NovelToon NovelToon
Tahta Senja Untuk Aira

Tahta Senja Untuk Aira

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Terlahir kembali usai tewas disiksa, Aira bertekad membalas dendam pada Azka dan keluarganya. Ia bangkit merebut tahta, menggagalkan pengkhianatan, dan membuka hati untuk paman Azka, Rizky.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: ADU CATUR DI ATAS PANGGUNG

Keriuhan dan kemarahan membakar habis atmosfer di dalam ballroom Hotel Grand Hyatt. Para tetua klan Gunawan memukul meja, saling melontarkan makian dan tatapan curiga ke arah podium. Keadaan yang tadinya tenang kini berubah menjadi sidang penghakiman tak resmi. Azka berdiri mematung di balik podium, namun alih-alih panik atau gemetar, matanya justru memancarkan kilatan dingin yang sangat tenang dan penuh kalkulasi.

Di sudut ruangan dekat pintu keluar, Rani—yang sempat ditahan petugas keamanan—menatap Azka dengan mata berkaca-kaca penuh ketakutan. Gaun hijau zamrudnya sedikit kusut akibat dorongan para pengawal. Melihat wanita itu diperlakukan kasar di depan umum, rahang Azka mengeras hebat. Amarah membakar dadanya melihat wibawa timnya diinjak-injak di hadapan seluruh tetua klan.

"Cukup!"

Suara Azka menggema tegas melalui mikrofon podium, memotong riuh kemarahan para komisaris senior secara instan. Pria itu menyapu pandangan ke seluruh ruangan dengan senyum tipis yang mendadak muncul—sebuah senyuman penuh percaya diri yang membuat beberapa komisaris mengerutkan kening bingung.

"Aira... Paman Rizky... sebuah permainan serangan mental yang sangat impresif," ucap Azka santai, melangkah keluar dari belakang podium tanpa ada sedikit pun gestur ketakutan. Ia berjalan tenang menghampiri dua petugas keamanan yang masih memegang lengan Rani, lalu menepis tangan para pengawal itu dengan tegas.

"Lepaskan tangan kalian dari Rani!" bentak Azka tajam.

Azka memasang posisi tubuh melindungi di depan Rani di hadapan puluhan pasang mata tetua klan. Dengan raut wajah tenang dan berwibawa, Azka menatap Aira dengan pandangan menyindir.

"Rani tidak ada hubungannya dengan urusan finansial atau struktur proyek klan ini. Dia hadir malam ini murni sebagai staf profesional sekaligus orang kepercayaanku yang mengurus administrasi harian," tegas Azka dengan suara lantang. Pria itu lalu menatap para tetua, membelokkan narasi secara cerdik. "Lagipula... kalian semua tahu bahwa Rani adalah adik kandung Aira sendiri. Sungguh sangat tidak etis jika seorang kakak dengan sengaja mempermalukan dan menyeret adik kandungnya sendiri ke dalam lumpur manipulasi hanya demi memperkeruh suasana!"

Taktik Azka berhasil memancing bisik-bisik baru dari para tetua. Narasi itu membuat Aira terlihat seperti seorang kakak yang dingin dan tidak memiliki empati pada keluarganya.

Tanpa membuang waktu, Azka merogoh saku dalam jas tuksedonya, mengeluarkan sebuah flashdisk bernuansa perak mengilap, lalu menyerahkannya langsung kepada salah satu komisaris paling senior yang duduk di meja utama.

"Perusahaan cangkang? Dokumen palsu? Aira, kamu terlalu terburu-buru mengambil umpan yang sengaja kutebar di dalam sistem," sahut Azka dengan intonasi penuh kemenangan yang tertata rapi.

"Para tetua dewan komisaris yang terhormat," lanjut Azka. "Saya sudah tahu sejak dua minggu lalu bahwa ada pihak internal yang berusaha memalsukan dokumen proyek ini untuk menjatuhkan posisi saya. Dokumen merah yang dipegang Aira saat ini... adalah dokumen umpan yang sengaja saya loloskan ke sistem internal untuk memancing siapa penyusup sebenarnya!"

