Hanis memiliki empat orang anak Yang masih kecil, namun suaminya sedang menganggur. Demi anak anaknya bisa makan dan bersekolah maka Hanis rela menjadi ibu pengganti. Ia menyewakan rahimnya pada Sean, seorang pria kaya yang istrinya divonis mandul. Namun, keajaiban terjadi, saat Hanis sudah positif mengandung anak Sean, sang istri sah juga dinyatakan hamil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eskalator
Hanis bingung ketika mobil bukannya berbelok ke pasar tradisional yang cukup besar di kiri jalan malah justru menambah kecepatan setelah kendaraan di depannya melaju kencang. Namun ia kira bukan pasar ini yang Sean tuju, melainkan pasar lain. Pasar keempat terlewati dan Sean tidak kunjung terlihat ingin berhenti atau mencoba mencari parkir.
“Kita jadi belanja?” tanya Hanis barangkali saya lupa, ia mengingatkan.
“Jadi, ini sebentar lagi sampai,” jawab Sean santai. “Kenapa? Buru-buru? Atau kamu mau ke toilet?”
Hanis menggeleng pelan. “Nggak. Cuma tanya, soalnya kita sudah lewati empat pasar dan nggak berhenti.”
“Kita enggak belanja di pasar, Hanis.”
“Lalu?” sepengetahuan berbelanja bahan makanan di pasar, memangnya bisa di mana lagi?
“Ini kita sudah sampai,” sahut Sean sembari membelokkan setir masuk ke area parkir bawah tanah, menurunkan kaca jendela di sampingnya untuk menempelkan kartu elektroniknya ke mesin parkir agar palang terbuka otomatis.
Tangan ditarik mundur kembali setelah palang dibuka, kartu diletakkan pada dashboard. Sean kembali menjalankan mobil, masuk dan naik beberapa lantai untuk mencari spot parkir yang masih kosong.
Hanis hanya memperhatikan bagaimana ahlinya Sean dalam memarkirkan mobil. Meski ruangnya cukup terbatas karena yang tersisa adalah spot parkir di tengah yang hanya satu, namun Sean dapat memposisikan mobilnya dalam satu kali gerakan mundur. Tanpa kesulitan dan tanpa maju-mundur berulang kali seperti tetangganya yang biasa Hanis lihat.
“Ayo, Nis,” ajak Sean setelah menekan tombol untuk menutup spion dan menarik tuas rem tangan keatas.
“Kita belanja disini?” tanya Hanis memastikan.
Sean mengangguk, melepas sabuk pengaman dan terlebih dahulu turun. Hanis mengekor di belakangnya.
Akhirnya tiba setelah beberapa langkah pada pintu kaca penghubung area parkir dan area pusat perbelanjaan. Hawa dingin langsung menyapa. Segar dan membangkitkan semangat.
“Lho? Katanya belanja bahan makanan?” tanya Hanis bingung ketika mereka berada di dalam sebuah mall.
“Ya belanja bahan makanan. Di area supermarket bawah,” jawab Sean santai sambil terus berjalan.
Ya, Hanis baru saja ingat kalau ada bagian dari mall yang menjual makanan dan bahan makanan. Sudah sangat lama sejak terakhir kali ia menginjakkan kaki memasuki mall. Mungkin delapan atau sembilan tahun lalu saat masih mengenakan seragam putih abu-abu bersama teman-temannya. Setelah menikah, jelas tidak pernah.
Mereka berdua berjalan menyusuri lorong mall yang terasa begitu penuh di akhir pekan. Sesekali menoleh ke arah barang-barang mewah yang dipajang di balik kaca besar toko.
Saat Sean sudah melangkahkan kaki menginjak tangga eskalator yang bergerak turun, Hanis hanya mematung di tempatnya. Meski bukan kali pertama, namun rasanya aneh, takut.
Beberapa detik, Sean sadar Hanis tidak ada di samping atau belakangnya. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Hanis masih berdiri ragu-ragu di atas, didahului oleh beberapa orang lain. Ia memberi kode pada Hanis untuk segera menyusul.
Terpaksa, takut tertinggal jauh, akhirnya Hanis memberanikan diri menyusul. Tangannya berpegangan erat pada pegangan karet sisi eskalator. Tubuhnya menegang kaku, dalam hati berdoa semoga selamat sampai tujuan.
Di bawah, Sean yang sudah lebih dahulu tiba menunggui Hanis di samping eskalator. Senyumnya terkembang ketika Hanis akhirnya hampir tiba.
Tepat sebelum Hanis melangkah turun dari eskalator, Sean mengulurkan tangannya untuk digenggam Hanis. Seolah mengerti kekhawatiran wanita itu. Sebuah gestur kecil yang membuat Hanis merasa jauh lebih aman.
“Nah, bisa kan?”
“Hehehe… bisa.”
Bahkan saat mereka sudah kembali berjalan, Sean dan Hanis tidak melepaskan tautan tangan mereka.
“Masih satu eskalator lagi, Nis.”
...****************...