Di mata dunia, Kim Seokjin adalah Devil.
CEO KIMS GROUP. Dingin. Kejam. Tanpa ampun.
Satu keputusannya bisa membuat EX GROUP bangkrut dalam semalam.
Tapi di rumah...
Dia hanya seorang Hyung.
8 tahun lalu dia berjanji pada ayahnya: "Aku akan menjaga Tae."
Sekarang dia menepati janji itu dengan cara yang salah.
Menelan obat di toilet kantor. Menahan darah di balik jas mahal.
Tersenyum untuk 8 orang yang dia sayangi.
Leukimia. Stadium akhir.
Rahasia yang tidak boleh diketahui oleh Malaikat kecilnya, Taehyung.
Saat EX GROUP mulai mengancam nyawa Tae, Seokjin harus memilih.
Tetap menjadi Devil yang melindungi...
Atau runtuh sebagai Malaikat yang akhirnya butuh dilindungi.
"Di luar aku iblis, Tae. Tapi di depanmu... aku cuma hyungmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi_BtsOt7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Grand Hyatt Seoul berubah menjadi lautan cahaya kristal dan kemewahan malam itu. Lampu-lampu gantung raksasa memantulkan kilauan pada gaun-gaun sutra mahal dan jas-jas tuxedo yang dikenakan oleh elit bisnis Korea. Musik orkestra klasik mengalun lembut, menyamarkan bisik-bisik konspirasi yang terjadi di antara para tamu.
Di tengah kerumunan itu, Kim Seokjin berdiri tegak. Ia mengenakan setelan tuxedo hitam bespoke yang membuatnya tampak seperti pangeran dari dongeng. Wajahnya diberi lapisan make-up artistik tingkat tinggi untuk menyembunyikan pucat kematian. Di balik senyum ramahnya yang menawan pers, tubuhnya berteriak dalam kesakitan. Setiap tarikan napas terasa seperti menghirup kaca pecah.
Chanyeol berada di sisi kirinya, bertindak sebagai pengawal pribadi dengan earpiece tersembunyi. Yoongi berada di ruang kontrol keamanan hotel, memantau setiap kamera CCTV dan siap membekukan aset digital Kwon Tae-woo pada sinyal yang disepakati.
Di seberang ruangan, Park Xiumin masuk bersama Chen dan Jihoon. Mereka juga tampil memukau, namun mata mereka tidak mencari kenikmatan pesta. Mata mereka memindai target.
Pukul 20.00 tepat, pintu utama aula terbuka lebar. Kwon Tae-woo masuk, diapit oleh dua pengawal bertubuh kekar. Pria paruh baya itu tersenyum sombong, melambaikan tangan pada para tamu seolah dia adalah raja dunia. Dia tidak tahu bahwa jaring telah tertutup rapat di sekelilingnya.
Jin melihat kesempatan itu. Ia berjalan mendekati Kwon Tae-woo, dengan Xiumin dan Chen mengikuti dari jarak dekat, membentuk formasi segitiga yang menjebak.
"Tuan Kwon," sapa Jin, suaranya halus namun tajam seperti pisau bedah. "Senang bertemu Anda lagi setelah sepuluh tahun."
Kwon Tae-woo berhenti, alisnya terangkat. Matanya menyipit saat mengenali Jin, lalu melirik Xiumin dan Chen di belakangnya. Senyumnya berubah menjadi dingin. "Ah, anak-anak muda. Warisan dari orang-orang yang terlalu ambisius hingga lupa tempat mereka."
"Ambisi?" kata Xiumin, melangkah maju hingga berdiri sejajar dengan Jin. "Atau keserakahan? Seperti saat Anda membayar sindikat pembunuh untuk menyingkirkan ayah kami dan ayah Jin?"
Wajah Kwon Tae-woo tidak berubah, tapi ada kilatan ketakutan sekilas di matanya. "Omong kosong apa ini? Kalian datang ke sini hanya untuk menghina saya di depan umum?"
"Bukan hinaan," kata Jihoon, muncul dari balik Chen sambil memegang sebuah tablet. "Ini adalah bukti. Rekaman transfer dana dari rekening offshore Anda ke akun pembunuh bayaran. Dan foto korek api perak Anda yang tertinggal di bengkel tempat mobil orang tua kami disabotase."
Kwon Tae-woo tertawa renyah, tawa yang terdengar palsu dan menggema di aula yang mulai hening karena tamu-tamu lain mulai memperhatikan keributan itu. "Kalian pikir dokumen digital dan benda antik bisa menjatuhkan saya? Saya memiliki lebih banyak uang daripada yang bisa kalian hitung. Saya memiliki polisi, hakim, dan politisi di saku saya."
Dia mengisyaratkan pengawalnya untuk maju. "Usir sampah-sampah ini dari pestaku."
Namun, sebelum pengawal itu bergerak, lampu-lampu di seluruh aula tiba-tiba padam. Hanya cahaya darurat merah yang menyala, menciptakan suasana mencekam.
Suara Yoongi terdengar jelas melalui sistem suara hotel yang telah diretas. "Semua aset bank Tuan Kwon di Swiss, Singapura, dan Cayman Islands telah dibekukan oleh otoritas internasional berdasarkan bukti pencucian uang dan pembunuhan berbayar yang baru saja kami kirimkan ke Interpol. Polisi sedang dalam perjalanan."
Kwon Tae-woo terpaku. Wajahnya yang tadi sombong kini pucat pasi. Dia kehilangan segalanya dalam hitungan detik.
