Handoko Priambodo dan Mellisa Ariani pernah saling mencintai saat masih kuliah. Namun, impian mereka kandas ketika Handoko melanjutkan studi S2 ke luar negeri, memaksa mereka berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.
Puluhan tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di acara lamaran putra Handoko dengan putri Mellisa. Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang seharusnya telah terkubur.
Di balik status mereka sebagai calon besan, terjalin kembali hubungan terlarang yang mengancam menghancurkan rumah tangga, melukai anak-anak mereka, dan mengoyak dua keluarga sekaligus.
Akankah mereka memilih cinta masa lalu, atau mempertahankan kebahagiaan anak-anak mereka?
Karena terkadang, **besan adalah maut**.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Menuju Pertemuan Rahasia
Pagi itu, Handoko baru saja menyelesaikan berkas terakhir yang sejak tadi memenuhi meja kerjanya. Satu per satu dokumen sudah diperiksa dan ditandatangani. Setelah memastikan tak ada lagi yang terlewat, ia menyandarkan tubuhnya pada kursi dan mengembuskan napas panjang.
Akhirnya selesai juga. Senyum lega terbit di wajahnya. Untuk beberapa saat, ia membiarkan dirinya menikmati rasa ringan setelah menyelesaikan semua pekerjaan yang sejak pagi menyita perhatiannya.
Belum sempat ia beranjak dari kursi, pintu ruangannya diketuk, lalu terbuka. Fajar muncul dengan wajah cerah seperti biasa.
"Hai, Bro! Apa kabar? Makan siang sama gue, yuk!"
Handoko menoleh dan langsung terkekeh kecil. "Duh, sorry, gue sudah ada janji buat makan siang bareng."
Fajar yang baru saja hendak masuk langsung menghentikan langkahnya. Alisnya terangkat, sementara senyum di wajahnya berubah menjadi tatapan penuh selidik.
"Emang makan siang apa siapa, sampai lu nolak ajakan gue?"
Handoko hanya tersenyum sambil merapikan beberapa berkas di atas mejanya. "Ah, lu pengen tahu aja."
"Lah, seriusan, Bro. Sama siapa?" Fajar semakin mendekat. "Atau boleh gue gabung?"
"Wah, nggak bisa, Bro."
Jawaban itu justru membuat Fajar semakin penasaran. Selama mereka berteman, bukan sekali dua kali mereka makan siang bersama. Handoko biasanya tidak pernah keberatan jika Fajar tiba-tiba mengajaknya makan. Tetapi kali ini, bukan hanya menolak, Handoko malah terlihat seperti menyembunyikan sesuatu.
Fajar menyipitkan mata. "Gue jadi penasaran. Siapa orangnya sampai lu kayak begini? Nolak makan siang ajakan gue, sobatnya sendiri."
Handoko mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu. Fajar menatap manik mata sahabatnya, berusaha membaca sesuatu dari ekspresi laki-laki itu. Namun bukannya menjawab, Handoko malah tertawa kecil.
Tawa yang justru membuat rasa penasaran Fajar semakin menjadi-jadi. "Apaan, sih?" Fajar mendengus. "Kok malah ketawa?"
Handoko menggeleng pelan, lalu mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. "Udah, Bro. Nanti juga lu tahu."
"Ah, makin mencurigakan lu!" Handoko kembali tertawa kecil. Kali ini ia sama sekali tidak berniat membocorkan siapa yang akan ditemuinya siang nanti.
Sementara Fajar masih berdiri di hadapannya dengan wajah penuh tanda tanya, Handoko justru terlihat semakin santai. Ada sesuatu yang membuatnya bersemangat menantikan waktu makan siang itu—dan entah mengapa, untuk pertama kalinya ia merasa tidak ingin membagikan rahasia kecil itu kepada siapa pun.
"Bro, sejak kapan lu main rahasia-rahasiaan sama gue?"
Fajar masih belum beranjak dari tempatnya. Rasa penasarannya justru semakin besar setelah melihat Handoko yang terus saja menghindar dari pertanyaannya.
Handoko menghela napas pendek, lalu tersenyum tipis. "Belum saatnya, Bro. Nanti lah kalau sudah pasti."
"Pasti apanya?"
Pertanyaan Fajar meluncur cepat. Handoko yang semula hendak memasukkan beberapa berkas ke dalam laci mendadak berhenti. Ia terdiam sesaat, seolah baru menyadari bahwa dirinya sendiri tidak benar-benar punya jawaban untuk pertanyaan itu.
"Pasti apanya, ya?"
Ia menggaruk kepalanya sambil terkekeh kecil.
"Ah, gue juga jadi bingung."
Fajar langsung menatapnya tak percaya. "Lah, lu sendiri bingung?"
Handoko mengangkat kedua bahunya. "Ya... kurang lebih begitu."
"Berarti ada seseorang, dong?" Handoko hanya tersenyum tanpa menjawab.
Sikap itulah yang justru semakin membuat Fajar yakin bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi dalam kehidupan sahabatnya. Biasanya Handoko adalah orang yang cukup terbuka kepadanya. Kalau ada sesuatu, mereka selalu membicarakannya tanpa sungkan.
