NovelToon NovelToon
AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU

AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: SAPEI

**AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU**

Aku pernah mencintai seorang pria sampai rela kehilangan diriku sendiri.

Aku percaya pada suamiku.
Aku percaya pada sahabatku.
Aku bahkan percaya pada keluargaku sendiri.

Ternyata, merekalah orang-orang yang menghancurkanku.

Malam itu, aku mengetahui sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah kutemukan.

Dan sebelum aku sempat mengungkap semuanya...

**suamiku sendiri membunuhku.**

Aku pikir kematian adalah akhir.

Ternyata, aku mendapatkan kesempatan kedua.

Ketika membuka mata, aku kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu—saat aku masih berusia sembilan belas tahun.

Semua orang yang dulu menghancurkanku masih ada.

Suamiku masih belum menjadi suamiku.

Sahabat yang mengkhianatiku masih tersenyum di hadapanku.

Dan adikku yang dulu mati... masih hidup.

Kali ini aku tidak akan menjadi perempuan bodoh yang sama.

Aku tidak akan menikah dengan Ryan Arkana.

Aku tidak akan mempercayai Selena Marvia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAPEI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

02 - AKU MATI

Gelap.

Itulah hal pertama yang kurasakan.

Bukan rasa sakit.

Bukan ketakutan.

Hanya gelap.

Gelap yang begitu pekat sampai aku tidak tahu apakah mataku masih terbuka atau sudah tertutup selamanya.

Aku mencoba menarik napas.

Tidak bisa.

Aku mencoba menggerakkan tanganku.

Tidak bisa.

Tubuhku terasa begitu berat.

Seolah-olah seluruh tubuhku telah berubah menjadi batu.

Lalu perlahan, rasa sakit itu datang.

Panas.

Menusuk.

Membakar dari dalam dada hingga ke seluruh tubuh.

Aku ingin berteriak.

Namun tidak ada suara yang keluar.

Air mata mengalir dari sudut mataku.

Aku masih hidup.

Atau setidaknya...

aku berharap begitu.

"Ryan..."

Nama itu keluar dari pikiranku.

Suamiku.

Pria yang selama bertahun-tahun kucintai lebih dari diriku sendiri.

Pria yang baru saja berdiri di hadapanku sambil memegang pisau.

Pria yang mengucapkan kata maaf sebelum menghancurkan hidupku.

Kenapa?

Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku.

Kenapa?

Aku memejamkan mata.

Dan untuk pertama kalinya, aku berharap bisa kembali ke masa lalu.

Kalau saja aku tidak menikah dengannya.

Kalau saja aku tidak mempercayai Selena.

Kalau saja aku lebih sering mendengarkan ayahku.

Kalau saja aku tidak mengabaikan perubahan sikap Ethan.

Ethan...

Dadaku kembali terasa sesak.

Adikku.

Wajah Ethan muncul dalam ingatanku.

Senyumnya.

Tawanya.

Suara menyebalkannya ketika memanggil namaku.

"Kak Nadia, jangan terlalu percaya sama orang."

Aku pernah menertawakannya ketika mengatakan itu.

Aku menganggap Ethan masih terlalu muda untuk memahami dunia.

Ternyata...

akulah yang terlalu bodoh.

"Maaf..."

Air mataku semakin deras.

"Maaf, Ethan."

Aku tidak tahu kepada siapa permintaan maaf itu ditujukan.

Kepada Ethan.

Kepada ibuku.

Kepada ayahku.

Atau mungkin kepada diriku sendiri.

Aku menyesal.

Sangat menyesal.

Andai saja Tuhan memberiku satu kesempatan lagi...

Aku akan mengubah semuanya.

Aku tidak akan menjadi Nadia yang sama.

Aku tidak akan membiarkan mereka menggunakan kebaikanku untuk menghancurkanku.

Aku akan mencari tahu siapa yang berada di balik semua ini.

Aku akan menyelamatkan Ethan.

Aku akan melindungi keluargaku.

Dan Ryan...

Aku membuka mata dalam kegelapan.

Untuk pertama kalinya, rasa takut di dalam diriku berubah menjadi sesuatu yang lain.

Kebencian.

"Aku tidak akan memaafkan kalian..."

Namun bahkan suara di dalam pikiranku perlahan menghilang.

Tubuhku semakin dingin.

Suara hujan yang sebelumnya terdengar samar juga mulai menjauh.

Detak jantungku...

semakin lambat.

Satu kali.

Dua kali.

Tiga kali.

Lalu...

tidak ada apa-apa.

Aku tidak tahu berapa lama aku berada dalam kegelapan.

Tidak ada waktu.

Tidak ada suara.

Tidak ada rasa sakit.

Hanya kehampaan.

Sampai sebuah suara terdengar.

"Nona?"

Aku mengerutkan kening.

Suara siapa itu?

"Nona Nadia?"

Aku mencoba membuka mata.

Cahaya terang langsung menusuk mataku.

