NovelToon NovelToon
TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA

TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:511
Nilai: 5
Nama Author: Lewier Lisye

Menikahi seorang duda beranak dua memaksa seorang wanita muda bergelut dalam dinginnya rumah tangga yang penuh penolakan. Di tengah perjuangan dan perlawanannya menembus benteng prasangka sebagai ibu tiri, sebuah rahasia terkuak dan menyadarkannya akan arti takdir yang sebenarnya. Sebuah drama pernikahan yang sarat air mata, sindiran kehidupan, dan ketulusan cinta yang akan mengaduk emosi pembaca wanita dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: BAYANG-BAYANG DARI BALIK JERUJI DAN WAJAH ASLI SEBUAH KETULUSAN

Ruang kunjungan Lembaga Pemasyarakatan Perempuan terasa dingin dan pengap, berbanding terbalik dengan kehangatan pagi yang baru saja dinikmati Kirana di Kediaman Pratama. Bau pembersih lantai yang tajam beradu dengan aroma udara lembap yang tertahan di balik dinding-dinding beton tebal.

Di balik kaca tebal berdinding ganda yang memisahkan area kunjungan, Sheila Kusuma duduk bergeming. Gaun desainer yang biasa melekat anggun di tubuhnya telah berganti pakaian tahanan berwarna oranye kusam. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini terikat asal-asalan, menyingkap wajah yang tirus dengan lingkaran hitam pekat di bawah matanya. Namun, di balik kerapuhan fisiknya, binar kedengkian di dalam iris matanya belum sepenuhnya padam.

Kirana melangkah masuk dengan tenang. Ia mengenakan blus putih bersahaja dengan paduan rok panjang sewarna keabuan—sederhana, namun memancarkan keanggunan seorang wanita yang matang oleh derpaan ujian hidup. Di belakangnya, Aris berdiri tegap. Pria itu menolak membiarkan istrinya masuk sendirian, jemari tangannya terus menggenggam erat jemari Kirana seolah menjadi benteng tak tembus peluru.

Sheila mendengus sinis saat melihat genggaman tangan mereka melalui kaca. Ia menyambar gagang telepon interkom di sisinya begitu Kirana duduk di kursi kunjungan.

Kirana meraih gagang telepon di sisinya, menempelkannya ke telinga tanpa rasa gentar. "Kamu memintaku datang, Sheila. Rahasia apa lagi yang ingin kamu obral?"

Suara Sheila terdengar parau dan pecah melalui saluran interkom, diwarnai kekehan hampa yang terdengar gila. "Lihat dirimu, Kirana... Nyonya Pratama yang terhormat. Berjalan masuk dengan kepala tegak, menggandeng pria yang dulu menganggapmu tidak lebih dari sampah pemburu harta."

"Jika kamu memanggilku hanya untuk melontarkan kebencian yang luntur itu, aku akan keluar sekarang," jawab Kirana dingin, matanya menatap Sheila tanpa kedipan. "Waktuku terlalu berharga untuk dibuang di tempat ini."

"Tunggu!" teriak Sheila, telapak tangannya menepuk kaca tebal itu hingga menimbulkan bunyi gumam yang berat. Senyum sinisnya makin melebar, lebih mirip seringai keputusasaan. "Kamu pikir kamu sudah menang, Kirana? Kamu pikir kamu adalah pahlawan yang berhasil menyelamatkan Aris dan anak-anak dari cengkeramanku?"

Sheila menyandarkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke kaca. "Kamu tahu kenapa almarhum Kakek Hendra begitu gigih memilihmu? Kenapa dari sekian banyak wanita kaya dan berpendidikan di Jakarta, Kakek justru menunjuk seorang gadis miskin sepertimu untuk menjadi istri Aris dan ibu tiri bagi Leo dan Maya?"

Dahi Kirana berkerut tipis. Pengakuan Sheila menyengat rasa ingin tahu yang selama ini terendam di dasar hatinya. Dulu, Kirana selalu bertanya-tanya mengapa Kakek Hendra—seorang konglomerat berpengaruh—begitu mempercayainya hingga mempercayakan masa depan cucu dan cicitnya ke pundaknya.

