NovelToon NovelToon
SISTEM TUAN TANAH DERMAWAN

SISTEM TUAN TANAH DERMAWAN

Status: tamat
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

NOVEL GAGAL JANGAN DIBACA


Rahman Affandi adalah tuan tanah tua berusia enam puluh delapan tahun yang sangat kikir dan dibenci oleh semua penyewa kontrakannya.

Saat ajalnya tiba-tiba mendekat dan ia sekarat sendirian tanpa keluarga yang peduli, sebuah sistem misterius muncul di kepalanya.

Sistem itu memberinya sisa umur tujuh hari yang hanya bisa diperpanjang jika ia bersedia membahagiakan para penyewanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Satu bulan telah berlalu sejak insiden pembajakan material bangunan.

Bangunan tinggi bercat putih bersih dengan desain minimalis modern itu kini berdiri angkuh tepat di sebelah Kos Putra Putri Melati.

Kos Eksklusif Nusantara Tiga Lantai telah resmi dibuka.

Hari ini adalah hari pertama mereka beroperasi menerima penyewa.

Di teras kosnya, Rahman duduk santai menikmati secangkir kopi hitam.

Matanya yang tajam mengawasi aktivitas di halaman sebelah yang dibatasi oleh pagar besi tinggi.

Terlihat dua orang gadis berseragam SPG sedang membagikan brosur warna-warni kepada orang-orang yang melintas di jalan.

"Diskon gila-gilaan, pembukaan kos elit!"

"Silakan mampir, fasilitas hotel harga merakyat!" teriak salah satu SPG itu dengan suara merdu.

Budi yang baru mau berangkat kerja dengan motornya berhenti di depan gerbang.

Seorang SPG menghampirinya dan menyodorkan selembar brosur.

"Mas, mampir dulu lihat-lihat kamar kos kami."

"Harganya sangat murah loh, Mas," bujuk SPG itu dengan senyum manis.

Budi mengambil brosur itu karena merasa tidak enak menolak.

Matanya langsung membelalak lebar melihat angka yang tertera di kertas tersebut.

"Kos fasilitas AC, WiFi, kamar mandi dalam... cuma lima ratus ribu sebulan?!"

Budi berseru kaget, suaranya terdengar sampai ke telinga Rahman di teras.

Rahman tersedak kopinya.

"Uhuk! Lima ratus ribu katamu?"

Budi segera berlari menghampiri bapak kosnya sambil menunjukkan brosur itu.

"Bapak lihat sendiri ini, Pak."

"Mereka mematok harga lima ratus ribu sebulan untuk bulan pertama."

"Bahkan harga itu jauh lebih murah dari kamar kos kosongan punya bapak yang enam ratus ribu," lapor Budi dengan wajah cemas.

Rahman merebut brosur itu dengan kasar.

Matanya memindai setiap baris tulisan promo yang dicetak tebal dengan warna merah menyala.

"Banting harga sampai tidak masuk akal begini."

"Anton si manajer tengik itu benar-benar mau membunuh bisnisku dalam satu malam," gumam Rahman dengan rahang mengeras.

Ting!

[Peringatan: Serangan predator harga terdeteksi.]

[Pesaing menggunakan taktik Bakar Uang untuk merebut pangsa pasar secara paksa.]

[Misi Jangka Panjang: Pertahankan tingkat hunian 100% Sisa waktu 2 Bulan.]

[Syarat Khusus: Anda DILARANG KERAS menurunkan harga sewa untuk bersaing.]

"Aku tahu, sistem sialan!"

"Menurunkan harga itu pantangan bagiku, meskipun kau tidak melarangnya!" batin Rahman meradang.

Matahari mulai meninggi dan suasana mulai ramai.

Maya baru saja kembali dari warung Mpok Siti membawa sayuran.

Di belakangnya, Rina berjalan sambil menggendong Dimas kecil.

Kedua wanita itu juga memegang brosur yang sama di tangan mereka.

