NovelToon NovelToon
ZHOO, SANG PENAKLUK EST

ZHOO, SANG PENAKLUK EST

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: zai_zuk

Di benua Est, tujuh kerajaan hidup dalam keseimbangan rapuh. Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun penguasa yang mampu menyatukan seluruh wilayah. Perang, perebutan takhta, dan dendam antarkerajaan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zai_zuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 22, KAPAL

Malam itu, Lirael terlihat berbeda di bawah cahaya bulan purnama. Ombak berderu pelan di dermaga, dan lampu-lampu minyak di kapal-kapal berkelap-kelip seperti bintang yang jatuh ke air. Zhoo dan teman-temannya menyusuri lorong-lorong gelap menuju pelabuhan, berhati-hati agar tidak terlihat oleh penjaga Veyra.

Kapal Angin Utara terikat di dermaga paling ujung, jauh dari jangkauan cahaya dan pengawasan. Saat mereka menaiki papan jembatan kapal, seseorang menyambut mereka di geladak — seorang wanita yang lebih tua, rambutnya abu-abu namun matanya tajam dan penuh kekuatan. Ia mengenakan jubah perwira angkatan laut Lirael.

"Aku adalah Kapten Mara," ucapnya pelan namun tegas. "Aku yang mengirim pesan itu. Dan bukan hanya aku yang ingin bicara."

Ia memberi isyarat, dan dari kabin kapal muncul beberapa orang — kapten kapal lain, pedagang kaya, dan dua penasihat ratu yang selama ini diam saja. Mereka semua menatap Zhoo dengan campuran rasa takut dan harapan.

"Kami sudah lama muak," kata Kapten Mara. "Vereon merampas separuh keuntungan kami, menempatkan prajuritnya di kapal-kapal kami, dan memperlakukan kami seolah kami adalah budak pelayarnya sendiri. Ratu Seren ingin melawan, tapi Valerius selalu mengancam akan membunuh rakyat jika ia berani bergerak. Dia adalah sandera di takhtanya sendiri."

"Jadi ratu sebenarnya ingin bergabung?" tanya Elara cepat.

"Ia ingin sekali," jawab salah satu penasihat. "Tapi ia tidak berani mengambil risiko sendirian. Jika kau bisa menunjukkan bahwa kau cukup kuat untuk melindungi Lirael saat Vereon menyerang... ia akan berdiri di sisimu dengan seluruh kekuatan kerajaan ini."

"Kita tidak bisa memberikan jaminan kemenangan," kata Zhoo jujur. "Tapi kita bisa berjanji satu hal — kita tidak akan membiarkan Lirael jatuh sendirian. Jika perang datang ke sini, kita akan berdiri di garis depan bersama kalian."

Mereka saling berpandangan. Kata-kata itu sederhana, tapi itulah yang paling mereka butuhkan — bukan janji kemenangan, tapi janji tidak ditinggalkan.

"Kalau begitu," kata Kapten Mara tegas, "kami bersekutu denganmu. Tapi tolong — bebaskan ratu dari cengkeraman Valerius. Selama ia masih ada di istana, kita tidak bisa bergerak bebas."

"Kami akan melakukannya," janji Zhoo. "Besok pagi, saat matahari terbit, kita akan datang ke istana lagi. Dan kali ini, kita tidak akan pergi tanpa membawa perubahan."

Namun di saat itu juga, terdengar suara langkah kaki yang berat dan berisik di dermaga. Cahaya obor bergerak mendekat, dan suara teriakan terdengar:

"Di sini! Mereka ada di kapal itu! Tangkap mereka atas perintah Raja Vereon!"

"Jebakan!" teriak Arvin langsung menghunus pedangnya.

Pasukan Veyra mengepung kapal itu dari darat dan dari air — kapal-kapal kecil perang mendekat dari segala arah, membawa ratusan prajurit. Zhoo menatap Kapten Mara.

"Siapa yang tahu tentang pertemuan ini?" tanyanya cepat.

"Hanya orang-orang di kabin ini..." wajah Kapten Mara pucat. "Kecuali... salah satu dari kami..."

Pengkhianatan. Kata itu melintas di benak semua orang. Di antara mereka yang datang untuk bersekutu, ada yang menjual mereka demi emas atau janji Vereon.

"Kita tidak bisa bertarung di sini," kata Arvin cepat. "Terlalu banyak musuh, tidak ada jalan keluar di darat."

"Kita berlayar!" seru Zhoo. "Kapten Mara — bisakah kapal ini berlayar sekarang juga?"

"Bisa! Tapi tali tambatnya terikat kuat!"

"Kita potong!" Kael sudah berlari ke sisi kapal, mengayunkan pedangnya ke tali tebal yang mengikat kapal ke dermaga. Arvin dan prajurit lainnya ikut membantu, sementara Zhoo dan Elara berdiri di geladak belakang, menahan serangan prajurit yang mencoba menaiki kapal dari dermaga.

Pedang beradu di tepi kapal. Satu prajurit Veyra melompat ke geladak, lalu dua, lalu tiga. Elara bertarung dengan anggun namun mematikan, menangkis serangan dan membalas dengan cepat. Zhoo bergerak di sampingnya, melindunginya dari serangan yang tidak ia lihat.

"Tali terputus!" teriak Kael.

"Angkat layar!" perintah Kapten Mara.

Kapal mulai bergerak perlahan menjauh dari dermaga, terbawa arus laut. Namun panah mulai menghujani mereka dari darat. Salah satu penasihat yang datang bersama mereka jatuh dengan panah menancap di dadanya. Sebelum ia menghembuskan napas terakhirnya, ia menatap Zhoo dan berbisik:

"Valerius... dia tahu... ada pengkhianat di antara kami..."

Kapal semakin menjauh, dan dermaga dengan pasukan Veyra perlahan menjadi bayangan di belakang mereka. Mereka selamat — tapi harga yang dibayar sangat mahal. Dan satu hal kini menjadi kenyataan yang tidak bisa dihindari: di antara orang-orang yang percaya padanya, ada yang mengkhianatinya. Dan itu baru permulaan.

Zhoo berdiri di haluan kapal, angin laut menerpa wajahnya. Ia menatap cakrawala yang gelap, dan di dalam hatinya, ia tahu bahwa perjalanan ini semakin berat. Bahaya bukan hanya datang dari depan, tapi juga dari samping, dari orang-orang yang ia percayai.

"Ke mana kita pergi sekarang?" tanya Elara lembut di sampingnya.

Zhoo menunjuk ke arah selatan-barat, ke arah kabut tebal yang menyelimuti ujung benua.

"Ke Morgh," jawabnya pelan namun tegas. "Ke negeri yang paling ditakuti, paling dihindari. Jika kita bisa memenangkan Morgh... kita memiliki kekuatan yang bahkan Vereon tidak berani hadapi. Dan di sana... mungkin kita juga akan menemukan jawaban tentang siapa yang mengkhianati kita."

Kapal Angin Utara membelah ombak menuju kabut yang gelap dan tak diketahui orang. Di belakang mereka, perang dan pengkhianatan. Di depan mereka, misteri dan bahaya yang belum pernah dibayangkan siapa pun. Dan di tengah semuanya, Zhoo berdiri tegak — semakin tinggi ia naik, semakin berat beban di pundaknya, semakin sulit mempertahankan orang-orang di sisinya. Namun ia tidak akan berbalik. Karena di balik kabut itu, ada jawaban. Dan di balik semua bahaya itu, ada masa depan yang masih bisa diselamatkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!