"Kau... kau menghancurkan hidupku!" geram Kwon, matanya menyala dengan kemarahan murni. Dia merogoh saku jasnya, mengeluarkan pistol kecil berlapis emas.
"JIN! MENGHINDAR!" teriak Chanyeol.
Tapi semuanya terjadi terlalu cepat.
Kwon menembak bukan ke arah Jin, tapi ke arah langit-langit dekat chandelier besar, menyebabkan kaca-kaca kristal berjatuhan seperti hujan tajam. Kekacauan pecah. Tamu-tamu berteriak dan berlarian menyelamatkan diri.
Dalam kepanikan itu, Kwon Tae-woo berlari menuju pintu keluar darurat, mengarahkan pistolnya secara membabi buta ke arah siapa pun yang menghalangi.
Jin, yang refleksnya melambat karena kondisi fisiknya, mencoba menghindar, tetapi kakinya tersandung kain taplak meja yang jatuh. Ia terjatuh keras.
Kwon melihat Jin tergeletak. Dengan wajah penuh kebencian, dia mengarahkan pistolnya langsung ke dada Jin. "Matilah seperti ayahmu!"
BANG!
Sebuah tembakan tunggal terdengar.
Tapi peluru itu tidak mengenai Jin.
Park Xiumin, yang berada beberapa meter di samping Jin, telah melemparkan dirinya ke depan, menutupi tubuh Jin dengan tubuhnya sendiri. Peluru itu menembus bahu kiri Xiumin, menyebabkan darah segar memancar deras, menodai jas putihnya yang kini menjadi merah pekat.
"Xiumin-hyung!" teriak Chen dan Jihoon bersamaan.
Kwon Tae-woo terkejut melihat tindakannya gagal membunuh Jin dan malah melukai Xiumin. Sebelum dia bisa menembak lagi, Chanyeol sudah menerjangnya dari belakang, membantingnya ke lantai dan melucuti pistolnya dengan gerakan militer yang efisien.
Polisi akhirnya mendobrak pintu masuk utama, menyerbu ruangan dan menangkap Kwon Tae-woo yang kini meraung-raung histeris.
Namun, Jin tidak peduli pada penangkapan itu. Ia merangkak menuju Xiumin yang terbaring di lantai, napasnya tersengal-sengal. Darah Xiumin menggenang di sekitar mereka, bercampur dengan pecahan kaca kristal.
"Kenapa..." bisik Jin, suaranya pecah, air matanya finally tumpah deras. "Kenapa kau lakukan itu? Kita musuh..."
Xiumin mengerang kesakitan, wajahnya pucat, tapi ia masih sadar. Ia menatap Jin dengan tatapan aneh—campuran antara rasa sakit fisik dan pencerahan batin.
"Karena... kita sama-sama korban, Jin," desis Xiumin, darahnya mengalir dari sudut bibirnya. "Dan aku... tidak ingin adikku... Jihoon... kehilangan saudara lagi. Seperti aku kehilangan orang tuaku."
Jihoon dan Chen sudah berada di sisi mereka, menekan luka Xiumin dengan kain jas mereka. Paramedis menerobos kerumunan.
Tiba-tiba, tubuh Jin oleng. Rasa sakit yang ia tahan selama berminggu-minggu akhirnya meledak. Pandangannya menjadi gelap total. Hidungnya mengeluarkan darah deras, mencampur dengan air mata dan debu lantai.
"Hyung!" teriak Taehyung, yang baru saja masuk ke aula setelah mendengar kabar penembakan. Ia melihat kakaknya pingsan di tengah genangan darah Xiumin.
Dunia Jin menjadi hening. Suara sirine polisi, teriakan tamu, dan tangisan teman-temannya terdengar jauh sekali.
Dalam kegelapan itu, Jin merasa ringan. Beban rahasia penyakitnya, beban dendam, beban kebohongan... semua seolah terlepas. Ia telah mencapai tujuannya. Kwon Tae-woo tertangkap. Kebenaran terungkap. Xiumin selamat (walau terluka).
Tugas selesai, pikir Jin samar-samar sebelum kesadaran itu hilang sepenuhnya.
Saat paramedis mengangkat tubuh Jin yang lemas, mereka melihat betapa ringannya tubuh pria itu. Baju dalamnya basah kuyup bukan hanya oleh keringat, tapi oleh darah yang terus merembes dari pori-pori kulitnya akibat kegagalan sistem pembekuan darah total.
Dokter Wang Do, yang ikut serta dalam tim medis darurat, melihat kondisi Jin dan wajahnya berubah horor. Dia tahu, ini bukan sekadar pingsan biasa. Ini adalah akhir dari pertarungan tubuh Kim Seokjin.
Sementara Xiumin diusung ke ambulans lain dengan bahu yang ditembak, Jin diusung ke ambulans ketiga. Dua musuh, kini terhubung oleh darah dan pengorbanan, dibawa menuju nasib yang belum diketahui.
Taehyung menangis histeris, digendong oleh Jungkook dan Jimin yang juga syok berat. Jihoon berdiri mematung, menatap kedua ambulans yang melaju pergi, menyadari bahwa malam ini telah mengubah segalanya selamanya.
Topeng Kim Seokjin telah hancur berkeping-keping. Dan di balik reruntuhan itu, tersisa kebenaran yang paling menyakitkan: Pahlawan mereka telah mengorbankan nyawanya perlahan-lahan, demi memastikan mereka semua bisa hidup dalam kebenaran.