Dia pernah berdiri di atas segalanya. Pedang, alkimia, formasi, hukum Dao, semuanya sudah ia kuasai. Tapi ada satu dinding yang tidak pernah bisa ia tembus: puncak sejati.
Maka Yu Tian melakukan hal yang dianggap gila. Ia menghancurkan tubuhnya sendiri, membuang seluruh harta dan kekuatannya, lalu bangkit dari titik nol dengan tubuh baru dan ranah paling rendah.
Pengetahuannya utuh. Kekuatannya tidak. Dan untuk pertama kalinya setelah zaman yang tak terhitung, ia tersenyum karena akhirnya ada sesuatu yang belum ia miliki.
Ia masuk sekte sebagai murid biasa, tapi ia tidak pandai merendah. Ia tidak sudi tunduk pada gelar, usia, atau kedudukan. Ia hanya menghormati kemampuan. Tapi dunia ini tidak peduli siapa dirinya dulu. Lawan yang lebih tinggi ranahnya tetap bisa membunuhnya, dan pengetahuan seluas apa pun tidak bisa menggantikan fondasi yang belum dibangun.
Setiap kemenangan menuntut bayaran. Setiap rahasia yang terbuka membawa pertanyaan yang lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xi Nda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Istana itu jauh lebih besar daripada yang terlihat dari kejauhan. Gerbang pertamanya berukir naga emas setinggi lima orang, dan di balik gerbang itu terbentang halaman batu putih yang luasnya cukup untuk memuat seluruh lapangan latihan Sekte Awan Azure sepuluh kali lipat.
Jembatan-jembatan giok melintasi kolam-kolam yang dipenuhi ikan koi merah, atap-atap genting kuning menjulang bertingkat-tingkat di antara pohon pinus yang dipangkas rapi, dan prajurit berbaju zirah hitam berdiri tak bergerak di sepanjang jalan dengan tombak tegak. Bau dupa cendana tebal mengambang di udara, dan setiap langkah di lantai marmer bergema di lorong-lorong panjang.
Yu Tian berjalan di belakang Lan Shuang dengan kedua tangan terselip di lengan jubah, matanya menyapu ukiran-ukiran di pilar dan lukisan di langit-langit. 'Mewah. Dinasti ini jelas tidak kekurangan apa pun.'
Para penjaga yang berpapasan membungkuk pada Lan Shuang dengan hormat, dan gadis itu hanya mengangguk tanpa mengubah wajahnya. Ia berjalan dengan punggung tegak dan lengan jubah menutup pergelangan kirinya, dan tidak sekali pun ia menoleh ke belakang.
Di tikungan lorong yang diterangi lentera kristal, sesosok pemuda berjubah biru tua dengan sulaman awan putih berjalan ke arah mereka dari seberang. Langkahnya teratur, tangan kirinya menyentuh kotak kayu kecil di pinggangnya, dan wajahnya yang datar tidak berubah sedikit pun sampai ia berhenti di depan mereka. Yu Tian menahan napas sesaat.
'Gu Chen.' Hawa di sekeliling pemuda itu padat dan berat, jauh lebih padat daripada yang ia ingat di asrama. 'Inti Emas.'
"Lan Shuang." Gu Chen menangkupkan tangan dengan hormat sekilas. "Kau sudah tiba. Kami mengira kau terlambat."
Matanya bergeser ke samping, ke wajah Yu Tian, dan berhenti di sana lebih lama daripada sopan santun mengizinkan. Ia menatap hidung, tulang pipi, mata, dan rambut, dan kemudian sorot mata di balik topeng kulit itu. Ia mengulurkan tangannya. "Aku Gu Chen, murid dalam Awan Azure. Dan Tuan ini?"
Yu Tian menyambut jabat tangan itu, merasakan genggaman Gu Chen yang kuat dan kapalan di telapaknya.
'Dia mengenaliku. Topeng ini hanya menipu tampilan bukan aura.' Ia hendak membuka mulut.
Lan Shuang langsung memotong dan berbicara dengan suara datar yang terlalu tenang. "Ini Tian Yu. Ia menyelamatkanku dari kawanan bandit di kanal selatan."
