NovelToon NovelToon
Obsesi Cinta Tuan Arogan

Obsesi Cinta Tuan Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Matcha Lala

Nadia menikahi pria yang tidak pernah mencintainya. Sang suami adalah teman masa kecil nadia. Namun dimas melupakan gadis tersebut. Selama pernikahan mereka, Nadia terus merasakan sakit yang teramat sakit. Melihat sang suami bersama dengan wanita lain. Sang suami masih berhubungan dengan wanita yang masih berstatus kekasih. Dan bahkan mengajak kekasihnya itu untuk datang ke rumah. Setiap hari Nadia harus melihat kemesraan sang suami dengan wanita lain di depan mata sendiri. Nadia hanya bisa menahan rasa sakit yang ia rasakan demi keutuhan rumah tangganya. Nadia berprinsip menikah sekali seumur hidupnya. Nadia juga tidak ingin berpisah dari Dimas pria yang ia cintai sedari dulu. Dan ia ikhlas menerima rasa perih yang tidak pernah di dapatkan dari keluarganya. Nadia yakin, suatu saat nanti sang suami akan mencintainya juga, walaupun ia tidak terlalu yakin dengan hal tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Matcha Lala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Dimas dan kedua orang tuannya sudah berada di mall. Mereka masuk ke dalam mall, dan langsung mencari toko baju untuk berbelanja. Nadia sedari tadi hanya diam, tangannya ber genggaman dengan tangan Dimas. Dadanya begitu sakit, saat mengingat kenyataannya Dimas hanya terpaksa menggenggam tangannya itu.

"Kita beli baju couple, nanti kita foto bareng di taman. Mama mau upload ke media sosial, biar orang orang tau mama juga punya menantu yang cantik," ucap ibunya Dimas.

"Iya ma, Dimas setuju," ucap Dimas.

Ibu dari Dimas tersenyum bahagia, sedangkan Nadia hanya bisa menampilkan senyuman terpaksa. Dimas yang melihat senyuman sang istri langsung menggenggam kuat tangan Nadia. Nadia terkejut bukan main, dan menatap Dimas yang tengah menatap menatap dirinya dengan tatapan tajam.

"Senyum yang ikhlas," bisik dimas di telinga Nadia.

Nadia menganggukkan kepalanya dan berusaha tersenyum dengan tulus. Kedua orang tua Dimas tengah memilih baju untuk mereka. Dimas berdiri di belakang sang ibu, terkadang ibu dan anak itu tertawa bersama. Nadia? Gadis itu berusaha untuk bersikap baik baik saja, walau hatinya sakit karena pertengkaran tadi di dalam kamar.

"Nad, bagus kan sayang?," ucap ibunya Dimas.

Nadia tersenyum. "Bagus ma," ucap Nadia.

"Kita beli ini ya, couple berempat," ucap ibunya Dimas.

"Iya ma, pasti lucu deh kalau kita couple berempat pakai baju ini," ucap Nadia.

Ibu dari Dimas setuju dengan ucapan menantunya. "Ya udah, langsung pakai aja ya, biar langsung couple lan," ucap ibunya Dimas.

Dimas dan sang ayah hanya pasrah dan langsung mengganti baju mereka. Selang beberapa menit akhirnya mereka memakai baju yang sama.

"Tuh, lucu banget tau. Hehehe, Dimas imut banget pakai baju warna pink," ucap ibunya Dimas.

"Mama mah, masa warna pink sih, dimas kan cowok," ucap Dimas.

"Sekali kali dim, iya kan Nadia," ucap ibunya Dimas.

Nadia menganggukkan kepalanya dan tersenyum kecil. Dimas yang melihatnya hanya bisa menghela nafas dengan pelan. Ia harus mengikuti kemauan sang ibu, agar ibunya tidak merasa sedih. Ayah dari Dimas hanya bisa menahan malu saat memakai baju berwarna pink.

"Yaudah, yuk kita pergi," ucap ibunya Dimas.

*************************************

Sore hari. Ibu dari Dimas menyewa penginapan agar anak dan menantunya bisa menghabiskan waktu berdua.

"Mama dan papa harus pulang, ada yang harus mama dan papa urus. Kalian enggak papa berdua di sini kan? Mama dan papa sudah menyewa penginapan ini. Jadi jangan sia siakan uang papa kamu ya dim. Nikmati waktu bersama dengan istri kamu, mama juga sudah menyuruh seseorang untuk mengintai kalian. Kalau kamu pergi. Inget, fasilitas kamu akan papa ambil," ucap ibunya Dimas.

Dimas yang mendengar ucapan dari ibunya hanya bisa menghela nafas dengan pelan. "Iya ma, atur aja sesuka mama dan papa, aku bisa apa? Ingin menolak nanti mama dan papa marah," ucap Dimas.

Nadia yang mendengar ucapan dari sang suami menjadi iba. Ternyata Dimas melakukan semuanya hanya karena terpaksa. Apa nanti Dimas akan meninggalkannya setelah kedua orang tuannya pulang ke rumah. Nadia hanya bisa duduk diam di samping ibu mertuanya. Ingin berbicara, tapi ia takut ucapannya akan menyakiti hati orang lain.

"Ya sudah, mama dan papa pulang dulu. have fun darling," ucap ibunya Dimas.

Kedua orang tua Dimas pun masuk ke dalam mobil dan menjauh dari penginapan. Tersisa Dimas dan nadia tengah duduk di depan penginapan dalam ke adaan diam. Dimas berdiri dan langsung menatap istrinya yang sedari tadi hanya diam duduk di hadapannya.

