NovelToon NovelToon
Mantan Tuan Muda

Mantan Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:348
Nilai: 5
Nama Author: Kanji Wara

Ini bukan sekadar cerita tentang cinta beda kasta. Ini adalah perjalanan tentang sebuah nama besar...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

harapan baru

Keputusan besar telah diambil tanpa perlu waktu lama untuk ragu. Besoknya, dengan pakaian yang jauh lebih rapi pilihan Mita, mereka berdua langsung mendatangi kantor catatan sipil. Proses administrasi berjalan dengan cepat dan lancar tanpa ada hambatan yang berarti. Dan yah... setelah menandatangani seluruh berkas resmi di hadapan petugas hukum, mereka kini telah resmi menjadi sepasang suami istri di mata negara. Mantan pelayan restoran kecil itu kini telah sah menjadi pendamping hidup seorang direktur wanita kaya raya.

Setelah keluar dari gedung catatan sipil dan kembali masuk ke dalam kabin sedan mewah yang sejuk, Mita membuka tasnya dengan senyuman manis yang tak lepas dari bibirnya.

"Ini buat belanja," kata Mita yang menyodorkan satu kartu bank berwarna platinum untuk Bayu.

Kartu itu diletakkan di atas telapak tangan tegap suaminya sebagai simbol pemenuhan kebutuhan awal mereka.

Melihat benda persegi di tangannya, sudut bibir Bayu sedikit terangkat, menyiratkan senyuman tipis yang sulit diartikan. Dia memandangi kartu bank tersebut sebelum menatap wajah cantik istrinya yang duduk di balik kemudi.

"Apakah aku sekarang resmi jadi suami rumah tangga?" tanya Bayu dengan nada bergurau, mencoba mencairkan atmosfer setelah ketegangan momen pernikahan tadi.

"Hahaha... Perlu modal besar kalau mau piara brondong," kata Mita dengan tawa renyah yang meledak, menanggapi candaan suaminya dengan jawaban yang tak kalah berani.

Dia kemudian melirik Bayu dari sudut mata, memastikan perasaan suaminya.

"Kamu enggak marah, kan, Sayang?"

Bayu memasukkan kartu bank tersebut ke dalam saku kemeja barunya dengan santai. "Belum ada alasan untuk marah," kata Bayu dengan jawaban yang sangat tenang dan dewasa, menunjukkan bahwa bahwa egonya sebagai pria tidak terluka oleh kemakmuran istrinya.

Mobil pun melaju membelah jalanan kota yang ramai, hingga akhirnya kembali berhenti tepat di depan halaman rumah mewah milik mereka berdua saat ini. Pagar besi tinggi menutup rapat di belakang, menyisakan ruang pribadi yang damai bagi pengantin baru tersebut.

Bayu keluar dari mobil, lalu melangkah ke area belakang. Bayu membuka bagasi dan dia pun menurunkan beberapa kantong belanjaan berisi bahan makanan serta keperluan dapur yang sempat mereka beli dalam perjalanan pulang tadi. Tubuh atletisnya bergerak cekatan membawa seluruh kantong belanjaan tanpa terlihat kesulitan sedikit pun. Mita berjalan di sebelahnya, memeluk lengan kokoh suaminya dengan perasaan bahagia yang membuncah.

Sesampainya di dalam area dapur bersih yang luas dan megah, Bayu menaruh seluruh kantong belanjaan di atas meja konter marmer. Dia berbalik menatap Mita yang masih setia menempel di dekatnya.

"Mau makan apa siang ini?" tanya Bayu dengan perhatian yang tulus, siap memanjakan lidah istrinya dengan keahlian memasaknya.

Mita menopang dagunya di atas dada bidang Bayu, menatap suaminya dengan binar mata yang penuh gairah menggoda. "Makan kamu aja, Sayangku..." bisik Mita manja.

Bayu terkekeh pelan, mencium kening istrinya dengan lembut sebelum dengan lembut melepaskan pelukan Mita. "Untuk makan aku juga perlu tenaga, kan? Sini, tunggu bentar, aku masak makanan yang enak dulu," kata Bayu yang berjalan ke arah dapur, mulai memilah bahan makanan dengan senyuman yang terus menghias wajah tampannya. Di bawah atap rumah megah ini, lembaran baru kehidupan Bayu sebagai seorang suami telah resmi dimulai dengan penuh kehangatan.

