papi harap kamu jangan punya pikiran seperti itu."
"Benarkah? tapi apapun alasan papi, yang jelas papi berhak bahagia. Raka juga ga masalah kok kalo cuma punya Papi. Toh selama ini yang paling berperan dalam hidup Raka juga cuma Papi kan. Bunda itu cuma crewetnya aja, Lama-lama Raka juga malas sama dia."
Hansen tampak sangat terkejut. Sungguh ia tak menyangka dengan apa yang keluar dari mulut sang putra. Entah mengapa ia merasa tak rela ada seseorang yang begitu tidak menghargai Jihan. Ia memang tidak mencintai mantan istrinya itu, tapi meski demikian bukan berarti boleh ada orang yang merendahkan dia. Meskipun itu anaknya.
"Raka, kamu nggak boleh ngomong gitu. Mau bagaimana pun dia ibumu."
"Ibu yang nggak guna. Ibu yang bisanya cuma bikin malu. Papi ngerti nggak kalo Raka malu punya ibu pincang," jawab Raka dengan mata berkaca-kaca. Yang artinya ia sungguh-sungguh dengan perkataannya.
Hansen benar-benar tak menyangka. Tak menyangka kalau sang putra bisa berkata sekasar itu. Namun Hansen juga tidak bisa terlalu memaksa sang putra untuk menerima keadaan ini karena pada kenyataannya dia memang benar-benar tak nyaman dengan keadaan ibunya.
Di detik yang sama ternyata Jihan mendengar semua perbincangan mereka di balik tembok yang menyekat ruang itu dengan lorong untuk menuju toilet.
Air mata Jihan tak mampu ia tahan. Air mata itu mengalir dengan begitu derasnya.
Demi Tuhan, Jihan tak bohong, jika saat ini, di detik ini dunianya benar benar runtuh.
Selama ini sang putra adalah seorang yang ia anggap dunianya, namun dunia itu ternyata tidak bisa menerima kekurangannya. Dunianya itu ternyata sangat malu memiliki dirinya.
Jihan tak bisa berkata apa apa selain menerima. Menerima, bahwa pada kenyataannya orang-orang yang ia cintai itu ternyata menolak dan tak menginginkan dirinya.
Tak ingin Hansen dan Raka mendengar tangisannya, Jihan langsung membekap mulutnya dan kembali ke kamar mandi untuk menuntaskan tangisnya.
Ia tak ingin tangisannya ini dilihat siapapun yang nantinya hanya akan menimbulkan rasa kasihan. Jihan benar-benar tak ingin kehancurannya ini di lihat oleh siapapun.
Bersambung...