Aris yang berdiri di belakang Kirana menegang. Ia menggepalkan tangannya rapat-rapat, tatapannya membunuh ke arah mantan istrinya.

"Kakek Hendra tidak memilihmu karena kebetulan, Kirana," bisik Sheila, suaranya dipenuhi racun yang dihaluskan. "Kakek sudah tahu semuanya sejak awal. Kakek tahu tentang ibu kandung biologis Leo dan Maya!"

Jantung Kirana berdegup kencang secara mendadak. Udara di sekitarnya mendadak terasa menyempit. "Apa maksudmu?"

"Dua anak yang kamu peluk setiap hari... dua anak yang kamu bela mati-matian hingga kamu rela dibenci seluruh dunia..." Sheila tertawa melengking, suara tawanya memantul di gagang telepon. "Mereka bukan sekadar anak dari kerabat jauh yang meninggal dalam kecelakaan seperti yang tertulis di berkas adopsi rahasia! Kakek Hendra merkayasa berkas itu untuk melindungi nama besar Pratama Corp!"

Sheila menunjuk wajah Kirana dengan jarinya yang gemetar. "Ibu kandung biologis Leo dan Maya... adalah almarhumah kakak kandungmu sendiri, Kirana! Maya dan Leo adalah keponakan kandungmu!"

BLAM!

Dunia di sekitar Kirana serasa dihantam badai mahadahsyat. Suara Sheila mendadak bergema seperti berasal dari lorong bawah tanah yang jauh. Gagang telepon di tangan Kirana terasa begitu berat, hampir terlepas dari jemarinya yang mendadak kehilangan seluruh tenaga. Wajahnya yang semula memancarkan kesegaran kini memucat pasi bagaikan porselen yang kehilangan warna.

Kakak kandungnya? Kak Maya yang meninggal bertahun-tahun lalu dalam kecelakaan di perbatasan desa saat Kirana masih remaja?

"Kakek Hendra menemukan fakta itu saat mencari donor darah dan rekam medis keluarga untuk proses adopsi rahasia belasan tahun lalu," lanjut Sheila dengan waut wajah puas melihat keguncangan Kirana. "Kakek menyembunyikan kenyataan ini dari Aris dan seluruh dunia! Kakek membawamu masuk ke rumah Pratama bukan cuma untuk menjadi ibu tiri... tapi karena darah yang mengalir di dalam tubuhmu adalah darah yang sama dengan yang mengalir di dalam nadi Leo dan Maya!"

Sheila tertawa semakin menjadi-jadi, menyandarkan kepalanya ke dinding. "Takdir sedang menertawakanmu, Kirana! Kamu menangis, berdarah-darah, dihina sebagai ibu tiri pemburu harta, dipaksa menelan rasa terasing di rumah mewah itu... hanya untuk membesarkan anak dari kakakmu sendiri tanpa kamu sadari! Seluruh pernikahanmu adalah rekayasa Kakek Hendra!"

Kirana terduduk membeku. Airmata yang selama beberapa bulan ini mengering mendadak merembes keluar, membasahi pipinya yang dingin.

Bukan rasa marah yang membakar dadanya. Bukan pula rasa tertipu oleh almarhum Kakek Hendra.

Melainkan sebuah kesadaran spiritual yang begitu dahsyat melingkupi seluruh jiwanya. Sebuah rasa haru yang menggetarkan setiap inci tubuhnya.

Takdir tidak sedang mempermainkannya dengan kekejaman... Takdir sedang merajut benang-benang kasih sayang dengan cara yang tak terjangkau oleh akal manusia.

Pantas saja... pantas saja sejak pertama kali mata Kirana menatap wajah mungil Maya dan tatapan dewasa Leo, hatinya langsung terikat tanpa syarat. Pantas saja rasa cinta yang ia rasakan untuk kedua anak itu begitu dalam, begitu murni, hingga ia rela menumbalkan kehormatan dan kebahagiaannya sendiri sewaktu diancam Sheila. Itu bukan sekadar naluri seorang ibu tiri... itu adalah panggilan darah, sebuah warisan kasih sayang yang ditinggalkan almarhumah kakaknya melalui takdir ajaib Kakek Hendra!