Ujung bibir Gu Chen berkedut. Ia menarik tangannya dengan gerakan yang terlalu cepat, menunduk, dan terbatuk-batuk kecil ke kepalan, tetapi bahunya bergetar halus dan matanya berair.
Lan Shuang mengangkat alis ke arahnya dengan kebingungan.
Telinga Yu Tian memanas, dan sepasang pipi yang tertutup topeng itu merasakan darah naik sampai ke pelipis. 'Aku tidak bisa membantah. Aku sendiri yang memilih nama itu.'
"Senang berkenalan, Tuan Tian Yu." Gu Chen menegakkan punggung dan menangkupkan tangan dengan wajah yang kembali datar, meski suaranya masih sedikit bergetar. Ia melangkah melewati mereka, dan saat bahunya sejajar dengan bahu Yu Tian, ia berbisik cepat tanpa menoleh. "Jam dua malam. Warung mi tua dekat gerbang barat."
Langkahnya tidak melambat, dan jubah birunya menghilang di balik pilar sebelum Lan Shuang sempat bertanya apa yang lucu.
Yu Tian mengangguk sekali ke punggung yang menjauh itu. Lan Shuang menatapnya dengan dahi berkerut. "Kau kenal dia?"
"Baru pertama kali bertemu." Yu Tian melanjutkan langkahnya dan Lan Shuang mengikutinya, meski dengan pandangan penuh curiga.
'Kenapa Gu Chen ingin bertemu denganku? Kalau ia sudah tahu siapa aku, mengapa tidak langsung memberi tahu Lan Shuang atau penjaga istana? Entahlah. Lihat saja apa yang akan terjadi malam nanti.' Ia menepis pikiran itu dan mengikuti gadis itu keluar dari lorong.
Mereka melewati taman dalam yang luas, melintasi jembatan giok berlapis lumut, dan sampai di sebuah halaman batu yang tinggi dan sunyi.
Di ujung halaman itu berdiri sebuah pintu raksasa dari kayu hitam berpalang perunggu, setinggi tiga lantai, dengan ukiran awan dan petir yang timbul di permukaannya. Anehnya tidak ada satu pun penjaga berdiri di dekatnya, padahal setiap pintu lain di istana ini dijaga oleh dua prajurit bertombak.
Yu Tian berhenti dan menatapnya lama, lalu menoleh. "Pintu sebesar itu tidak dijaga?"
"Itu pintu milik Penguasa Langit." Lan Shuang berhenti di sampingnya dan menurunkan suara. "Tidak ada yang bisa membukanya. Kuncinya ada di puncak menara, dan hanya orang yang berhasil mencapai ke atas yang bisa mengambilnya. Di baliknya tersimpan banyak artefak dan pil dari kultivator itu, tetapi yang paling dicari adalah Jubah Perak." Matanya berkilat sebentar. "Jubah itu bisa terbang dan memiliki jiwanya sendiri. Ia bisa bertarung tanpa pemakainya."
Yu Tian mengangguk pelan.
'Jubah yang memiliki jiwa, bertarung sendiri, dan bisa terbang.' Ia menatap ukiran awan dan petir di pintu hitam itu sampai Lan Shuang menarik lengan bajunya dengan dua jari. "Jangan menatapnya lama-lama. Banyak yang gila karena itu."
Mereka berjalan lagi melewati beberapa halaman dalam, dan akhirnya berhenti di depan sebuah pintu dua daun berlapis emas dengan dua prajurit penjaga bersenjata lengkap. Seorang kasim berjubah merah tua keluar dari pintu samping, membungkuk dalam kepada Lan Shuang, dan menerima lencana giok yang ia sodorkan.
Ia menghilang ke dalam, dan hening menggantung di halaman selama beberapa tarikan napas. Lan Shuang berdiri dengan tangan terlipat di depan perut dan wajah tanpa ekspresi, dan Yu Tian mengamati pita putih di rambutnya yang berkibar pelan oleh angin.
Pintu samping terbuka lagi, dan kasim itu muncul dengan senyum yang halus. "Yang Mulia berkenan. Silakan masuk, Nona Lan, dan Tuan di sampingnya."