Keheningan malam kembali menyelimuti kamar tidur utama yang megah. Cahaya lampu tidur yang temaram memantulkan bayangan dua tubuh yang masih berbaring di atas ranjang king-size. Sisa-sisa kehangatan dari pergulatan yang intens baru saja mereda. Malam nya mereka pun ngobrol santai setelah berakhirnya ronde pertama yang penuh gairah.

Bayu memperbaiki posisi duduknya, bersandar pada kepala ranjang sambil membiarkan dada bidangnya terekspos. Pikirannya tidak lagi melayang pada kenikmatan fisik yang baru saja dia rasakan, melainkan kembali berputar pada logika masa depannya.

"Sepertinya aku perlu bekerja," kata Bayu memecah kesunyian, nada suaranya terdengar serius dan dalam.Mita yang sedang memejamkan mata sambil menikmati detak jantung suaminya, perlahan membuka kelopak matanya.

"Buat apa...?" tanya Mita yang mulai menyandarkan tubuhnya lebih erat ke pelukan tegap Bayu, merasa heran dengan jalan pikiran suaminya yang mendadak.

"Buat nafkah istriku," kata Bayu singkat dan padat. Kalimat itu diucapkan dengan ketegasan seorang pria yang tahu akan kewajibannya setelah mengucap janji pernikahan, tidak peduli seberapa miskin dirinya saat ini.

"Hhh... apa kamu lupa...?" Mita mengembuskan napas panjang, menatap wajah tampan suaminya dari bawah. "Aku enggak kekurangan uang Sayangku.

Seluruh aset dan hasil perusahaan aku bahkan lebih dari cukup untuk membiayai gaya hidup kita berdua sampai puluhan tahun ke depan."

"Aku tahu," sahut Bayu tenang. Dia mengusap lembut pundak polos istrinya.

Namun... aku khawatir kamu bosan," kata Bayu melanjutkan alasannya. Dia tahu betul psikologi wanita mandiri seperti Mita. Jika memiliki suami yang hanya berdiam diri di rumah mewah tanpa melakukan apa pun dan hanya menopang dagu dari harta istri, lambat laun rasa hormat dan cinta dalam rumah tangga bisa terkikis oleh rasa bosan.

Tentu saja Mita langsung terdiam mendengar kalimat tersebut. Kata-kata Bayu menembus langsung ke dalam logikanya sebagai seorang direktur. Dia tidak menyangka pelayan yang baru dinikahinya ini memiliki kepekaan emosional dan pandangan sejauh itu untuk menjaga keharmonisan hubungan mereka.

Mita memutar tubuhnya, menatap Bayu dengan tatapan yang sedikit menuntut. "Gajimu kan di sini sudah sepuluh juta sebulan sebagai pelayan pribadiku, yang sekarang merangkap jadi suamiku," kata Mita mengingatkan kesepakatan awal mereka.

"Apa uang segitu masih kurang?"

"Apa kamu cukup dengan itu?" tanya balik dari Bayu dengan sebuah senyuman tipis yang sarat akan makna tersembunyi. Pertanyaan retoris itu seketika mengunci argumen Mita. Bayu ingin menunjukkan bahwa dia tidak ingin selamanya berada di posisi bawah yang digaji oleh istrinya sendiri. Dia adalah seorang pria. dan dia punya mimpi untuk berdiri sejajar dengan Mita secara finansial.

Mita yang merasa kalah berargumen dan gemas dengan harga diri tinggi lelakinya, akhirnya memilih untuk mengalah. Dia tidak ingin malam yang indah ini habis hanya untuk memperdebatkan urusan pekerjaan dan ego finansial yang rumit.

"Ahhh... ribet. Mending kita bikin anak aja," kata Mita dengan nada manja yang blak-blakan, langsung menarik selimut sutra mereka ke atas dan merangkak naik ke atas tubuh kekar Bayu.

Tawa pendek Bayu pecah melihat tingkah laku istrinya yang selalu tahu cara menghentikan perdebatan mereka. Dan dalam hitungan detik, atmosfer di dalam kamar tidur utama itu kembali memanas dengan cepat, menenggelamkan segala urusan logika pekerjaan ke dalam medan pertempuran ronde kedua yang jauh lebih membara di bawah keheningan malam.