Wajah Rina terlihat sangat murung dan bingung.

"Mbak Rina kenapa sedih begitu?"

"Jangan bilang Mbak Rina tergiur mau pindah ke kos sebelah ya?" tanya Maya sambil menyenggol lengan janda itu.

Rina menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata Rahman yang sedang duduk di teras.

"Bukan begitu, Maya."

"Tapi uang saya bulan ini benar-benar pas-pasan sekali."

"Gaji dari cuci gosok langganan saya dipotong karena majikan saya sedang ke luar kota."

Rina menghela napas panjang menahan tangis.

"Kalau saya pindah ke sebelah, saya bisa berhemat seratus ribu bulan ini."

"Uang seratus ribu itu sangat berarti buat beli susu Dimas," isaknya pelan.

Mendengar pengakuan jujur itu, dada Rahman terasa nyeri.

Ia sadar bahwa ancaman terbesar dari banting harga ini adalah menyasar orang-orang yang memang kesulitan ekonomi seperti Rina.

"Bapak... saya minta maaf sebelumnya."

"Mungkin... bulan depan saya harus pindah ke kos sebelah," ucap Rina dengan suara bergetar karena tidak enak hati.

Suasana di halaman kos mendadak hening.

Budi dan Maya saling pandang dengan tatapan sedih.

Mereka tidak mau Rina pergi, tapi mereka juga tidak bisa memaksa Rina bertahan jika kondisi keuangannya sedang sulit.

Rahman berdiri dari kursi goyangnya perlahan.

Wajahnya sedingin es, namun matanya memancarkan perhitungan tajam.

"Kamu mau pindah ke hotel mewah itu, Rina?"

"Kamu mau menukar kamar bersejarah ini dengan kamar ber-AC yang dingin?" tanya Rahman dengan nada berat.

"Maafkan saya, Pak Rahman."

"Saya sangat berterima kasih atas semua kebaikan bapak, tapi saya terpaksa harus berhemat demi anak saya," jawab Rina tulus.

"Baiklah kalau itu keputusanmu."

"Tapi sebelum kamu membereskan barang-barangmu, ada baiknya kamu periksa dulu otakmu yang mudah ditipu itu."

Rahman langsung menggunakan kata-kata pedasnya.

Rina mendongak kaget.

"Ditipu bagaimana maksud bapak?"

"Kau pikir perusahaan besar mau rugi menyewakan kamar mewah hanya lima ratus ribu sebulan?"

"Itu harga yang bahkan tidak bisa menutupi biaya listrik AC mereka selama sebulan penuh!"

Rahman berjalan mendekati Rina dan merampas brosur dari tangan janda itu.

Ia menunjuk sebuah tulisan yang dicetak sangat kecil, nyaris tidak terlihat, di bagian paling bawah brosur.

"Coba baca tulisan sebesar semut ini keras-keras!" perintah Rahman menempelkan brosur itu ke depan wajah Rina.

Rina menyipitkan matanya berusaha membaca tulisan mikroskopis tersebut.

"S-syarat dan ketentuan berlaku."

"Harga promo hanya untuk sewa bulan pertama."

"Harga normal... satu juta lima ratus ribu rupiah per bulan?" Rina membelalakkan matanya tidak percaya.

"Bukan cuma itu."

"Baca kalimat selanjutnya yang pakai tanda bintang!" desak Rahman.

"Penyewa wajib menandatangani kontrak minimal enam bulan."

"Jika putus kontrak di tengah jalan, penyewa wajib membayar denda pinalti sebesar sisa bulan kontrak yang belum dijalani."

Rina membacakan kalimat itu dengan napas tersengal-sengal.

Budi dan Maya langsung ikut melotot membaca tulisan kecil tersebut.

"Gila! Ini sih perampokan namanya, Pak!"

"Kalau Rina pindah dan bulan kedua harus bayar satu setengah juta, dia bisa bunuh diri!" teriak Budi emosi.

"Dan kalau dia tidak bisa bayar lalu mau pindah lagi ke sini..."

