Cinta yang tulus terkadang harus rela melepaskan, meski hati tak pernah benar- benar siap.
Tiga tahun menjalani pernikahan, Elma akhirnya menyadari jika Maxime tidak pernah tulus mencintainya. Perjodohan dua keluarga itu nyatanya harus hancur karena bedanya prinsip, kerasnya ego dan kesalahpahaman yang dipendam.
Akankah Elma sanggup bertahan atau justru memilih melepaskan pria tersebut. Lantas bagaimana dengan Maxime! Akankah pria itu menyadari perasaannya.
#cintabutuhperjuangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chayahuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAXIME BERUBAH
Elma tiba di apartemen ketika malam telah larut. Setelah melewati hari yang melelahkan di pengadilan, satu-satunya hal yang diinginkannya hanyalah mandi air hangat dan berbaring di tempat tidur tanpa memikirkan pekerjaan.
Begitu membuka pintu apartemen, ia mendapati suasana yang begitu tenang. Lampu ruang tengah menyala, sementara jas hitam milik Maxime tergantung rapi di sandaran sofa. Suaminya sudah pulang lebih dahulu.
Elma meletakkan tasnya, melepas sepatu hak tinggi, kemudian berjalan menuju kamar tidur. Namun, baru saja ia membuka pintu, langkahnya mendadak terhenti. Maxime baru keluar dari kamar mandi. Rambut hitamnya masih basah, beberapa tetes air membasahi bahunya, sementara sebuah handuk putih melilit pinggangnya.
Elma sontak memalingkan wajah. "Astaga, Maxime!"
Pria itu menoleh santai. "Apa?"
"Setidaknya pakailah pakaian sebelum keluar dari kamar mandi!"
"Ini kamar tidurku."
"Kamar tidur kita!" Elma mengoreksi dengan cepat. "Dan aku tidak ingin berdebat denganmu. Aku mau berganti pakaian."
Elma segera berbalik, berniat meninggalkan kamar untuk menunggu suaminya selesai berpakaian. Namun, sebelum ia sempat melangkah jauh, sebuah tangan meraih pergelangan tangannya dengan lembut.
"Elma."
"Apa lagi?"
"Ke mana kau mau pergi?"
"Ke mana saja asal tidak di sini."
Maxime mengangkat sebelah alis. "Kau menghindariku?"
"Tidak."
"Kalau begitu, berbaliklah."
"Maxime, aku lelah."
"Aku tahu."
Jawaban itu membuat Elma terdiam sejenak. Maxime tidak menariknya dengan paksa. Ia hanya menunggu sampai Elma akhirnya berbalik menghadapnya. Setelah itu, pria tersebut melepaskan tangannya, mengambil pakaian yang telah disiapkan, lalu mengenakannya.
Beberapa menit kemudian, ia kembali menghampiri istrinya. Elma baru hendak melontarkan protes ketika Maxime merengkuhnya ke dalam pelukan. Tubuhnya seketika menegang.
"Maxime!"
"Hm?"
"Apa yang sedang kau lakukan?"
"Memeluk istriku."
"Sejak kapan kau suka melakukan hal seperti ini?"
"Sejak aku menginginkannya."
Elma mendongak, menatap wajah suaminya dengan ekspresi tidak percaya. Maxime Sinclair yang dikenalnya adalah pria dingin, tenang, dan sulit ditebak. Ia bukan seseorang yang tiba-tiba memeluk orang lain tanpa alasan. Bahkan setelah menikah, pria itu lebih sering menunjukkan perhatiannya melalui tindakan kecil daripada kata-kata manis. Namun, malam ini, ada sesuatu yang berbeda dari tatapannya. Maxime mengusap lembut rambut Elma yang sedikit berantakan setelah seharian bekerja.
"Aku merindukanmu." Ucap Maxime dengan suara parau.
Elma terdiam. Kalimat sederhana itu terdengar begitu asing ketika keluar dari mulut suaminya.
"Kita bertemu tadi pagi," jawabnya akhirnya.
"Aku tahu."
"Lalu kenapa mengatakan hal seperti itu?"
"Karena aku merindukanmu."
Maxime mengatakannya sekali lagi, kali ini tanpa sedikit pun perubahan pada ekspresinya. Elma tidak tahu harus menjawab apa. Ia justru merasa lebih gugup menghadapi Maxime yang seperti ini daripada Maxime yang dingin dan menyebalkan.
