Ardila gadis yang selama ini mendapatkan pilih kasih dari keluarganya, harus kembali berhadapan dengan sang kakak ketika dirinya telah berumah tangga.
Sang kakak mengambil dan berselingkuh dengan suami yang begitu dia cintai
Mampukah dia melewati badai dari semua permasalahan yang tengah menghimpitnua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Papi Vania Turun Tangan
Kelurahan. Vania dibebaskan karena hanya klarifikasi, tapi ia langsung telepon papinya.
30 menit kemudian, 3 mobil Alphard hitam datang ke rumah hijau. Turun 6 orang berbadan tegap pakai kemeja hitam.
Yang di tengah: Pak Hendrawan. Umur 55, brewok, pakai jam Rolex, pemilik PT Logistik Wijaya Makmur - perusahaan tempat Bimo dulu kerja sebelum dipecat Arka.
Ternyata dunia sempit banget!
Pak Hendrawan masuk ke Ruang Pulih tanpa ketuk pintu, Vania di belakangnya sambil senyum menang.
"Mana yang namanya Naya?" suaranya berat.
Naya, Diandra, Raka, Arka berdiri.
"Saya," jawab Naya tenang, walau tangannya dingin.
Pak Hendrawan menatap Naya dari atas ke bawah, lalu melempar map coklat ke meja.
"Ini surat somasi. Tanah kontrakan yang kamu pakai untuk Ruang Pulih ini, pemiliknya teman saya. Saya sudah beli tanahnya pagi ini cash 800 juta. Jadi mulai besok, kamu angkat kaki. Saya mau bangun ruko di sini."
_DEG!_
Raka langsung maju. "Gak bisa! Tanah ini punya Pak Haji Udin! Gak dijual!"
Pak Hendrawan tertawa. "Pak Haji Udin sudah jual ke saya jam 9 pagi tadi. Cek aja. Saya transfer depan notaris. Ini sertifikatnya."
Arka mengecek sertifikat itu. Asli. Pak Haji Udin memang butuh uang buat berobat istrinya, jadi tergiur harga tinggi.
Naya lemas. Ruang Pulih yang baru 6 bulan ia bangun, mau digusur?
Vania berbisik di telinga papinya. "Papi, sekalian aja bikin mereka malu, Papi..."
Pak Hendrawan mengangguk. "Dan saya juga akan laporin kamu, Naya, karena buka praktek psikolog tanpa izin. Kamu kan cuma S1, belum punya STR. Saya punya kenalan di Dinkes."
Itu pukulan telak. Naya memang baru S1, S2-nya baru daftar, izin prakteknya memang masih izin komunitas gratis, bukan klinik resmi. Kalau dilaporkan, bisa ditutup.
Diandra yang dari tadi diam, maju. Ia kenal Pak Hendrawan.
"Pak Hendrawan? Bapak yang dulu sering ke rumah saya waktu saya masih nikah sama Bimo? Bapak yang nawarin saya kerja jadi SPG minuman bapak?"
Pak Hendrawan kaget. "Kamu... Diandra?"
"Ya! Bapak dulu bilang mau bantu saya, tapi minta saya temenin karaoke dulu kan? Saya tolak! Sekarang Bapak bela anak Bapak yang jahat ini buat gusur adik saya?"
Raka dan Arka saling pandang. Ternyata lingkaran setan ini saling kenal semua!
Naya menatap Pak Hendrawan dan Vania.
"Pak, Mbak... kalau memang tanah ini sudah Bapak beli, saya akan pergi. Tapi kasih saya waktu 1 minggu buat pindahin barang dan cari tempat baru. Ruang Pulih ini bukan punya saya, punya banyak perempuan yang butuh."
Pak Hendrawan mau menolak, tapi tiba-tiba...
_TEEEET!_
Sebuah mobil Avanza putih butut berhenti. Keluar seorang ibu-ibu paruh baya dengan anak kecil digendong, plus 3 perempuan lain.
Mereka adalah... klien-klien pertama Naya!
Bu Sinta, korban KDRT yang dulu mau bunuh diri karena dipukuli suami, yang ditolong Naya gratis jam 2 pagi.
Bu Lilis, yang anaknya hampir dijual suaminya, Naya yang bantu lapor KPAI.
Dan Bu Murni, yang depresi postpartum, Naya yang tiap hari datang bawain makan.
"JANGAN GUSUR TEMPAT INI!" teriak Bu Sinta sambil bawa spanduk kecil yang dibuat sendiri.
"BU NAYA SUDAH SELAMATKAN NYAWA SAYA! KALAU TEMPAT INI DIGUSUR, KAMI MAU DEMO KE BALAI KOTA!"
Makin lama, makin banyak yang datang. 10, 20, 30 ibu-ibu. Semua klien Ruang Pulih Naya. Mereka dapat kabar dari grup WA.
Mereka duduk di depan Ruang Pulih, halangi alat berat yang mau datang.
Pak Hendrawan panik. Ia tidak menyangka janda miskin dari rumah hijau punya pasukan ibu-ibu.
Vania juga panik. "Papi, usir mereka! Usir!"