"Dia akan ditagih denda pinalti jutaan rupiah dari perusahaan itu."

"Inilah yang namanya jebakan klausul tersembunyi," Rahman tersenyum sinis, merasa sangat bangga dengan keahliannya sebagai mantan rentenir.

"Trik kuno yang cuma bisa membodohi orang awam."

Rina langsung mundur selangkah, wajahnya pucat pasi menyadari ia hampir saja masuk ke dalam kandang singa.

"Astaga... saya hampir saja membuat hidup anak saya hancur."

"Terima kasih, Pak Rahman, bapak sudah menyelamatkan saya lagi."

Rina membungkuk berkali-kali dengan air mata syukur.

"Jangan menangis di halamanku, bikin lantai kotor saja!"

"Kalau kau masih tidak punya uang seratus ribu untuk bayar sewa kamarku bulan ini..."

"Kau kuberi tugas tambahan membantu Maya mencatat tagihan uang air penyewa lain!"

"Gajimu seratus ribu sebulan, langsung dipotong uang sewa!" putus Rahman cepat.

Rina kembali melongo mendengar solusi instan namun tidak merendahkan itu.

Ia tahu bapak kosnya sengaja membuat pekerjaan fiktif lagi untuk membantunya.

"S-siap Pak Rahman!"

"Saya pasti akan bekerja dengan rajin membantu Maya!" seru Rina dengan senyum yang kembali merekah.

Ting!

[Afeksi penyewa Rina meningkat mencapai batas maksimal.]

[Penyewa Rina tidak akan pernah meninggalkan kos pengguna dalam kondisi apa pun.]

Rahman mengabaikan notifikasi itu dan menoleh ke arah bangunan kos elit di sebelah.

Di lantai dua bangunan itu, Anton sedang berdiri di balkon, tersenyum pongah melihat antrean panjang mahasiswa baru yang mendaftar kosnya.

"Manajer tengik itu pikir dia pintar karena punya modal besar."

"Dia belum tahu berhadapan dengan siapa."

Rahman melipat brosur itu dan memasukkannya ke dalam saku kemejanya.

"Budi, Maya, Dimas!"

"Malam ini kita akan serang balik!" panggil Rahman dengan suara penuh wibawa.

"Serang balik bagaimana, Pak?"

"Kita kan tidak boleh banting harga juga," tanya Maya penasaran.

"Siapa bilang kita mau banting harga?"

"Kita akan pakai cara kotor mereka untuk menghancurkan mereka sendiri."

"Dimas, kau kan pintar main komputer."

"Nanti malam kau cetak brosur tandingan yang ukurannya sepuluh kali lebih besar!" perintah Rahman.

"Siap, Bos!"

"Tulisannya apa, Pak?" Dimas langsung mengeluarkan ponselnya untuk mencatat.

Rahman tersenyum sangat licik, matanya memancarkan aura kelicikan yang mematikan.

"Tulis dengan huruf kapital tebal merah menyala: AWAS JEBAKAN PROMO PALSU!"

"Lalu tuliskan semua klausul denda pinalti dan harga normal mereka dengan ukuran huruf yang paling besar!"

"Kita tempel brosur itu di setiap tiang listrik dan tembok sepanjang jalan masuk gang ini!"

Budi, Maya, dan Dimas saling pandang, lalu tawa mereka meledak bersamaan.

"Hahahaha! Ide bapak ini benar-benar jahat tapi jenius!" puji Budi sambil bertepuk tangan.

"Ini namanya transparansi pasar, bodoh."

"Aku hanya membantu calon penyewa agar tidak terjebak kontrak setan."

"Sekarang bubar! Aku mau tidur siang!"

Rahman segera masuk ke kamarnya, mengakhiri rapat dadakan yang brilian itu.

Malam itu, di bawah kegelapan malam, Budi dan Dimas beraksi seperti ninja.