"Jangan mengatakan hal aneh seperti itu," gumamnya sambil mengalihkan pandangan.
"Mengapa?"
"Karena... karena kau tidak pernah mengatakannya sebelumnya."
Maxime terdiam sebentar. Ia sadar jika perubahan sikapnya mungkin aneh bagi istrinya.
"Kalau begitu, anggap saja aku sedang belajar."
Elma kembali menatapnya. "Belajar apa?"
"Belajar untuk menyenangkan hati istriku dan mencoba untuk meluluhkan hatinya".
Jantung Elma seolah melewatkan satu detak. Ia ingin menganggap kalimat itu sebagai gurauan, tetapi wajah Maxime terlalu serius untuk disebut sedang bercanda.
"Maxime..."
"Hari ini aku tidak ingin membicarakan pekerjaan," potong pria itu lembut. "Aku juga tidak ingin memikirkan hal-hal lain yang bisa membuat kita bertengkar."
Ia mengangkat tangan, menyelipkan sehelai rambut Elma yang jatuh ke dekat wajahnya. "Malam ini, aku hanya ingin bersamamu."
Untuk beberapa saat, Elma tidak mampu berkata-kata. Pernikahan mereka bermula dari keputusan dua keluarga. Elma menerima Maxime sebagai suaminya tanpa pernah membayangkan bahwa suatu hari ia akan benar-benar menginginkan perhatian pria tersebut. Sementara Maxime selalu menyembunyikan pikirannya di balik sikap dingin, membuat Elma kesulitan memahami apa yang sebenarnya ia rasakan. Karena itu, kelembutan yang ditunjukkan Maxime malam ini terasa begitu mengejutkan.
"Lantas apa yang sebenarnya kau inginkan dariku malam ini?" tanya Elma lirih.
Maxime menunduk, mendekatkan wajahnya. "Istriku."
Pipi Elma memerah. "Kau selalu punya cara untuk membuatku kehilangan kata-kata."
"Bagus. Berarti untuk sekali ini aku berhasil."
Elma mendengus kecil. "Jangan terlalu percaya diri."
Maxime tersenyum tipis. Senyum yang jarang sekali diperlihatkannya itu membuat Elma terdiam lagi. Sebelum Elma sempat melontarkan protes lain, Maxime mengecup keningnya dengan lembut. Ia kemudian menatap mata istrinya, seolah memberi kesempatan kepada perempuan itu untuk mengungkapkan keberatan jika memang ada. Namun, kali ini Elma tidak menjauh. Sebaliknya, ia perlahan menyandarkan kepalanya di dada Maxime. Gerakan kecil itu membuat pria tersebut terdiam sesaat.
"Elma?"
"Apa?"
"Kau tidak akan memarahiku?"
"Kalau kau terus bertanya, aku akan melakukannya."
Maxime terkekeh pelan.
Elma mengangkat kepala dengan mata membulat. "Kau tertawa?"
"Apa aku tidak boleh tertawa di rumah sendiri?"
"Bukan begitu. Aku hanya—"
Maxime mengecup keningnya sekali lagi.
"Jangan berpikir terlalu banyak malam ini."
Ia menggenggam tangan Elma dan membawanya menuju tempat tidur. Mereka duduk berdampingan, berbincang tentang hal-hal sederhana yang biasanya tidak pernah menjadi bagian dari percakapan mereka. Maxime mendengarkan setiap cerita Elma dengan perhatian yang membuat perempuan itu beberapa kali kehilangan fokus.
"Kau selalu seperti ini kepada semua orang?" tanya Elma.
"Seperti apa?"
"Mendengarkan mereka dengan serius."
"Tidak."
"Jadi?"
Maxime menoleh kepadanya. "Hanya kepadamu."
"Kamu tidak pernah seperti ini sebelumnya. Kamu bahkan sering mengatakan jika aku cerewet"
"Aku akan mencoba untuk berubah. Aku harap kamu tidak keberatan".
Elma segera memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan senyum kecil yang muncul tanpa izin. Maxime memperhatikan reaksi itu, tetapi tidak menggodanya lebih jauh. Ia hanya mengulurkan tangan, menggenggam jemari Elma, lalu mengecup punggung tangannya.
"Bisakah aku meminta sesuatu?"
Elma menoleh curiga. "Apa?"
"Cium aku."
Wajah Elma seketika memanas.
"Maxime!"
"Apa? Aku hanya meminta."
"Kau benar-benar tidak tahu malu."
"Mungkin."