Aku memejamkannya kembali.

"Astaga! Nona sudah sadar!"

Suara perempuan.

Aku mengenalnya.

Tapi...

mustahil.

Tidak mungkin.

Aku membuka mata perlahan.

Sebuah langit-langit putih terlihat di atas kepalaku.

Aku mengerjapkan mata beberapa kali.

Aku berada di mana?

Rumah sakit?

Tanganku bergerak.

Aku langsung terdiam.

Tanganku...

tidak terluka.

Tidak ada darah.

Tidak ada rasa sakit.

Aku buru-buru menyentuh dadaku.

Tidak ada luka.

Tidak ada bekas tusukan.

Jantungku berdetak normal.

Aku langsung bangkit.

"Ah!"

Kepalaku terasa pusing.

"Nona, jangan bangun dulu!"

Seorang perempuan berusia sekitar empat puluh tahun buru-buru menghampiriku.

Aku menatap wajahnya.

Dan tubuhku membeku.

"Bu... Sari?"

Perempuan itu tersenyum lega.

"Iya, Nona. Saya di sini."

Aku menatapnya lama.

Bu Sari.

Pengurus rumah tangga keluargaku.

Tapi...

dia sudah meninggal tujuh tahun lalu.

Aku menoleh ke sekeliling.

Ruangan ini terasa familiar.

Sangat familiar.

Aku turun dari tempat tidur dengan kaki gemetar.

"Di mana aku?"

Bu Sari terlihat bingung.

"Di kamar Nona."

Aku berjalan menuju cermin.

Setiap langkah terasa seperti mimpi.

Aku berdiri di depan cermin.

Kemudian...

aku menatap bayanganku sendiri.

Aku membeku.

Perempuan di dalam cermin memiliki wajah yang sama.

Namun jauh lebih muda.

Rambut panjang.

Kulit tanpa tanda-tanda kelelahan.

Mata yang masih penuh kepolosan.

Aku menyentuh pipiku.

Bayangan itu melakukan hal yang sama.

Aku menarik napas tajam.

"Tidak..."

Aku mundur satu langkah.

"Tidak mungkin."

Aku melihat kedua tanganku.

Kemudian wajahku kembali.

Aku mengenal wajah itu.

Aku pernah melihatnya.

Sepuluh tahun yang lalu.

Foto ulang tahun kesembilan belas.

Foto yang selama ini tersimpan di album keluargaku.

Aku menatap kalender di atas meja.

Tanganku gemetar ketika meraihnya.

17 Maret 2016

Aku tidak mampu bernapas.

Sepuluh tahun sebelum malam kematianku.

Aku menatap kalender itu sekali lagi.

Kemudian aku berlari menuju meja dan mengambil ponsel.

Modelnya.

Wallpaper-nya.

Bahkan nomor kontak yang tersimpan...

semuanya berbeda.

Tanganku gemetar hebat.

Aku membuka daftar kontak.

Lalu menemukan satu nama.

Ethan.

Aku langsung menekan tombol panggil.

Satu dering.

Dua dering.

Tiga dering.

"Hallo?"

Suara laki-laki muda terdengar dari seberang.

Aku membeku.

Suara itu...

Suara yang selama ini hanya hidup dalam ingatanku.

"Kak?"

Air mataku langsung jatuh.

"Ethan..."

"Hah? Kak Nadia?"

Aku menutup mulutku.

Tangisku pecah.

Ethan masih hidup.

Adikku masih hidup.

Untuk pertama kalinya setelah kematianku...

aku tersenyum.

Namun senyum itu tidak bertahan lama.

Karena bersamaan dengan kebahagiaan itu, satu kesadaran menghantam pikiranku.

Jika aku benar-benar kembali sepuluh tahun ke masa lalu...

maka semua orang yang menghancurkanku...

masih hidup.

Ryan masih hidup.

Selena masih hidup.

Keluargaku masih utuh.

Dan semua kejadian yang membuatku mati...

belum terjadi.

Aku menatap bayanganku sendiri di cermin.

Wajahku masih muda.

Wajah seorang gadis berusia sembilan belas tahun.

Tetapi mata yang menatap balik ke arahku...

bukan lagi mata gadis sembilan belas tahun.

Aku telah mati sekali.

Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan semuanya.

Dan kali ini...

aku tidak akan membiarkan sejarah terulang.

Aku menghapus air mata di pipiku.

Lalu berbisik pada bayanganku sendiri.

"Kalau Tuhan benar-benar memberiku kesempatan kedua..."

Aku tersenyum tipis.

"...maka kali ini, aku yang akan menentukan siapa yang jatuh."

Bersambung...

1
REY ASMODEUS
ceritamu ini keren thor. aku suka adegan tabrakan nya... 🤣🤣🤣🤣🤣 coba saja si sirkus itu di dorong saja ke jurang beh mantapnya itu kembang api
One Pey: "Terimakasih Brad...iya ya padahalmah di dorong aja dia...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!