Matahari siang menyinari ruang tengah melalui celah tiras jendela yang terbuka separuh. Setelah melewati malam-malam yang intens, percakapan tentang masa depan kembali bergulir di antara sepasang pengantin baru ini. Bayu duduk di sofa dengan segelas air putih di tangannya, menatap Mita yang bersandar di sebelahnya.

"Kalau saja aku belum jadi suamimu... maka dengan bekerja di sini pun aku sudah merasa cukup," kata Bayu pada siang itu, suaranya terdengar tenang namun sarat akan ketegasan.

"Tapi... sekarang sudah beda. Statusku adalah suamimu, tanggung jawabku tidak lagi sama."

Mita hanya menggelengkan kepalanya pelan, raut wajah cantiknya tampak tidak setuju dengan jalan pikiran suaminya yang terlalu kaku.

"Bukan itu yang aku mau," kata Mita dengan nada suara yang melembut.

Bayu menoleh, menatap lekat-lekat manik mata istrinya. "Lalu apa lagi?"

Mita menunduk sejenak, meremas jemarinya sendiri sebelum kembali menatap Bayu dengan pandangan yang sedikit cemas. "Apa kamu... sudah bosan sama aku?" tanya Mita lirih.

"Bukan itu," kata Bayu cepat, langsung menggenggam tangan Mita untuk menepis keraguan wanita itu. "Sama sekali bukan karena bosan."

"Begini saja..." Bayu mengembuskan napas perlahan, mencoba mencari solusi yang logis. "Coba katakan saja apa alasan yang kuat menahanku agar tidak bekerja?"

Mita menatap suaminya dengan senyuman tipis yang campur aduk.

"Bayu... Bayu... Kamu masih belum mengerti juga..." Mita jeda kalimatnya, menarik napas dalam-dalam untuk mengungkapkan isi hatinya yang paling jujur.

"Kamu tahu umurku sudah tidak muda lagi... tahun ini aku menginjak tiga puluh tahun. Dan kita baru saja menikah," kata Mita membuka sisi kerapuhannya sebagai seorang wanita. "Aku ingin secepatnya punya anak Bay. Aku ingin kita segera menimang momongan."

Mita membalas genggaman tangan Bayu dengan erat. "Itulah alasan sebenarnya dariku agar kamu tetap santai di rumah. Aku ingin kamu fokus bersamaku, menjaga kondisi, dan menemani hari-hariku tanpa perlu memikirkan penatnya tekanan pekerjaan di luar sana untuk saat ini."

Bayu hanya menghela napasnya yang panjang. Akhirnya dia sadar dan memahami sepenuhnya ketakutan serta keinginan mendalam dari sang istri. Alasan itu sangat masuk akal dan menyentuh nalurinya sebagai seorang pria.

"Tapi... rasanya tidak adil kalau cuma aku yang santai di rumah menikmati fasilitas," kata Bayu, tetap menyuarakan isi hatinya. Sebagai pria yang mandiri, dia merasa tidak nyaman melihat istrinya yang justru harus memeras keringat di luar.

"Hmmm... kalau aku enggak masuk, kantor enggak akan jalan Sayang....

Ada ribuan karyawan dan keputusan besar yang bergantung pada kehadiranku," kata Mita menjelaskan posisinya sebagai direktur utama.

Bayu tersenyum tipis, lalu mengusap pipi Mita dengan lembut. Dia menemukan sebuah celah untuk bernegosiasi. "Masuk bentar aja," kata Bayu menawarkan jalan tengah. "Kan bisa...? Kamu selesaikan urusan yang paling penting, lalu langsung pulang ke rumah bersamaku.

"Mita tertegun sejenak mendengar tawaran suaminya. Ide itu ternyata tidak buruk. Dia tetap bisa menjaga perusahaannya beroperasi, sekaligus memiliki waktu yang sangat lapang di rumah untuk fokus pada program kehamilan mereka.

"Baik, kalau itu maumu," kata Mita akhirnya menyerah kalah sambil tersenyum manis, menyetujui kesepakatan baru yang dibuat oleh suaminya di siang hari yang hangat itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!