Maxime tidak mendesaknya. Ia hanya menunggu, membiarkan Elma menentukan jawabannya sendiri. Setelah beberapa saat, Elma akhirnya mendekat dan mengecup pipi suaminya dengan cepat. Sangat cepat hingga hampir tidak terasa.
Namun, bagi Maxime, hal itu sudah cukup untuk membuat tatapannya berubah.
"Hanya itu?" tanyanya.
"Jangan serakah!"
Maxime tersenyum samar, lalu mengusap pipi istrinya.
"Baiklah. Untuk malam ini, aku akan menerimanya."
"Untuk malam ini?"
"Kita lihat saja besok."
Elma memukul pelan lengannya, membuat Maxime kembali tertawa kecil. Malam semakin larut. Percakapan mereka perlahan berganti menjadi keheningan yang nyaman. Maxime merengkuh Elma dalam pelukannya, sementara Elma membiarkan dirinya bersandar tanpa berusaha mencari alasan untuk menjauh.
Ketika Maxime mendekat untuk menciumnya, tangan Elma mendorong tubuh kekar itu menjauh. Maxime sedikit kesal karena Elma menolaknya.
"Maxime. Aku baru pulang kerja".
"Lalu".
"Tubuhku lengket dan penuh keringat" Elma mengendus tubuhnya seolah mencium aroma tak sedap.
"Lalu".
"Aku mandi dulu" Elma hendak melepaskan diri dari pelukan suaminya namun Maxime semakin menggeratkan pelukan tersebut.
"Mandinya nanti saja, setelah ini. Agar kamu tidak perlu mandi dua kali".
Wajah Elma bersemu merah, Maxime membuatnya kehilangan kata- kata. Pria itu benar- benar berubah, dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Maxime kembali merengkuh Elma dalam pelukannya, sementara Elma membiarkannya tanpa berusaha menolak. Ketika Maxime mendekat untuk menciumnya, Elma menyambutnya dengan kelembutan yang sebelumnya selalu ia sembunyikan.
Ciuman itu bermula perlahan, penuh keraguan yang kemudian mencair menjadi kehangatan. Maxime sesekali berhenti untuk menatap wajah istrinya, memastikan bahwa Elma merasa nyaman berada di dekatnya. Dan setiap kali tatapan mereka bertemu, Elma semakin sulit mengingat alasan mengapa selama ini ia selalu berusaha menjaga jarak. Malam itu, tidak ada pembicaraan mengenai pekerjaan, tidak ada tuntutan untuk menjelaskan apa pun, dan tidak ada perdebatan yang biasanya memenuhi hari-hari mereka. Hanya ada Maxime dan Elma, dua orang yang dipersatukan oleh perjodohan, tetapi perlahan mulai menemukan alasan untuk saling mendekat.
Ketika Maxime kembali mengecup keningnya, Elma berbisik pelan.
"Maxime?"
"Hm?"
"Apakah kau akan tetap seperti ini besok?"
Maxime menatapnya beberapa saat sebelum menjawab.
"Aku tidak bisa menjanjikan bahwa aku akan selalu menjadi pria yang pandai mengungkapkan perasaan."
Elma menunduk, menyembunyikan sedikit kekecewaan. Namun, Maxime mengangkat dagunya dengan lembut agar perempuan itu kembali menatapnya.
"Tapi aku bisa berjanji untuk terus berusaha."
Elma tidak menjawab. Ia hanya merapatkan pelukannya. Bagi perempuan yang selama ini berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia tidak membutuhkan cinta dari pria yang dijodohkan dengannya, malam itu menjadi awal dari sesuatu yang tidak lagi bisa ia abaikan. Dan bagi Maxime Sinclair, malam itu adalah pertama kalinya ia membiarkan istrinya melihat sedikit saja dari perasaan yang selama ini disimpannya rapat-rapat.
Lampu kamar perlahan dipadamkan.
Di balik pintu yang tertutup, malam mereka berlanjut dalam kehangatan dan kedekatan yang tak lagi membutuhkan banyak kata. Untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka, Elma tertidur dalam pelukan Maxime tanpa merasa harus menjaga jarak. Sementara Maxime, yang biasanya selalu terjaga lebih lama daripada istrinya, justru menjadi orang pertama yang memejamkan mata dengan sebuah senyum tipis.
Malam itu, ia tidak membutuhkan apa pun selain perempuan yang kini berada dalam pelukannya.
Istrinya.
☆