"Kenapa kamu diam, Kirana?! Menangislah! Marahlah pada Kakek Hendra! Marahlah pada Aris!" seru Sheila frustrasi melihat Kirana yang tidak meracau seperti yang dibayangkannya.

Kirana perlahan mendekatkan kembali gagang telepon ke telinganya. Ia menyapu air mata di pipinya dengan ujung jarinya. Senyuman paling tulus, paling anggun, dan paling menenangkan terpancar dari bibirnya yang pucat.

"Terima kasih, Sheila," bisik Kirana, suaranya bergetar namun sangat mantap.

Sheila tertegun, matanya membelalak lebar. "Apa... apa katamu?"

"Terima kasih karena telah memberitahuku rahasia indah ini," ujar Kirana dengan pendar kebahagiaan murni di matanya. "Kamu pikir kenyataan ini akan menghancurkanku? Kamu pikir ini akan membuatku merasa dimanfaatkan?"

Kirana menggeleng pelan, menatap Sheila dengan belas kasihan yang mendalam. "Kamu tidak pernah mengerti apa itu cinta, Sheila. Bagi wanita sepertimu, segala hal adalah transaksi dan alat tukar. Tapi bagiku... ini adalah bukti bahwa Tuhan tidak pernah salah menempatkanku. Jika Kakek Hendra memanfaatkanku, maka aku bersyukur atas rekayasa itu. Karena melalui rekayasa itu, aku bisa memeluk keponakanku sendiri, memberikan mereka kasih sayang seorang ibu, dan menemukan seorang suami yang mencintaiku melebihi nyawanya."

Sheila membeku. Senyum culasnya hancur berkeping-keping, digantikan oleh rasa hening yang memukul jiwanya. Rencana ter akhirnya untuk meremukkan mental Kirana justru berbalik menjadi penegasan atas kesucian cinta Kirana.

Kirana meletakkan gagang telepon perlahan di tempatnya. Ia berdiri tanpa berpaling lagi pada Sheila yang terduduk lemas bagaikan patung tanpa jiwa.

Begitu keluar dari ruang kunjungan, Aris langsung menarik Kirana ke dalam pelukannya di koridor penjara yang sunyi. Tubuh pria tegap itu berguncang pelan; Aris telah mendengar seluruh percakapan melalui saluran interkom sejajar.

"Kirana... maafkan aku... Maafkan Kakek..." bisik Aris dengan suara parau, air matanya menetes membasahi bahu blus Kirana. "Aku tidak tahu bahwa Kakek menyimpan rahasia sebesar ini dari kita... Aku merasa sangat bersalah padamu..."

Kirana mengusap punggung lebar Aris, menyandarkan kepalanya di dada suaminya yang hangat. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Mas. Kakek Hendra adalah pria bijak. Dia tahu bahwa di dunia ini, tidak ada yang kebetulan. Takdir hanya sedang menuntunku kembali pada darah dagingku sendiri, dan menyatukanku dengan pria yang ditakdirkan untuk melindungiku."

Aris melepaskan pelukannya, menatap wajah istrinya dengan rasa hormat dan cinta yang tak terukur oleh kata-kata. Pria angkuh yang dulu berdiri di atas puncaknya kini benar-benar telah berlutut sepenuhnya di hadapan ketulusan Kirana.

"Kita pulang, Mas," ajak Kirana lembut sambil mengulas senyum. "Anak-anak kita sedang menunggu di rumah."

Sore harinya, langit Jakarta dihiasi warna jingga keemasan yang menawan. Semilir angin sore berembus lembut melambai-lambai dedaunan di taman belakang Kediaman Pratama.

Kirana duduk di bangku taman kayu jati, memangku sebuah album foto tua berdebu yang baru saja diambinya dari dalam kotak kayu peninggalan Kakek Hendra di perpustakaan. Di lembar pertama album itu, terpasang foto almarhumah kakaknya sewaktu muda—wajah yang sangat mirip dengan Kirana, dengan senyuman hangat yang memancarkan kelembutan.

Di samping foto itu, terdapat selembar surat tua bertuliskan tangan almarhum Kakek Hendra yang ditujukan khusus untuk Kirana:

"Untuk Kirana, cucu menantuku yang berhati mulia...

