WARNING ***
Terdapat kata-**** ***** dan beberapa ****** ******
Ketika kejadian masa lalu membuat seorang gadis yang sedang merayakan ulang tahunnya justru harus kehilangan keluarganya, pembantaian yang terjadi tepat di depan mata seorang gadis kecil yang berusia 5 tahun yang sedang memeluk adik laki-lakinya yang berusia 3 tahun supaya tidak melihat ke jadian mengerikan itu walaupun dia yakin adiknya bisa mendengar suara jeritan dan kesakitan dari orang yang mereka cintai,mereka hanya mampu menangis dalam diam di balik tempat persembunyiannya
Membuat rasa trauma dan rasa takut yang berlebihan muncul di dalam diri gadis itu sampai membentuk jiwa baru yang tinggal bersama raganya
Apakah gadis itu mampu mengendalikan jiwa barunya atau jiwa baru itu lah yang akan menguasai tubuh sang gadis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LEPAS KENDALI.
Rafael yang melihat anak buahnya tumbang bergidik ngeri pasalnya semua anak buahnya kalah dengan seorang perempuan
"Siapa lo sebenarnya" tanya Rafael yang berusaha menutupi rasa takutnya
"Penting buat lo?" Tanya Alluna tersenyum remeh
"Hahahaha gue cuma lucu aja lo anak orang kaya ngapain belain anak yatim-piatu hm? Mau lo mirip kaya sampah masyarakat ini?" Ujar Rafael tanpa sadar memancing iblis dalam tubuh Alluna, dia salah menghina orang yang sangat penting untuk Alluna
Alluna mengepalkan tangannya dan memejamkan matanya menahan amarah dalam tubuhnya
"Oh gue tau atau lo udah di pake sama anak miskin ini, di bayar berapa lo hm" ujar Rafael lagi yang melihat keterdiaman Alluna
Alluna melirik seseorang yang tidak jauh dari tempatnya, memberikan kode untuk membawa Alfin pergi dari lapangan dia tidak mungkin membiarkan adik kesayangannya melihat sisi iblis dalam dirinya
Dia Adalah Rey sepupu Alluna yang telah menjadi adiknya, ini hari pertamanya sekolah dia bahkan menjadi pusat perhatian para kaum hawa tapi bagi Alluna dia juga menjadi babu untuk membantunya menjaga Alfin
Saat Rey hendak meninggalkan lapangan bersama Alfin, suara Rafael menghentikan langkahnya
"He anak baru ngapain lo bawa sampah itu, gue belum selesai bajingan" ujar Rafael yang hendak maju menyerang Rey dan Alfin,, Rey mengepalkan tangannya dia juga akan menyerang Rafael yang telah berani menghina saudaranya
Bughhhhh
Bukan Alfin ataupun Rey yang terkena pukulan melainkan Rafael yang menerima bogeman mentah dari Alluna
Rey segera membawa Alfin saat di kode oleh Alluna
"Lo kenapa belain dia sejauh ini ha? Atau lo juga anak miskin yatim-piatu yang gak jelas orang tuanya tapi pura-pura kaya, iya?" Ujar Rafael berapi-api bahkan dengan sengaja mengeraskan suaranya agar semua siswa mendengarkannya
Bughhhh
Alluna memberikan bogeman terakhir untuk Rafael sebelum akhirnya meninggalkan lapangan, dia butuh sendiri, dirinya sudah tidak terkontrol dia bahkan bisa menyakiti Rafael lebih parah dari ini
"Akh sial kenapa lo maksa keluar bangsat" ujar Alluna berlari meninggalkan lapangan sambil memukul kepalanya hal itu tidak luput dari pandangan Langit yang mengernyitkan alisnya
"Gue pergi dulu lo berdua balik kelas aja" ujar Langit meninggalkan mereka
"Ihh David, Langit kemana " tanya Naumi
"Bukan urusan lo cabe" ujar Arga kembali ke kelas
"ARGA SIALANN" teriak Naumi
Alluna berlari ke rooftop dengan terburu-buru dia bahkan masih memukul kepalanya,, sesampainya di rooftop Alluna mengunci pintunya takut dia benar-benar kehilangan kendali apalagi bayangan adiknya yang berantakan membuat emosinya tidak stabil
"Shit anj*ng"
Bughhhhh
Bughhhhh
Bughhhhh
Alluna memukul tembok Rooftop melampiaskan kemarahannya pada benda mati itu
Sedangkan Langit yang melihat pintu rooftop terkunci segera menendang pintu itu berulang kali sampai
Brakkkk
Pintu terbuka dan Alluna belum menyadari kehadiran Langit
"Lo gila ha" teriak Langit menahan tangan Alluna yang terus memukul tembok padahal tangannya sudah berlumuran darahnya sendiri
Alluna tersenyum miring, dengan gerakan cepat dia mencekik Langit menghimpit tubuh Langit ke tembok
Langit bisa melawannya tapi entah kenapa melihat tatapan berbeda dari mata Alluna membuatnya penasaran lebih jauh dengan gadis ini padahal dia sedang dalam keadaan bahaya sekarang
"Heii apakah ini mainan baruku hm" ujar Alluna tersenyum miring namun penuh kemarahan yang saat ini sudah menguasai tubuh Alluna
"Kembali ke dalam Allana" ujar tegas Alluna