Layar proyektor raksasa di panggung mendadak berganti tampilan saat asisten Azka menekan tombol kendali, menampilkan berkas audit pembanding yang sudah dilegalisir oleh firma hukum internasional atas nama klan Gunawan.

"Dokumen asli proyek kawasan industri ini terdaftar atas nama anak perusahaan utama klan yang sah, dengan lisensi murni tanpa sengketa," tegas Azka. "Apa yang dibawa Aira dan diserahkan pada Paman Rizky hanyalah salinan draf terinfeksi yang disengaja. Dan sekarang... kita semua bisa melihat dengan jelas, siapa anggota klan yang begitu bersemangat memakai dokumen rusak itu untuk menghancurkan nama baikku!"

Hendra Gunawan—ayah Azka—langsung mengambil alih momentum emas tersebut. "Benar sekali! Ini adalah bentuk pembunuhan karakter yang terencana! Bagaimana bisa seorang anggota keluarga memakai data mentah untuk memfitnah calon penerus di depan umum?!"

Azka melempar senyum culas yang teramat puas ke arah Aira, merasa baru saja memotong leher Aira dan Paman Rizky di depan publik.

Namun, alih-alih panik atau terdesak, Aira justru mendengus pelan. Bibirnya yang beroleskan lipstik merah menyala membentuk senyuman lembut yang sangat tenang—bahkan terkesan manis, namun menyimpan racun yang mematikan.

Aira tertawa kecil, suara tawa yang sangat renyah dan anggun, membuat seluruh ruangan yang tadinya tegang mendadak bungkam heran.

Aira melangkah perlahan, melewati Paman Rizky, lalu berjalan lurus menghampiri Azka. Setiap tapak langkah sepatu hak tingginya berbunyi nyaring di atas lantai marmer, menciptakan irama dominasi yang tak terbantahkan.

Tanpa ragu, Aira mengikis jarak di antara mereka. Senyumannya begitu memikat saat jemari lentiknya terulur, merapikan kerah tuksedo Azka yang sedikit kusut dengan gerakan luar biasa lembut—sebuah gestur keintiman seorang istri sah di hadapan publik.

"Maafkan aku, Suamiku..." ucap Aira dengan suara yang begitu halus, hangat, dan sarat akan aura seorang Nyonya Besar. "Sepertinya aku terlalu cemas dan berlebihan. Aku membawakan dokumen merah itu bukan untuk menjatuhkanmu... melainkan karena aku sangat takut kamu salah langkah dalam memimpin mega proyek ini."

Azka mematung kaku. Tubuhnya membeku saat bau harum parfum Aira merasuk ke inderanya. Tatapan mata Aira yang begitu dekat memancarkan aura mengintimidasi yang sangat asing baginya.

Aira menoleh sedikit ke arah Rani yang berdiri tegang di dekat Azka. Dengan gerakan perlahan namun tegas, Aira menggeser posisinya, memotong ruang di antara Azka dan Rani hingga secara halus menggeser posisi Rani dari samping suaminya.

"Sebagai istri sah yang mendampingimu dari nol, sudah menjadi kewajibanku untuk memberikan penguatan sekaligus pengawasan ketat," lanjut Aira lantang, memutar tubuhnya menghadap para tetua dewan komisaris dengan dagu terangkat anggun.

"Pernikahan kami adalah ikatan sah yang direstui oleh hukum dan klan ini. Dan sebagai kakak sekaligus istri pimpinan, aku tentu sangat mendukung jika Rani menjadi staf kepercayaanmu. Justru karena dia adikku dan orang kepercayaanmu, aku harus memastikan bahwa kita semua—terutama kamu, Suamiku—bekerja di jalan yang benar dan terhindar dari kekhilafan finansial," tegas Aira, memberikan senyuman hangat yang sarat kepalsuan pada Rani.

Mata Rani membelalak lebar. Wajahnya memucat bagaikan mayat. Ucapan Aira secara elegan mengunci posisi Rani tetap menjadi 'staf bawahan' dan 'adik yang diawasi', sekaligus menghancurkan ruang gerak Rani untuk bertindak lebih jauh.