Jika kamu membaca surat ini, berarti takdir telah menuntunmu menyelesaikan tugas suci yang kutinggalkan. Maafkan Kakek tua yang egois ini karena telah menyeretmu ke dalam dinginnya rumah tangga Aris tanpa memberi tahu kenyataan yang sebenarnya.

Kakek melihat mata Kirana saat pertama kali kita bertemu di desa. Di dalam iris matamu, Kakek melihat ketulusan yang sama persis seperti almarhumah kakakmu. Kakek tahu, Aris adalah pria yang terluka dan angkuh akibat pengkhianatan masa lalu, sementara Leo dan Maya adalah jiwa-jiwa kecil yang membutuhkan kehangatan seorang ibu sejati.

Kakek percaya, hanya darah dan ketulusanmu yang mampu menyembuhkan luka keluarga ini. Terima kasih telah menjadi benteng bagi cucu dan cicit Kakek. Rumah ini kini sepenuhnya milikmu."

Airmata Kirana menetes menimpa kertas surat yang menguning itu. Ia mengusapnya perlahan, tersenyum menatap langit sore yang terang.

Derap langkah kaki kecil yang berlarian memecah keheningan taman.

"Ibu! Lihat! Leo dapat nilai seratus untuk ujian matematika!" seru Leo bangga, berlari menyeberangi rumput hijau sambil memamerkan kertas ujiannya.

Maya berlari di belakangnya, gaun merah mudanya berkibar diterpa angin. "Maya juga dapat bintang empat dari Ibu Guru, Bu!"

Kedua anak itu langsung menjatuhkan diri ke dalam pangkuan Kirana. Kirana merengkuh mereka berdua erat-erat, mencium kening Leo dan Maya secara bergantian dengan kasih sayang yang kini terasa kian membuncah dan penuh makna.

"Anak-anak Ibu pintar sekali... Ibu bangga sekali sama kalian," bisik Kirana, matanya berkaca-kaca menatap wajah polos keponakan sekaligus anak-anak kandung jiwanya itu.

Aris melangkah mendekat dari arah rumah. Ia meletakkan dua cangkir cokelat hangat di meja taman, lalu duduk di samping Kirana. Lengan tegapnya melingkar protektif di bahu Kirana, menyatukan seluruh anggota keluarga itu dalam satu pelukan hangat.

Maya mendongak, menatap Kirana dengan mata bulatnya yang jernih. "Ibu... kenapa Ibu nangis lagi? Ibu masih sedih?"

Kirana menggeleng cepat, tersenyum manis seraya mengusap pipi mungil Maya. "Tidak, Sayang. Ibu tidak sedih. Ibu cuma sangat bersyukur... karena Tuhan memberikan Ibu keluarga yang paling indah di dunia ini."

Leo menggenggam tangan Kirana, menatap ibunya dengan tatapan dewasa. "Leo dan Papa bakal jagain Ibu selamanya. Nggak bakal ada yang boleh bikin Ibu menangis lagi."

Aris mengecup pelipis Kirana, berbisik lirih di telinganya. "Dengar itu, Nyonya Pratama? Kami semua adalah pelindungmu sekarang."

Kirana menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Aris, membiarkan kehangatan keluarga itu meresap ke dalam seluruh pori-pori jiwanya. Perjuangan panjang seorang ibu tiri dalam menembus benteng penolakan, dinginnya rumah tangga yang sarat prasangka, serta derai air mata pernikahan yang pernah menguras jiwanya... kini telah bermuara pada muara kebahagiaan yang sejati.

Takdir mungkin pernah mempermainkan mereka dengan rahasia dan kesakitan, namun pada akhirnya, takdir pulalah yang menyatukan mereka dalam ikatan cinta yang tak terpisahkan.

Di bawah naungan langit jingga Jakarta, rumah megah yang dulu terasa bagaikan sangkar emas yang dingin kini telah menjelma menjadi sebuah istana hangat yang dipenuhi tawa, ketulusan, dan cinta abadi

#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, pantengin terus kelanjutan ceritanya yah 😘

.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!