Arka dengan cepat live TikTok. "Guys, ini pengusaha mau gusur tempat konseling gratis untuk korban KDRT demi bangun ruko! Viralkan!"
Live Arka langsung 10 ribu viewers dalam 10 menit.
Pak Hendrawan yang takut citra perusahaannya hancur, akhirnya mundur.
"Oke... oke... saya kasih waktu 1 minggu! Tapi setelah itu harus kosong!"
Ia pergi dengan Vania, tapi Vania masih menatap Naya dengan dendam.
Setelah mereka pergi, Naya menangis dipelukan 30 ibu-ibu itu.
Tapi ia tahu, 1 minggu itu tidak cukup. Kemana ia harus pindah?
Malam itu, Naya, Raka, Arka, Diandra, Sari, Tari, Bagas rapat darurat di ruang tamu. Bingung cari kontrakan baru yang murah di Jakarta yang susah.
Tiba-tiba, ada ketukan pintu.
Seorang wanita cantik, anggun, umur 35, pakai blazer putih, bawa tas kerja, masuk dengan senyum.
"Permisi, cari Naya Azzahra?"
Naya berdiri. "Saya..."
Wanita itu langsung memeluk Naya.
"Naya! Kamu gak ingat aku? Aku *Kak Maya!*"
Naya kaget. "Kak Maya? Kak Maya yang dulu kos di sebelah rumah hijau? Yang dulu..."
Ya! 5 tahun lalu, sebelum Naya nikah sama Bimo, ada anak kos di sebelah rumah hijau. Namanya Maya, mahasiswi hukum yang depresi berat karena diperkosa pacarnya dan hamil, mau aborsi dan mau bunuh diri.
Naya, yang waktu itu masih kuliah psikologi semester 5, yang tiap malam temenin Maya, yang antar Maya ke dokter, yang bilang "Kak, jangan aborsi, aku temenin", yang akhirnya bantu Maya melahirkan dan kuliah lagi.
Maya yang setelah itu hilang, pindah, tidak ada kabar.
Kak Maya sekarang... berbeda. Cantik, sukses, percaya diri.
"Naya, aku baru pulang dari Belanda. S2 Hukum aku selesai. Aku sekarang jadi pengacara di LBH dan punya firma hukum sendiri. Aku liat live Arka tadi, aku langsung kesini naik GoCar dari Kuningan!"
Maya menatap Raka dan Arka. "Kalian yang di live ya? Makasih udah jagain Naya."
Lalu Maya membuka tas kerjanya dan mengeluarkan sertifikat.
"Naya, aku gak akan biarin Ruang Pulih kamu digusur. 5 tahun lalu kamu selamatkan aku dan anakku. Sekarang giliran aku selamatkan kamu."
Maya menunjukkan sertifikat ruko 3 lantai di daerah Tebet.
"Ini ruko aku. 3 lantai, kosong, baru selesai renov. Aku beli dari hasil kerja di Belanda. Aku mau pinjamkan gratis ke kamu untuk Ruang Pulih Naya selama 5 tahun. Gratis, tanpa sewa. Lantai 1 buat konseling, lantai 2 buat shelter korban KDRT, lantai 3 buat tempat tinggal Sari, Tari, Bagas biar bisa sekolah dekat."
Satu ruangan terdiam.
Naya menangis kencang dan memeluk Maya.
"Kak Maya..."
Diandra juga nangis. Sari Tari melongo lihat ruko 3 lantai.
Raka dan Arka? Untuk pertama kalinya, mereka merasa... kalah saing. Kalah saing sama Kak Maya yang kebaikannya melebihi mereka berdua.
Maya tersenyum ke Raka dan Arka.
"Kalian berdua saingan buat Naya ya? Lucu. Tapi Naya gak butuh pangeran. Naya butuh kerajaan. Dan aku akan bantu dia bangun kerajaannya."
Maya menatap Vania dan Papinya yang masih ngintip dari ujung gang.
"Oh iya, Pak Hendrawan itu? Dia klien lama firma aku. Dia punya kasus penggelapan pajak 2M yang belum selesai. Kalau dia berani gusur tempat ini lagi, aku buka lagi kasusnya."
Pak Hendrawan yang mendengar itu dari jauh, langsung masuk mobil dan kabur! Vania ikut kabur sambil teriak.
Naya akhirnya punya tempat baru. Lebih besar, lebih aman, dan gratis.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Naya, Diandra, Sari, Tari, Bagas, Maya, Raka, dan Arka makan malam bersama di teras rumah hijau, merayakan kemenangan.
Vania kalah telak. Bukan karena Raka dan Arka, tapi karena kebaikan Naya di masa lalu yang kembali.
Apakah Vania akan berhenti? Atau Papinya akan pakai cara lebih kotor lagi?
Dan... apakah Kak Maya ini akan jadi saingan baru? Karena tatapan Maya ke Naya... beda? Atau tatapannya ke Arka?
semoga dpt jodoh yg bner bner baik ya, gk kayak Raka Dan Arka.
mending yg kaya sekalian kn 😁
Bimo juga bukan orang kaya selingkuh juga kan😄🤣.
jgn nyerah ya nay...
salam kenal