"Cuman mau duduk aja? Enggak denger kata mama gue, kita lagi di jagain. Kalau kita diem aja nanti orang yang di bayar mama menceritakan semuanya ke mama, dan mama akan tau pernikahan kita ini hanya pernikahan di atas kontrak saja dan tidak ada cinta. Lo mau mama dan papa gue tau? Ya walupun suatu saat mereka akan tau, tapi beri mereka waktu untuk bahagia mendapatkan menantu seperti Lo. Walaupun Lo bukan wanita baik, seperti yang kedua orang tua gue pikirin," ucap Dimas.

Ucapan Dias benar benar menyakiti hati nadia. "Ayolah, manfaatkan waktu Lo untuk berduaan dengan gue. Kapan lagi Lo bisa berduaan dengan gue? Manfaatkan semuanya, agar Lo senang, wanita murahan," ucap Dimas.

Nadia menatap Dimas dengan tatapan kecewa. Kenapa sang suami terus menghina dirinya? Apa kesalahannya? Apakah salah mencintai Dimas?, semua orang berhak mencintai kan. Tapi kenapa di mata Dimas semua yang Nadia lakukan adalah kesalahan.

"Jangan pernah menyebutku wanita murahan," ucap Nadia.

Dimas tersenyum miring. "Benarkah? Kalau gue cium, Lo bakalan nolak apa enggak?. Pasti enggak kan? Karena dari awal Lo pengen gue sentuh, Itu yang Lo sebut bukan wanita mur-------,"

Perkataan Dimas terhenti saat Nadia menampar pipinya. Dimas menatap tajam Nadia. Sedangkan Nadia hanya menatapnya dengan tatapan marah. "Berani Lo sama gue?!," bentak Dimas.

Nadia hanya diam dan langsung masuk ke dalam kamar. Bagaimanapun hatinya benar benar sangat sakit mendengar perkataan sang suami. Di dalam kamar ia merasa bersalah pada suaminya. Seharusnya ia tidak menampar pipi Dimas. Akan tetapi ia tidak bisa menahan amarahnya. Saat mendengar suaminya sendiri mengecap dirinya sebagai wanita murahan. Nadia marah, dia benar benar marah, dan saat ini yang ada di kepalanya hanya ada kemarahan.

Pukul 18.00 WIB. Nadia duduk di depan jendela kamar penginapan. Perasaan marahnya sudah menghilang, ia menatap Dimas yang tengah tertidur di atas kasur. Nadia hanya bisa menghela nafas dengan pelan, dan ia memilih tidak akan mengeluarkan sepatah katapun. Ia tidak ingin mendengar ucapan yang menyakitkan dari mulut sang suami tentang dirinya lagi.

Dimas terbangun dari tidurnya. "Heh! Siapin baju untuk gue," ucap Dimas.

Nadia yang mendengarnya langsung masuk kedalam kamar dan menyiapkan baju untuk sang suami. Dimas masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya. Saat keluar dari kamar mandi. Ia melihat bajunya sudah tergeletak rapi di atas kasur dan langsung memakainya.

"Kemana tuh cewek?," gumam Dimas sambil memakai baju yang di pilihkan oleh istrinya.

Setelah memakai baju dan celananya, Dimas langsung keluar dari dalam kamar penginapan dan melihat sang istri tengah duduk di tepi pantai. Pria itu langsung menghampiri sang istri dan duduk di sampingnya.

"Ngapain Lo di sini?," ucap Dimas.

Nadia menatap Dimas. "Hanya duduk sambil melihat air pantai," ucap Nadia.

Dimas menatap sang istri yang sedari tadi diam setelah bertengkar dengannya. "Mau minum?," ucap Dimas.

"Tidak, aku tidak haus," ucap Nadia.

"Jangan kayak gini, Lo mau kedua orang tua gue tau kita dalam ke adaan tidak baik baik aja? Gue enggak mau sampai ke dua orang tua gue kenapa Napa hanya karena memikirkan rumah tangga kita. Jadi turuti aja apa yang gue bilang," ucap Dimas.

"Atur sesukamu," ucap Nadia.

Dimas langsung terdiam saat mendengar Nadia tidak menyebut dirinya dengan sebutan 'kakak'. Pria itu berdiri dan memilih untuk membeli minuman. Setelah mendapatkan 2 minuman Dimas langsung duduk di samping istrinya kembali.

"Sorry, mulut gue emang kayak gini kalau lagi marah, enggak bisa di jaga. Sorry, udah buat lo sakit hati," ucap Dimas.

Nadia tersenyum kecil dan mengambil minuman yang di berikan Dimas. "Enggak papa, aku pantas untuk di marahi, karena aku sudah melewati batas. Maaf, sudah membuat mu menderita. Kalau kamu mau pergi dari sini, pergi saja. Nanti aku akan mencari alasan agar mama dan papa tidak marah kepadamu. Bersenang senanglah dengan sahabat dan kekasihmu," ucap Nadia.

Setelah mengucapkan perkataan tersebut Nadia langsung berdiri dan masuk ke dalam kamar penginapan. Dimas yang melihatnya langsung terkejut dengan sikap Nadia yang terlihat berbeda. Tiba tiba saja atensi Dimas langsung beralih ke luar ponsel. Ia melihat bahwa sang ibu mengirim pesan kepadanya.

["Orang suruhan mama sudah pulang, mama percaya sama kamu. Selesaikan perdebatan kamu dengan Nadia, mama tau kalian saling menyayangi satu sama lain,"] isi pesan tersebut.

"Males banget, mending gue nyusul Jessica sama yang lain. Lebih seru, dari pada berduaan sama wanita modelan Nadia," gumam Dimas.

1
Novansyah
lanjut kk menurut AQ bagus sih
Novansyah
bagus kk lanjut update nya tapi jangan lama2
Zuri Atulaini
ini novel gila jangan di baca aku gk mau langjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!