"Aku sangat lega mendengar bahwa dokumen yang kamu pegang adalah dokumen umpan yang aman," ucap Aira kembali menatap Azka dengan senyuman paling mematikan. "Itu membuktikan bahwa suamiku memang pria cerdas yang pantas didampingi oleh istri yang tegas."

Aira kemudian menghentikan kalimatnya sejenak. Ia merogoh tas tangan kulitnya, merengkuh sebuah map dokumen berpenjilid kulit hitam tebal berstempel pita emas dinas notaris negara, lalu membukanya dengan sapuan tangan yang tenang di hadapan seluruh dewan komisaris.

"Dan untuk memastikan tidak ada lagi perdebatan mengenai hakku untuk berada di ruangan ini dan mengawasimu..." Aira mengangkat lembaran Sertifikat Kepemilikan Saham Veto Resmi yang tertera jelas atas namanya. Layar proyektor utama pun mendadak menyajikan salinan digital akta pendaftaran saham kementerian hukum yang diunggah langsung oleh tim Paman Rizky.

"Ini adalah bukti autentik kepemilikan dua puluh lima persen saham veto milik almarhumah ibuku yang kini telah resmi beralih seratus persen atas namaku," tegas Aira, suaranya kini dingin, lantang, dan membelah keheningan ballroom. "Dua puluh lima persen—porsi saham individu terbesar di klan Gunawan saat ini. Sebuah hak hukum mutlak yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun."

Seluruh tetua dewan komisaris menarik napas tertahan. Hendra Gunawan melotot kaku dengan wajah memerah tahan amarah, sementara Azka terpaku melihat stempel notaris dan persentase angka terbesar yang terpampang nyata di layar.

"Mulai malam ini..." lanjut Aira menatap Azka dengan sorot mata penuh kejayaan, "aku akan berada di sisimu, Azka. Sebagai pemilik saham terbesar sekaligus istri sahmu, aku akan mengawasi setiap kebijakan, setiap laporan keuangan, dan setiap langkahmu, agar kamu bisa memberikan kontribusi terbaik untuk perusahaan."

Skakmat!

Para sesepuh dan dewan komisaris senior seketika bertepuk tangan pelan, terpesona oleh kedewasaan, ketegasan, dan bukti kepemilikan mutlak yang ditunjukkan Aira. Di mata para tetua, Aira bukan lagi wanita emosional, melainkan pilar pemilik kekuasaan terbesar di klan yang bijaksana dan berhak penuh mengendalikan perusahaan.

Aira berpaling sejenak ke arah Paman Rizky, melemparkan tatapan mata penuh arti. Rizky menyunggingkan senyum tipis—sebuah pengakuan atas kecerdasan taktik Aira dalam mengurung Azka di dalam 'pernikahan perang' mereka.

"Bagus sekali, Aira," sahut Paman Rizky tenang dari tempatnya berdiri. "Dengan bukti sertifikat kepemilikan dua puluh lima persen saham veto tersebut, keputusanmu untuk mengawasi langsung kinerja suamimu adalah langkah hukum yang sah dan didukung penuh oleh dewan direksi."

Aira kembali menatap Azka, lalu berbisik sangat pelan tepat di samping telinga suaminya, begitu halus hingga hanya Azka yang bisa mendengarnya.

"Selamat datang di neraka barumu, Suamiku... Pernikahan ini tidak akan pernah berakhir sampai aku mengambil kembali seluruh hakku."

Azka berdiri mematung dengan napas tertahan. Rencananya untuk memakai isu keluarga dan dokumen umpan guna memojokkan Aira justru diputarbalikkan oleh sang istri sah—yang kini secara sah memegang posisi pemilik saham terbesar—menjadi sangkar emas yang mengunci seluruh gerak-geriknya.

1
Airin
kokop terus uncle
Airin
wadaw dikokop juga🤭
Yasa
suka banget sama fl yang Badas gini.
Senja_Puan: makasih kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!