"Ohh ayolah gue sudah gak tahan hm" ujar Alluna mengeratkan cekikan pada Langit
Sedangkan Langit menatap bingung Alluna yang berbicara sendiri, bahkan Langit menahan sakitnya cekikan Alluna yang terasa kuat di lehernya
"Lo bisa bunuh dia sialan" ujar Alluna
Allana tidak memedulikan Alluna dia menatap mata Langit yang mulai memerah,, Langit ikut menatapa mata Alluna yang terasa berbeda
Refleks jari-jari tangan Langit menyentuh mata Allana membuat Allana memejamkan mata sedangkan tangan Langit yang satunya menarik pinggang Alluna untuk lebih dekat dengannya
"T-tenangkan d-diri l-lo" ujar Langit terbata
Alluna masih memejamkan matanya dan menarik napasnya berulang kali
Langit merasakan cekikan di lehernya tidak sekuat tadi, perlahan Alluna membuka matanya menatap mata Langit yang berada di hadapannya sekarang, hal sama di lakukan oleh Langit dia sadar perempuan ini mempunyai dua tatapan berbeda
"Kenapa Allana bisa jinak lebih cepat dengan laki-laki ini" batin Alluna yang bingung dengan Alter egonya yang mudah jinak hanya karna laki-laki asing di depannya ini padahal Allana hanya bisa di taklukkan kalau dia sudah benar-benar menyakiti seseorang maka dia akan tenang
"Lo baik-baik aja hm?" Tanya Langit yang masih betah menatap Alluna yang sedang melamun sambil menatapnya bahkan tangan Langit masih berada di pinggang Alluna
"Hm thanks" ujar Alluna yang sadar dan segera menjauhkan tubuhnya dari Langit dia berniat pergi meninggalkan Rooftop namun tangannya di tarik oleh Langit
"Ikut gue" ujar Langit
Alluna hanya menurut dia sangat lelah sekarang
Ternyata Langit membawanya ke Uks, mendudukkan Alluna di brankar Uks
Karena perawat di Uks sedang tidak ada, Langit segera mengambil kotak P3k untuk mengobati tangan Alluna
"Sini tangan lo" ujar Langit
"Gue bisa sendiri" jawab datar Alluna
"Gak usah keras kepala bisa" tanya Langit yang langsung mengambil tangan Alluna
Langit membersihkan luka Alluna terlebih dahulu sebelum dia memberinya obat bahkan Langit meniup luka Alluna sebelum menutupnya dengan perban
Alluna hanya menatap Langit sejak tadi,, Langit yang merasa dirinya ditatap mengangkat kepalanya sehingga mata mereka bertemu cukup lama
" Lo suka sama dia?" Tanya Langit entah kenapa bibirnya terasa gatal ingin menanyakan itu
Alluna hanya mengangkat alisnya sebelah seolah bertanya
"Hmm yang di bully di lapangan tadi" jawab Langit berusaha menghindari mata Alluna
"Gak" jawab singkat Alluna menatap Langit dan jawaban itu berhasil membuat Langit kembali menatapnnya
"Thanks" ujar Alluna tersenyum sangat kecil dan pergi meninggalkan Langit yang masih diam di tempatnya memandang punggung Alluna
"Kenapa jantung gue detaknya lebih cepat yah, apa gue sakit jantung" ujar Langit yang memegang dadanya
"Argghhh shit kenapa jantung gue" ujar frustasi Langit dan segera pergi ke kelasnya dia harus bertanya ke temannya
Langit sampai ke kelasnya yang ternyata teman-temannya sedang tidur dengan menelungkupkan di meja dia melirik meja Alluna dan ternyata sudah di isi dengan Lisa dan Luna yang sedang bercerita lebih tepatnya Lisa yang berbicara
"Shit jantung gue kenapa detaknya cepat lagi sih" batin Langit yang masih melihat Alluna yang sibuk mendengarkan ocehan Lisa
Brakkkk
Langit menggebrak meja Arga dan David sangat keras
Eh asyuuu
Shit
Umpatan Arga dan David yang kaget
Bukan hanya Arga dan David bahkan seluruh siswa disitu memandang heran Langit
"Yaelah bos bisa pelan gak" kesal David
"Lo kenapa ha" ujar Arga tidak santai,
"Gapapa" jawab Langit tanpa dosa langsung duduk rapi di kursinya karna guru sudah masuk
Naumi yang tadinya ingin mendekati Langit harus mengurungkan niatnya kara guru akan memulai pelajarannya
Ditempat lain...
Rey baru saja keluar dari toilet karna menemani Alfin mengganti pakaiannya bahkan Rey membelikan pakaian baru untuk Alfin padahal Alfin sudah menolaknya namun Rey memaksa
"Terimakasih" ujar Alfin
"Gak usah sungkan ke gue" jawab Rey
"Lo gakpapa" tanya Rey lagi ke Alfin yang di balas anggukan
"Kita sebangku tapi belum kenalan, gue Reyfaldo lo bisa panggil gue Rey" ujar Rey pasalnya dia lebih memilih duduk bersama Alfin membuat yang lain menatap tak suka ke Alfin
"Gue Alfino panggil Alfin aja" ujar Alfin membalas uluran tangan Rey
Kemudian mereka menuju ke kelas karna jam pelajaran terakhir sudah di mulai Dan di pastikan mereka terlambat mengikuti pelajaran