Tetapi kali ini berbeda. Ada senyum yang tak biasa di wajah Handoko. Ada kerahasiaan kecil dalam sorot matanya. Dan yang paling mencurigakan, Handoko sendiri bahkan tampak seperti sedang mencoba memahami perasaannya sendiri.
Fajar menyilangkan kedua tangan di dada. "Bro... gue kenal lu sudah lama. Kalau sampai lu begini, berarti ini bukan makan siang biasa."
Handoko kembali terkekeh. "Sudahlah, Fajar. Nanti juga lu tahu."
"Nanti kapan?"
"Nanti kalau gue sudah yakin."
Jawaban itu membuat Fajar terdiam beberapa detik. Lalu ia menggeleng sambil tersenyum geli. "Wah, gawat. Kayaknya sahabat gue sedang jatuh cinta."
Handoko spontan menatapnya. "Siapa bilang?"
Fajar langsung menunjuk wajah Handoko.
"Muka lu yang bilang."
Handoko hanya tertawa, tetapi kali ini ia tidak membantah.
Tiba-tiba ponsel Handoko yang tergeletak di atas meja berbunyi, menandakan ada pesan masuk. Handoko segera meraihnya dan membuka aplikasi percakapan. Begitu melihat nama pengirimnya, sorot matanya langsung berubah. Senyum kecil terbit di wajahnya.
Pesan itu berasal dari Mellisa.
[Mellisa: Mas, aku sudah keluar dari kantor]
Tanpa berpikir panjang, Handoko langsung mengetik balasan.
[Handoko: Oke. Aku juga segera meluncur]
Begitu pesan terkirim, Handoko langsung bangkit dari duduknya. Tangannya menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas meja, seolah tak ingin membuang waktu sedetik pun.
Fajar yang sejak tadi duduk di hadapannya sontak mengernyitkan dahi. "Bro, lu mau ke mana?"
Handoko sudah memasukkan ponselnya ke saku ketika menoleh sekilas. "Bro, sorry ya. Gue keluar dulu. Kapan-kapan aja makan siangnya. Nanti gue cerita deh. Sekarang jangan banyak bertanya dulu, ya. Oke?"
"Eh, tunggu—"
Belum sempat Fajar menyelesaikan kalimatnya, Handoko sudah lebih dulu melangkah meninggalkan meja. Bahkan beberapa detik kemudian, sosoknya sudah menghilang di balik pintu.
Fajar hanya bisa melongo. Ia menatap pintu yang baru saja dilewati Handoko, lalu menatap meja makan di hadapannya yang kini mendadak terasa sepi.
"Gila..." gumamnya tak percaya. "Handoko benar-benar gila. Masa nyuekin gue kayak begini?"
Fajar menggeleng-gelengkan kepala, lalu perlahan bangkit dari duduknya. Rasa penasarannya justru semakin menjadi-jadi. "Ini pasti ada apa-apa."
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum penuh curiga. "Mana mungkin dia tiba-tiba kabur kalau nggak ada sesuatu yang penting?"
Fajar mengambil ponselnya sambil terus memandangi pintu. "Siapa sih yang bisa bikin lu lari kayak dikejar setan, Han?"
Handoko langsung menuju parkiran. Begitu sampai, ia membuka pintu mobil, masuk, lalu menyalakan mesin. Tak lama kemudian, mobilnya meluncur meninggalkan area parkir menuju restoran yang telah disepakati sebagai tempat pertemuannya dengan Mellisa.
Sepanjang perjalanan, suasana hati Handoko tampak begitu baik. Ia bahkan bersenandung kecil mengikuti lagu yang mengalun dari audio mobil. Sesekali jemarinya mengetuk ringan kemudi mengikuti irama.
Senyum tak pernah benar-benar lepas dari wajahnya. Entah mengapa, hanya dengan mengetahui bahwa sebentar lagi ia akan bertemu Mellisa, perasaannya menjadi begitu ringan. Ada semacam kegembiraan yang sulit ia sembunyikan, bahkan dari dirinya sendiri.
Beberapa kali Handoko melirik jam di dashboard.
"Semoga dia nggak nunggu lama," gumamnya sambil kembali tersenyum.
Ia kemudian kembali bersenandung, sementara pikirannya mulai membayangkan pertemuan mereka nanti. Tanpa disadarinya, senyum di wajah Handoko justru semakin lebar. Handoko
Tak lama kemudian, mobil Handoko akhirnya tiba di restoran yang telah mereka sepakati. Ia memasuki area parkir, mencari tempat yang kosong, lalu memarkirkan mobilnya dengan rapi.
Begitu mesin mobil dimatikan, Handoko segera membuka pintu dan turun. Senyum masih menghiasi wajahnya, bahkan tampak begitu ringan dan lepas.
Ia merapikan kemejanya sekilas, mengambil ponsel, lalu melangkah menuju pintu masuk restoran.
Langkahnya terlihat begitu ringan, seolah ada sesuatu yang membuat siang itu terasa jauh lebih menyenangkan dari biasanya.