Mereka menempelkan puluhan poster besar yang dicetak Dimas di setiap sudut jalan menuju kos-kosan.

Keesokan paginya, kekacauan terjadi di depan Kos Eksklusif Nusantara.

Banyak calon penyewa yang tadinya mau mendaftar, tiba-tiba membatalkan niatnya setelah membaca poster "Peringatan" dari Rahman.

Mereka mulai menanyakan tentang klausul enam bulan dan harga normal satu setengah juta kepada para SPG.

Para SPG yang tidak dilatih untuk menjawab pertanyaan kritis itu menjadi kelabakan.

Banyak pelanggan yang akhirnya pergi dengan perasaan tertipu.

Dari balkon lantai dua, Anton melihat kekacauan itu dengan wajah memerah menahan marah.

Ia menoleh ke arah halaman sebelah, di mana Rahman sedang duduk di kursi goyangnya sambil menyeruput kopi.

Rahman mengangkat cangkir kopinya ke arah Anton, tersenyum mengejek seolah bersulang untuk kemenangan paginya.

Brak!

Anton memukul pagar balkon dengan keras.

"Orang tua keparat!"

"Dia berani merusak peluncuran perdana bisnisku?!" geram Anton dengan urat leher menonjol.

Anton segera mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.

"Halo, kumpulkan preman bayaran kita sekarang."

"Malam ini juga, hancurkan semua fasilitas baru di teras orang tua itu!" perintah Anton dengan suara bergetar karena emosi.

Di teras bawah, Rahman masih asyik menikmati kopinya, tidak tahu bahwa bahaya fisik kini sedang mengintainya.

Perang bisnis ini ternyata tidak hanya menggunakan kertas dan brosur, tapi mulai beralih ke jalur kekerasan.

1
REY ASMODEUS
sistemnya pelit kasih hadiahnya bisa gini thor : 1 . peremajaan kulit
2. tulang naga dan jiwa abadi
3. saham di pengembang kos kosan nusantara.

ah tapi terserah othor lah baiknya gimana apa lagi bapak rahmat efendi kayaknya masih punya rahasia lain yang belum terbongkar...
REY ASMODEUS
lanjutkan........ pilih nomor 2..... 🤣🤣🤣
Nissa Safira: SIAP KAK! Nomor 2 emang paling memuaskan 🤣🤣
Lanjut ya kak, besok Budi bangun lihat gepokan duit di bantal + surat "jangan mabuk lagi atau sewa naik 3x lipat" pasti nangis kejer peluk kaki Rahman.
Makasih kak udah pilih nomor 2! malam ini saya lanjutin lagi misi renovasi kamar mandi gratisnya 🤣🤣😁🙏
total 1 replies
REY ASMODEUS
saya akan lawan,,, hidup rahman💪💪💪💪💪
REY ASMODEUS
siap tuan takur 🤣🤣
Nissa Safira: Siap! Bagus. Karena kamu siap, uang sewa komen naik 100rb ya. Bayar pake love & bintang 5. Jangan lupa setoran! 🤣🤣
total 1 replies
REY ASMODEUS
rasain loe tuan takarrrr🤣🤣🤣🤣
Nissa Safira: Rasain emang kak 😂 50rb aja pelitnya minta ampun, giliran sisa umur 7 hari baru panik. Tungguin kak bakal nangis tuh si rahman 🤣🙏
total 1 replies
Diana Lely
semangat thor
Nissa Safira: Semangat juga buat kakak! 🔥🔥
Makasih banyak kak udah mampir di kos pelitnya Pak Rahman🥰
Doain Rahman biar gak jantungan lagi pas disuruh sedekah🤣🤣
total 1 replies
xebeck D ron
Yoo novel baru
Nissa Safira: Hallo kak 🤣🔥 Iya kak novel baru😂
Selamat datang di kos-kosan dan kontrakan paling pelit se-Indonesia
Kenalin kak, ini Rahman 68 tahun bapak kos paling perhitungan, surga neraka baginya cuma soal uang sewa🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!